
Di babak ketiga, Kak Raia mewakili guild sebagai pemain veteran menengah. Lawannya rupanya juga adalah seorang fighter. Fighter lawan cukup memiliki banyak trik licik. Namun Kak Raia yang telah mengalami banyak pengalaman bertarung di kolosium, mampu melihat alur feint lawan dengan baik lantas menghindarinya serta melakukan counter attack dengan tepat sasaran.
Kak Raia mampu mengalahkan lawan dengan mudah. Dia telah banyak berkembang.
Lalu di babak keempat, ada Kak Andra yang mewakili pemain veteran tingkat tinggi. Sebelumnya, dia memberitahuku bahwa ada beberapa jurus prominen-nya yang tak dapat diungkapnya secara sembarangan di arena perihal profesionalismenya sebagai anggota Klub Silver Hero.
Walau demikian, Kak Andra tetap mampu mengungguli lawan dengan sangat mudah. Jebakan ranjaunya sangat sulit untuk ditebak disertai dengan pergerakannya yang lincah dan memanfaatkan agility lawan yang lemah untuk mengunggulinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Kak Andra untuk segera mengakhiri permainan. Dia segera bersalto ketika sang shielder lawan hendak menggapainya. Dan apa yang menanti sang shielder lawan di tempat itu tak lain adalah jebakan ranjau yang telah disiapkan oleh Kak Andra.
Tampak sang lawan tak sempat lagi menggunakan perisainya untuk melindungi dirinya dari ledakan ranjau Kak Andra tersebut lantas sang shielder lawan itu pun kalah begitu saja.
Kami melaju ke pertandingan utama putaran kedua tanpa kesulitan dengan skor 3-1 bahkan tanpa perlu aku turut terjun langsung di dalam pertandingan.
***
“Guild Master, ada apa?” Seorang wanita yang tampak dari kelas assassin yang sama dengan Luca menyapa sang guild master yang sedari tadi terlihat sangat gelisah.
Raut wajah gemetaran itu pun tampak semakin menjadi-jadi dari ekspresi sang guild master Dawn tersebut ketika guild extra Gubuk Bambu ditetapkan sebagai pemenang yang melaju ke putaran babak selanjutnya.
Ya, dengan demikian, guild extra Gubuk Bambu-lah yang akan menjadi lawan mereka di putaran selanjutnya.
“Apa jangan-jangan Guild master khawatir kita akan kalah? Walau para pemain hebat kita telah banyak yang berpindah ke guild extra lain sejak kejadian pengusiran kita, anggota-anggota tim yang tetap tinggal di guild, tidak kalah hebatnya.”
“Lihat buktinya. Kita dapat bertahan di turnamen antarguild extra sampai ke babak 4 besar. Dan bukankah di turnamen sebelumnya kita masuk 3 besar? Guild master tidak usah terlalu khawatir karena di turnamen kali ini justru kita-lah yang akan membawa pulang piala kemenangannya.”
Walau dengan kalimat bujukan dari sang wanita assassin cantik itu, tampak sang guild master tetap terdiam. Dia ketakutan.
__ADS_1
Sang guild master ketakutan perihal lawan mereka selanjutnya tidak lain adalah sumber trauma terbesarnya. Tepatnya yang menjadi sumber trauma itu bukanlah pada guild-nya, melainkan pada guild master dari guild extra tersebut. Dialah sang protagonis kita, Luca.
Singkat cerita, pertandingan utama putaran kedua antara guild extra Dawn dan Gubuk Bambu dimulai.
Di babak pertama, guild extra Dawn otomatis menang karena ketiadaan pemain newbie dari guild extra Gubuk Bambu.
Lalu di babak kedua, guild extra Dawn diwakili oleh sang wanita assassin yang tadi sempat berupaya menenangkan hati sang guild master-nya, sementara guild extra Gubuk Bambu kembali diwakili oleh Chika.
“Hmm. Jangan harap trik ramuan licikmu itu akan bekerja padaku juga, hai wanita sok cantik. Selama aku bisa menghindarinya, maka kamu takkan bisa berbuat apa-apa. Kamu tentunya paham hanya dengan melihat penampilanku, bukan? Aku seorang assassin yang memiliki agility yang tinggi sehingga takkan mungkin terperangkap pada jebakan ramuan busuk milikmu itu seperti shielder tolol lamban yang kamu kalahkan sebelumnya.”
Beberapa saat setelah provokasi itu, sang wanita assassin pun mulai hendak melancarkan serangannya. Akan tetapi, Chika menyerang terlebih dahulu dengan crossbow-nya. Sesuai yang diharapkan dari seorang assassin yang lincah, wanita itu mampu menghindari serangannya dengan sangat baik. Dia menghindar dengan elegan mengayun ke sisi lain pohon sehingga justru pohon di belakangnya saja-lah yang tertancap oleh panah crossbow milik Chika.
Sang assassin wanita itu pun tersenyum puas setelah melihat serangan Chika gagal mengenainya lantas segera hendak melakukan counter attack… Ataukah tidak.
Dari ekor panah yang sebelumnya dilontarkan oleh Chika itu, tiba-tiba saja keluar memanjang rangkaian duri-duri es yang seketika menggeliat ke sekujur tubuh sang assassin wanita dari arah belakangnya.
Sang wanita assassin pun bersimbah darah tertusuk oleh pola-pola duri es itu di sekujur tubuhnya lantas dia pun tidak butuh waktu lama untuk game over dari pertandingan.
