
Dua tahun lalu,
Hari di mana Pak Syarifuddin pertama kali dipindahkan ke SMA Pelita Harapan setelah menyelesaikan studi S3-nya di luar negeri. Dia pun langsung ditunjuk oleh kepala sekolah sebagai pelatih klub paling bergengsi di sekolah itu, klub e-sport vrmmorpg.
Tahun itu juga bertepatan di mana Areka muncul sebagai newbie berpotensi yang langsung menarik minat banyak penggemar e-sport vrmmorpg di sekolah. Dia dengan cepat naik ke posisi puncak dengan mengalahkan para seniornya.
Tetapi mungkin banyak yang tidak tahu,
Bahwa pada tahun itu, di angkatan Areka, ada newbie lain yang dengan cepat menunjukkan potensinya begitu bergabung di klub dan turut menempati posisi tim inti di klubnya.
Akan tetapi newbie itu tidak lebih beruntung daripada Areka.
Berbeda dengan Areka, dia berasal dari keluarga yatim piatu yang miskin.
Hal itu pun lantas memudahkan bagi sang siswa penguasa sekolah dengan kekuatan kekayaan orang tuanya untuk menindas sang newbie demi merebut posisinya sebagai selebriti sekolah di bidang e-sport vrmmorpg.
Pengaruh e-sport vrmmorpg kala itu telah begitu meluas sehingga takkan ada satu pun insan yang tak mengenalnya, termasuk nenek tua yang ketinggalan zaman sekali pun. Begitu besarnya pengaruh famour yang ditimbulkan hanya dengan menjadi tim inti e-sport vrmmorpg sekolah yang bahkan mengalahkan ketenaran seorang artis.
“Pelatih, apa ini tidak apa-apa memilihku? Bukankah Kak Dhenis lebih tepat di posisi itu?”
“Kata siapa? Kamu jauh lebih berbakat darinya sebagai seorang swordsman walau masih kelas satu.”
“Tetapi…”
Sang pelatih yang lebih muda dua tahun dari umurnya yang sekarang itu pun, dengan cepat menangkap keanehan dari ekspresi murid itu.
“Apa jangan-jangan Dhenis mengancammu?”
Sang murid pun mengangguk.
“Kak Dhenis mengancam akan memboikot karirku sebagai player.”
“Hah, mana mungkin hal itu terjadi! Kamu berbakat! Mana mungkin bakat bisa berbohong?!”
Saat itu sang guru yang masih belum mengenal pahitnya dunia, dengan fasik berucap.
“Apa ini pelatih?! Bahkan aku tidak melakukan kesalahan apapun! Tetapi mengapa mereka menjudge aku sebagai seorang penjahat dan memblokir aku tampil di pertandingan?! Hanya karena rumor, hanya karena rumor, hidupku hancur. Kenapa dulu… aku mempercayai pelatih…”
Kata-kata sang murid dua tahun lalu itu masih terngiang benar di benak sang pelatih.
Dan kini, hal yang sama akan terjadi sekali lagi.
Karena pengaruh kekuasaan, sang berbakat akan dihancurkan hidupnya hingga tak berbekas.
Tanpa bisa menahan emosi lagi, Pak Syarifuddin pun membuka pintu di mana seorang siswa dihakimi dengan sadis oleh para orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
“Apa Anda sebut ini sebagai konseling?! Kenapa Anda langsung memperlakukan Luca sebagai tersangka tanpa memberi kesempatan dia untuk membela diri?!” Teriak Pak Syarifuddin marah.
“Heh, lho ngaca dong. Wakasek bidang akademik aja blagu. Aku ini guru BK di sekolah. Mana sopan santun lho. Ayahku seorang mantan bupati, kenal baik sama Pak Kepsek. Jadi jangan ngerocos aja tuh mulut tanpa tahu siapa diri lho.” Ujar sang guru BK tanpa sama sekali memperlihatkan akhlak sebagai seorang guru.
“Lagipula nih ada buktinya di video! Lihat sendiri kenapa! Anda buta ya!”
Pandangan Pak Syarifuddin yang kesal pun lantas tertuju kepada sang wali kelas yang sedari tadi diam saja.
“Hei, Pak! Dia kan anak wali Anda?! Mengapa Anda tidak membelanya dan malah ikut menyudutkannya?!”
Namun, Pak Susanto hanya memalingkan pandangannya dan tak berani menatap mata Pak Syarifuddin secara langsung.
Sang ibu penggugat pun angkat bicara,
“Hei, Anda sebaiknya sebagai guru rendahan tidak usah banyak tingkah ya. Anda tahu siapa suami saya?! Dia ini anggota DPR, anggota DPR! Dengan kekuasaannya, Anda bisa segera dipecat!”
Pak Syarifuddin pun semakin tidak bisa menahan amarahnya begitu sang orang tua penggugat turut memperlakukannya dengan hina.
Namun di saat itulah sang malaikat tiba, dialah Bu Sasmi.
“Anggota DPR saja blagu. Suami saya pengusaha terkenal di Jakarta. Tanpa pajak yang dibayarkan dari uang suami saya, memangnya siapa yang akan menafkahi hidup Anda?! Kalau soal perkelahian itu, video itu telah direkayasa. Ini video lengkapnya.”
Rupanya sedari tadi semenjak Luca dibawa masuk sang guru BK yang sok berkuasa itu, Bu Sasmi telah mengawasi gerak-geriknya. Dan entah bagaimana video itu ada di tangannya. Itu adalah video dari sudut pandang lain yang mempertontonkan dari awal hingga akhir bagaimana justru Toriq-lah yang telah membuli Luca dengan para preman sewaannya.
