
Melangkah ke pertandingan ke-26, ada Senior Asario melawan seorang pemain dari game jadul tembak-tembakan bernama PUBEG itu, bernama Alexio.
Hujaman peluru pemain Alexio begitu hebat. Namun walau dengan kekuatan berdaya tempur hebatnya itu, itu hanyalah dipandang sebelah mata oleh Senior Asario.
Asario membelah tiap hujaman peluru yang datang dengan pedangnya.
Mungkin karena insting, Alexio seketika bergerak mundur begitu Senior Asario mulai mendekatinya. Tetapi itu adalah kesalahan fatal.
Pemain itu tampak begitu kaget ketika didapatinya tiba-tiba tebasan aura pedang datang dari arah belakangnya.
Dia pun seketika tersadar bahwa sejak dari tadi, dia telah berada di dalam genggaman permainan Senior Asario. Itu adalah skill lintas dimensi miliknya.
Beranjak ke pertandingan ke-27, ada Senior Glen yang berhadapan dengan pemain Epic Fantasy terkuat pengguna angin bernama Austin. Dia juga sekaligus pemegang favorit kesebelas.
Begitu pertandingan dimulai, Senior Glen segera mengaktifkan skill sihir apinya, tetapi itu dengan mudah ditebas oleh sihir angin milik pemain Austin.
Begitu Senior Glen hendak sekali lagi mengaktifkan sihir api-nya, dia tiba-tiba keheranan. Skill api-nya sudah tidak dapat lagi diaktifkan.
Rupanya dengan cerdik, pemain bernama Austin itu menggunakan skill sihir anginnya untuk menarik semua oksigen di sekitar Senior Glen sehingga tanpa oksigen, api pun tidak bisa dinyalakan lagi.
Dengan cerdik, pemain bernama Austin itu memanfaatkan pengetahuan sains dasar demi keuntungan pertarungannya.
Lalu dalam waktu berikutnya, Austin melancarkan serangan berupa gerigi-gerigi angin besar nan tipis ke arah Senior Glen yang tampak akan mampu memotong apa saja itu.
Dengan susah payah, Senior Glen tampak berusaha menghindarinya. Sayangnya, trik Austin tidak berakhir sampai di situ saja. Dia secara diam-diam melayangkan skill angin halus untuk menarik kaki Senior Glen sehingga keseimbangan Senior Glen pun goyah lalu dia pun terkoyak oleh skill gerigi angin yang sangat mematikan itu.
Senior Glen pun menyusul Kak Toni gameover di putaran babak kedua individu ini.
Setelah itu, apa yang menarik perhatianku adalah pertandingan antara sesama alchemist Aghena dari Tim Lost Child melawan seorang pemain lain dari Tim Ying Xiong bernama Chung Li di pertandingan ke-30.
Entah mengapa aku bisa merasakan vibe yang sama dengan Kak Krimson pada diri Chung Li ini walaupun jelas-jelas penampilan mereka berbeda.
Aghena menyerang duluan dengan menjulurkan ulir-ulir tanaman duri beracun mematikannya kepada pemain Chung Li. Di luar dugaan, Chung Li sama sekali tidak berniat menghindari serangan itu.
Dia dengan nekat menerjang melawan arus ulir-ulir itu menuju ke arah Aghena.
Ah, ini sama persis dengan gerakan Kak Krimson dulu sewaktu menghabisi Aghena.
Namun kini Aghena tidak lagi selengah dulu. Dia dapat menghindari serangan Chung Li yang juga rupanya sama dengan Kak Krimson sebelumnya, menyembunyikan dagger di balik saku celananya.
Mau bagaimana pun aku melihatnya, aku merasakan de javu akan pertandingan Kak Krimson dulu.
__ADS_1
Melupakan itu, Kak Krimson… ah, maksudku Chung Li segera melompat sembari melemparkan keempat botol ramuannya di sekitar Aghena.
Adegan ini, aku juga rasanya pernah melihatnya di pertandingan semifinal Kak Krimson melawan Tim Clock Tower.
Rasa de javu itu lantas memberikanku prejudice bahwa itu adalah botol racun. Tampaknya, Aghena pun berpikir seperti itu lantas segera melempar botol-botol itu dengan menggunakan ulir-ulir tanaman beracunnya yang mematikan.
Namun itulah yang rupanya diincar oleh Chung Li. Sesaat ketika ulir-ulir tanaman menyentuh botol ramuan yang bersuhu rendah itu, suhunya dengan cepat meningkat lantas meledak menghasilkan api yang membakar dengan hebat arena dan sekelilingnya.
