The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
181. Debut Sang Newbie di Turnamen Profesional


__ADS_3

“Kak Kania, ada apa?” Tanyaku padanya yang tingkahnya terlihat agak sedikit aneh.


“Itu, anu, Luca. Bisakah kau mengikuti kompetisi mingguan Klub White Star besok sore?”


“Kania!”


Kak Kania dengan gugup mengungkapkan hal yang ingin disampaikannya itu kepadaku, namun sebelum dia menjelaskan dengan lebih detail, Kak Brian segera memarahinya.


“Hahahahahaha. Maaf, Luca. Perkataan Kania tadi tidak usah kamu pikirkan.”


Tentu saja mana mungkin hal itu dapat aku abaikan setelah mendengarnya.


“Tidak apa-apa Kak Brian. Biarkan Kak Kania berbicara. Sebagai salah satu anggota resmi di klub ini, tentu saja aku wajib tahu tentang permasalahan klub.”


“Itu… Anu…”


Namun, beberapa saat aku menunggu Kak Kania bersuara, dia tetap saja tampak masih ragu.


Akhirnya, Kak Malik-lah yang angkat suara.


“Itu, Luca, seperti yang kamu ketahui bahwa ada sistem rangking pada klub e-sport vrmmorpg profesional. Nah, untuk mempertahankan rangking kami yang saat ini di peringkat 7, kami harus mengikuti dengan rutin turnamen mingguan yang dilaksanakan tiap 2 kali sepekan, satu sebagai tuan rumah dan satunya lagi sebagai penantang, dengan sistem one player, three players, dan five players.”


“Tentu saja kompetisi utama yang diadakan tiap tahun itu yang memiliki peran lebih besar terhadap poin yang disumbangkan untuk penentuan rangking.”


“Sejauh ini sejak masalah internal kami di klub karena kekurangan anggota sejak 3 minggu yang lalu, kami entah bagaimana masih bisa tetap memenangkan pertandingan one player dan three players dari klub berangking lebih rendah, bagaimana pun kami harus menyerah pada turnamen five players-nya perihal kami saat itu hanya ada berempat.”


“Sejauh ini masih aman saja, tetapi jika dibiarkan terus, maka bisa dipastikan bahwa klub kita akan segera merosot peringkatnya ke peringkat bawah. Tetapi sekali lagi, Luca tidak perlu memikirkan semua itu perihal berkat Luca datang ke klub kami saja, kami sudah sangat bersyukur karena bisa menghindari penutupan klub.”


Aku pun kurang lebih mengerti dengan situasinya. Dengan kedatanganku di klub, Klub White Star setidaknya dapat menghindari penutupan klub dengan terpenuhinya jumlah anggota minimal 5 pemain sebelum tenggak waktu satu bulan berakhir.


Akan tetapi, bagaimana pun, rangking mereka telah terancam merosot perihal ketidakmampuan mereka mengikuti turnamen five players perihal kekurangan pemain.


“Oke, aku mengerti, Kak Malik. Jadi, bisakah Kakak menjelaskan tentang turnamen yang dibicarakan oleh Kak Kania itu?”

__ADS_1


Kali ini, Kak Brian yang justru angkat bicara, “Kamu tidak usah memaksakan diri, Luca. Bagaimana pun, tetap diperlukan latihan untuk menyesuaikan gerakan pada kompetisi tim. Jika kamu gegabah mengikuti turnamen dalam kondisi yang tidak siap, ini hanya akan merusak catatan pertandingan kamu saja di bidang e-sport vrmmorpg ini. Ini tentunya tidak baik untuk karirmu di masa depan.”


“Kak Brian benar, Luca. Aku paham dengan pemikiranmu bahwa lebih baik ikut dan kalah karena setidaknya bisa menyumbangkan sedikit skor daripada tidak ikut sama sekali. Tetapi Luca, sebagai atlit pro, pemikiran itu tidaklah baik. Kamu harus selalu ingat bahwa seorang atlit e-sport vrmmorpg memerlukan rekam jejak yang baik untuk dapat sukses di bidang ini.”


“Aku paham benar dengan maksud ucapan Kak Brian dan Kak Bento, tetapi bukankah masih ada waktu beberapa jam sebelum malam berakhir? Kalian bisa memastikan sendiri kemampuan kerjasama tim-ku sebelum memutuskan akan mengikutkanku dalam turnamen itu atau tidak.”


Demikianlah jadinya acara makan malam penyambutanku masuk ke dalam klub itu berubah menjadi ajang uji coba kepantasanku mengikuti turnamen mingguan bersama mereka.


Hasilnya tentu saja, mereka semua kagum dengan bakatku.


Mereka sama sekali tidak menduga kemampuanku yang segera bisa menyesuaikan diri dengan gaya bertarung tim hanya dengan sekali uji coba.


Itu wajar saja. Sebagai petualang veteran di Gardenia sebelum terdampar di dunia nyata ini, aku kerap kali melaksanakan misi bersama dengan orang-orang yang baru pertama kali kukenal. Hal seperti menyesuaikan dengan cepat gaya bertarung pribadi dengan gaya bertarung tim bukan lagi sesuatu yang sulit buatku karena bagiku itu sudah menjadi kebiasaan.


Alhasil, mereka pun menyetujui keikutsertaanku dalam turnamen mingguan five players yang akan dilaksanakan besok itu. Tidak hanya itu, mereka pun rupanya turut memintaku agar menggantikan Kak Bento dalam turnamen three players-nya. Tentu saja, aku juga menyanggupi permintaan itu.


