
Areka yang berjalan bersama Yudishar meninggalkan ruangan klubnya menuju ke tempat kantin rupanya telah sedari tadi ditunggu keberadaannya oleh Nina. Begitu Areka melihat Nina, dia menghentikan langkahnya lantas melihat wanita itu dengan ekspresi cemberut.
“Senior, aku mohon, batalkan duel itu.” Lirih Nina pada Areka.
“Hmm? Apa yang kamu maksudkan?” Areka masih pura-pura tidak tahu meski sebenarnya sudah paham benar apa yang dimaksudkan oleh Nina.
“Duel dengan Luca. Aku mohon batalkan itu, Senior. Dia masih kecil, tetapi dia sudah mengalami masa-masa yang sulit kita bayangkan selama ini di tempatnya tinggal dulu. Baru kali ini dia akhirnya bisa merasakan sedikit kebahagiaan. Aku mohon jangan rebut kebahagiaan itu dari Luca lagi dengan mempermalukannya di depan umum.” Ujar Nina memelas kepada Areka.
Areka menatapnya lama dalam diam sembari memancarkan aura penuh kelicikannya itu padanya. Kemudian, Areka pun tersenyum kecut sembari berkata, “Masa-masa sulit ya. Aku jadi penasaran dengan masa-masa sulit yang kamu maksud. Apa nanti kutanyakan pada Luca saja ya di depan teman-teman sekelasnya sebentar?”
“Senior!” Nina tampak sangat marah hingga menggertakkan gigi-giginya di hadapan Areka.
Areka tetap tidak memalingkan pandangannya itu dari hadapan juniornya tersebut tetap dengan ekspresi merendahkannya. “Jadi, jika aku membatalkan duel itu, apa yang akan kamu berikan padaku sebagai gantinya?” Areka berujar licik yang membuat badan Nina gemetaran. Dia lantas berusaha sekuat tenaga melawan intimidasi itu dengan berujar, “Apa saja yang Senior mau dariku akan kulakukan.”
Areka tersenyum licik mendengar ucapan Nina itu. Dia lantas membungkukkan badannya hingga sejajar dengan tinggi badan Nina lantas mendekatkan mulutnya ke telinga Nina. “Kalau begitu, menyerahlah bermimpi menjadi pemain e-sport, maka aku akan melupakan semua yang terjadi di warnet itu.”
Mata Nina seketika terbelalak dan badannya gemetaran begitu mendengar ucapan Areka barusan. Dia tidak menyangka bahwa apa yang Areka inginkan justru adalah merebut mimpi yang paling berharga bagi dirinya itu.
“Apa saja, Senior, selain itu. Kumohon…”
“Kalau begitu, anggap saja pembicaraan ini sama sekali tidak pernah terjadi.” Seraya mengatakan hal itu, Areka bersama Yudishar pun meninggalkan Nina sendirian dalam kelunglaian.
Tanpa terasa, jam sekolah pun usai. Tampak Luca menanyakan kepada siapapun yang ditemuinya tentang di mana dia bisa menemui Senior Areka. Setelah mengetahui di mana keberadaan Areka, Luca pun bergegas menuju ke sana. Namun tiba-tiba, seseorang mencegat langkahnya.
“Permisi, kamu menghalangi jalanku.” Ujar Luca pada orang yang mencegat langkahnya itu. Dapat terlihat dengan jelas ekspresi penuh kesal dari balik wajah orang itu. Dialah Egi, salah seorang teman sekelas Luca.
__ADS_1
“Hei, bodoh! Bisa-bisanya kamu menantang Senior Areka berduel. Sebaiknya cepat berlutut saja di hadapannya sebelum terlambat dan kamu akan dipermalukan di hadapan semua orang!”
“Mengapa aku bisa dipermalukan?” Dengan ekspresi yang membuat orang kesal itu, Luca bertanya balik pada Egi yang mengatakannya.
“Tentu saja karena kamu hanya akan babak belur di hadapan orang hebat seperti Senior Areka! Aku tidak pernah peduli padamu, tetapi jika dengan duel ini, idolaku Senior Areka sampai ikut kena getahnya karena dituduh merundung anak idiot sepertimu, maka aku tidak akan pernah memaafkannya!”
Luca hanya berjalan melewati bocah itu seraya tersenyum kecil.
“Terima kasih telah mengkhawatirkan aku, sobat. Ngomong-ngomong siapa namamu?” Tanya Luca kepada Egi.
“Siapa yang mengkhawatirkanmu?! Namaku Egi ngomong-ngomong.”
“Yah, yah, pokoknya tonton saja duelku. Mungkin tidak terlihat karena tubuhku kecil, tetapi aku ini petarung yang hebat lho.” Luca pun berujar dengan penuh percaya diri di hadapan Egi.
Luca kemudian berjalan menuju gelanggang besar di gedung olahraga di mana telah siap 2 pasang komputer dan bando penghubung kesadaran vrmmorpg di sana. Tampak di sekeliling, penonton telah riuh untuk menyambut duel tersebut yang entah mengapa gosip tentang duel itu bisa menyebar hingga hampir ke seluruh penghuni sekolah.