Itu adalah video dari sudut pandang yang direkam oleh Ellen.
Walau demikian, Toriq justru lepas dari hukuman.
Seharusnya, masalah hanya selesai sampai di situ. Perihal penyebabnya juga adalah hal sepele. Toriq tidak terpilih menjadi anggota klub e-sport vrmmorpg karena mendapat review yang jelek dari Luca.
Kalau hanya sekadar Toriq marah dan mengutuk Luca, itu masihlah hal yang wajar, tetapi dia sampai melakukan penindasan balas dendam yang di luar batas.
Begitulah tipikal seseorang yang sejak dari kecil diajarkan bahwa dirinya spesial dari yang lain. Dia bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya, dan begitu ada yang menghalanginya, maka hancurkan saja si penghalang itu apapun caranya.
Dari kecil, Toriq sudah diajarkan mental premanisme untuk selalu menunjukkan kekuasaannya di tengah masyarakat melalui kekerasan.
Dan itu tidak hanya berlaku untuk Toriq, itu termasuk buat ayah dan ibunya.
Jam pulang sekolah pun tiba. Sama seperti di hari-hari sebelumnya, Luca sekali lagi tidak memperoleh tantangan game dari player berangking lebih rendah darinya di klub, maka dia pun akan segera menuju ke tempat Putri Silvia untuk berlatih meningkatkan energi spiritualnya.
Akan tetapi, di perjalanan pulang itu, begitu Luca telah berada di dekat persimpangan jalan menuju rumahnya, tempat yang cukup sepi walaupun di siang hari, Toriq beserta ayah dan ibunya telah menanti Luca beserta kumpulan para bodyguardnya. Tetapi kali ini bukan bodyguard sembarangan. Mereka jelas menggunakan senjata berbahaya.
Jelas-jelas mereka mengincar nyawa Luca.
“Bunuh bocah itu, lalu amankan mayatnya.” Sang ayah pun memberi perintah.
__ADS_1
“Baik Bos!”
Seketika seluruh bodyguard mengeroyok Luca dengan senjata tajam di tangan mereka.
“Hei, Paman. Bukankah ini sudah keterlaluan? Kalau ini masalah Toriq yang tidak terpilih di klub, ini adalah masalah kemampuannya dan jika dia berpikir dia layak, seharusnya dia dengan gentleman menantang kami lewat game, bukan seperti ini. Dan hanya karena masalah sepele seperti ini, Anda benar-benar akan berniat membunuhku?”
“Heh. Cuih.” Dengan padangan sinis disertai ludahan, sang ayah begitu merendahkan Luca.
“Nyawa bocah sial seperti kamu, tidak ada penting-pentingnya, dasar sial!”
Pandangan Luca pun seketika menajam. Luca telah menentukan tekadnya. Dia tidak akan berbelas kasihan lagi kepada para sampah yang ada di hadapannya itu. Hawa membunuh pun seketika terasa menusuk di sekelilingnya.
Namun seketika dia kembali teringat perkataan Judith, “Dengar ya, Luca. Di sini bukan kampung asalmu. Di sini dilarang keras yang namanya membunuh. Jadi jangan sampai kamu menggunakan teknik assassin-mu itu ke orang-orang di sini ya.”
Seketika kenangan bahagianya bersama Nina, Raia, Lia, Egi, Areka, dan kawan-kawan berharga lainnya di dunia nyata terpatri kembali di ingatannya.
“Aku mana mungkin rela mengorbankan kebahagiaan ini hanya untuk orang-orang seperti mereka.”
Luca pun mengubah niatnya. Dia seketika membatalkan hawa membunuhnya dan memutuskan untuk membuat pingsan saja para orang-orang bodoh yang gila citra ingin ditakuti itu.
Namun bocah itu menangis.
Luca pun tak tahu mengapa dia sedih.
Entah itu amarah, frustasi, atau mungkin karena kekecewaannya setelah mengetahui sisi kelam dunia barunya itu, yang jelas Luca hanya ingin menangis.
Di kala air mata menetes membasahi pipi pemuda tampan itu, Judith beserta junior nya pun hadir di lokasi kejadian itu.
“Kerja bagus, Luca. Kamu telah menahan amarahmu demi hal yang lebih berharga buatmu. Sekarang beristirahatlah.” Judith dengan segera menenangkan Luca.
Bocah itu pun lantas menangis sekencang-kencangnya di dalam pelukan Judith.
Usai puas menangis, Luca tanpa sengaja tertidur sehingga Judith pun membawanya ke dalam mobilnya yang tembus pandang untuk beristirahat.
“Senior, apa yang akan kita lakukan pada para bedebah ini?”
“Bukankah itu sudah jelas? Cuci otak mereka dan lakukan prosedur seperti biasa.”
“Baiklah, Senior. Tetapi itu…”
“Ada apa lagi, Rayen?”
“Apa kita tidak sebaiknya melaporkan keberadaan Luca saja kepada markas pusat di Amerika agar Luca dapat memperoleh perlindungan layaknya para lost child yang lain?”
“Dasar bodoh! Bagaimana Luca bisa memperoleh kebahagiaannya lagi kalau begitu? Kebebasan Luca hanya akan dikekang oleh mereka dengan alasan perlindungan. Aku dan Kak Millie sudah berkomitmen akan melakukan segala cara demi melindungi kebahagiaan dan masa depan Luca sesuai janji kami pada Tante Kaisha.”
__ADS_1
Suara langkah kaki dari jauh pun seketika terdengar. Namun begitu pandangan kembali jatuh ke tempat itu, tempat itu telah sunyi senyap tanpa keberadaan siapa pun.