
Pertandingan Luca vs Ecila pun dimulai.
Luca menyerang lebih dulu dengan langkah cepatnya sambil mengayunkan dagger-nya.
Ecila rupanya mampu mengikuti pace serangan Luca yang sangat cepat itu lantas menghindari tiap serangannya.
Ketika Luca hendak menebas leher Ecila, dengan sigap Ecila berkayang, mengayunkan tubuhnya ke belakang demi menghindari tebasan mematikan itu. Lantas dengan tinju mautnya, Ecila menyerang balik Luca.
Luca meminimalisir impak tinjuan maut Ecila dengan meredam momentumnya secara akurat melalui celah kedua tulang lengannya. Namun, Luca terseret ke belakang sebagai akibatnya.
Kali ini, giliran Ecila yang maju menyerang Luca. Luca pun berlari di antara celah pepohonan demi berniat memancing Ecila.
Ecila mengikuti Luca begitu saja tanpa sedikit pun merasa terintimidasi akannya. Lalu ketika mereka berada di antara pepohonan, Luca segera dengan lincah mengeluarkan salah satu trik andalannya.
Luca melompat dari satu pepohonan ke pepohonan lain bagai permainan pinball yang melontarkan bola dari satu titik ke titik lainnya dengan sangat cepat sembari melukai Ecila dengan dagger-nya tiap kali Luca berpapasan dengannya dari celah dia melewati pohon-pohon itu.
Tetapi sekali lagi, Ecila sama sekali tidak terintimidasi. Ecila lantas menghantam tanah. Dengan momentumnya yang dahsyat itu, semua pohon pengganggu di sekitarnya pun tersingkirkan hanya dalam satu tinjuan itu.
Luca berhasil mempertahankan posisinya dengan berpijak pada pohon-pohon melayang satu demi satu hingga akhirnya dia bisa mendarat tepat di tanah.
Hal yang tidak terduga pun terjadi, Luca tersenyum sinis kepada Ecila seakan justru menikmati pertarungan penuh aksi menegangkan itu.
Dengan kecepatan yang bertambah cepat, Luca sekali lagi menyerang Ecila. Ecila tampak berusaha menghindari tiap serangan Luca sembari melakukan penyerangan balik.
Awalnya, dia masih mampu mengikuti pace serangan yang bertambah cepat itu. Tetapi pada suatu titik, secara tidak disangka-sangkanya, kecepatan Luca terus bertambah cepat hingga dia pun kewalahan dan akhirnya tak sanggup lagi menghadapinya.
Dia pun lantas sekali lagi menghantam tanah agar impak serangannya mampu menggoyahkan Luca.
Ecila pun mundur beberapa meter ke belakang untuk bisa memahami kembali situasi yang terjadi. Sayangnya, Luca sama sekali tidak terpengaruh oleh impak dentuman tanah lantas dengan cepat menyamai pergerakan Ecila mundur ke belakang.
Tidak, Luca lebih cepat.
Dalam sekejap, Luca telah berada di berada di belakang Ecila yang masih melakukan pergerakan mundur itu, tanpa Ecila menyadari sama sekali bahwa Luca telah menyambutnya dengan wajahnya yang penuh eksitasi membunuh di belakang.
Ecila baru tersadar oleh serangan itu beberapa milisekon sebelum mengenainya. Namun itu telah terlambat. Tiada lagi jalan baginya untuk menghindari serangan itu.
Ecila pun menutup mata, menanti serangan ultimate itu akan mengenainya.
Akan tetapi, “Buaaaaakh!”
Beberapa detik dia menunggu, serangan itu tidak juga tiba padanya. Malahan, suara benturan aneh yang terdengar.
Ecila lantas membuka mata.
Rupanya suara dentuman keras itu berasal dari the twin dragonnya yang menangkis serangan Luca lantas balik menyerang pemuda itu.
Ecila yang akhirnya tersadar pun seketika marah kepada the twin dragon yang telah menodai duel suci itu.
__ADS_1
“Am! Xerad! Sudah kubilangkan kan bahwa ini pertarungan individuku?! Mengapa kalian malah mengganggu?!”
\=\=\=
Nama: Am (Lv 1321)
Race: naga merah
\=\=\=
Nama: Xerad (Lv 1277)
Race: naga biru
\=\=\=
“Apa yang harus kukatakan pada Luca di luar sana sejak dia gameover karena kalian padahal aku sudah berjanji akan bertarung dengannya tanpa kalian?!”
“Siapa yang gameover, Ecila. Aku di sini baik-baik saja kok.”
Ecila pun mendengar suara pemuda itu. Ecila lantas terkaget setengah mati perihal belum ada selama ini pemain yang bisa selamat setelah menerima bogeman mentah dari the twin dragon-nya. Namun, pemuda itu baik-baik saja dan justru berhasil menerima dengan baik serangan mematikan itu.