“Baiklah, Senior! Jika itu yang Senior mau, aku akan menyerah pada formulir pendaftaran klub e-sport di sekolah untuk selamanya. Tetapi jika harus melepaskan mimpiku, itu tidak mungkin. Bagaimana pun juga, aku akan mewujudkan mimpi itu untuk suatu hari menjadi pemain e-sport profesional.”
Nina tampak sangat sedih sewaktu mengucapkan kalimat itu. Hal itu lantas membuat Raia yang ada di samping Nina tak dapat menahan kesalnya.
“Nina, kamu tak perlu mengorbankan mimpimu sendiri seperti itu.” Ujar Raia tampak mencoba menghibur Nina.
Raia pun mengalihkan pandangannya kepada Areka dengan tatapan penuh kebencian.
Akan tetapi, sebelum Raia dapat mengucapkan sepatah kata pun kepada Areka, Luca maju lebih dulu menenangkan kedua orang itu. “Tenang saja, Kak Nina, aku ini seorang pemain yang hebat. Aku pasti akan menghajar senior angkuh itu hingga babak belur.” Ujar Luca disertai dengan senyum lembut.
__ADS_1
“Jangan menghajarnya dong, Luca. Dilarang pakai kekerasan. Maksudnya, mengalahkannya lewat game kan?” Ucapan Raia lantas membuat pandangan Luca mengarah kepadanya. Sangat jelas pada ekspresi Luca yang seolah mengatakan, ‘Siapa ya orang ini’ dari tatapan matanya yang tampak meraba-raba itu.
“Eh, jangan-jangan Luca sudah lupa padaku ya? Kita kan sudah pernah membentuk party bersama di dalam game.” Ujar Raia mencoba mengingatkan Luca akan dirinya.
Seketika Luca ingat dan berujar, “Kak Raia?”
“Benar sekali. Salam kenal di dunia nyata, Dik Luca.” Ujar Raia memperkenalkan diri secara resmi kepada Luca diiringi senyuman cerah.
“Maaf, Kak Raia, sempat tidak mengenali Kakak. Tetapi aku sama sekali tidak menduga bahwa tampang Kakak di dunia nyata ternyata lebih biasa dan lebih pendek dari yang ada di game. Hahahahaha.”
Begitulah Pangeran Tampan Bermulut Berbisa kita berujar seperti biasanya yang tanpa sadar menyakiti hati kecil Raia.
“Hahahahaha.” Raia hanya membalas ucapan Luca itu dengan turut tertawa kecil, tetapi dalam hati dia mengumpat, ‘Aku paling tidak ingin mendengar hal itu dari orang yang bertubuh lebih pendek dariku sepertimu, Bocah.’
“Tapi bagaimana kamu bisa mengalahkan Senior Areka, Luca? Kamu kan masih newbie. Kamu bahkan baru mulai memainkan vrmmorpg pertamamu dua hari yang lalu. Itupun kita langsung dibantai habis sama bos monsternya lantas game over.”
“Newbie?” Areka sekilas terlihat bereaksi terhadap pernyataan Nina tersebut.
Namun Luca segera menampikkan kesangsian Nina tersebut, “Aku sama sekali tidak pernah game over kok, Kak Nina. Aku berhasil meng-clear-kan quest-nya sampai lapisan kelima bahkan memperoleh quest tersembunyi.”
“Jangan bilang, kamu mampu mengalahkan bos monster serigala perak di lapisan kelima yang rumornya sampai berlevel di atas 30 itu?”
Luca menggelengkan kepalanya. Sekilas Nina mengira bahwa itu adalah jawaban tidak Luca atas pertanyaannya itu, tetapi dia salah paham. Apa yang disangkal Luca hanya level monsternya saja, “Tidak sampai setinggi itu kok, Kak Nina. Level monsternya hanya 25 saja.”
“Jadi kamu benar-benar mengalahkan bos monster di lapisan lima-nya? Juga apa-apaan dengan mengatakan saja pada level monsternya. Level 25 itu sudah sangat tinggi, tahu.”
__ADS_1
Luca hanya tersenyum mendengarkan celotehan Nina tersebut. Nina sendiri tiada menyangsikan perkataan Luca sedikit pun karena dia sudah pernah melihat kelincahan gerakan Luca yang dikiranya berasal dari pengalamannya bertempur di medan perang. Namun, itu tentu saja salah paham Nina saja yang masih belum tahu tentang asal-usul Luca yang sebenarnya.
Setelah Nina memikirkannya baik-baik, tampaknya dialah yang terlalu meremehkan Luca karena melihat penampilannya yang mungil. Dengan kelincahan gerak yang dia sendiri sudah saksikan yang berasal dari pengalaman Luca di medan tempur itu, bukan tidak mungkin dia dapat mengalahkan Areka yang belum pernah mempunyai pengalaman bertempur nyata di luar game.