
“Jadi bagaimana strategimu untuk menghancurkan defensi mereka yang luar biasa, Lia? Melihat scout dari Tim SMA Puncak Bakti saja tidak dapat berbuat apa-apa pada dinding kokoh itu.”
“Apa yang Senior Areka mesti khawatirkan. Bukankah kita juga punya penghancur arena di tim kita?”
“Siapa? Ah, Sabrina.”
“Yap. Tentu saja sebagai mantan anggota klub itu, aku bisa tahu betul bahwa air bah Senior Sabrina belum akan cukup untuk memecahkan perisai kokoh Senior Eren. Akan tetapi, aku yakin sayangku Luca akan menangani sisanya. Bukan begitu, Sayang?”
“Ya, serahkan padaku, Lia.”
“Diana dan Senior Areka juga akan menyupportmu dari belakang. Kemudian sebagai kartu joker di arena, kita butuh kekuatan Senior Yuda.”
“Eh, aku?”
“Aku sudah melihat lho serangan kombinasi Senior dengan Senior Sabrina. Ini akan sangat baik diterapkan untuk memecahkan pertahanan kokoh SMA Yayasan Eden tersebut.”
“Tapi, Lia. Apa tidak apa-apa kamu melakukan ini? Tidakkah pelatihmu di Klub Silver Hero akan memarahimu perihal membocorkan kemampuan atlit calon anggota kepada pihak lawan? Soalnya dengar-dengar semua pemain berbakat dari SMA Yayasan Eden akan direkrut oleh Klub Silver Hero. Lagipula Eren, Gajel, dan satu lagi pemain archer mereka sudah resmi masuk ke dalam Klub Silver Hero-mu kan?”
“Tenang saja, Senior Areka. Jika hanya sampai seperti ini, pelatih masih mengizinkanku. Lagipula jika dianalisa sedikit saja, mereka jatuh banyak, maka mereka sama sekali tidak memiliki kualifikasi lagi sebagai atlit Klub Silver Hero.”
Setidaknya, itulah obrolan yang kami lakukan pada rapat singkat kemarin. Dengan demikian, di babak ketiga ini, yang diutus sebagai perwakilan tim adalah aku, Senior Areka, Kak Sabrina, Kak Yuda, dan Diana.
Kemudian lawan kami sesuai dugaan tetap menggunakan formasi yang sama seperti yang selalu mereka gunakan, yakni seorang shielder sebagai pusatnya, seorang scout sebagai sub tank, seorang cleric sebagai penjaga lini belakang, serta seorang mage dan archer yang bertindak sebagai penyerang utama.
Setelah tiba aba-aba dari wasit pertandingan, mage dan archer lawan segera melayangkan serangan jarak jauh mereka. Serangan itu dapat dengan mudah ditangkis oleh Senior Areka, lantas Kak Sabrina pun mulai men-summon air bah-nya ke arena.
Tampak bahwa formasi tim lawan sedikit goyang diterpa oleh air bah setinggi dada itu. Akan tetapi, entah itu skill-nya atau apa, tampak bahwa berkat cahaya yang menyinari di sekitar tubuh Eren, formasi tim itu tetap stabil walau diterpa air bah seperti itu.
Aku dengan membawa Diana pun mulai bergerak maju memanfaatkan kekuatan melayang dari sepatu griffon-ku.
Diana segera melayangkan puluhan kunai-nya ke lawan. Namun sesuai dugaan, Eren dapat menangkisnya dengan baik melalui perisai kokohnya lantas kunai-kunai itu berserakan di mana-mana.
Akan tetapi sedari awal, memang itulah rencananya. Kunai-kunai itu bukanlah untuk menyerang, melainkan dibuat sengaja menancap di batas area yang terbuat dari gumpalan-gumpalan energi itu.
Suatu strategi yang nekat dari Diana yang secara ajaib mendapatkan persetujuan dari Lia. Kunai-kunai yang menancap di langit batas area itu pun menjadi pijakan Diana untuk hinggap di langit.
Aku mulai menjalankan strategi tim-ku dengan menyerang lini belakang mereka. Namun, cleric itu pun tak kalah kerasnya daripada Eren.
