The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
25. Luca Berangkat ke Sekolah untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Luca akhirnya bersiap pagi itu untuk berangkat ke sekolah di hari pertamanya.  Tampak ekspresi wajah Luca yang begitu cemberut pas sarapan bersama dengan anggota keluarganya yang baru tersebut.  Hal itu membuat baik Judith maupun Rowin tak dapat menahan rasa cemasnya.  Mereka beranggapan bahwa Luca pastilah masih belum terbiasa dengan lingkungannya yang baru itu.


“Luca, banyak orang bilang bahwa masa-masa yang terindah dalam hidup itu adalah masa-masa SMA lho.  Jadi semangat!”


“Benar, terlebih Luca adalah anak yang baik.  Kuyakin Luca pasti akan segera memperoleh teman baru di sini.”


Rowin dan Judith pun memberikan energi semangat mereka kepada Luca dan Luca pun membalasnya dengan anggukan ringan.  Sementara Nina yang sedari tadi duduk di sampingnya lebih tak dapat menahan cemasnya.  Dia telah tahu masalah apa yang akan menunggu Luca di hari pertamanya masuk ke sekolah tersebut.  Duel dengan Senior Areka.


Namun, Nina telah membulatkan tekadnya akan melindungi adik kecilnya itu meski harus memelas kepada senior angkuhnya tersebut.  Tekad Nina itu semakin kuat ketika melihat ekspresi Luca hari ini yang kian cemberut.  Luca pasti sangat takut dengan duel tersebut, tetapi dia tak berani mundur karena takut dirinya akan dinilai pengecut.  Pokoknya, dirinya-lah yang akan melindungi kepolosan adiknya itu.


Tetapi mereka semua salah.  Apa yang membuat Luca cemberut hari ini adalah karena dia tak tahan menunggu permintaan yang diajukannya ke guild assassin di game dapat segera sampai pada pamannya, Heisel, sehingga Heisel dapat segera mengetahui keberadaan Luca sekarang.  Namun tampaknya, permintaan tersebut takkan pernah lagi sampai kepada pamannya itu.


Di dalam wilayah game The Last Gardenia, gedung pusat guild assassin, surat yang berisi permintaan Luca tentang penyediaan mentor untuknya sebagai apprentice guild assassin tersebut telah sampai di tangan kepala administrator guild pusat.


“Hah, pemain ini ingin merequest Guild Leader sebagai mentornya?!  Terlebih anggota cadangannya adalah Keporin dan Dimitri, anggota-anggota berbakat kami?!  Dasar pemain sombong!  Baiklah, aku akan hadiahi kamu atas kesombongan kamu itu seorang mentor terburuk dari guild assassin kami!”


Dengan demikian, Shubanz, kepala administrator guild assassin pusat tersebut, akhirnya justru mencoret ketiga nama yang diajukan oleh Heine secara sepihak lantas menggantikannya dengan Blanche, anggota assassin muda terburuk mereka.


***


Di kelas itu, riuh gosip bertebaran di mana-mana, tampak asyik menggunjingkan seseorang.


“Hei, kamu sudah dengar beritanya?”

__ADS_1


“Iya, katanya ada anak bertampang idiot dan jelek yang berani menantang Senior Areka berduel.”


“Eh, kenapa dia nekat melakukannya?  Setidaknya jika wajahnya tak karuan, dia bisa menjaga dirinya sendiri agar tidak menonjol.  Bagaimana kalau setelah ini, dia malah jadi dirundung?”


“Hei, mau taruhan nggak seberapa jelek dan idiot tampang anak yang berani cari perkara dengan Senior Areka tersebut.”


“Hahahahaha.  Pasti sangat jelek sehingga aku saja takkan bisa membedakannya jika dia berada di tengah-tengah kumpulan monyet.”


Namun, mereka semua seketika terdiam terpana begitu sosok makhluk yang penuh kepolosan itu berjalan dengan anggun memasuki kelas untuk pertama kalinya.


“Salam kenal, aku Luca Dewantara.  Mohon bantuannya untuk ke depannya.”


Perkataan singkat Luca itu bagaikan mantra sihir yang melelehkan hati para wanita di kelasnya.  Seluruh wanita di kelasnya pun serentak dalam hati berkata, “Ah, ada malaikat jatuh dari bumi.”  Hanya dengan melihat wajah Luca saja, kesan mereka pada Luca berubah drastis dari -1000 poin menjadi 100000 poin.


