The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
24. Luca dan Skill Tebasan Pangkal Paha


__ADS_3

“Eh, ada apa di resepsionis, kok ribut-ribut?”


“Biasalah, seorang newbie lagi mencari sensasi.  Tapi mengaku-ngaku seorang NPC sebagai pamannya, terlebih guild leader dari guild assassin, bohong pun ada batasnya.  Jika dia pamannya, maka apa, aku suaminya Putri Cecilia?”


“Hahahahaha.  Mungkin dia sangat mengaguminya waktu membaca brosur game The Last Gardenia hingga terbawa ke dunia halu-nya sendiri.”


“Hahahahahaha.”


Seketika para pemain sekitar yang kebetulan berada di situ menertawai Luca sejadi-jadinya melihatnya mengakui seorang NPC, guild leader dari guild assassin, Heisel Trakatov, sebagai pamannya.


“Tapi aku benar keponakannya…”  Luca mencoba untuk menjelaskan, namun para pemain terlanjur riuh dengan gelak tawa mereka menertawai Luca.  Luca pun menunjukkan ekspresi yang begitu patut dikasihani.


Heine, sang resepsionis yang menolak permintaan Luca tersebut lantas mengasihani Luca.  Dia pun memikirkan suatu cara alternatif yang dapat lebih efisien membuat Heisel, guild leader dari guild pusat tersebut, mampu menotice keberadaan Luca tanpa melanggar peraturan guild.


Jika Heisel benar-benar kenal dengan Luca, maka dia tentu saja tidak boleh menjadi penghalang reuni mereka tersebut.  Terlebih Heine melihat Luca adalah anak yang sangat polos yang sangat sulit dibayangkannya untuk berbohong.


“Sang Wanderer Luca.”  sapa Heine kembali kepada Luca yang membuat Luca kembali menatap ke arahnya.  “Tahukah Anda bahwa ada satu reward khusus lagi bagi para pemain apprentice untuk merequest seseorang dari guild assassin sebagai mentornya selama dalam masa pelatihan?”  Ujar Heine disertai senyuman lembut kepada Luca.


“Apakah aku bisa merequest Paman Heisel untuk posisi itu?”  Luca bertanya-tanya dengan penasaran lalu Heine pun menjawab, “Tentu.  Tidak ada yang tidak mungkin.  Walaupun biasanya tidak ada guild leader yang akan menerima permintaan permintaan ini karena kesibukan mereka, namun setidaknya dia akan tahu siapa nama seseorang yang berani membuat permintaan itu pada mereka.”


Seketika mata Luca berbinar-binar kembali setelah mendengarkan penjelasan dari sang resepsionis.  Dia pun segera mengikuti saran dari sang resepsionis tersebut.


“Tetapi pemain yang terhormat…”


“Luca, panggil saja aku Luca, Mbak Resepsionis yang baik hati.”  Luca segera memotong kalimat sang resepsionis dengan memintanya memanggil langsung namanya alih-alih sesuatu panggilan yang lain yang canggung didengar.  Dengan senyuman lembut, Heine mengiyakannya lalu turut balik meminta Luca untuk memanggil nama panggilannya saja, “Kak Heine.  Luca juga mulai sekarang harus memanggil Kakak dengan Kak Heine.”


Heine tersenyum lembut sambil menjelaskan prosedur sisanya kepada Luca.  Luca dengan yakin mengikuti saran dan Heine tersebut, termasuk siapa nama yang direkomendasikan untuk mengisi dua nama cadangan di bawah guild leader Heisel sebagai mentor Luca, satunya Keporin dan satunya lagi adalah nama yang sama sekali tidak dikenal oleh Luca.


Prosedur pun usai, namun begitu Luca hendak meninggalkan gedung guild, Heine kembali menyapanya.  Kali ini bukan dengan penampilan ala resepsionis, tetapi Heine berdandan layaknya seorang petualang.


Hal itu sejenak membuat Luca pangling lantas menanyakannya, “Kak Heine?  Kenapa Kakak berdandan seperti petualang?”


“Ya itu karena aku adalah resepsionis yang merangkap sebagai petualang.  Ini pasti pertama kalinya kan Luca melihat yang seperti itu?”  Jawab Heine dengan bangga.


“Tidak, Kak Heine.  Sebelumnya, aku juga kenal dengan Kak Derickson yang bekerja sebagai assassin yang merangkap sebagai administrator.”


Heine tampak sedikit kecewa dengan pernyataan Luca itu, “Luca banyak tahu ya tentang para anggota guild pusat.”  Tentu Luca banyak tahu tentang tempat itu karena dulunya dia adalah bagian darinya, namun Luca memilih untuk menahan penjelasan itu saja.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, Luca, sudahkah kamu memilih skill atau atau item sebagai rewardmu memasuki kelas apprentice?”


Pada pertanyaan Heine itu, ekspresi Luca tampak menunjukkan kebingungan.  “Aku sudah melihat list-nya sebelumnya, tetapi tetap saja tidak ada skill atau item yang benar-benar membuatku tertarik.”


