The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
114. Perjuangan Leo


__ADS_3

Di sela-sela berlangsungnya pertarungan sesi ketujuh di ruang virtual A, aku, Kak Nina, dan Tante Judith menyelinap keluar untuk menyaksikan pertandingan Kak Leo di ruang virtual D. Kami meninggalkan Kak Raia di belakang untuk mengamankan kursi perihal usai pertandingan Kak Leo, kami mesti segera kembali ke sana untuk menyaksikan pertandingan Lia.


Begitu kami memasuki ruang virtual D, kami tidak menemukan satu pun kursi kosong lagi sehingga kami pun terpaksa berdiri di belakang.


Di sana, rupanya pertandingan ketujuh baru saja dimulai. Namun pesertanya, bagaimana mengatakannya, kedua timnya lemah.


Yang satu adalah tim yang memiliki karakter berupa boneka pendek yang lincah menyerupai wujud anak-anak, sementata tim yang lain berupa boneka jangkung dengan tangan, leher, dan kaki yang sangat panjang yang hanya bisa melompat secara akrobatik tanpa bisa berjalan atau berlari.


Bahkan aku heran untuk tim yang kedua ini, bagaimana cara mereka bisa lolos di putaran babak pertama sebelumnya.


Melupakan itu, pertandingan yang terkesan konyol itu pun dimulai. Tim sang boneka jangkung mulai berlompat-lompat secara akrobatik dengan menggunakan tangannya yang jangkung sebagai pijakan.


Karena hanya bisa melompat, pergerakan mereka pun terbatas sehingga mudah diprediksi oleh lawan. Hasilnya, sang tim boneka berwujud anak-anak yang secara mengagetkan bahwa ekspresi wajah mereka tiba-tiba berubah dengan sangat sadis itu dengan mudah mengeliminasi targetnya dengan pisau di tangan mereka.


Tim boneka jangkung dengan mudah terkoyak-koyak dan tereliminasi dari pertandingan. Pertandingan dimenangkan oleh tim boneka sadis berwujud anak-anak itu.


Namun begitu memasuki sesi kedelapan pertandingan, mataku segera terbelalak. Itu adalah salah satu tim hebat yang aku saksikan kemarin yang terdiri dari pengguna pedang, tombak, dan cambuk yang mengendarai dua kuda putih bertanduk, Tim Goliath.


Terus untuk lawan mereka. Ah, itu juga tim yang aku kenal. Tim pengecut yang lolos bersama dengan Tim Lost Child di putaran babak pertama. Ah, seketika pikiranku tercerahkan. Mungkin penyebab yang sama terjadi seperti pada tim pengecut itu bagaimana sang tim boneka jangkung dan boneka sadis berwujud anak-anak sebelumnya itu juga bisa lolos dari putaran babak pertama.


Namun, tidak usah dikatakan lagi, ini pasti sudah seratus persen kemenangan yang mudah buat Tim Goliath.


Tapi sebentar, dua dari pemain mereka yang lain adalah seorang pengguna panah dan seorang pengguna tongkat sihir. Ini mungkin akan menjadi pertandingan yang sangat enak untuk ditonton dengan kombinasi kelima pemain yang terlihat sangat overpower itu.


Ataukah tidak.


Beberapa menit setelah aba-aba pertandingan dimulai dan setiap anggota tim telah ditransfer ke berbagai tempat acak, sang mage dari tim Goliath langsung mengaktifkan skill serangan jarak jauhnya, menargetkan ke lima arah yang berbeda.


Lalu dengan hebat, serangan itu pun seketika mengeliminasi kelima pemain lawan yang lemah itu secara bersamaan.


Tampaknya, sang mage mendapatkan bantuan dari sang archer untuk me-lock kelima lokasi lawan.


Mengapa aku bisa melupakan hal itu ketika aku sudah menonton pertandingan Lost Child sebelumnya. Tidak akan ada pertandingan hebat yang akan muncul jika selisih kemampuan lawan sangat begitu besar. Yang ada, hanyalah pembantaian seperti yang kembali aku saksikan sekarang ini.


Kemudian, sesi kesembilan pun tiba. Itu adalah pertandingan Kak Leo beserta timnya yang telah kami tunggu-tunggu.


...\=\=\=...


...Tim Max Squeeze – Amerika Serikat – The Last Blood...


...Vs...


...Tim Joor – Macedonia – The Art of Sword...


***


“Yo, Leo. Kok melamun?”

__ADS_1


Donovan yang mendapati Leo melamun lantas menegurnya.


“Ah, Donovan.”


Leo pun seketika tersentak begitu mendapati Donovan telah ada di hadapannya.


“Rileks. Apapun yang terjadi, kita sudah berjuang sejauh ini.”


“Benar juga. Latihan tidak akan pernah mengkhianati kita.”


Dengan perasaan yang bercampur-aduk penuh ketegangan tetapi juga disertai dengan rasa eksitasi, Tim Max Squeeze pun mulai memasuki area pertandingan.


Tanpa sengaja, Leo menoleh ke bagian paling belakang kursi penonton lantas mendapati Luca dan Nina di sana yang melambai ke arahnya untuk memberikannya semangat.


Senyum simpul pun terlihat di bibir Leo. Entah mengapa setelah melihat sosok mereka, perasaannya kini jauh lebih baik.


“Yah, itu benar. Aku hanya perlu berjuang dengan optimal.”


Lalu pertandingan pun dimulai.


