
“Kamu belum bisa melakukannya, Luca?”
Tampak raut rasa kecewa terpampang di wajah Kak Silvia begitu dia menyadari bahwa aku sama sekali belum mengerti arahannya.
“Maaf, Kak. Masih sangat sulit bagiku untuk melakukannya. Walaupun aku akhirnya bisa merasakan mana, masih sangat sulit bagiku mengendalikan alirannya.”
“Itu benar juga. Berbeda dari game di mana kamu bisa memperoleh panduan dari sistem, nyatanya kamu harus merasakannya secara manual.”
Tampak Kak Silvia terlarut sendiri akan penjelasan pembenarannya.
“Dengar ya, Luca. Aliran mana itu seperti permen karet yang bebas kamu bentuk sesuka hati kamu. Yang paling penting adalah imajinasi kamu. I-ma-ji-na-si.”
“…”
Terus terang, aku tak dapat menanggapi penjelasan dari Kak Silvia itu perihal aku sama sekali tidak mengerti.
Kulihat Kak Silvia pun mendesahkan nafasnya lantas beranjak masuk ke dalam ruangan. Begitu keluar kembali, dia tampak membawa suatu alat datar berbentuk segilima dengan pola aneh yang tampak terbuat dari batu yang sangat hitam.
“Pertama-tama, mari kita lihat jenis mana-mu, Luca. Peganglah benda ini.”
Aku pun mengikuti arahan dari Kak Silvia itu dengan memegang benda datar berbentu segilima itu. Kulihatlah, bagian yang bertuliskan light bersinar terang, sementara bagian yang bertuliskan fire dan water bersinar lemah, adapun yang bertuliskan earth dan air hanya bersinar sedikit sekali atau bisa dikatakan tidak bersinar sama sekali.
“Umu. Jadi, elemen dasarmu adalah cahaya ya, Luca. Tetapi tampaknya kamu berpotensi mempelajari semua elemen. Ini sangat baik.”
Kak Silvia pun menatap seksama ke arahku mulai dari ujung rambut sampai ujung kepala.
Pandangannya begitu membuatku gugup, tetapi yang jelas aku tahu bahwa pandangan yang ditujukan oleh Kak Silvia itu jelas berbeda dari pandangan tante-tante modis yang sering berpapasan denganku ketik jalan-jalan di mall bersama Egi.
Tetapi karena penasaran, aku pun bertanya, “Apa ada yang salah, Kak Silvia?”
“Hmm.” Kak Silvia hanya menggelengkan kepalanya.
“Pertama-tama, mari pikirkan sebuah cahaya keluar dari celah pori-pori tanganmu lalu kumpulkan di atas telapak tanganmu, Luca. Seperti ini.”
Kak Silvia pun mensimulasikan dan aku bisa melihat kumpulan udara membentuk bola bulat sempurna di atas tangannya.
“Tetapi dalam kasusku, ini adalah elemen udara karena afinitas tertinggiku adalah dengan udara. Sekarang giliranmu mencoba, Luca, dengan elemen cahayamu” Tambah Kak Silvia menjelaskan.
“Rasakan mana sebagai aliran sungai. Bagaikan menimba air di sungai, ambil sedikit demi sedikit tumpukan mana itu untuk kamu kendalikan. Bayangkan dia seperti permen karet yang dapat kamu bentuk sesuka hati.”
Dan, akhirnya aku berhasil melakukannya.
“Bagus, Luca. Sudah kuduga kamu adalah murid yang pandai.”
“Hehehehehe.”
Aku pun tertawa kecil dengan senang akan pujian Kak Silvia itu.
“Nah, sebagai tahap selanjutnya, daripada membentuk permen karet itu sebagai bola, bayangkan untuk meliputinya tipis-tipis di sekujur tubuhmu. Prinsipnya masih sama, bagai menimba air di sungai.”
Namun, hingga malam tiba. Aku sama sekali tidak mampu melakukan fase kedua itu. Begitulah hariku hari itu berakhir bersama Kak Silvia. Kak Silvia pun mengingatkanku agar terus mencoba berlatih fase kedua ini hingga bisa di rumah.