Ketimbang puas dengan kemenangannya, Chika malah terlarut dalam pikirannya sendiri dengan menunjukkan ekspresi yang justru tidak layak sebagai seorang pemenang yang baru saja memenangkan kompetisi.
Sang guild master Dawn, Justice Sword, semakin tidak dapat menahan perasaan khawatirnya itu. Keringat dingin semakin mengucur deras ke sekujur tubuhnya. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk mengambil inisiatif.
Tepat di pertarungan babak ketiga, Raia melawan seorang pemain swordsman. Raia terlihat terdesak oleh lawan. Bagaimana pun dia telah berkembang selama latihannya di kolosium, perbedaan level yang cukup besar antara level 28 vs level 50 tetap jelas menjadi batasan bagi Raia.
Dia terpukul mundur oleh ayunan pedang dengan momentum yang kuat dari lawan. Raia berupaya bertahan sekuat tenaga melalui tameng tangannya disertai upaya counter attack dengan bersenjatakan guntlet berdurinya. Akan tetapi, Raia yang memang awalnya memiliki kepribadian yang jujur itu, dapat dengan mudah dibaca gerakan feint-nya oleh sang lawan.
Semua serangannya pun tidak berhasil mengecoh lawan sehingga tak ada satu pun kesempatan bagi Raia untuk mengadakan serangan balik. Dia hanya harus terus-terusan menerima secara sepihak serangan ayunan pedang lawan. Lama-kelamaan, Raia pun mulai terlihat putus asa karena semua hal itu.
__ADS_1
Namun secara tiba-tiba saja, pergerakan sang swordsman lawan terhenti. Dia jatuh terduduk begitu saja di arena tanpa Raia melakukan apa-apa padanya. Melihat Raia yang terlihat bingung dengan semua itu, Nina pun berteriak keras untuk mengembalikan Raia pada akal sehatnya.
Raia pun tersadar. Dia sebenarnya tidak mengerti tentang apa yang baru saja terjadi pada lawannya. Tetapi, itu bukanlah urusannya. Justru itu adalah kesempatan emas baginya dalam mengalahkan sang lawan.
Raia kemudian segera melayangkan serangan combo penta-kill-nya ke arah dada sang swordsman. Sang swordsman yang tak lagi dapat berkutik, segera terhempas begitu saja keluar dari arena. Selain game over, keluar dari arena juga merupakan penyebab kekalahan. Dengan demikian, Raia pun memenangkan babak ketiga di putaran kedua pertandingan utama tersebut.
Mungkin semuanya penasaran tehadap apa yang baru saja terjadi pada sang swordsman dari guild extra Dawn tersebut.
Dia telah dicurangi. Seseorang dari luar telah turut campur tangan terhadap hasil pertandingannya dengan menyerangnya secara sembunyi-sembunyi tanpa terdeteksi oleh wasit pertandingan.
Tentu saja itu bukan berasal dari sang protagonis kita maupun para anggota guild extra-nya. Apakah kalian berpikir itu adalah saingan lain dari guild extra Dawn yang tak ingin melihat rivalnya itu melaju ke babak final? Jawaban itu juga keliru.
Di luar dugaan, pelaku dari kejadian curang yang menimpa pemain guild extra Dawn tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah guild master mereka sendiri, Justice Sword, yang baru saja melakukan suatu tindakan injustice.
Kalian tanya mengapa dia dengan bodoh melakukan perbuatan yang merugikan guild extra binaannya sendiri? Kalau kalian baca kembali dengan seksama dari awal, maka tentu kalian akan menemukan jawabannya.
Semuanya karena ketakutannya berhadapan dengan Luca di babak terakhir.
Ketimbang akan menghadapi Luca di babak terakhir, dia lebih memilih agar guild extra Dawn-nya itu segera gugur saja dari pertandingan melalui pemain-pemain sebelumnya kalah hingga skor 3-1.
Dengan demikian, guild extra-nya itu akan otomatis kalah dalam pertandingan sebelum tibanya giliran dirinya bertarung sehingga dia tidak akan perlu lagi harus menghadapi bocah assassin yang penuh segudang rahasia menakutkan itu.
Itulah sebabnya pula ketika sang pemain yang bersangkutan hendak melakukan protes ke wasit bahwa dirinya telah dicurangi, guild master-nya sendiri yang segera mencegahnya dan menyuruhnya untuk membiarkan saja kejadian ini lewat, perihal pelaku kejadian itu tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.
Alhasil, harapan sang guild master Dawn itu benar-benar terwujud.
Di pertandingan keempat, Andra dengan elegan mengalahkan pemain swordsman lain dari lawan melalui taktik gerilya persis seperti taktik yang hendak dulu ingin diterapkan oleh sang swordsman SMA Mulya Kasih untuk mengalahkan Luca. Namun dalam kasus itu, tentu saja sang swordsman SMA Mulya Kasih itu gagal, perihal Luca bukanlah pemain gampangan yang bisa dikalahkan hanya lewat trik licik.
__ADS_1
Kemenangan sekali lagi diraih oleh Luca bersama anggota guild extra Gubuk Bambu-nya dengan skor 3-1. Tahu-tahu mereka sudah berada di babak final saja.
“Eh? Kok kita sudah berada di final saja, tetapi aku sama sekali belum bertarung ya?” Semuanya senang kecuali Luca, sang guild master sendiri, yang tampak begitu menyesal karena tak kebagian giliran sekalipun untuk bertarung membenturkan keringat.