
[POV Asario]
Siang itu, sesuai janji, aku menyempatkan diri ke ruang klub setelah sekian lama aku menyibukkan diri di ruang latihan pribadiku.
Tapi apa yang aku temukan di sana adalah bocah sialan sama putri manja itu malah bercepika-cepiki dengan bahagianya, asyik bermesraan, berdua-duaan berpacaran di ruang klub tanpa tahu tempatnya.
Aku bahkan sampai rela mengorbankan waktuku yang berharga ini, tapi bocah sialan itu sama sekali menganggap semua ini enteng. Dia kan bisa saja latihan dulu dengan seseorang di klub untuk pemanasan. Padahal begitu banyaknya siswa SMA Yayasan Eden Cabang Indonesia yang kebetulan berada di tempat ini sekarang.
Dia betul-betul menyia-nyiakan waktu di tengah banyaknya bakat cemerlang di sini.
Apa bocah itu serius percaya diri bisa mengalahkanku hanya karena bisa mengalahkan Andra sehingga menganggap orang-orang yang lumayan hebat di sini semua enteng? Bocah sialan itu! Bocah parasit yang hanya bisa bersembunyi di balik perlindungan seorang tuan putri manja!
Heh, mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi, satunya tidak tahu diri dan satunya begitu menjengkelkan.
Begitu adik-adik juniorku dari SMA Eden Indonesia melihatku, mereka langsung menyapaku dengan hormat.
Salah satu dari mereka pun bertanya, “Senior datang? Ada keperluan apa Senior kemari?”
Baguslah, ada seorang bocah juniorku yang menanyakan hal itu padaku.
Hmm, kebetulan ada banyak orang di sini. Bocah sialan, tunggu saja pembalasan dendamku dengan mempermalukanmu di tengah keramaian ini. Akan kurusak reputasimu dengan kubeberkan rahasiamu serta kukalahkan kau dengan sangat memalukan.
“Ah, ada seseorang yang mengajukan tantangan dariku. Seorang anak kelas satu dari SMA Pelita Harapan. Walaupun dia belum punya prestasi di bidang vrmmorpg, aku terpaksa menerima tantangannya atas permintaan Lia.”
Aha! Bagaiamana sekarang itu, bocah sialan?! Perkataanku barusan jelas-jelas mengisyaratkan bahwa kamu baru saja menggunakan kenalanmu agar kamu yang bukan siapa-siapa itu bisa latih tanding denganku. Bukankah itu semacam penyalahgunaan kekuasaan?
Akan ada banyak murid-murid di sini yang akan iri lantas mengutukmu lantaran mereka saja banyak yang mengajukan permintaan resmi ke sekolah untuk menantangku bertanding walau hanya satu putaran, tetapi aku selalu menolaknya mentah-mentah perihal terlalu besarnya gap kemampuan di antara kami.
Tapi kamu baru saja melewati batas dengan menantangku menggunakan kenalan.
“Ah, anak dari SMA kelas menengah itu ya yang baru-baru saja naik daun.”
“Iya, itu benar. Aku baru saja mendengar gosipnya yang belakangan ini ramai di internet. Katanya ada murid baru di SMA Pelita Harapan yang baru hari pertamanya masuk ke sekolah sudah berani menantang murid paling jago di sekolah itu untuk bertanding. Dan lucunya dia benaran bisa menang.”
“Eh, bukannya itu karena atlit-atlit e-sport vrmmorpg di SMA Pelita Harapan saja yang lemah-lemah?”
“Tapi itu sudah prestasi kalau anak kelas satu bisa mengalahkan orang paling top di sekolahnya di hari pertama dia masuk sekolah. Terlebih, SMA Pelita Harapan kan masuk juara lima kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat SMA senasional di kompetisi awal tahun akademik tahun lalu, yah walaupun peringkat mereka parah di ajang kompetisi akhir tahunnya.”
