
“Lepaskan Kak Kaisar, kau sialan!”
“Oho, sejak kapan anak baik hati kita ini mulai berbicara kasar? Bisa-bisa Ibu nanti marah lho.”
“Kamu, jangan alihkan topik! Lepaskan Kak Kaisar sekarang!”
Luca terdiam sejenak. Dia baru tersadar tentang keanehan di ucapan Phineas yang baru saja diucapkannya kepadanya itu.
“Ibu? Apa maksudmu dengan Ibu?! Dia ibuku, bukan ibumu!”
“Ehem. Kamu salah dengar, Luca. Aku barusan bilang ibumu nanti bisa marah lho.”
Sembari mengatakan itu, perlahan, Phineas menurunkan Kaisar Cecilia dari gendongannya ke atap yang berposisi datar. Dia perlahan melangkah menjauh seolah mengisyaratkan bahwa dia membiarkan Luca mengambil kembali sandera yang dibekapnya itu.
“Kamu? Apa yang hendak kamu lakukan?!”
“Kan kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku harus mengembalikan keturunan Lacoza yang tersisa ini padamu. Jadi aku lakukan.”
“Kamu? Kenapa bisa jadi penurut begitu? Apa tujuanmu yang sebenarnya?”
“Sudah kuduga, rupanya dunia nyata benar-benar telah mengkontaminasi Luca kita yang polos. Kamu sampai bisa curigaan begitu kepada orang lain.”
“Aku memang awalnya begini. Wajar untuk mencurigai orang yang mencurigakan, terutama itu kamu. Katakan! Apa sebenarnya motifmu melakukan semua ini!”
“Apa… Itu karena tiga hari lagi adalah hari pertandinganmu di dunia sana dan aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu dengan melakukan hal yang tidak perlu. Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku juga salah satu fan club-mu? Kita kan waktu itu bertatapan mata di sana.”
“Apa? Jadi, orang yang bertudung dan mengenakan topeng aneh yang kulihat waktu itu di bangku penonton adalah benar-benar dirimu?! Apa yang sebenarnya kamu incar?!”
“Perkataanmu sunggu kejam, Luca, sampai menuduhku seperti itu. tidak ada yang kuincar kok. Aku murni berharap kemenanganmu di dalam pertandingan itu. Apa lagi yang orang-orang dunia sana menyebutnya? Hmm… E-spot?”
Lidah cadel Phineas persis melakukan kesalahan yang sama seperti waktu pertama kali Luca mengucapkan kata tersebut.
“Untuk apa? Untuk apa semua itu?! Kamu bahkan tega membunuh para penjaga tidak bersalah hanya untuk menculik Kak Kaisar dan sekarang kamu bilang akan mengembalikannya dengan mudah?! Lantas bagaimana dengan keadaan Kak Hendric dan lainnya di dalam sana?! Jangan bilang bahwa kamu juga sudah membunuhnya.”
“Ah. Rombongan di dekat keturunan Lacoza itu ya. Aku tidak begitu peduli pada nyawa mereka, tapi tampaknya mereka masih bernafas.”
Mendengar jawaban Phineas itu, sedikit tampak kelegaan di wajah Luca. Akan tetapi, kemarahannya tetap saja tak surut kepada sosok kejam di hadapannya itu.
“Kamu, kamu kenapa begitu kejam?! Kamu pikir apa arti nyawa itu?! Mengapa kamu dengan mudahnya mengambil nyawa orang lain?!”
Phineas terlihat bingung sesaat. Matanya menatap Luca seakan mengatakan apa yang dipikirkan oleh bocah ini.
“Hei, Luca. Apa jangan-jangan, kamu menganggap mereka juga manusia? Itu salah kan? Mereka tidak lain hanyalah karakter game belaka.”
__ADS_1
“Clang.”
“Set.”
Dengan air mata penuh amarah, Luca mengaktifkan skill tebasan lintas dimensi-nya, berniat menggorok leher Phineas secara langsung melalui pedang suci Astaroth-nya. Namun dia gagal, Malahan, Phineas hanya menangkap pedang suci itu dengan kedua ujung jarinya seolah bukan apa-apa.”
“Hei tenang dulu, Luca.” Phineas tampak berupaya tersenyum untuk menenangkan pikiran Luca. Akan tetapi, bentuk topeng setengah wajah yang menutupi bagian atas wajah Phineas itu berpadu dengan senyumnya, malah terlihat seakan mengejek Luca. Luca pun bertambah kesal dengan semua itu.
