The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
99. Luca Menyelinap Diam-Diam


__ADS_3

“Luca!” Begitu aku keluar dari ruangan virtual A, kudengar suara Tante Judith memanggilku. Rupanya, sedari tadi tampaknya Tante Judith mengkhawatirkan aku yang seorang diri di negara asing ini walau sebenarnya kami hanya berjarak satu ruangan saja.


“Duh, kamu ini, mengapa tiba-tiba pindah ruangan? Tahu tidak, Tante tadi sangat mengkhawatirkanmu, lho.”


“Hehehehehe. Maaf Tante, habisnya kulihat ruangan di sebelah ramai, jadinya aku penasaran.”


“Jadi, bagaimana? Apa pertandingannya seru?”


Aku sempat bingung harus menjawab apa karena kalau ditanya seru, terus terang saja tidak, itu justru membosankan. Mungkin banyak orang yang bersorak di dalam ruangan menganggap itu adalah pertandingan yang hebat, tetapi bagiku itu hanya sekadar adegan keoverpoweran satu lawan sehingga sama sekali tidak enak untuk ditonton.


Tidak ada sama sekali yang namanya bumbu-bumbu perjuangan membenturkan semangat jiwa muda atau sejenisnya seperti yang selalu digembor-gemborkan oleh Paman Heisel. Itu jelas karena perbedaan kekuatan lawan terlalu jauh.


Aku pun menjawab seadanya pertanyaan Tante Judith itu, “Ya begitulah, Tante.” Aku menjawabnya sembari berusaha tersenyum secerah mungkin sehingga otomatis Tante Judith akan beranggapan dengan jawaban yang positif walaupun yang kumaksud sebenarnya adalah ‘ya begitulah’ pertandingannya mengecewakan.


Sesuai dugaanku, tampaknya Tante Judith salah paham dan ikut tersenyum cerah akannya. Tentu saja tidak perlu untuk merusak mood orang lain hanya karena moodku sedang buruk.


Aku tidak berbohong, namun aku juga tidak merusak ekspektasi Tante Judith yang dalam suasana hati yang cerah, jadi semuanya sama-sama berakhir dengan baik.


Aku pun mengintip ke dalam ruang virtual B, tempat Kak Nina dan Kak Raia masih berada. Rupanya pertarungan di situ masih belum usai, tetapi tampaknya sudah akan mendekati klimaksnya.


Sisa dua tim yang tersisa dan kedua tim itu kebetulan yang juga memperoleh skor jumlah korban terbanyak. Sudah dipastikan bahwa mereka berdua bisa sama-sama lolos ke putaran selanjutnya, tetapi mereka tampak masih penuh dengan semangat berjuang dalam pertarungan.


Pertarungan seperti inilah yang aku harapkan untuk ditonton. Aku cukup menyesal tidak memilih tempat ini tadi. Tetapi setelah kupikir-pikir, bisa menyaksikan doppleganger Alice and The Twin Dragon di arena sebelah, hal itu tidak buruk juga.


Aku pun menyelinap di antara bangku penonton paling belakang di mana Tante Judith mengikutiku dari belakang. Lalu aku pun menyaksikan sisa pertandingan itu dengan tenang. Tampak satu tim yang bernama Goliath dari kerajaan yang baru berdiri di Eropa Selatan melawan tim lain yang bernama Exdeus dari Negara Semenanjung Korea.


Tim Goliath masih tersisa 3 pemain yang masing-masing bersenjatakan pedang besar, tombak, dan satunya lagi tampak mengendarai kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda putih bertanduk dengan cambuk di tangannya.

__ADS_1


Adapun Tim Exdeus tersisa 2 pemain lagi yang kedua-duanya bisa terbang dengan peralatan sci-fi yang tampak sangat keren.


“Gae Bolg”, sang pemegang tombak lantas mengucapkan skillnya sembari melontarkan tombak di tangannya. Tombak itu pun dengan kecepatan yang luar biasa melesat ke arah salah satu pemain Exdeus, tidak, tombak itu berbelok secara ajaib dan menyerang pemain Exdeus yang lainnya.


Pemain Exdeus yang pertama kali ditargetkan langsung gameover seketika tertusuk tombak dalam kecepatan yang tidak bisa dia hindari, akan tetapi pemain Exdeus yang kedua bisa menghindari serangan itu di detik-detik terakhir.


Namun, dia tidak bisa menghindari serangan itu dengan sempurna sehingga peralatan sci-finya rusak lalu dia pun terjatuh ke tanah. Sayangnya, di situ dia sudah ditunggu-tunggu oleh pengendara kereta kuda yang memegang cambuk di tangannya itu.


Pengendara itu mengendalikan kereta kudanya sehingga melesat cepat ke arah sang pemain Exdeus yang tersisa, lantas dengan sigap mengayunkan cambuknya yang lantas melilit ke sekujur tubuh sang pemain Exdeus yang tersisa.


Cambuk secara ajaib kian lama kian rapat yang akhirnya mengoyak tubuh sang pemain exdeus yang tersisa tersebut.


Dengan gameovernya pemain Exdeus yang tersisa, Tim Goliath pun melaju ke babak selanjutnya sebagai tim yang bertahan paling akhir. Namun demikian, Tim Exdeus juga tetap melaju ke babak selanjutnya sebagai tim dengan perolehan skor jumlah korban terbanyak yakni sebanyak 5, walaupun Tim Goliath tentu saja masih unggul dalam skor perolehan jumlah korban yakni sebanyak 8.