“Tapi bisa saja kan kalau itu kebetulan kalau si anak jagoan sekolah itu lengah atau dalam kondisi tidak siap bermain.”
__ADS_1
“Dia menang 3 – 0 lho, apanya yang lengah. Jelas-jelas itu kekalahan beruntun.”
“Oh iya, aku juga dengar gosipnya kalau si anak baru dari SMA Pelita Harapan itu juga yang sudah mengalahkan Ecila sang juara e-sport vrmmorpg tingkat dunia dalam suatu pertandingan tidak resmi sewaktu berkunjung ke sana sebagai penonton.”
“Oh, pantas saja dia berani menantang Senior Asario ya. Dia memang bukan anak sembarangan.”
“Siapa lagi nama anak itu ya?”
“Luca kalau tidak salah.”
Oi, oi! Bukan ini reaksi yang aku harapkan dari kalian! Bukankah seharusnya kalian menghujat anak itu yang berani-beraninya menantang senior hebat kalian dengan cara seperti itu?!
Mengapa kalian malah kagum padanya?!
Cih, bocah sialan itu! Bahkan para juniorku saja sudah dihipnotis olehnya.
Baiklah, mari kita putar balikkan itu semua saja lewat game.
Tanpa sadar, senyum sinis pun terpampang dengan jelas di wajahku. Tentu saja ketika Lia melirikku, aku segera menyembunyikan senyum jahatku itu, kalau-kalau sampai putri manja itu menemukan niat jahatku merusak reputasi Luca lantas mengadukannya kepada ayahnya yang daughter complex itu yang jika Lia bahkan bilang laut itu hijau, maka ayahnya tak akan segan-segan membuat polusi lumut di seluruh lautan.
“Terima kasih telah menyempatkan diri datang ke sini, Senior.” Sang putri manja pun menyapaku.
“Bukan apa-apa kok, Lia. Aku justru senang bisa memberi bantuan kepada juniorku yang cantik ini.”
“Ah, sama sekali bukan apa-apa.” [Inner talk: Putri manja sialan itu!]
Setelah menyapa sang putri manja sebentar, kini giliranku berhadapan dengan bocah sialan itu.
“Mohon bantuannya ya, Senior.”
Aku hanya memaksakan tersenyum mendengar omong kosong dari bocah sialan itu. Sebenarnya, jika bukan karena janji yang tanpa sengaja kubuat padanya bulan lalu itu, walau itu permintaan Lia sekali pun aku takkan pernah sudi memenuhinya.
Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Namun, dalam hati aku sudah mempersiapkan ratusan cara apa yang nantinya akan aku gunakan untuk mempermalukan bocah kurang ajar sialan di hadapanku ini.
Dan demikianlah, ronde pertama pun dimulai.
Begitu pertandingan dimulai, aku segera mengaktifkan auraku dan entah mengapa bocah itu juga bisa mengaktifkan auranya. Tapi apa itu? Tipis sekali. Terlebih, dia hanya bisa menyelubungi dirinya sendiri dengan auranya dan tidak dengan senjatanya.
Sudah jelaslah apa yang akan terjadi.
__ADS_1
“Plang plang slash.”
Dengan mudah aku memecahkan aura super tipis dari bocah sialan itu lantas menebasnya. Hanya dalam sekali tebasan, bocah itu pun kalah.
Bagaimana, Bocah? Apa kamu malu sekarang ditonton oleh banyak orang dalam kondisi kalah yang sangat memalukan?
“Wah, Senior Asario! Itu hebat! Sangat sangat sangat hebat! Bagaimana bisa Senior juga melapisi pedang Senior dengan aura? Terlebih aura yang menyelubungi tubuh Senior begitu tebal!”
“Itu jelaslah karena perbedaan level. Kamu kan masih baru dalam permainan ini. Jadi mana bisa kamu mengalahkanku?”
Aku sejenak tersipu akan ucapan kotor bocah sialan itu. Tapi yah, tidak ada salahnya juga menyombongkan diri dengan itu.