Tidak, bukan dia yang menerimanya, melainkan makhluk emas di sisinya.
\=\=\=
Race: naga emas
\=\=\=
Ecila membelalakkan matanya bertambah kaget. Dia tidak percaya bahwa pemuda biasa di hadapannya itu juga ternyata menjinakkan seekor naga.
“Kamu? Kamu juga menjinakkan seekor naga? Kamu bukan assassin melainkan tamer?” Ucap Ecila dengan tampak shok karena terkejut.
“Tidak, tidak, bukan begitu. Aku seorang assassin. Aura, partner-ku ini adalah kasus khusus.”
“…” Ecila hanya terdiam tanpa sanggup berkata apa-apa.
“Jadi bagaimana? Mari kita lanjutkan ronde kedua pertandingan kita saja.” Ujar Luca sembari kembali mempersiapkan ancang-ancangnya untuk menyerang.
Namun daripada merespon Luca, Ecila justru menatap tajam ke arah dua naga kembarnya tersebut.
“Tenang saja, Master. Sebelum kami keluar, aku telah menghalangi koneksi dengan dunia luar untuk sejenak sehingga mereka tidak akan dapat melihat situasi di dalam arena untuk sesaat.” Xerad-lah yang menjawab pertanyaan masternya itu.
“Huff, syukurlah kalau begitu. Hampir saja kukira nama baik Lost Child akan tercemar lagi karena pemainnya tidak bisa menjaga perkataannya sendiri. Tetapi lupakan itu, sedari awal mengapa kalian mesti keluar?! Sudah kubilang kan untuk diam saja di dalam sana?!”
“Maafkan kami, Master. Hanya saja aura anak itu terasa terlalu berbahaya bagi kami sehingga kami refleks keluar.” Jawab Xerad sekali lagi sembari mengibas-nginbaskan sirip telinganya dengan manja.
__ADS_1
“Tapi kan ini hanya game. Jika aku kalah, aku hanya akan gameover saja tanpa melukai tubuh fisikku.”
“Maafkan kami, Master. Kami kelepasan.”
“Jadi bagaimana? Pertandingannya kapan dilanjutkan? Kau menggunakan kedua naga kembarmu itu juga tidak masalah kok, Ecila. Aku bisa menanganinya. Tentu saja dengan seorang diri tanpa bantuan Aura. Tampaknya itu bagus juga”
Mendengar perkataan Luca itu, kini Aura yang justru naik pitam.
“Bagus apanya, Master?! Jika bukan karena aku yang menangkis serangan kedua naga barbar itu dengan perisai-ku, Master pasti sudah akan terluka parah!”
“Hei, menyebut kami barbar itu agak kelewatan…”
“Yah, walaupun aku kalah kan, itu tidak berarti apa-apa. Itu kan sama sekali tidak mempengaruhi tubuhku yang asli di luar sana. Lagian ini latihan yang baik, jarang-jaran aku bisa melawan seekor naga.”
“Melawan naga apanya?! Master saja belum menumbuhkan lingkaran mana Master yang keempat!”
“Yah, itu buat apa juga. Aku tetap tidak bisa menggunakan sihir…”
Percakapan ngalor-ngidul antara seorang master dan pet-nya itu pun terus berlanjut, mengabaikan komentar kedua naga lain yang menjadi korban gibahan mereka.
“Sudahlah, Luca. Mari kita akhiri saja pertandingan hari ini.”
Perkataan Ecila-lah yang dengan cepat membuat suasana berisik itu kembali hening.
“Eh, kenapa? Lantas bagaimana menentukan siapa pemenangnya?”
“Itu tentu saja kekalahanku sejak aku mengeluarkan the twin dragon-ku. Walau mereka keluar dengan seenaknya atas kemauan mereka sendiri, mau bagaimana pun, aku pada akhirnya tetap melanggar janji yang kubuat di awal. Jadi jelas ini kekalahanku.”
Dan hasil pertandingan pun ditentukan.
***
“Jadi bagaimana sebenarnya jalannya pertandingan? Kok tiba-tiba layarnya jadi putih? Kita kan jadinya tidak bisa melihat apa-apa?” Tampak satu penonton berucap kesal perihal tontonan menarik itu tiba-tiba terblur begitu saja di saat-saat krusial.
“Flash.”
Namun sesaat kemudian, pemain telah keluar dari arena dan skor pertandingan pun nampak di layar.
\=\=\=
Ecila (0)
Luca (1)
\=\=\=
Jelas itu kemenangan buat Luca dan pada akhirnya semua penonton berseru kaget tidak percaya. Seorang pemuda antah-berantah telah berhasil mengalahkan pemain favorit 1 di kompetisi pertandingan e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu.
__ADS_1
Namun, mereka semua pun mengeluh tentang mengapa sampai pertandingan yang hebat itu justru tidak terekam di layar di puncak keseruannya karena harus terganggu masalah teknis peralatan.