“Kamu, sialan! Aku paling tidak ingin mendengar itu dari mulutmu! Jika kamu memang berpikiran seperti itu, maka itu artinya aku dan kamu juga sama. Kita juga tak lain hanyalah karakter game yang tidak penting seperti yang kamu bicarakan barusan!”
Namun, Phineas dengan yakin membantah argumen Luca itu, “Bukan seperti itu kan, Luca? Kamu adalah manusia nyata, berbeda dari mereka, perihal kamu terlahir dari ayah dan ibu yang asli berasal dari dunia nyata. Baik itu kamu, maupun aku, juga sama.”
Seraya mengatakan itu, Phineas pun membuka topengnya. Rambut emas kehitam-hitamannya berkilau diterpa cahaya matahari senja dan berkibar dengan begitu indahnya oleh angin semilir. Dan wajah yang rupanya tersembunyi di balik topeng itu, tidak lain adalah wajah yang mirip dengan Luca. Wajah yang sama ketika kita membayangkan Luca nantinya akan menginjak usia empat puluhan-nya.
“Sebenarnya, aku ini saudaramu, Luca.”
Kata-kata Phineas pun seketika menjadi petir di lubuk hati Luca.
“Master? Master, ada apa? Anda baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Aura. Lanjutkan saja pekerjaanmu di sana.”
“Tapi aku bisa merasakan gejolak mana yang kuat dari tubuh Anda.”
“Baiklah, Master, jika itu yang Anda inginkan. Tapi jangan lupa untuk segera mengirimkan telepati kepadaku jika ada apa-apa.”
“Aku mengerti, Aura.”
Luca pun menatap lurus ke arah Phineas dengan tatapan ekspresi yang penuh murka.
“Dari awal, aku sudah menduga bahwa ada yang salah. Ayah selalu merujuk masa lalunya ketika terdampar ke Gardenia sebagai 6 tahun yang lalu, yang berarti sepuluh tahun mendatang yakni masa sekarang, sama dengan 16 tahun yang lalu. Kalender dunia nyata menyatakan bahwa sekarang adalah tahun 2083, sedangkan waktu Ayah dan Ibu terdampar ke Gardenia adalah pada tahun 2031.”
“Bagaimana pun kamu melihatnya bahwa itu adalah jeda 52 tahun, bukan 16 tahun. Bisa saja ada spekulasi bahwa waktu di dunia nyata lebih cepat daripada di Gardenia, tetapi waktu itu jelas bahwa Aura mengatakan bahwa usianya sudah 12 hari padahal telurnya baru saja menetas dua hari yang lalu pada waktu dunia nyata.”
“Dengan ditambah perkataan Paman Heisel yang aneh seolah-olah aku telah lama tak dilihatnya padahal baru empat hari berlalu sejak aku menghilang dari Gardenia berdasarkan waktu dunia nyata, bagaimana pun dilihatnya, justru waktu Gardenia-lah yang lebih cepat daripada di dunia nyata.”
“Lalu, aku sempat menduga bahwa Ayah dan Ibu sama-sama mengidap penyakit amnesia sehingga ingatan mereka selalu terestart pada kurun waktu tertentu. Ini bisa menjadi alasan yang logis mengapa sampai Ayah salah dalam mengestimasi waktu dan itu pun bisa membenarkan argumenmu bahwa ada keberadaan anak yang dilahirkan di antara aku dan Nenek Millie sebagai anak dari Ayah dan Ibu.”
“Akan tetapi, wajah Ayah dan Ibu yang memang tampak seperti berusia akhir 20-an atau awal 30-an segera membatalkan pendapat itu. Ayah memang merujuk ke keadaan 6 tahun yang lalu, bukan usianya yang salah, tetapi waktu di sekitar Ayah dan Ibu-lah yang terdistorsi. Tetapi mengapa bisa terjadi perbedaan waktu?”
“Aku sampai sekarang belum dapat memahaminya sampai kamu muncul di hadapanku dengan wajah yang sama persis denganku, tetapi lebih tua, Phineas.”
“Apa maksud kamu, Luca?”
__ADS_1
“Dunia bayangan dan dunia cermin. Aku sudah tahu semuanya. Aku pernah melihat seorang nenek yang telah meninggal dengan seorang cucu yang meratapi kuburannya yang telah terkorupsi menjadi perwujudan iblis. Dan dengan kejam, dunia ini menggantikan keberadaan mereka dengan doppelganger dari dunia cermin lantas mereka sendiri dibuang ke dunia bayangan.”