Ah, itu adalah reaksi kimia seperti yang diajarkan oleh Bu Endah padaku di kelas. Cairan racun merangsang suhu kaca yang menurun yang disebabkan oleh nitrogen cair dengan peningkatan suhu melalui tarik-menarik adhesi antara molekul racun yang lengket dengan kaca yang bersifat polimer lembam.
Akibat kenaikan suhu yang tiba-tiba, zat radikal di dalamnya pun menjadi reaktif lalu seketika ledakan hebat tercipta. Aghena pun tenggelam dalam lautan api dan menjadi pemain Lost Child pertama yang tersisih di arena di 64 besar.
Pertandingan pun dengan cepat usai dan menyisakan 32 besar pemain yang akan bertanding lagi keesokan harinya.
***
“Ah, payah sekali kamu, Aghena. Bagaimana bisa pemain non-favorit itu sampai mengalahkanmu?”
Di dalam suatu ruangan pertemuan itu, pemain berpakaian serba-hitam tampak mengejek seorang wanita berkacamata berambut lurus panjang. Dialah Aghena, sang alchemist dari Tim Lost Child sekaligus satu-satunya wanita di timnya.
Dan dialah Goruth, pemuda berpakaian serba-hitam yang mengejeknya itu.
“Kamu juga, jangan sampai lengah, Senior Goruth. Besok lawanmu bukan lawan sembarangan. Dia lumayan terampil walaupun dia bukan seorang pemain favorit.”
“Hah? Kamu meragukan kemampuanku? Ayolah, Ecila! Aku sudah 3 tahun berada di tim, jauh lebih dulu dibandingkan kamu dan Aghena. Mana mungkin pemain yang baru muncul entah darimana itu bisa mengalahkanku. Aku pasti bisa membuat wajahnya yang cantik itu babak-belur.”
“Sepetti yang diharapkan dari Senior Goruth. Bahkan pada wanita pun, kamu sama sekali tidak berbelas kasihan.” Senyum Ecila-pun tersungging sembari mengutarakan hal itu.
***
Lalu, hari esok pun tiba.
Pertandingan babak kualifikasi ketiga individu sebentar lagi akan segera dimulai.
Secara diam-diam, Luca menemui Lia atas permintaan Lia.
“Luca.”
“Lia.”
Kedua pasangan kekasih itu pun saling menatap dalam senyuman satu sama lain.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Lia langsung menarik tangan Luca lalu menggenggamnya lama. Beberapa menit kemudian, barulah Lia melepaskannya.
“Ada apa, Lia?” Melihat tingkah aneh Lia itu, Luca pun penasaran dan bertanya.
“Hmm.” Pada pertanyaan Luca itu, Lia hanya menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih atas bantuanmu, Yayang Luca. Hehehehehehe.”
“Eh? Memangnya apa yang sudah aku lakukan untuk membantumu?”
Lia hanya tertawa imut tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Raut wajah Luca seketika memerah. Bagaimana tidak setelah menyaksikan wajah yang sangat manis itu. Tanpa merasa pernah berbuat apa-apa buat pacarnya, Lia mengucapkan terima kasih kepadanya begitu saja sembari menampakkan ekspresi wajah yang begitu imut. Luca pun dibuat terpesona olehnya.
“Kalau begitu, aku kembali ke tim-ku dulu ya, Sayang.”
Begitulah lantas Lia pergi begitu saja meninggalkan Luca yang kebingungan dengan perubahan keberanian Lia yang tiba-tiba itu.
Namun sesaat kemudian, pemuda itu pun tersenyum.
“Semangatlah berjuang, Yayang-ku, Lia.”
Luca akhirnya berhasil mengatakannya walau dalam gumaman yang hanya bisa didengarkannya seorang diri. Akan tetapi, itu telah berhasil membuat mukanya semerah tomat masak.
Walau demikian, Luca merasa bangga pada dirinya sendiri. Dia merasa telah melangkah selangkah lebih maju menjadi seorang pria sejati.
Atau setidaknya itulah pikiran milik seorang pemuda yang begitu polos itu.
***
...\=\=\= ...
...Lia – Silver Hero – Indonesia – The Last Gardenia...
...Vs...
...Goruth – Lost Child – Amerika Serikat – The Last Gardenia...
...\=\=\= ...
“Kedua pemain, bersiap-siap! Pertandingan… DIMULAI!”
__ADS_1
“Slash!” Dalam sekejap pertandingan itu dimulai, Goruth telah ada di belakang Lia menggunakan keahlian warp-nya.
Tampak mata Lia terbelalak seketika menyaksikan Goruth yang tiba-tiba menghilang di hadapannya tanpa dia menyadari bawa sang musuh yang dicarinya itu telah tepat berada di area titik butanya.