
Pikiranku kosong kala itu. Aku merasakan amarah yang mendalam, namun tidak ada yang bisa menjadi pusat objek kemarahanku. Tidak, itu salah. Ini jelas bahwa objek kemarahanku tidak lain adalah diriku sendiri.
Hari itu, langkah Tim e-sport vrmmorpg SMA Pelita Harapan kami harus terhenti di quarter final setelah kalah dari keempat sekolah lainnya.
Apa yang membuatku lebih sesak adalah tidak ada yang bisa aku perbuat. Aku sudah berbuat yang terbaik, malah, aku sudah memenangkan bagian pertandinganku dengan sangat baik. Namun, anggota tim-ku yang lain masih terlalu lemah.
Terutama kekesalanku tertuju kepada Senior Areka yang seharusnya bisa memenangkan pertandingan, namun karena terpancing oleh musuh, dia pun jadi kalah.
Tidak, itu salah. Itu semua juga adalah salahku. Mengapa aku sampai melupakan bahwa aku tidak bertanding secara individu, melainkan secara tim. Aku tentunya sudah harus menduga ini semua akan terjadi di kala aku hanya fokus untuk meningkatkan kemampuanku sendiri saja dan melupakan anggota timku.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh Kak Kaisar tentang pentingnya melatih bawahan karena seorang raja tidak akan berdiri bersinar di tengah dunia jika anak buahnya lemah. Mengapa aku bisa melupakan fakta penting itu.
Tidak, tidak ada gunanya menyesali itu sekarang. Kami telah kalah dan tidak ada gunanya lagi memikirkan soal pertandingan ini. Namun, tim kami mau tidak mau harus level-up secara besar-besaran jika ingin menjuarai kompetisi vrmmoprg mendatang.
Sial! Inikah rasanya kalah? Rasanya kepalaku dipenuhi oleh benjolan yang dinamakan kekesalan dan penyesalan. Hatiku rasanya sakit dan begitu hampa. Sial! Sial! Sial! Mengapa terasa begitu sakit?!
Ini kompetisi. Ada yang menang, tentu saja ada yang kalah. Namun, aku tak tahu bahwa rasanya kalah itu sesakit ini.
“Hiks… Hiks… Andai saja… Andai saja aku bisa mematahkan pertahanan shieder lawan saat itu… Tim kami pasti akan menang. Hiks… hiks… Ini semua kesalahanku tim kami bisa kalah. Hiks… Hiks…”
Tiba-tiba tangisan Egi membuyarkanku dari lamunanku.
Aku pun melihat sekeliling. Ekspresi kecewa juga tampaknya ditunjukkan oleh anggota tim yang lain. Tidak hanya mereka saja, semua penonton yang mendukung kami juga menunjukkan ekspresi yang sama. Aku jauh di sudut sana juga bisa melihat Kak Sasmi meneteskan air mata walaupun tertutupi oleh kacamatanya yang hitam.
Aku baru sadar bahwa yang namanya kalah itu begitu menyakitkan. Saking menyakitkannya, aku sampai-sampai berhalusinasi melihat Phineas sang necromancer jahat berbaur di tengah kerumunan penonton di sana.
Aku pun melangkah perlahan lantas menepuk pundak Egi yang terjongkok dengan sangat menyedihkan.
“Ini bukan kesalahanmu, Egi. Semua anggota tim juga berkontribusi kepada kekalahan ini.” Ujarku kepadanya yang sedang berada pada titik terendahnya itu.
“Luca? Tetapi kamu kan menang? Kamu menyumbangkan 3 poin pada tim, tetapi aku… Aku malah… Benar kata Kak Inggar dan Kak Rena bahwa aku belum berpengalaman sehingga seharusnya aku menyerahkan pertandingan kepada mereka saja…”
“Sudahlah, Egi. Jika kau berkata begitu, Senior Areka, Kak Robby, dan Kak Yudishar lebih salah lagi karena tak menyumbangkan poin apapun pada tim.”
“Tidak, aku tidak bermaksud berkata seperti itu! Aku hanya…”
Dengan hesitasi, pemuda itu menolak dengan tegas perkataanku yang menyalahartikan sikapnya.