“Yah, begitu pastinya soalnya skill atau item yang bagus tidak mungkin akan digratiskan.  Nah, Luca, bagaimana kalau Kakak ini saja yang mengajarimu skill yang bagus sebagai reward-mu?”  Ujar Heine dengan penuh percaya diri.


Mata Luca seketika berbinar-binar.  Dia dengan antusias menerima tawaran itu.


“Skill yang akan Kakak ajarkan kepadamu kali ini disebut ‘tebasan pangkal paha’.  Jurus ini memanfaatkan berat atas tubuh untuk memberikan impak pada serangan tebasan horisontal di area pangkal paha musuh.”  Ujar Heine menjelaskan seraya mempraktikkannya.


Luca terkagum menyaksikannya.  Tetapi seketika terbersit keraguan di hati Luca lalu dia pun menanyakannya, “Skill tebasan pangkal paha kelihatannya memang bagus, Kak, tetapi bukankah skill tebasan leher masih lebih dominan?”  Luca menanyakan itu sambil teringat kembali penampilan Mark.


“Skill tebasan leher memang bagus, tetapi Luca belum bisa mempelajarinya sekarang.  Di samping membutuhkan kegesitan untuk melompat yang hanya bisa dicapai ketika seseorang mencapai minimal level 20, skill silent hunt juga harus sudah dipelajari.”


Luca terlihat murung.  Namun, hal itu justru membuat Luca di mata Heine semakin terlihat imut.  Dia pun membungkuk merendahkan kepalanya sejajar dengan Luca, “Yah, walaupun di level Luca yang sekarang, Luca hanya dapat mempelajari jurus ini, tetapi jurus ini tidak buruk juga, terutama jika lawannya adalah seorang pria.”


“Mengapa?”  Luca penasaran akan maksud ucapan Heine tersebut lalu Heine dengan ekspresi wajah yang seketika berubah menjadi penuh tampang kelicikan berujar, “Siapa pria yang tak akan gemetaran jika bagian di dekat itunya tiba-tiba ditebas?”  Ujar Henie dengan penuh senyum licik.


Luca pun mempelajari jurus itu dan dengan cepat dapat menguasainya.


Skill tebasan pangkal paha didapatkan


“Sekarang saatnya untuk mendistribusikan poin stat-ku untuk persiapan melawan Senior Areka besok.  Ngomong-ngomong, aku belum tahu Senior Areka kelasnya apa.  Seandainya aku tahu, aku bisa memilih untuk mendistribusikan poin stat-ku dengan lebih tepat.  Tapi tentu saja kali ini aku harus lebih sedikit meningkatkan vitality dan dexterity-ku yang tampak sangat rendah.”


Lalu Luca pun memutuskan,


Stat:


Strength:  7 -- > 16


Vitality: 2 (0,04) -- >11 (+0,22)


Agility: 8 -- >17


Dexterity: 3 -- >11


Intelligence: 10

__ADS_1


Luck: 600


Poin stat: 35 -- >0


“Selanjutnya membuat senjata cadangan,”


Iron brick ukuran besar [3x] seharga 300 rupiah berhasil dibeli


Dagger taring serigala perak level menengah berhasil disintesis dari iron brick ukuran besar dan taring bos serigala perak level sedang


Dagger taring serigala perak level menengah berhasil disintesis dari iron brick ukuran besar dan taring bos serigala perak level sedang


Dagger taring serigala perak level tinggi berhasil disintesis dari iron brick ukuran besar dan 2 taring bos serigala perak level sedang


“Yang terakhir, sisa meningkatkan level skill-ku dengan meditasi melalui poin skill.”


Skill: tebasan (Lv 10 max), tikaman (Lv 10 max), berjalan vertikal (Lv 4 /10), tahan nafas (Lv 5/10), gerak zig-zag (Lv 10 max), langkah bayangan (Lv 6/10), sembunyi (Lv 5/10), engineering (Lv 2/10), tikaman penghancur tengkorak (Lv 4/10), tebasan pangkal paha (Lv 1/10), klik di sini untuk melihat detail skill yang masih non-aktif


Poin Skill: 290


“Tapi aku hanya punya 2 skill rare sekarang, sisanya hanya skill normal.  Sebaiknya aku meningkatkan skill rare-ku saja.”


Tetapi begitu Luca membuka skill rare pertamanya,


Tikaman penghancur tengkorak Lv 4 menuju Lv 5 membutuhkan 450 poin


Ternyata poinnya tidaklah cukup.  Luca pun membuka skill rare keduanya,


Tebasan pangkal paha Lv 1 menuju Lv 2 membutuhkan 40 poin


Untungnya kali ini poinnya mencukupi dan diapun meningkatkannya.


Tebasan pangkal paha Lv 2 menuju Lv 3 membutuhkan 60 poin


Tebasan pangkal paha Lv 3 menuju Lv 4 membutuhkan 100 poin


Tidak hanya sampai level 2 saja, malah poinnya ternyata cukup untuk meningkatkan skillnya sampai level 4.

__ADS_1


Dengan demikian, persiapan Luca untuk menantang duel seniornya yang angkuh di hari pertama masuk sekolahnya itu telah benar-benar matang.


__ADS_2