.


.


.


Lawan kami adalah Klub The King yang saat ini menempati rangking di urutan ke-26. Ada 3 pertandingan yang akan kami lakukan yakni pertandingan one on one, three on three, serta five on five.


“Hahahahahaha. Klub pecundang yang sebentar lagi akan bubar masih berani datang rupanya.”


Begitu kami datang ke tempat pertandingan yang kali ini diadakan di markas The King, kami sudah disambut dengan sambutan yang tidak mengenakkan.


“Hahahahahaha. Sayangnya kami tidak akan bubar karena kami sudah memperoleh anggota kelima kami kembali.”


Walau dengan provokasi yang jelas demikian, Kak Brian dapat dengan tetap tenang menjawabnya.


Yah, itu tentu saja harus seperti itu. Jika kami marah, hanya tim kami yang tidak akan diuntungkan. Malah, jika sampai terjadi keributan, kemungkinan besar hanya tim kami yang akan memperoleh penalti melihat wasit pertandingannya saja secara terang-terangan menunjukkan keakrabannya dengan Klub The King.

__ADS_1


“Hah, bocah cebol ini? Apa yang bisa anak SD ini lakukan?”


Mendengar ucapan provokasi itu, ingin rasanya kurontokkan giginya. Akan tetapi, aku memilih untuk bersabar demi kepentingan yang lebih besar. Yah, aku, tidak, maksudnya kami hanya harus menunjukkan kemampuan kami saja melalui game tanpa banyak adu bacot seperti itu.


Takkan mungkin kubiarkan rencana musuh untuk mengacaukan kondisi mental kami melalui provokasi sebelum pertandingan demi keuntungan mereka itu berhasil.


Pertama-tama adalah pertandingan one player. Tentu saja bukan aku yang tampil, melainkan ace tim, Kak Malik.


Lawannya adalah sesama swordsman, tetapi tampaknya sang lawan tidak mampu menggunakan aura. Yah, itu wajar saja, tidak semua pemain bisa menguasai jurus aura. Hanya orang-orang tertentu saja yang dianugerahi dengan bakat yang bisa melakukan hal tersebut.


Hasil pertandingannya jelas. Bahkan tanpa Kak Malik menggunakan aura es-nya, Kak Malik menghindari dengan elegan tebasan sang lawan lantas balik menebas sang lawan itu dengan gerakan yang indah pula. Hanya dalam satu gerakan tebasan cepat, perut sang lawan terbelah lantas game over di arena. Kemenangan mutlak buat sang swordsman es, Kak Malik.


Lalu kemudian, tibalah giliran pertarunganku bersama Kak Brian dan Kak Kania dalam pertarungan three players. Salah satu lawannya adalah pemain yang tadi sempat mengatai aku cebol tersebut. Aku tentu saja akan memanfaatkan kesempatan ini untuk balas kepadanya.


Kak Brian adalah seorang mage api, sementara Kak Kania adalah seorang tamer semut api, namun tak kusangka bahwa serangan kombinasi mereka rupanya sangat menakjubkan.


Begitu pertandingan dimulai dan Kak Brian serta Kak Kania memulai serangan kombinasi mereka, kudengar sang lawan yang mengataiku cebol sebelumnya itu berucap dengan gemetar,


“Kamu! Kamu! Dasar penyihir semut sialan! Padahal kamu sangat lemah jika bertanding seorang diri! Sial! Keberadaan api-api ini membuat semut-semutnya sangat sulit untuk dibunuh.”


Demikianlah, tak lama kemudian, serangan api Kak Brian yang terisi oleh semut-semut api Kak Kania menerjang ke arah Tim The King. Sesuai dugaan untuk pemain profesional, mereka semua sanggup bertahan di dalam panasnya api. Hanya saja, ketika semut-semut Kak Kania turut menggerogoti tubuh mereka, mereka pun mengerang kesakitan.


Stamina mereka pun menurun secara drastis hingga pada suatu titik, mereka tak lagi mempunyai kekebalan terhadap api dan mereka pun mulai mengerang bertambah keras merasakan sekujur tubuh mereka hangus terbakar. Penurunan HP lawan pun terjadi semakin deras hingga mereka game over di arena.


Sayangnya, hanya dua dari mereka bertiga yang berhasil dibuat game over dari arena, ataukah Kak Brian dan Kak Kania dengan sengaja menyisakan sisanya untukku perihal pemain yang tersisa itu tidak lain adalah pemain yang telah mengatai aku cebol barusan.


Aku pun menyelinap di antara api Kak Brian lantas dalam sekejap, aku sudah berada di hadapan sang pemain kurang ajar itu.


“Kamu? Cebol! Bagaimana kamu bisa bergerak begitu bebas di tengah kobaran api seperti itu?! Tidak! Bukan itu. Bagaimana bisa kamu sudah ada di hadapanku padahal kamu baru saja berdiri di sana?!”


Aku hanya membalas perkataannya itu dengan tatapan yang akan membuat siapapun merinding ketakutan.


“Tidak! Jangan mendekat! Aaaaakkkkkh!”

__ADS_1


Tentu saja aku tidak segera menghabisinya. Beralasan karena strength seorang assassin memang lemah, aku baru membuatnya game over setelah puas mengiris-iris tubuhnya di sana sini.


Itulah balas dendam seorang Luca Dewantara. Jadi jangan pernah mengejekku cebol lagi.


__ADS_2