“Aku paham, Egi. Jadi sudahlah. Lagian kamu menyumbangkan satu poin di tim sehingga setidaknya peringkat kita masih sama dengan tahun lalu di peringkat lima dan tidak turun lagi menjadi lebih buruk. Tiada yang tahu apakah Kak Inggar atau Kak Rena akan melakukan yang lebih baik atau malah lebih buruk. Apa yang ingin kubilang adalah, tiada gunanya menyesalinya sekarang. Kita hanya harus melakukan yang terbaik di kompetisi selanjutnya.”
“Hmm.”
Kulihat setelah itu, Egi pun sedikit tenang. Dia hanya mengangguk sembari diam. Namun, aku masih bisa merasakan kesedihan terpancar melalui matanya yang bekaca-kaca. Aku pun mengusap rambut ikal Egi dan memapahnya untuk bangun lantas berkumpul kembali dengan anggota tim yang lain.
__ADS_1
Namun ketimbang Egi, apa yang lebih mengkhawatirkanku sekarang adalah Senior Areka. Dia tidak mengeluarkan air mata seperti Egi maupun anggota tim yang lainnya, akan tetapi ekspresi wajahnya itu menunjukkan keputusasaan yang lebih dalam seakan dunia telah berakhir baginya.
Aku tahu ini tidak baik. Di saat itulah aku tersadar bahwa aku harus lebih mengawasi Senior Areka sebelum dia berjalan di jalan yang salah dan melakukan sesuatu yang nekat.
.
.
.
Dua hari pun berlalu sejak hari itu. Jumat kemarin, babak kompetisi semifinal telah diselenggarakan melalui skema survival game seperti pada babak penyisihan pertama kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional yang aku tonton di Amerika silam antara Tim SMA Yayasan Eden melawan Tim SMA Mulia Karsa dan antara Tim SMA Puncak Bakti melawan Tim SMA Angkasa Jaya.
Hasilnya, Tim SMA Yayasan Eden berhasil memenangkan pertandingan melawan Tim SMA Mulia Karsa dengan 4 anggota tim bertahan dan menjadi finalis pertama, kemudian Tim SMA Puncak Bakti mengalahkan Tim SMA Angkasa Jaya dengan 3 anggota tim bertahan dan menjadi finalis kedua di pertandingan e-sport vrmmorpg amatir tingkat SMA itu.
“Ah, tapi bagaimana pun juga, walau sudah lewat dua hari, mengapa rasa sakit kekalahan ini masih saja terasa menyayat?!”
Aku melampiaskan rasa penat di hatiku dengan berteriak di sepanjang koridor yang kala itu tidak ada siapa-siapa.
“Master, ada masalah apa?”
Tiba-tiba, sesosok proyeksi mata tunggal menatapku dengan khawatir lantas menanyakan keadaanku.
Dia adalah Aura yang telah tumbuh cukup besar hanya dalam waktu dua bulan lebih sehingga kini hanya mata kanannya saja yang muat terproyeksikan dalam kotak berukuran 40x40x40 sentimeter kubik itu.
“Hiks… Hiks… Hiks…” Tiba-tiba suara tangis terisak mengalihkan perhatian aku dan Aura yang sedang mengobrol.
“Master… Itu… Jangan-jangan itu yang disebut sebagai hantu penunggu ruangan kosong ketika sekolah sepi?”
“Bodoh, mana ada yang seperti itu?!”
Aku pun membentak Aura yang banyak terpengaruh oleh film horor favoritnya yang belakangan ini sering dia tonton melalui TV di kamarku di kala aku tertidur di malam harinya.
“Srak!” Aku pun membuka pintu.
Aku sebelumnya sudah menduga suara siapa itu, tetapi untuk melihatnya langsung melalui mata kepalaku sendiri, aku hanya bisa kesal padanya.
Dialah seorang pria tsundere bermental lemah yang sangat tidak sesuai dengan tampang sangarnya.
“Apa yang Senior lakukan di sini?”
Dia dalam sekejap menghapus air matanya dengan perasaan malu seakan tertangkap basah melakukan kejahatan.