Akan tetapi, kelas pertama yang diikuti Luca hari itu langsung serta-merta lagi mengubah pandangan seisi kelas padanya.


“Nah, adik-adik sekalian, apakah ada yang ingin memberikan komentar tentang pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita ini?”  Ujar sang guru sambil menelisik sekitar perhatian para murid yang mengikuti kelasnya.


Dia pun sampai pada sang murid baru, Luca, dengan ekspresi kosong di wajahnya, tampak tak memperhatikan kelas.  Tetapi begitu melihat seksama wajah Luca, sang guru pun berkata dalam hati, “Tidak apalah yang penting ganteng,” sembari ingin mencari perhatian pada murid baru gantengnya itu.


“Nah, murid baru di belakang sana.”  Ujar sang guru dengan senyuman mode baiknya.


“Saya?”  Tanya Luca sembari menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Ya, kamu.  Boleh Kakak tahu siapa namamu?”  Mendengar perkataan sang guru yang hampir berusia 40 tahun itu memanggil dirinya sendiri sebagai kakak pada seorang murid SMA, seisi kelas pun serempak mengumpat dalam hati, “Sadar umur dong!”


“Oh, namaku Luca, Kak.”  Sang guru pun seketika terpesona ketika Luca turut memanggilnya dengan sebutan kak, padahal sejatinya Luca hanya mempercayai dengan polos perkataan sang guru sendiri barusan.


“Ah, rupanya guru di depanku ini masih muda.  Hampir saja aku memanggilnya tante karena wajahnya yang kelihatan sudah 50-an itu.”  Dalam hati Luca bergumam dengan polosnya.  Rupanya wajah sang guru justru terlihat lebih tua di mata Luca dari usia aslinya.


“Nah, bagaimana jika seandainya Dik Luca adalah pangeran dari cerita Putri Tidur yang baru saja kita bahas di kelas ini?”  Sang guru menduga bahwa Luca sama sekali tak memperhatikan kelasnya, tetapi berkat perkataan manis Luca barusan, dia telah memutuskan akan membiarkan itu berlalu saja setelah Luca menjawab apa saja tentang pertanyaannya itu.


Tetapi dia salah, Luca memperhatikan dengan baik kelasnya.  Hanya saja ketika Luca diam karena serius memperhatikan, tampang Luca memang terlihat menjadi sedikit idiot.


Dan dia juga salah dalam satu hal.  Mulut Luca sama sekali tidak manis. “Eh, tidak mau.  Mana mungkin aku mau menikahi seorang nenek-nenek.  Usia Putri Tidur saja pasti sudah melebihi neneknya Pangeran.”


Kacamata sang guru pun retak ketika mendengar jawaban ngelantur Luca itu.  Seketika, fantasi wanita seisi kelas tentang Luca tenggelam lenyap.  Dan Luca pun memperoleh julukan baru, Pangeran Tampan Bermulut Berbisa.  Kemudian julukan ini dengan cepat menyebar ke seisi penghuni sekolah.


***


Jauh di dalam gedung termewah di lingkungan sekolah Luca, Areka terduduk di depan komputer di ruang klub e-sportnya.  Dia tampak baru saja usai bermain vrmmorpg The Last Gardenia.


“Hei, Areka.  Kamu sudah tahu, ternyata anak yang menantang kamu berduel waktu itu di warnet terdaftar sebagai murid baru di sekolah ini.”


Teman Areka, Yudishar, yang ada di belakang Areka sedari tadi pun langsung mengabarinya ketika Areka selesai log out dari game.


“Bukankah itu lebih bagus?  Dia bisa segera stand by kapan saja ketika aku butuh seorang babu.”  Areka mengatakannya dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


“Tapi bagaimana seandainya kamu kalah?  Kurasa bagaimana pun juga sampai mempertaruhkan tempatmu sebagai tim inti di tim e-sport sekolah adalah sudah sangat keterlaluan.”


“Apa kamu pikir aku adalah orang gampangan yang bisa kalah dengan mudah?!”  Areka pun marah atas reaksi temannya yang bisa memikirkan hal yang baginya tak mungkin terjadi.


__ADS_2