Di situlah semua anggota Tim SMA Yayasan Eden dibuat terkaget oleh skill yang selanjutnya dilancarkan oleh Diana.
“Skill: sense of confussion”
Siapa dari anggota Tim Yayasan Eden sebagai cikal-bakal Klub Silver Hero yang tidak akan mengenal jurus itu. Itu adalah jurus fenomenal yang menjadi ikon buat Kak Andra.
“Andra, anak sialan itu. Akhirnya dia mengkhianati tim juga.”
“Jangan panik, Gajel. Tetap pertahankan posisi.”
__ADS_1
Tentu saja apa yang dipikirkan oleh Eren dan Gajel adalah keliru perihal sedari awal darimana Diana mempelajari jurus itu bukanlah bersumber dari Kak Andra, melainkan Diana mempelajarinya dengan berguru langsung melalui guru yang sama seperti Kak Andra, Deborah Briar.
“Ah, gimana ini? Gerakan tubuhku jadi aneh.”
Tampak sang cleric penjaga lini belakang mulai goyah. Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya.
“Trang.”
Sayangnya, apa yang menyambutku adalah justru perisai kokoh Eren. Walaupun aku gagal mengassasinasi sang cleric, yang jelas semuanya masih berjalan sesuai rencana.
Aku mengambil satu barang di antara lima barang di inventory-ku yang terdaftar di pertandingan babak ini.
Itu adalah sejenis bubuk yang diberikan oleh Chika.
Aku pun menaburkan bubuk itu ke setiap pemain Tim SMA Yayasan Eden yang pertahanannya sempat terbuka akibat skill Diana yang mereka tidak duga-duga tersebut.
Seketika terjadi debuff penurunan stamina yang luar biasa pada setiap anggota tim lawan yang terkena bubuk itu.
Walau demikian, Eren tetap tak kehilangan fokusnya dan mampu menghalangi tiap seranganku dengan sangat baik. Begitu efek skill Diana menghilang, sang mage dan archer lawan mulai turut membantunya menyerangku.
Aku menghindar dengan sangat baik karena sedari awal, tujuanku memang untuk pengalih perhatian.
Ada rekanku yang telah lama bersembunyi di dalam air sana yang bertugas sebagai pengeksekusi yang sebenarnya.
“Slash.”
Sayangnya melihat rekannya game over, bukannya segera mengambil sikap tanggap, Eren malah panik di saat-saat krusial lantas kehilangan ketenangannya.
Hal itu pun dimanfaatkan oleh Senior Areka di belakang sana untuk melakukan penyerangan.
“Skill: semangat Lutfi tiada batasnya, jadi jangan menyerah sama penindasan’
Senior Areka menatap seakan Gajel-lah sasaran serangannya. Gigi-gigi Eren pun meletup dengan marah sembari dia memegangi erat sahabatnya itu untuk melindunginya.
Di detik-detik terakhir, perihal Senior Areka memprediksi tidak ada lagi peluang baginya untuk mengeliminasi Gajel dari arena perihal perlindungan dari Eren, dia pun mengalihkan sasaran serangnya pada sang archer.
Dan serangan itu benar-benar mendarat dengan telak di tubuh sang archer yang seketika membuatnya game over di arena.
Lalu, timbul sedikit pikiran licik di hatiku. Memanfaatkan lawan yang panik, aku berusaha menyerang Gajel dari belakang.
Karena agility dari seorang shielder lambat, pastinya walaupun masih sanggup tepat waktu, pastinya Eren tidak akan dapat lagi melindungi Gajel secara sempurna. Dan sudah jelas apa yang tim tersisa dari mereka itu akan lakukan.
‘Skill; steal’
Begitulah, sang scout lawan sesuai prediksi-ku mencuri dagger yang kupegang.
Tampak Gajel tertawa dengan picik melihat aku yang tanpa senjata lagi hinggap di dekatnya.
__ADS_1
Mungkin dia berpikir untuk balas dendam akan kekalahan yang sempat dia alami di pertandingan individu sebelumnya itu melawanku.
