The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
84. Quest Berburu Kelinci Bertanduk


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan yang telah direncanakan, aku mulai menjadi pelatih Kak Nina dan Kak Raia untuk persiapan ujian penerimaan anggota klub e-sport sekolah.


Klub e-sport adalah klub yang paling bergengsi di sekolah. Tiap tahunnya, lebih dari 200 peserta mendaftar di klub, atau sekitar dua pertiga dari jumlah murid baru yang diterima tiap tahun. Hal itu wajar saja karena banyak anak kelas dua yang tidak diterima tahun lalu juga ikut mendaftar. Walau demikian, karena tahun ini masih ada 18 orang anggota lama, maka klub hanya akan menerima 12 orang anggota baru saja.


Ya, klub paling bergengsi yang diminati oleh hampir seluruh penghuni sekolah itu memiliki aturan yang tegas dalam jumlah anggota, yakni tidak boleh melebihi 30 orang untuk memaksimalkan pelatihan para anggota dengan peralatan yang memadai.


Dengan demikian, agar dapat mencapai puncak 12 terbaik di antara dua ratusan pelamar yang mendaftar nantinya, Kak Nina dan Kak Raia harus berjuang dengan keras.


Dan sebagai orang yang ahli dalam pertarungan, hal yang pertama yang aku sarankan pada mereka adalah mengganti kelas job.


“Apa? Aku tidak salah dengar kan, Luca? Mengapa kami harus mengganti job class kami?”


“Iya, itu benar, Luca. Aku telah menjadi seorang shielder sejak aku pertama kali mengingat bermain game. Untuk menggantinya sekarang, itu agak…”


Tentu saja pada awalnya, baik Kak Nina maupun Kak Raia menolak. Tetapi tidak ada jalan lain supaya mereka bisa memaksimalkan kemampuan mereka selain dengan mengganti kelas job mereka.


Tiap individu memiliki pembawaan dan kemampuan tertentu. Jika job class tidak sesuai dengan karakteristik ini, maka akan sulit untuk memaksimalkan kemampuan pengguna.


Sebagai seorang swordsmen, cara bertarung Kak Nina terlalu liar sehingga sering keluar dari formasi, padahal seorang swordsmen adalah fondasi dari serangan party. Adapun Kak Raia, sama sekali tidak mengerti arti konsep melindungi sebagai seorang shielder. Dia malah sering menggunakan shield-nya itu sebagai senjata alih-alih sebagai alat melindungi. Baik Kak Nina maupun Kak Raia sama sekali tidak cocok dengan job class mereka saat ini.


“Apa boleh buat, job class kalian saat ini tidak cocok dengan karakteristik kalian. Kak Nina yang lincah dan menyukai gaya pertarungan bebas, lebih cocok untuk menjadi battle tamer. Adapun Kak Raia yang agresif lebih cocok menjadi seorang fighter.”


“Battle tamer?!”


Kak Nina segera merespon ketika aku memberitahunya. Yah, itu wajar karena mungkin konsep battle tamer masih langka di dunia nyata, bahkan di Benua Astrovia saja, benua di mana kampung halamanku Gardenia berada, hal itu masih langka.

__ADS_1


Tetapi melihat gaya bertarung Kak Nina, aku secara sadar atau tidak sadar jadi teringat legenda dari kampung halamanku, Alice and The Twin Dragon. Alice adalah seorang tamer yang hebat yang bertarung bersama dua buah naga yang dijinakkannya, alih-alih bersembunyi di belakang dilindungi oleh kedua naga itu. Bagiku, image itulah yang paling cocok buat gaya bertarung Kak Nina.


Gaya bertarung Kak Nina memang amburadul, tetapi serangannya kuat. Jika ada pet yang dapat mengikuti pergerakannya itu dan menutupi lemahnya pertahanannya, maka bisa dipastikan bahwa Kak Nina akan berkembang menjadi petarung yang hebat.


“Aku seorang fighter?! Tapi fighter tidak keren.”


Dan satu lagi masalah ini. Alih-alih memikirkan kegunaan senjata, Kak Raia lebih terobsesi dengan keindahan perisai. Ya, dia memilih untuk menjadi seorang shielder hanya karena perisai terlihat keren di matanya. Sungguh tindakan yang sangat kanak-kanak.


Aku pun mencoba meyakinkan keduanya kalau kedua kelas job itu yang lebih cocok buat mereka ketimbang kelas job lama mereka. Mereka pada akhirnya memutuskan untuk mencobanya walau masih dengan setengah hati.