__ADS_1
Malam harinya, alih-alih bermain game, aku bermeditasi di kamarku untuk berlatih fase kedua itu.
Tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan di game karena baik Chika, Diana, Kak Nina, dan Kak Raia telah bisa mengurus pelatihan mereka masing-masing.
Mungkin karena hari itu aku absen di dalam game, Kak Nina menggedor pintu kamarku. Karena tidak ada jawaban yang kuberikan, kulihat Kak Nina langsung membuka pintu kamarku, namun begitu melihat aku bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer mini, Kak Nina segera kembali menutup pintunya sembari berkata,
“Astaga, Luca! Apa yang kamu lakukan?!” Atau semacamnya.
Lalu berlari ke bawah begitu saja.
“Master, apa yang kamu lakukan?” Itu adalah Aura.
“Berlatih aura.” Jawabku singkat pada pertanyaannya.
“Berlatih diriku?”
“Bukan, bukan. Maksudnya, aku sedang berlatih mengeluarkan mana dalam bentuk aura.”
“Oh, kalau begitu biar kubantu, Master.”
Singkat cerita, Aura dalam bentuk hologram menyentuh punggungku. Entah mengapa seketika pikiran kami saling berbagi. Aku bisa menatap aliran mana dalam pandangan pemahaman yang lebih universal.
Seakan aku bisa langsung mengerti konsepnya, dengan bantuan Aura membuatku mampu memegang mana dengan lebih baik, aku lebih bisa mengendalikan aura.
Sedikit demi sedikit tetapi pasti, aliran mana itu bisa kusalurkan ke seluruh permukaan tubuhku. Berkat bantuan Aura, malam itu juga aku berhasil menguasai teknik aura.
.
.
.
Pelatihanku pun berlanjut bersamanya dan betapa Kak Silvia juga senang mengetahui bahwa aku akhirnya bisa menguasai teknik aura. Lantas, kami pun mulai berlatih tanding kembali dengan intensitas serangan yang lebih meningkat.
Di luar dugaanku, Kak Silvia sangat hebat dalam ilmu beladiri, bahkan sangat hebat sampai-sampai aku yang merasa sudah sangat unggul dalam pertarungan jarak dekat ini walau tanpa dagger-ku, berhasil dibuat babak belur olehnya.
Hanya tiga jam aku berlatih tanding melalui tangan kosong bersama Kak Silvia, tetapi tubuhku sudah merasakan letih yang teramat sangat sehingga aku tak sanggup lagi untuk melanjutkannya.
Pelatihan pun diakhiri satu jam lebih cepat karena kurangnya staminaku. Sungguh memalukan bagi petarung veteran sepertiku. Ini karena sejak tiba di dunia nyata, aku jarang melakukan pelatihan dasar lagi. Pokoknya mulai malam ini, aku harus kembali memforsir training-ku ke tingkat maksimal.
Hari demi hari berlalu.
Pelatihanku dengan Kak Silvia tampak berjalan lancar.
Di malam harinya, aku menerapkan pelatihan itu dengan menyelesaikan berbagai quest atas perintah Kak Kaisar, tetapi lagi dan lagi, itu adalah masalah zombie. Sungguh tidak efisien bagi petarung tipe agility sepertiku menghadapi para zombie yang lambat.
Di dalam game, aku juga menyempatkan bertemu dengan Paman Heisel yang terlihat telah jarang aku temui perihal Paman Heisel yang sibuk dengan quest-nya di Kerajaan Melodia.
Begitu bertemu denganku, betapa kulihat Paman Heisel memelukku sembari menitikkan air mata dengan bahagia. Mungkin tampak sebagai suatu adegan yang dilebih-lebihkan bagi orang-orang yang melihatnya, tetapi akulah yang paling tahu bahwa Paman Heisel serius. Tampaknya, ada yang mengganjal di pikirannya.
Namun, betapa pun aku mencoba mengorek informasi darinya, dia tetap merahasiakannya padaku. Aku mau tidak mau, akan menyelidiki ini nanti seorang diri.