Usai pertandingan, aku bertemu dengan Kak Nina dan Kak Raia.


“Ah, Luca. Kamu bikin kita panik saja. Aku kira kamu diculik tante-tante genit dan tidak bisa kabur. Syukurlah kamu baik-baik saja.”


“Jadi, Luca. Apa kita akan lanjut latihan lagi malam ini?”


“Hoaaaaam. Hari ini kita terlalu lelah menonton banyak pertandingan dan juga sudah hampir jam 9 malam. Bagaimana kalau kita langsung tidur saja malam ini?” Aku segera menjawab pertanyaan Kak Raia itu sembari berpura-pura mengantuk.


“Sepakat! Sepakat! Aku juga sudah sangat lelah malam ini. Kita latihannya besok saja!” Kak Nina langsung terlihat sangat riang begitu mendengarkan keputusanku itu.


Tetapi tentu saja itu bohong. Ada hal yang perlu kuselesaikan malam ini di mana Kak Nina dan Kak Raia tidak boleh terlibat.


Malamnya sekitar pukul 21.30, aku menyelinap keluar dari kamar hotel tanpa sepengetahuan yang lain lantas bergerak menuju ruang vrmmorpg khusus tamu. Di sana, aku segera memilih game The Last Gardenia kemudian connect ke dalam gamenya.

__ADS_1


Aku masuk melalui portal di guild assassin. Begitu aku masuk, kudengarlah desas-desus yang tidak mengenakkan mengenai kabar ketua guild swordsmen yang sedang mencari cleric yang mampu menyembuhkan kakak perempuannya yang tampak tertidur abadi.


Apa ini tentang ketiga wanita yang kami temui sebelumnya di celah dimensi di dungeon pemula? Jadi sampai sekarang, mereka belum sadarkan diri juga? Jika benar mereka mengalami penyakit tidur abadi, maka kekuatan cleric saja tidak cukup. Dibutuhkan energi light setingkat saint atau saintess untuk menyembuhkannya. Karena penasaran, aku segera berniat ke sana langsung untuk memastikannya.


Aku tidak tahu persis bagaimana kekuatan sang saint atau saintess bekerja, tetapi jika tidak sadarkan dirinya mereka ada kaitannya dengan mana mati atau energi iblis, maka seharusnya sabit bulanku yang bisa menyerap esensi kematian dan kegelapan akan sangat bisa membantu.


Tetapi masalahnya adalah aku tidak bisa memasuki area itu begitu saja karena area itu merupakan area terbatas guild swordsmen yang hanya bisa dimasuki oleh anggota guild swordsmen atau minimal sedang membentuk party dengan salah satu pemain swordsmen.


Aku pun memutuskan untuk membicarakan perizinannya lewat Paman Heisel.


“Oh, Luca. Akhirnya kamu datang juga. Mengapa kamu selalu datangnya lama? Tahukah kamu betapa Paman selalu merindukanmu?”


Begitu melihatku, Paman Heisel langsung memelukku, tetapi perasaan, ini belum terlalu lama sejak kunjungan terakhirku. Bukankah lima hari yang lalu aku baru saja berkunjung?


Melupakan hal itu sejenak, aku segera menanyakan perihal guild master swordsmen tersebut yang sedang mencari cleric yang kemungkinan aku bisa membantunya sehingga aku ingin dipertemukan dengannya.


Namun, daripada segera menjawab permintaanku, Paman Heisel segera menanyakan hal lain, “Ngomong-ngomong Luca, apa lingkar mana keduamu sudah terbentuk sempurna?”


Yang dimaksud Paman Heisel adalah apakah aku sudah genap level 25 atau belum yang merupakan batas level antara pemain veteran pemula dengan pemain veteran menengah yang jika sudah mencapai tahap itu, aku artinya harus segera merequest ujian pemantapanku, tingkatan kedua setelah ujian pendewasaan, atau istilah playernya yakni pembukaan kunci level yang ketiga.


“Belum, Paman. Tinggal sedikit lagi.”


“Kamu jangan malas latihan! Kamu harus segera kembali membentuk kekuatan tubuhmu yang hilang akibat bencana itu.”


“Hehehehehe.” Aku pun tertawa pelan akan nasihat sayang Paman itu.


Sampai saat ini, Paman Heisel masih beranggapan kalau tubuhku mengalami masalah akibat bencana sesuai dengan versi cerita yang kuceritakan padanya. Itu karena aku tidak bisa jujur bahwa ini hanyalah tubuh avatar, sementara tubuhku yang asli dengan kekuatan yang sama sekali masih seperti yang dulu berada di dunia nyata.

__ADS_1


Itu karena larangan sistem yang begitu ketat mengontrol segala apa yang aku ucapkan kepada penduduk Gardenia. Aku juga bukannya punya jalan kembali ke tempat ini dengan tubuh asliku.


Oh iya, kalau dipikir-pikir, aku memang terlalu sibuk latihan klub sembari melatih persiapan ujian masuk klub Kak Nina dan Kak Raia belakangan ini sehingga tidak memperhatikan untuk menaikkan level tubuh avatarku ini. Mungkin setelah urusanku beres dengan Paman Visgore dan Kak Kaisar sebentar, aku akan memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk level-up.


__ADS_2