“Aku tidak membenci Nenek Noni dan cucunya, doppleganger dari Nenek Noni dan cucunya yang asli karena mereka tidaklah jahat. Mereka sama sekali juga tidak tahu-menahu tentang asal-usul mereka yang dari dunia cermin, yang mereka hanyalah doppelganger semata.”
“Apa yang ingin kamu bilang, Luca?”
“Sudahlah, Phineas. Kamu kan Luca yang asli yang dibawa ke dunia bayangan, sementara aku hanyalah doppelganger darimu semata!”
Terjadi diam yang lama di antara mereka berdua, sebelum akhirnya, Phineas-lah yang duluan membuka suara,
“Tampaknya, kamu sudah tahu banyak ya, Luca. Aku tidak menduga semua itu. Semula, aku ingin merahasiakan semua ini dari kamu karena setidaknya, kamu bisa menggantikan diri kami ini bahagia sebagai Luca yang asli.”
“Kami?”
“Kamu salah Luca. Aku juga doppelganger, tepatnya, Luca kedua, dan kamu adalah Luca ke-29.”
“Apa?”
“Ya, semua ini karena restorasi dunia ini yang menyebabkan keberadaan seperti kami lahir hanya untuk disingkirkan. Tentu saja Luca tidak harus membenci kekuatan restorasi dunia ini perihal Luca telah terlahir di jalan cahaya. Ini justru menguntungkanmu, perihal jika bukan karena kekuatan restorasi dunia, kamu tidaklah akan terlahir di jalan cahaya menggantikan Luca yang asli.”
“Tetapi bagi kami para Luca yang tidak sempat terlahir dan tersingkirkan ke dunia bayangan, tentu betapa kami mengutuk kekuatan restorasi dunia itu. Mulai dari Luca pertama sampai Luca ke-28, harus menderita abadi di dalam dunia bayangan sana. Untunglah, aku beruntung dijadikan alat dari para demon untuk menghancurkan dunia manusia dan direstorasi sebelum menghilang sepenuhnya menyatu dengan dunia bayangan.”
“Aku pun mendapatkan kekuatanku dan mengkhianati mereka lantas menyelamatkan para Luca-Luca yang terlahir setelahku. Sayangnya, aku mendapatkan kekuatanku terlambat sehingga aku hanya bisa menyelamatkan Luca ke-21 sampai ke-28, itu pun mereka masih tertidur abadi di dalam liontinku ini.”
“Bahkan Luca pertama saja tidak pernah aku lihat. Dan aku harus menyaksikan satu-persatu kematian Luca ketiga sampai ke-20 secara tragis tertelan oleh dunia bayangan. Bukankah itu kejam karena kami terkorupsi, kami harus dibuang ke dunia bayangan dan digantikan oleh doppelganger kami?!”
“Ya, aku tahu itu demi restorasi dunia agar dunia tidak runtuh. Lantas bagaimana dengan nasib kami yang tidak dapat terselamatkan?! Kami merintih kesakitan dan perlahan menghilang menyatu dengan dunia bayangan, bahkan Ayah dan Ibu pun sama sekali tidak mengingat keberadaan kami!”
“Sudahlah. Aku tidak mood lagi hari ini.”
“Hei, Phineas.”
“Ambillah Kak Kaisar tercintamu itu. Soalnya, aku bisa menculiknya kapan saja.”
“Kamu? Sampai akhir kamu masih memikirkan berbuat seperti itu?!”
“Itu tentu saja persoalan Lacoza dan keturunannya-lah inti dari restorasi dunia, sumber penyebab kemalangan kami para Luca yang tersingkirkan!”
Mendengar hal itu, Luca hanya terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka hal tersebut, tidak, setengah dari dirinya masihlah tidak mempercayai perkataan Phineas itu.
Namun, Luca tak dapat berkata apa-apa lagi perihal timbul gejolak di hatinya yang entah mengapa membuatnya merasa sangat kesakitan. Tidak, itu adalah empatinya terhadap Phineas dan para Luca lain yang tersingkirkan itu.
Luca pun hanya menatap Phineas berjalan dan menghilang ke dalam suatu portal gelap yang penuh dengan aura kematian.
__ADS_1