__ADS_1
Tiba di hari keempat pelatihan, aku akhirnya bisa mengimbangi gerakan Kak Silvia. Tetapi itu saja, kemampuan Kak Silvia masih sangat jauh di atasku.
Setelah kupikir-pikir, aku tampaknya butuh lawan tanding lain yang kemampuannya lebih tinggi dariku, tetapi lebih rendah dari Kak Silvia karena kalau aku langsung berhadapan dengan petarung level tinggi seperti ini, aku hanya bisa menjadi karung tinju yang bergerak saja.
Perlu bagiku untuk mendekatkan jarak level diriku terlebih dahulu dengan level Kak Silvia dengan bertarung dengan seseorang yang levelnya berada pada ranah di antara kami.
Tetapi siapa?
Chika, Diana, Kak Nina, dan Kak Raia jelas tidak mungkin karena levelnya sangat jauh di bawahku. Kak Andra juga demikian, bahkan aku sudah pernah mengalahkannya.
Eh, tunggu.
Kapan lagi itu ya?
Oh, benar. Waktu itu kami bertarung lantaran aku menantang Senior Asario, tetapi dia mensyaratkan untuk mengalahkan Kak Andra dulu sebelum aku berani menantangnya.
Seketika aku mengingat janji yang tampaknya dilupakan oleh seseorang.
Tampaknya akan menarik juga. Kini tiba waktunya untuk menagih kembali janji itu.
***
Di tempat yang tidak diketahui oleh Luca.
“Oh, Tuan Putri. Apa yang kamu lakukan terlihat panik begitu?”
Terlihat suatu sosok bertelinga panjang yang tidak lain adalah tubuh asli Putri Silvia berjalan dengan cepat, tiba-tiba dicegat oleh rekannya sendiri, Agnes.
“Ah, Virus Lady. Bukan apa-apa.”
“Kalau bukan apa-apa, kamu tidak akan sepanik itu. Ceritakan saja. Oh iya, berkali-kali aku katakan kalau di tempat ini, cukup panggil aku saja dengan nama Agnes.”
Tampak Putri Silvia terdiam sejenak, terlihat mempertimbangkan apakah akan memberitahu Agnes masalahnya ini atau tidak. Namun akhirnya, dia memutuskan untuk menceritakannya.
“Bagaimana kalau aku mengatakan ada anak lain di dunia luar sini yang ternyata memiliki tingkat sinkronisasi lebih tinggi dari para penghuni dunia dalam, bahkan lebih tinggi dari Shadow Monarch.”
“Maksudmu Duke?! Itu tidak mungkin masih ada yang bisa melampaui tingkat sinkronisasi Duke yang sudah lewat dua ratu persen itu.”
“Nyatanya ada.”
“Siapa orangnya? Apa dia juga dirawat oleh penghuni dunia dalam seperti Duke? Apa memang benar ada kaitan level sinkronisasi penghuni dunia luar yang sangat di luar batas itu dengan mereka yang dirawat oleh orang seperti kita?”
“Rasanya kita sudah mendiskusikannya bahwa siapa yang merawatnya tidak ada kaitannya. Lagipula anak itu dirawat oleh manusia biasa sesama penghuni dunia luar.”
“Jadi, siapa anak itu, Tuan Putri?”
Tampak sejenak Putri Silvia terdiam sembari menghela nafasnya.
“Dia adik newbie kita.”
“Maksud kamu dengan adik newbie, apa dia Luca?”
__ADS_1
Sang tuan putri hanya mengangguk dalam diam menanggapi wajah sangat terkejut Agnes itu. Dia pun kembali melihat ke dalam suatu alat yang mirip pemeriksa suhu tubuh itu. Tetapi tentu saja itu bukan pemeriksa suhu tubuh, melainkan alat pendeteksi tingkat sinkronisasi seseorang dengan mana.
Dan di skala pembacaan alat itu, tingkat sinkronisasi Luca menunjukkan angka empat ratus persen.