Jika dia memang bocah kotor seperti yang kupikirkan, pastinya walau dia tertawa penuh kesenangan di muka seperti ini, dia pasti sedang mengumpat dalam hati dengan teramat sangat penuh iri dan dengki padaku yang superior baginya itu dengan sangat menjijikkan.
Tetapi bagaimana pun dia pandai berakting, tatapan matanya terlihat terlalu tulus. Terlebih, para junior juga sedang menyaksikan. Mau tidak mau aku pun mengikuti sedikit permainan bocah itu dan mengajarkannya beberapa tips.
“Lapisan aura-ku tentu saja lebih tebal karena aku lebih banyak mengeluarkan output manaku. Bagaikan menghisap air dengan menggunakan sedotan, sedotan dengan lubang yang lebih besar akan menghisap air lebih banyak daripada sedotan berlubang kecil, namun sedotan yang lebih besar juga membutuhkan tenaga hisap yang lebih besar untuk menarik air ke dalamnya.
“Trus untuk pengaplikasian aura pada senjata. Cukup bayangkan saja ada dua aliran, alih-alih satu. Kemudian kamu sedot masing-masing aliran itu untuk satu ke tubuhmu sebagai tameng, dan satu ke senjatamu. Simpel kan?”
Entah mengapa, alih-alih kesal, bocah itu malah terlihat semakin antusias. Aku saja merasa akan tertipu oleh aktingnya yang brilian itu bahwa dia memang bocah yang teramat polos jika aku tidak mengenalnya sedari awal. Wajar saja jika semua orang di sini tertipu oleh muka dua sang rubah penggoda versi pria itu.
Dan begitulah ronde kedua pun dimulai. Tetapi apa ini? Mengapa bocah itu bisa dalam sekejap mengaktifkan aura di senjatanya dan menerapkan aura yang lebih tebal untuk perlindungan tubuhnya?
Apa dengan penjelasan yang asal-asalan itu, dia bisa langsung memahaminya?
Tidak, tidak. Itu sama sekali tidak. Bocah itu pastinya hanya berpura-pura saja. Sedari awal, dia pasti juga sudah menguasai teknik aura tingkat tinggi.
Tidak, tidak. Itu pun salah. Bukankah bocah ini masih newbie? Dia kan sebulan lalu masih level 20? Apa? Bagaimana bocah itu kini sudah level 44? Hanya dalam waktu satu bulan, dia naik level dua kali lipat lebih dari levelnya dulu?
Tidak, tidak. Bukan itu yang penting sekarang. Bagaimana pun, dia masih belum mencapai level 50 ke atas, artinya dia masih di level veteran tingkat menengah. Tetapi bagaimana bisa seorang player yang masih terjebak di level veteran tingkat menengah itu menguasai teknik player tingkat tinggi?
Apa dia cheat? Itu pasti untuk orang sepertinya.
Lalu, kami pun bertarung. Tetapi kali ini, hanya dalam beberapa gerakan, bocah sialan itu yang justru berhasil mengalahkanku dengan akrobatiknya yang lincah.
Tidak. Dari pertarungan itu, aku tersadar. Itu bukanlah cheat atau sejenisnya, tetapi itu murni dari kemampuan bocah sialan itu.
Baiklah, tadi itu aku hanya sempat lengah saja karena terkaget oleh kemampuan yang diam-diam kamu sembunyikan, Bocah Sialan. Siapa sangka bocah sialan itu bisa berakting dengan sempurna menyembunyikan kemampuannya yang lumayan hebat itu.
__ADS_1
Tetapi aku takkan tertipu untuk yang kedua kalinya. Aku akan mengalahkanmu dengan segenap kemampuanku di ronde-ronde selanjutnya, Bocah Sialan! Dan aku akan menyiksamu hingga kamu menangis minta ampun memelas pengampunanku.
Aku pun seketika tertawa jahat.