Sayangnya keempat tim Leo yang lain, tertransfer ke area yang benar-benar jauh dari posisinya berada saat ini.


Tetapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Leo tercengang. Satu-persatu timnya gugur dengan cepat di awal-awal pertandingan.


Dimulai dari juniornya, Ui, sang penembak serangan menengah, dilanjutkan oleh juniornya yang lain, Treco, yang juga merupakan penembak serangan menengah. Lalu kemudian, Donovan, sang sniper pun ikut gugur dalam pertandingan bahkan sebelum sempat dia berkomunikasi dengannya.


“Hei, Dowald! Apa yang sebenarnya terjadi?! Mengapa yang lain tiba-tiba saja gugur.”


Tetapi apa yang terdengar dari sisi seberang alat komunikasi adalah suara pedang yang beradu dengan senjata.


Sesaat kemudian, muncullah jawaban dari sisi seberang yang selama ini ditunggu-tunggunya.


“Ah, Leo. Syukurlah kamu selamat. Kamu juga harus hati-hati di sana. Entah mengapa mereka dapat dengan cepat mentracking keberadaan kita. Mungkin ini salah satu skill mereka. Tampaknya salah satu dari mereka juga akan segera berada di dekatmu.”


Belum sempat Leo mencerna perkataan Dowald itu, dia langsung bisa menebak apa yang dimaksudkan rekannya perihal di hadapannya benar-benar telah berdiri pihak dari lawan. Tetapi itu bukan seorang pemain, melainkan tiga.


Tak lama kemudian, rupanya Dowald pun gugur dalam pertandingan, menyisakan Leo seorang diri di arena.


Situasi yang benar-benar gawat. Leo dengan senjata pistolnya yang hanya dengan kecepatan tembak rendah harus berhadapan dengan ketiga pemain yang menggunakan pedang. Ditambah, di tempatnya berdiri saat itu adalah padang tandus tanpa pohon sedikit pun untuk berlindung.


“Shak shak.”


Dengan cepat, dua di antata tiga pemain lawan menerjang ke arah Leo dengan pedang di tangan mereka.


Leo melompat dan bersalto demi menghindari serangan pedang.


“Dor dor.”

__ADS_1


Leo menembaki kedua lawan itu.


Kedua lawan dengan mudah mematahkan serangan Leo bahkan membelah dua pelurunya dengan pedang mereka.


Tetapi itu sudah diduga oleh Leo sebelumnya. Tujuan utamanya menggunakan peluru adalah untuk menghambat pergerakan lawan yang mengejarnya.


Namun hal yang tak diduganya adalah pemain pedang yang ketiga menusukkan pedangnya tepat ke udara yang mengarah padanya yang dengan luar biasa memberikan impak embusan angin secara tajam yang mengarah tepat ke ulu hatinya.


Leo dengan instingnya, segera bisa merasakan bahaya dari serangan itu lantas menangkisnya dengan kedua tangannya disatukan.


Impak angin yang bagai bilah panah tajam itu pun melukai kedua tangan Leo dan menghempaskannya jauh ke belakang.


“Trutuk kratak kratak.”


Leo terguling-guling ke belakang di tanah.


Namun, dia dengan sigap kembali berdiri.


Ekspresinya tidak baik. Dia tampak marah.


Di saat itulah, dia mengeluarkan sebuah belati dari balik sakunya. Dengan pistol di tangan kanan dan belati di tangan kiri, Leo kembali menyerang.


Namun tiba-tiba lagi, serangan impak angin yang tidak diduga-duganya muncul dari arah lain.


Leo melirik ke arah datangnya serangan.


Rupanya, itu adalah kedua pemain pedang lain yang tersisa.


Kini, Leo telah mutlak dikepung oleh kombinasi pemain lengkap dari tim Joor tersebut.


Namun, apakah Leo gemetaran? Sama sekali tidak. Justru kini semangatnya semakin membara. Bibirnya tersungging penuh eksitasi.


Lalu, dengan tak disangka-sangka oleh semua pemain Joor, Leo bergerak dengan kecepatan yang sangat luar biasa, menyerang dengan menikam dan menembaki mereka dengan brutal.


Para pemain Joor berusaha menangkis serangan itu dengan pedang mereka, tetapi untuk suatu alasan yang tak dapat diikuti oleh kecepatan mata mereka, tiga dari lima pemain berhasil dipatahkan pedangnya oleh serangan Leo itu.


“Sial, apa ini…”


Salah satu pemain tampak mengumpat kesal dengan perkembangan situasi yang tiba-tiba itu.


“Dor.”


Namun, bahkan sebelum pemain itu bisa menyelesaikan kalimat umpatannya, kepalanya sudah lubang duluan oleh pistol Leo.


Lalu, “Dor dor dor dor.”


Dalam kecepatan yang luar biasa, Leo kembali mengeliminasi satu-persatu pemain yang tersisa.

__ADS_1


Tim Max Squeeze pun keluar sebagai pemenang dalam pertandingan babak kedua sesi kesembilan itu.


Dialah Leo, sang pemilik skill rage of bullet. Semakin besar rasa amarah atau frustasi yang dirasakannya, semakin besar kekuatan impak peluru yang tersalurkan dari tiap tembakannya. Dan seakan mendukung skill itu, tubuh Leo secara insting akan bergerak lebih cepat ketika Leo mulai kehilangan rasionalitasnya.


__ADS_2