“Ah, Luca. Mengapa kamu ada di sini? Bukankah klub hari ini sedang libur?”
__ADS_1
“Itu yang justru ingin aku tanyakan juga kepada Senior Areka. Mengapa Senior Areka justru datang ke tempat ini hanya untuk menangis sendirian?”
“Ah, maafkan aku, Luca. Lagi-lagi aku menunjukkanmu penampilan yang tidak sepantasnya senior tunjukkan kepada juniornya. Hanya saja… hanya saja… hiks… hiks… karena aku, karena kesalahan aku yang terpancing oleh provokasi SMA Andalusia sialan itu, tim kita jadi kalah. Andai aku bisa berpikiran jernih kala itu…”
“Baguslah kalau Senior menyadari kesalahan Senior itu sehingga Senior bisa memperbaikinya di masa depan.”
Aku segera memotong perkataan senior yang menyebalkan itu sebelum dia memuntahkan omong kosong sampah yang lebih menjengkelkan lagi.
“Tetapi semuanya telah terlambat.”
“Apanya yang terlambat? Kurang dari tiga bulan lagi, bukankah ada kompetisi akhir tahun?”
“Tidak, Luca. Mungkin kamu belum mengetahuinya, tetapi sama sekali tidak ada harapan bagi kita di kompetisi itu. SMA 4 pulau luar jauh lebih mengerikan dari apa yang kamu bayangkan. SMA Puncak Bakti saja hanya sanggup untuk menembus delapan besar dalam kompetisi itu. Mereka saja tidak bisa, jadi apa yang orang biasa seperti kita bisa lakukan dalam kompetisi seperti itu…”
“Buk!”
“Uaaaaaakh!”
Entah apa yang dipikirkan oleh otakku saat itu. Aku hanya merasakan kekesalan yang teramat parah terhadap omongan seperti pecundang yang dilontarkan oleh Senior Areka yang tidak seperti karakternya yang biasa itu. Aku pun segera melayangkan bogeman mentah tepat ke ulu hatinya tanpa pikir panjang.
“Dasar bodoh! Jika Senior merasa lemah, maka berlatihlah agar menjadi lebih kuat! Apa dengan merajuk seperti itu akan mengubah semua keadaan yang ada?! Lagian, mengapa Senior yang kukenal kuat dan suka tantangan bisa berkata pesimis seperti itu?! Dasar Senior lemah!”
“Luca, bagaimana pun juga, aku ini masih Senior lho. Memukul seorang senior seperti itu rasanya agak…”
“Ah, maafkan aku, Senior. Aku kelepasan.”
“Ya, sudahlah. Aku juga paham tentang rasa khawatir Luca. Benar juga. Aku hanya harus terus berlatih ya. Ini masalah yang sederhana. Namun… Ah! Andaikan aku bisa memperoleh skill tambahan, pasti akan lebih mudah bagiku untuk berkembang. Hanya saja kini aku merasakan ganjalan pada pertumbuhanku. Tetapi terima kasih berkat Luca, kini aku memperoleh kembali motivasiku.”
“Syukurlah kalau begitu, Senior.”
Aku pun tersenyum kepada Senior Areka begitu kusaksikan warna matanya kembali cerah seperti sedia kala. Senior Areka pun lantas balik tersenyum kepadaku. Namun tiba-tiba, kusaksikanlah cairan merah keluar lewat mulut dan hidungnya itu.
“Tetapi Luca, sepertinya kau memukulku terlalu keras. Tampaknya, ada tulang rusukku yang patah.”
Demikianlah ucap Senior Areka sebelum akhirnya dia terjatuh pingsan.
“Senior!”
Aku lupa bahwa tubuh fisikku ini sudah mencapai level 80 berkat latih tanding bersama Kak Silvia tiap sore sehingga serangan sekecil apapun yang kumaksudkan malah menjadi serangan yang mematikan dan aku pun berakhir melukai Senior Areka.
Malam itu, aku pun menghabiskan waktuku demi merawat Senior Areka yang sedang terbaring di UGD rumah sakit.
...Ark 2 The Newbie’s Debut berakhir...
__ADS_1
...Berlanjut ke ark 3...