
“Dor dor dor dor dor dor dor.”
“Splash splash splash splash splash splash splash.”
Treco menembaki Rottie yang berusaha mendekat, namun dengan sigap Rottie menghalau peluru-peluru itu dengan tinju mautnya.
“Dasar serangga-serangga sialan!” Rottie pun mengumpat kesal karena sejak dari tadi, situasi pertarungan yang stagnan itu dipertahankan. Daripada menyerang langsung, duo Tim Max Squeeze itu lebih memilih tipe pertarungan tarik-ulur.
Mereka jelas-jelas ingin membuang-buang waktu sembari menunggu kesempatan pada pertarungan di tempat lain.
Rottie yang kesal pun akhirnya mengubah pola serangannya. Gerakannya bertambah lincah.
Dia bergerak dengan cekatan dan dalam sekejap mengambil titik buta kedua anggota tim itu. Untunglah Donovan dapat sigap membawa dirinya sendiri dan rekannya menghindari tinjuan maut sang wanita Viking.
Namun sayangnya, dia tak dapat luput dari tendangan maut sang wanita Viking.
“Akh.” Donovan pun batuk darah.
Sementara itu di luar dunia nyata, Luca yang menonton pertarungan itu pun berkomentar,
“Nah, sekaranglah penentuan, siapa yang akan ikut dibawa Tim Max Squeeze ke babak selanjutnya. Akankah itu tim Kak Krimson atau tim para Viking itu.”
“Eh, apa maksudmu, Luca? Bukankah jelas-jelas Tim Bougha yang ada di atas momentum walaupun jumlah anggota mereka sisa tiga orang?”
“Jawabannya jelas karena pemain yang bernama Leo itu yang terkuat.” Jawab Luca dengan percaya diri akan pertanyaan Nina itu.
“Jadi, kamu juga bisa merasakannya ya, Luca? Nak Leo memang dari dulu memang sudah sangat hebat.” Judith yang sedari tadi diam saja di samping mereka, akhirnya ikut berkomentar.
“Eh, Leo? Siapa itu? Tunggu sebentar…” Nina pun kembali memperhatikan list para pemain.
“Oh, ada. Dari tim Max Squeeze. Eh, bukannya dia yang selama ini belum sempat bertarung? Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia yang terkuat? Juga Ibu, Ibu kelihatannya akrab dengannya. Apa Ibu kenal dengan pemain yang bernama Leo itu, Bu?”
Judithlah yang duluan menjawab berbagai list pertanyaan Nina itu, “Oh iya, jika dipikir-pikir, kamu belum pernah bertemu dengannya ya. Leo itu keponakanmu lho, Nina.”
“Hah, keponakan? Tapi umurnya hampir sama denganku. Bukan itu yang penting, apa kita punya keluarga sehebat itu?”
“Hahahahahaha. Sehabis ini, bagaimana kalau kita mengunjungi tantemu, Tante Millie di dekat sini. Kebetulan tantemu tinggal di kota ini. Setidaknya, kamu ingat pernah bertemu sekali dengannya kan?”
“Hmm. Tante Millie sempat datang ke rumah sekali waktu aku masih SD. Tidak kusangka aku punya keluarga yang hebat. Oh iya, ngomong-ngomong Luca, kamu belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kamu bisa tahu kalau dia yang terkuat dari pemain lainnya padahal dia belum sempat bertarung sedikit pun?”
“Itu tentu saja karena pemain yang kuat selalu berusaha menyembunyikan dirinya di balik layar dan menghindari pertarungan yang sia-sia.”
Nina memiriskan matanya pada jawaban Luca yang terdengar ngelantur itu, “Itu, itu bukannya dia hanya pengecut?”
Tampak Luca tak menanggapi sentimen Nina lantas melanjutkan komentarnya.
__ADS_1
“Tergantung bagaimana hati Kak Leo, jika dia berhati lembut, maka Tim Kak Krimson-lah yang akan melaju ke babak selanjutnya. Namun, jika dia berhati dingin, maka Tim para Viking itulah yang akan maju.”
Mendengar jawaban Luca yang semakin ngelantur, Nina pun hanya bisa memiringkan kepalanya.
Dan kembali ke layar pertandingan,
Kedua pemain dari Tim Max Squeeze itu tampak telah sekarat akibat serangan dari kekuatan overpower sang wanita Viking. Wanita Viking itu pun melangkah ingin memberikan serangan terakhirnya.
Namun kemudian, seorang pemain datang mengintervensi.
“Dor dor.” Seorang pemuda dengan pistol di tangannya, menembaki sang wanita Viking itu.
Dialah Leo dari Tim Max Squeeze, keponakan Nina yang justru satu tahun lebih tua darinya.
“Cih, satu lagi serangga pengganggu tiba.”
Namun, berbeda dari perkiraan Rottie, orang ketiga dari Tim Max Squeeze itu rupanya jauh lebih bebal dari dua lainnya.
“Leo, mengapa kamu kemari?! Bukan begini kan rencananya?!” Donovan yang diselamatkan oleh Leo, di luar dugaan justru marah kepadanya.
Itu jelas karena Leo tidak mengikuti rencana yang telah disusun dari awal.