Aku pun memberikan senjata yang telah aku buat untuk mereka sebelumnya.


“Wah, ini?”


“Wow, guntlet ini benar-benar terlihat keren, Luca.”


“Hmm. Siapa dulu dong yang buat.” Gumamku dalam hati.


Aku memutuskan untuk membawa Kak Nina dan Kak Raia menuju hutan kecil di desa pemula, tempat dihuninya para kelinci bertanduk. Mengapa aku memilih daerah itu adalah karena untuk menemukan beast yang paling cocok untuk menjadi pet pertama Kak Nina.


Kami pun membentuk formasi dengan Kak Raia sebagai penyerang depan, Kak Nina sebagai penyerang belakang, sementara aku bertugas sebagai penyerang pendukung. Walaupun tanpa pet, tongkat tamer yang aku berikan kepada Kak Nina bisa mengeluarkan beberapa sihir yang berguna baik dalam penyerangan maupun mengecoh lawan.


Seketika party kami dimulai, Kak Raia langsung berlari liar menghantam para kelinci bertanduk.


“Pak, pak, pak, pak.” Sekali atau dua kali serang, kelinci bertanduk langsung K.O. di hadapan guntlet berduri milik Kak Raia itu. Hmm. Siapa dulu dong yang buat.

__ADS_1


Tampak Kak Raia sangat senang dengan itu. Dan kali ini, gerakannya dapat lebih lincah dan efisien karena kali ini dia tidak perlu menyerang dengan membawa perisai yang berat. Sesuai dugaan, Kak Raia yang overaktif itu memang paling cocok menjadi seorang fighter.


Adapun Kak Nina di belakang, aku larang untuk bergerak sementara demi persiapan mana untuk mengikat beast sebagai hewan peliharaannya kelak. Aku hanya menyuruhnya mengeluarkan jurus serangan kecil ataupun jurus pengecoh lewat tongkat tamernya jika dan hanya jika itu sangat diperlukan.


Tanpa terasa, Kak Raia seorang diri saja sudah cukup untuk mengalahkan 50 ekor kelinci bertanduk. Padahal, dengan senjata perisainya yang seperti biasa, dia pasti sudah babak belur digigiti kelinci-kelinci bertanduk itu karena terlambat melindungi dirinya perihal perisainya yang berat akan sulit untuk digerakkan.


Yah, pada dasarnya perisai itu adalah alat pertahanan dan bukannya penyerangan. Kak Raia sudah salah kaprah dari awal menggunakan perisai untuk menyerang lalu ketika ada musuh mendekat, baru dia gunakan perisainya sebagai alat pertahanan.


Lihat, apa aku bilang. Kak Raia memang lebih cocok dengan guntlet itu ketimbang perisai. Lihat saja senyum puasnya itu. Aku yakin pikiran Kak Raia kini sudah berubah dan mulai mencintai job fighter.


“Nina, apa yang kamu lakukan?” Ujaran Kak Raia lantas menyadarkanku kembali dari lamunanku.


Rupanya, Kak Nina telah sementara memunguti tanduk-tanduk kelinci bertanduk yang berjatuhan setelah dikalahkan oleh Kak Raia.


“Apalagi, tentu saja untuk menjualnya di sistem.”


“Tapi kan butuh 200 biji baru bisa dijual di sistem dan itupun hanya dihargai 1 rupiah saja.”


“Yah, tidak apa-apa kan daripada mubazir.”


Seperti itulah adanya. Daerah quest 1 dan 2 desa pemula pada umumnya tidak akan pernah diminati oleh pemain veteran karena rendahnya nilai drop itemnya. Tanduk kelinci bertanduk sendiri bukanlah item yang terlalu berguna.


Palingan, aku dan Paman Heisel hanya menggunakannya sebagai serbuk untuk mempertinggi ketajaman senjata pada proses mengasah senjata di alat pengasah, itupun tidak terlalu efektif, akan lebih efektif jika menggunakan tanduk serigala perak. Kalaupun dijual di NPC, hanya akan dinilai sekitar 5 koin tembaga saja atau setara dengan 0,005 koin rupiah. Intinya, benar-benar drop item yang ampas.


Mengabaikan Kak Nina yang serakah, kami melanjutkan perburuan kelinci bertanduk kami hingga tibalah di angka 100 dan boss monster yang ditunggu-tunggu pun tiba.

__ADS_1


Dengan matanya yang merah menyala serta badannya yang setinggi hampir 3 meter, boss monster itu mengintimidasi party kami.


__ADS_2