Sayangnya, aku segera mengkhianati harapannya itu. Di saat dia berpikir aku tidak punya cara lagi untuk menghindari serangannya, Gajel terkaget ketika melihat aku berhenti seketika di udara seakan mobil yang mengerem mendadak.
Itu semua berkat tali penjerat yang telah kulilitkan sebelumnya pada kunai Diana yang terpancang di batas area di langit. Aku pun dengan sigap menarik tali lantas melayang ke langit, menghindari serangan Gajel tersebut.
Mereka berdua sama sekali tidak memperhatikan bahwa rekan scoutnya di belakang telah mengalami keracunan perihal dagger yang dipegangnya itu.
Ya, dagger yang baru saja dicurinya dariku itu adalah dagger taring beracun basilisk yang jika bukan tuannya yang memegangnya, maka dagger itu segera memuntahkan racun lewat gagangnya.
Tidak butuh waktu lama bagi scout lawan pun untuk game over di arena.
Aku baru saja mengeliminasi sang scout lawan dengan sedikit trik. Mungkin ada yang berpikir bahwa cara yang seperti itu tidaklah gentleman dan aku paham betul maksud itu. Hanya saja, memang demikianlah gaya bertarung seorang assassin yang berprinsip jika tidak membunuh, maka kamulah yang akan dibunuh. Kami memang akan melakukan segala cara selicik apapun untuk bertahan hidup di dalam pertarungan.
Aku hanya sekadar mengatakan ini dan sama sekali tidak bermaksud pula untuk membuat kalian mampu memahami diriku yang seperti itu.
“Tidaaaaaak!” Terdengar teriakan putus asa dari Eren.
Dengan putus asa, dia pun memanfaatkan perisainya yang dia lapisi dengan aura sebagai perahu untuk membawa rekannya yang tersisa, Gajel, keluar dari tempat tersebut.
Tentu saja kami semua tidak membiarkan hal itu terjadi. Aku, Diana, dan Kak Yuda pun lantas mengejarnya. Begitu pula Senior Areka yang saat ini berada di dalam gelembung melayang Kak Sabrina, juga turut tidak henti-hentinya melayangkan serangannya kepada Eren dan Gajel.
Namun apa ini? Kok justru kami terlihat seperti penjahat yang mengejar tokoh protagonis dan heroine-nya yang berusaha melarikan diri dari tangan-tangan penjahat?
Dengan instruksi dari Senior Areka, aku segera menarik Kak Yuda keluar dari air bah.
Tampaknya ini saatnya untuk melakukan serangan ultimate dari Kak Sabrina itu dengan ketiadaan lagi sang scout lawan yang memiliki skill super counter-attack serta kondisi Eren yang tak memungkinkan lagi untuk melakukan pertahanan mutlak.
“Skill: lightning”
Arus petir pun menyambar dan mengguncang air bah beserta Eren dan Gajel yang berada di atasnya.
Namun, di saat kami berpikir bahwa semuanya telah berakhir dengan kekalahan tim lawan, harapan kami itu seketika dikhianati oleh Eren.
Eren berhasil bertahan dengan baik dari serangan petir itu. Tidak hanya itu saja, dia pun mampu melindungi sahabatnya, Gajel itu dengan sangat baik pula.
Serangan ultimate Kak Sabrina mutlak telah gagal.
Tetapi itu tidak berakhir sampai di situ saja.
Eren mengerang. Seketika berkas cahaya menyelimutinya lantas pepohonan pun mulai keluar dari balik perisainya.
Yang membuat aku tidak percaya adalah bahwa sebagai penduduk Gardenia, aku tahu betul pohon apa itu. Itu adalah benih pohon dunia.
Sejenak kemudian, benih pohon dunia pun mengamuk dan memporak-porandakan seisi arena.
Aku entah bagaimana bisa selamat berkat bergelantungan di batas area. Tetapi tidak halnya bagi Diana dan Kak Sabrina. Mereka terkena amukan benih pohon dunia itu dan seketika game over dari arena.
__ADS_1
Dengan kepergian Kak Sabrina, air bah pun seketika turut menghilang dari arena.