
Sebanyak 6 orang duduk di ruang tamu itu. Lia tampak berusaha tersenyum, tetapi akhirnya jatuhnya canggung. Sementara itu, Judith, Nina, dan Rowin menatapnya dengan penuh penasaran. Ekspresi dan gerak-gerik lucu yang kaku ditunjukkan oleh Nina dan Judith.
“Bagaimana tehnya Nak? Tidak kemanisan kan?”
“Baik-baik saja kok, Tante.” Jawab Lia berusaha mempertahankan senyumnya yang anggun.
Walaupun jawaban itu sebenarnya bertentangan dengan internal nuraninya sebagai orang yang telah terbiasa menikmati teh kelas elit, Lia tidak peduli dengan semua itu sekarang. Saat ini Lia gugup karena berhadapan langsung dengan keluarga pacarnya, Luca.
Hanya ada satu orang di tempat itu yang masih dapat dengan santai meneguk secangkir teh sembari menikmati cemilan. Dialah Luca dengan wajah tidak bersalahnya.
Baik Judith maupun Nina sebelumnya sudah mengetahui bahwa entah mengapa anak polos seperti Luca telah mendapatkan pacar. Mereka juga sudah pernah sekilas melihat dari jauh, tetapi hanya sebatas lengan kanan, pacar Luca sewaktu Luca turun dari suatu mobil mewah.
Dari penampilan lengannya yang glamour yang dihiasi perhiasan yang mewah, baik Judith maupun Nina sebelumnya mengira bahwa wanita yang telah memacari Luca adalah tante-tante yang menipu anak polos seperti Luca dengan kemewahan hartanya.
Walaupun Luca telah menjelaskan bahwa pacarnya bukanlah seorang tante-tante seperti di bayangan mereka, mereka tetap tidak percaya dan berpikir bahwa Luca mungkin dibohongi oleh tante-tante itu dengan umurnya dengan memanfaatkan keajaiban yang disebut dengan operasi plastik.
Oleh karena itu, mereka dengan pelan dan hati-hati berusaha membujuk Luca yang polos itu untuk perlahan dapat menjauh dari tante-tante berbahaya seperti itu.
Siapa yang mengira bahwa pacar Luca memang benar-benar gadis SMA sebayanya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, gadis yang dipacari Luca adalah bukan orang biasa, melainkan selebriti dunia e-sport yang sedang naik daun. Hal itu lantas semakin membuat mereka bertanya-tanya, mengapa orang seterkenal Lia mau berpacaran dengan anak yang [polos?] seperti Luca.
Tetapi keterkejutan mereka tidak berhenti sampai di situ.
“Om, Tante, juga Kak Nina, izinkan aku membawa Luca bersamaku.”
Seketika ketiga keluarga itu mematung mendengar perkataan Lia.
Rowin-lah sebagai kepala keluarga sekaligus yang terbijak di antara mereka yang pertama kali berhasil memperoleh kesadarannya kembali lantas merespon, “Nak Lia, bukankah ka.. ka.. kalian ter.. terlalu… masih terlalu kecil untuk begituan?” Atau tidak. Rowin masih nampak sangat gugup dengan perkembangan tiba-tiba itu sampai-sampai belum bisa berbicara dengan benar.
Di situlah Lia baru menyadari bahwa pemilihan katanya tampak telah menimbulkan kesalahpahaman besar. Ketika dia memikirkan kembali redaksi kalimat yang baru saja diucapkannya, bukankah itu semacam pernyataan lamaran? Muka Lia pun memerah menjadi seperti tomat masak.
Di saat itulah sang asisten rumah tangga yang terlihat telah berumur lebih dari 60-an dengan janggut dan rambutnya yang telah memutih, angkat bicara mewakili majikannya yang tampak kehabisan kata-kata.
“Nona Lia bermaksud mengajak Luca bersamanya untuk menonton pertandingan e-sport-nya di Amerika karena kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan. Mungkin sekadar mengatakannya saja agar tidak terjadi kesalahpahaman, akomodasi memang disiapkan oleh panitia lomba untuk anggota keluarga peserta, bukan Nona Lia. Kegiatannya sendiri akan diadakan selama sepekan. Ada hotel khusus disiapkan untuk anggota keluarga.”
Beberapa saat setelah diam sejenak, sang asisten rumah tangga lantas menambahkan, “Oh, juga ada 4 orang total akomodasi untuk anggota keluarga peserta. Jadi jika kalian khawatir, kalian bertiga juga bisa menemani Luca ke sana.”
__ADS_1
Wajah Lia masih tampak memerah. Namun pada akhirnya, dia memberanikan diri menatap Luca yang tanpa beban menyantap cemilan di depannya.
“Apa Luca keberatan ikut bersamaku?”
