The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
199. Cerita Kelam Tiga Senior Pemalas


__ADS_3

Suatu hari di daerah perbatasan antara Kekaisaran Lalania dan pegunungan tak tertembus itu, tiga sekawan memasuki area untuk mengikuti quest menjaga perbatasan dari serangan zombie.


“Hei, Martin. Apa memang harus ya kita mengambil quest ini? Quest ini kan sama sekali tidak membuat kita bisa naik level dan drop item-nya pun juga ampas. Terlebih, serangan monsternya hampir sama sekali tidak pernah berhenti, makanya sangat melelahkan.”


“Ck, ck, ck. Jacob, kamu dan para player lain terlalu menganggap remeh quest ini. Kalian sama sekali tidak memahami nilainya. Jacob, dengar ya. Tidak ada yang semudah memperoleh poin experience dan poin kontribusi selain dari quest ini. Bukankah ini seharusnya menjadi surga bagi para player yang ingin menjajak rangking dengan mudah?”


“Tapi… Hei, Yuda. Bagaimana dengan pendapatmu?”


Seiring dengan perdebatan kedua pemuda itu yang menemui jalan buntu, mereka pun melirik ke arah rekan mereka yang terakhir, pengguna pedang terbesar di antara mereka.


“Yah, bukankah apapun itu tidak menjadi masalah? Selama kita bisa menghabiskan waktu di dalam game.”


Demikianlah jawab pemuda yang dipanggil Yuda itu dengan tampang pemalasnya.


Namun, berbeda dengan tampangnya yang pemalas seolah-olah enggan menjalankan quest, Yuda justru adalah player peraih poin terbanyak dari quest itu.


Dengan ayunan pedang besarnya yang menawan, dia menaruh kembali nyawa para zombie yang dibangkitkan secara paksa oleh para necromancer jahat ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menarik perhatian sang count yang ditugaskan untuk mengelola tempat tersebut.


“Hah, Senior Yuda?”


“Luca?”


Dialah sang count, Count Luca Auralia alias Luca, sang protagonis kita.


“Aku sama sekali tak menyangka bahwa itu Senior Yuda ketika mendengar ada player hebat yang tiba-tiba datang ke tempat ini dan sangat membantu kita dalam mencegah invasi zombie.”


“Hahahahahaha. Bukan apa-apa. Tetapi ngomong-ngomong, Dik Luca. Ada apa dengan gelar count itu?”


“Ah, ini adalah semacam hadiah dari event game. Berkatnya, aku ditugasi menjaga tempat ini dan kehilangan hampir semua waktuku untuk level-up. Senior tahu sendiri kan, kalau monster zombie sama sekali tidak bisa digunakan untuk level-up.”


Sang protagonis pun tiba-tiba mengeluhkan kejamnya perbudakan halus yang diprakarsai oleh sang kaisar wanita pertama tersebut, Cecilia de Lalania.


Pada dasarnya, hubungan Luca dan kelompok tiga sekawan senior pemalas tersebut tidaklah terlalu dekat. Mereka hanya kebetulan pernah berpapasan di ruangan klub. Itupun bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya sempat berpapasan di ruang klub sebanyak 3 kali saja.

__ADS_1


Begitulah pemalasnya para senior yang sebenarnya telah berada di tahun terakhir mereka itu hingga hampir sama sekali tak pernah terlihat wajahnya di klub.


Perihal hubungan mereka yang tidak terlalu dekat itu, Luca pun terlihat sedikit hesitasi mengobrol bersama mereka.


Invasi zombie tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka terus saja bangkit bagai kecoak dari dalam tanah.


“Ck, para zombie akan terus saja bermunculan jika necromancer-nya tidak dibunuh. Senior Yuda, Senior Martin, dan Senior Jacob, aku serahkan tempat ini kepada kalian. Aku akan mencari necromancer yang menyebabkan semua kekacauan ini.”


‘Bagaimana, Aura? Apa necromancer menjijikkan itu sudah ketemu lokasinya?’ [Berbisik, hingga tidak kedengaran sama yang lain]


“Luca, biar aku ikut membantumu mencari necromancer itu. Martin dan Jacob telah lebih dari cukup untuk menjaga tempat ini.”


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Luca memutuskan untuk menerima niat baik dari seniornya itu.


“Baiklah, Senior. Aku serahkan punggungku padamu.”


“Hmm. Serahkan padaku, Luca.”


Dalam sekejap, Luca mampu menemukan lokasi sang necromancer, terima kasih kepada kemampuan pendeteksian Aura.


Tanpa pikir panjang, Luca pun menerjang ke arah sang necromancer jahat untuk membasminya. Hal itu tentu saja tidak dibiarkan oleh para pengawal sang necromancer jahat. Dua zombie jenis troll dengan ukuran badan yang lebih besar dan terlihat sangat kuat segera menghalangi langkah Luca.


Namun di situlah, Yuda dengan pedang besarnya, mensupport Luca dengan mengenyahkan para bodyguard zombie itu.


Berkatnya, Luca pun dapat dengan leluasa mengeliminasi sang necromancer jahat melalui tarian sabit bulan-nya.


Sejenak, Luca mengintip ke belakang. Dilihatnya-lah dengan seksama pertarungan Yuda tersebut.


Suatu permainan pedang yang sangat indah namun belum bisa disejajarkan sama sekali dengan permainan kelas tinggi Malik dari White Star. Namun demikian, gaya berpedangnya entah mengapa menimbulkan kesan unik yang tenang, dalam, serta anggun yang sangat terlihat timbul dari hasil kerja keras latihan berulang. Sangat tidak sesuai dengan image Yuda yang dikenal Luca selama ini sebagai senior pemalas.