Rencana awal mereka adalah keempat anggota tim lainnya melakukan pertarungan tarik-ulur untuk melemahkan stamina para lawan di samping para lawan saling bertarung satu sama lain untuk menguras stamina di antara sesama mereka di mana sembari Donovan mengeliminasi peserta yang terlihat lengah dari jauh melalui teknik snipingnya yang cemerlang.
Mutlak mereka tidak bisa mengincar posisi sebagai yang terbanyak mengalahkan lawan karena ada Tim Bougha di antara mereka yang kebal terhadap peluru dan juga sangat agresif yang sulit bagi mereka menyainginya dalam hal perolehan jumlah korban.
Rencana yang lebih aman adalah menunggu Tim Bougha yang agresif mengumpulkan poin korban dengan bertarung sepuasnya melawan kedua tim lain sehingga begitu tenaga mereka telah terkuras karena keagresifan mereka dalam mengumpulkan poin korban, Leo akan masuk dengan mudah mengalahkan sisa dari mereka yang bertahan.
Namun kini semua rencana itu kacau karena Leo tiba-tiba menerobos masuk ke area pertempuran di utara itu di mana Donovan dan Treco berada. Leo telah menunjukkan dirinya sendiri kepada musuh sebelum tibanya pertarungan tahap akhir.
“Mana mungkin aku tega melihatmu terluka seperti itu sambil menutup mata, Donovan.” Jawaban singkat, padat, dan jelas pun keluar dari mulut pemuda itu.
Di luar di dunia nyata, Luca yang menyaksikan pertandingan itu tampak menyunggingkan bibirnya, tersenyum puas.
“Akhirnya segalanya sudah ditentukan.” Ujar Luca memberikan komentarnya.
***
Sementara itu pertandingan di timur,
“Serangga vampir sialan!” Fertio marah akibat sang pria vampir dari Tim Almbolescence itu membuat rekan setimnya, Gonez, gameover dalam pertandingan.
Dia pun melayangkan tinjunya ke arah sang pria vampir, namun sang pria vampir berhasil mengelak.
Tidak, sang pria vampir tidak mampu mengelak sepenuhnya. Kedua kakinya tak bisa ikut luput dari area serangan tinju maut itu sehingga retak. Sang pria vampir pun merintih kesakitan dengan tidak berdaya untuk berjalan lagi.
__ADS_1
“Dasar serangga vampir sialan! Hiyaaaat…”
Fertio hendak melakukan serangan terakhirnya untuk menghabisi sang pria vampir, tetapi sesuatu yang tidak terduga-duga pun terjadi.
‘Skill area: Tebasan matahari.’
Krein dari Tim Shadow Park yang sedari tadi bersembunyi di semak-semak belakang, secara tiba-tiba muncul ke permukaan dan masuk ke dalam pertarungan sembari mengeluarkan ultimate skillnya.
Sebuah sinar laser yang tajam terpancarkan melalui pedang Krein dan mulai membesar membentuk bentuk setengah elips yang bersinar terang bagai matahari.
Fertio menganggap remeh serangan itu karena sangat percaya diri dengan kemampuan fisiknya, terlebih jurus hujanan panah api rekan pemuda itu saja hanya bagai tusuk gigi baginya. Namun dia salah, jurusnya berbeda dari sang archer, melainkan mirip dengan jurus sang wanita pemburu vampir sebelumnya yang berhasil mengoyak kulitnya itu.
Jurus yang mengandung energi spiritual.
Adapun sang pria vampir, karena kakinya yang telah lumpuh, mutlak pula tak punya daya lagi menghindari serangan.
Mereka berdua pun terkena serangan telak ultimate skill Krein dari Tim Shadow Park itu.
Begitu badan Fertio terbelah dua secara horisontal antara bagian atas dan bawah, barulah dia menyadari dan menyesal, betapa bodohnya tindakannya itu membiarkan dirinya masuk dalam serangan musuh secara gratis.
Yang membuatnya kesal adalah bahwa nasihatnya kepada Gonez sebelumnya yang ceroboh dengan menganggap remeh serangan cambuk perak sang wanita pemburu vampir, “Itu salahmu sendiri. Mengapa kamu menerima serangannya begitu saja. Kamu terlalu percaya diri pada kemampuan fisikmu itu...” justru balik mengenai dirinya sendiri.
Fertio terlalu meremehkan pemuda yang menurutnya kerempeng yang ada di hadapannya itu sehingga dia pun gameover secara gratis tanpa memberikan serangan balasan.
“Ah, sial. Serangga-serangga sialan!” Dengan ucapan terakhirnya itu, Fertio pun ikut gameover dalam pertandingan berbarengan dengan sang pria vampir yang tak sanggup lagi berkata apa-apa itu.
Di luar dugaan, pertandingan di sisi timur dimenangkan oleh sang pengecut dari Tim Shadow Park yang sedari tadi hanya bersembunyi di semak-semak.
\=\=\=
Hasil pertandingan sementara ruang virtual B sesi kedua
Shadow Park, jumlah korban \= 5, jumlah pemain tersisa \= 1
Bougha, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 2
Max Squeeze, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 5
Almbolescence, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 0
\=\=\=
__ADS_1