Mendengar pernyataan polos dengan wajah imut itu, jantung Luca pun terasa tersentak arus listrik. Dia bahkan sampai-sampai telah lupa pada cemilan yang ada di hadapannya.
Pemuda itu kemudian tersenyum lantas menjawab dengan lembut, “Tentu saja aku bersedia, Lia.”
Suasana lovey dovey terjadi untuk sesaat di antara mereka berdua seolah melupakan keempat orang lain yang juga ada bersama mereka di dalam ruangan.
“Hei, hei, hei, hei, bukannya ini aneh?! Kalian kan baru sebatas pacaran, tetapi mengapa Luca mesti datang ke sana sebagai anggota keluarga?!” Nina seketika memecah suasana lovey dovey di antara mereka berdua dengan teriakannya.
“Bukankah ini justru kesempatan baik, Kak Nina. Kita dapat melihat berbagai pemain hebat dari seluruh belahan dunia. Ini akan sangat berguna juga sebagai referensi Kakak. Pasti ada beberapa pemain di sana yang merupakan tamer hebat yang bisa Kakak teladani.” Ujar Luca positif.
“Tetapi, biar pun Lia saat ini pacarmu, aku baginya hanyalah orang asing…” Nina mengucapkannya setengah bergumam seraya melirik kepada Lia.
Begitu tatapan mata Nina bertemu Lia, ternyata gadis itu telah tengah tersenyum padanya.
“Kakaknya Luca juga adalah kakakku. Tentu saja tidak ada masalah.”
“Hei, tunggu, Luca! Mengapa kamu memutuskan seenaknya…”
“Tentu saja boleh, Luca Sayang.”
“Tetapi tetap harus ada orang dewasa yang menemani. Sayang, bisa aku pergi bersama mereka.”
“Tentu saja, Sayang. Aku yang akan menjaga rumah selama kalian pergi.”
Semuanya begitu saja ditetapkan. Nina yang awalnya bingung ingin berbuat apa, akhirnya menyerah dengan kehendak Luca begitu saja.
Setelah itu, terjadi perbincangan ngalor-ngidul sesaat di antara sang pacar dengan keluarga pacarnya. Dengan pembawaannya yang anggun, dengan cepat Lia dapat mengambil hati Judith sekeluarga.
Hingga tibalah pada suatu obrolan itu yang tanpa sadar keluar dari mulut Rowin.
“Kuharap dengan bersama Nak Lia, Dik Luca pada akhirnya dapat menemukan kebahagiannya setelah kehilangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Suasana pun seketika suram. Setelah terucap, barulah Rowin menyadari bahwa dirinya telah menginjak ranjau yang seharusnya tak diinjaknya.
“Tenang saja, Om, Tante, aku pasti akan menjaga keponakan kalian dengan baik.”
Ucapan Lia itu seketika membuat raut wajah baik Judith maupun Rowin terlihat aneh. Namun mereka tampak berusaha sekuat tenaga untuk setenang mungkin menampilkan ekspresi poker face.
Jika Lia serius dengan Luca, maka suatu hari nanti, Lia harus tahu kebenarannya bahwa sebenarnya Luca bukanlah keponakan mereka melainkan sepupu langsung dari Judith dan bahwa Luca adalah seseorang yang lahir di dunia virtual.
Tetapi karena merasa belum saatnya, mereka pun memutuskan untuk mengubur masalah itu untuk saat ini.
***
Keesokan harinya,
“Nina.”
“Oh, Raia. Kamu sudah datang rupanya.”
Raia pada akhirnya setuju untuk datang setelah menerima panggilan dari Nina untuk bersama-sama berangkat ke Amerika dalam rangka menyaksikan pertandingan e-sport vrmmorpg tingkat internasional yang bergengsi itu.
“Itu… Anu… Apa aku benaran tidak apa ikut bersama rombongan keluarga kalian?”
“Rombongan keluarga apanya. Ini bukan kegiatan keluarga.” Seraya bergumam pelan, Nina melirik ke arah Luca.
“Benar tidak apa-apa seperti ini, kan Luca? Kami takut kedatangan kami akan mengganggu kencan kalian berdua.” Tanya Nina sekali lagi untuk memastikan kepada Luca.
Muka Luca sedikit memerah, namun pemuda itu hanya tersenyum lantas menjawab, “Tentu saja. Semakin ramai semakin baik.”
Akan tetapi, perkataan Luca selanjutnya membuat mereka berdua menjadi bergidik.
“Kita sekalian dapat memanfaatkan peralatan di sana dengan optimal untuk latihan agar dapat level-up melalui jadwal pelatihan yang telah kususun dengan sepenuh hati.”
“Glup.”
“Glup.”
__ADS_1
Nina dan Raia pun secara bersamaan menelan air liur mereka begitu melihat senyum Luca yang penuh nuansa rekayasa licik itu.