Oleh karena itu, dia pun jadi bertanya-tanya tentang apa kiranya yang membuat seniornya itu menjadi seorang pemalas di klub padahal kepribadian yang ditunjukkan oleh permainan pedangnya sama sekali menunjukkan hal yang sebaliknya.


Dengan hesitasi, Luca pun menanyakan rasa penasarannya itu secara langsung kepada orang yang bersangkutan.

__ADS_1


“Dengan gaya permainan pedang yang seanggun itu, mengapa Senior justru malas datang menampakkan muka Senior di klub? Awalnya, aku kira itu karena Senior hanya malas saja dalam latihan, tetapi melihat permainan pedang Senior barusan, tampaknya aku telah salah. Gaya berpedang itu mana mungkin berasal dari seseorang yang malas latihan.”


“Pastinya Senior telah rajin berlatih selama ini di suatu tempat. Tetapi mengapa Senior enggan memasuki ruangan klub? Apakah ada masalah yang tidak aku ketahui, Senior?”


Mendengar pertanyaan Luca itu, ekspresi Yuda pun berubah menjadi muram.


Seperti apa yang telah diprediksi oleh Luca, telah terjadi sesuatu terhadap pemuda yang awalnya penuh semangat itu yang membuatnya tertelan ke dalam keputusasaan sampai sekarang.


Awalnya, dia enggan untuk kembali mengungkit kenangan pahit yang telah dia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya itu. Namun melihat kepolosan Luca, entah mengapa Yuda dapat melihat sosok muda dari dirinya dua tahun yang lalu itu di dalam diri Luca.


Yuda pun merasakan simpati yang aneh kepada diri Luca. Namun berbeda dari diri Luca yang mempunyai banyak orang yang melindunginya, Yuda kala itu tidak punya siapa-siapa untuk berdiri melindunginya sebagai anak yatim piatu miskin yang tak punya apa-apa.


Mungkin karena perasaan aneh familiar itulah yang menggerakkanya sehingga dengan resolusi, Yuda akhirnya bertekad untuk mengungkit masa lalu traumatisnya itu yang sebenarnya tak lagi ingin dia kenang kepada Luca. Semuanya demi sosok pemuda yang sangat mirip dengan dirinya dua tahun lalu itu agar tak berakhir dengan nasib tragis yang sama seperti dirinya.


“Ini adalah cerita soal pemuda polos nan bodoh yang begitu percaya diri akan bakatnya hingga merasa dunia hanya berputar di sekelilingnya saja, tanpa sama sekali memiliki kesadaran diri akan kekurangannya yang yatim piatu dan tidak memiliki apa-apa. Ini akan menjadi cerita panjang yang membosankan. Maukah kamu mendengarkannya, Luca?”


Sepolos apapun Luca, dia tidaklah tak sensitif. Dia langsung tahu bahwa pemuda yang diisyaratkan oleh seniornya, Yuda, tersebut tidak lain mengacu kepada dirinya sendiri.


Luca pun tanpa menurunkan keseriusan ekspresinya mengangguk dengan tegas sebagai isyarat bahwa dia telah siap mendengarkan curahan hati masa lalu kelam dari seniornya itu yang sampai membuatnya terjerembab ke dalam keputusasaan, menghancurkan masa depan cerah seorang pemuda bertalenta itu.


Yuda pun mulai bercerita.


Semuanya berawal ketika dirinya yang dari kampung itu nekat memutuskan untuk datang ke Jakarta beradu nasib menggunakan sedikit uang pemberian kakek dan neneknya demi menggapai impian dan cita-citanya menjadi pemain e-sport vrmmorpg karena kekagumannya setelah melihat pertandingan e-sport vrmmorpg klub daerah asalnya, Klub Lucifer.


Karena tidak punya uang untuk mendaftar di sekolah elit semisal SMA Puncak Bakti, SMA Angkasa Jaya, atau SMA Mulia Karsa, Yuda pun memutuskan untuk memasuki SMA peringkat 4 kala itu yang biaya sekolahnya jauh lebih murah, SMA Pelita Harapan.


Secara beruntung, karena bakatnya dalam e-sport vrmmorpg diakui oleh kepsek, dia pun langsung memperoleh beasiswa pas masuk ke sekolah itu. Itu tentu saja anugerah yang sangat besar bagi Yuda di kala dirinya itu di Jakarta hidup dengan sangatlah miskin, bahkan untuk makan saja, terkadang dia harus puasa karena tidak cukup punya uang untuk membeli makanan.


Singkat cerita, dia pun bergabung dengan klub e-sport vrmmorpg SMA Pelita Harapan dan sesuai yang telah diharapkan darinya, dia menjadi rookie terhebat di angkatannya itu bahkan jauh lebih bersinar dari Areka kala itu.


Para siswa pun jadi banyak yang mengelu-elukannya dan dia menjadi selebriti sekolah dalam sekejap. Di pundaknya seketika ada harapan besar untuk mengharumkan nama SMA Pelita Harapan yang selama ini selalu saja menjadi sekolah kelas menengah dan tidak pernah mampu bersaing dengan tiga sekolah elit.


Yuda sama sekali tidak menyadari bahwa awal kejatuhannya kala itu telah dekat ketika sosok senior tertentu yang tak diharapkan, menjadi iri hati padanya dan mulai merancang skema jahatnya demi kejatuhan Yuda.

__ADS_1


__ADS_2