
Tanpa terasa, tahun pertamaku pun berakhir dan kini aku sudah beranjak ke kelas dua.
Ketujuh senior telah pensiun dari klub setelah mereka secara resmi lulus SMA.
Dan kini telah tiba saatnya kembali perombakan tim e-sport vrmmorpg sekolah kami. Namun ini menjadi masalah, perihal ada aturan dari sekolah yang mewajibkan klub merekrut minimum 10 anggota tiap tahunnya, sementara hanya ada tujuh tempat kosong yang tersedia yang ditinggalkan oleh para senior yang telah lulus.
Itu pun, kami belum mempertimbangkan Lia dan Kak Andra yang juga akan bergabung ke tim perihal ada peluang bagi kami dapat bertarung bersama di kompetisi ketika Lia dan Kak Andra menjadi anggota resmi di tim karena ada desas-desus yang sedang beredar belakangan ini bahwa kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat profesional pelaksanaannya akan diundur di semester depan.
Jadilah Pak Syarifuddin memutuskan untuk membuat Lia, Kak Andra, serta tiga orang yang peringkatnya terendah di tim kami saat ini, yakni Kak David, Kak Ula, dan Kak Zen untuk bersaing dengan kesepuluh besar calon anggota baru tersebut memperebutkan posisi resmi di klub.
Aku tentu saja tak pernah mengkhawatirkan Lia dan Kak Andra karena mereka adalah pemain yang berbakat bahkan sudah pernah melangkahkan kaki mereka ke ajang internasional. Namun sesuai dugaan, baik Kak David, Kak Ula, maupun Kak Zen, sama-sama tidak mampu bersaing dengan kesepuluh orang calon anggota baru klub itu yang kesemua dari mereka ternyata adalah kelas satu.
Itu wajar saja. Sejak prestasi kami memenangkan juara satu turnamen akhir tahun, banyak atlit-atlit berbakat yang memang serius menggeluti karir mereka di bidang e-sport vrmmorpg, tertarik untuk melirik ke sekolah kami. Tentunya, sekolah yang sedang naik daun seperti kami akan menjadi prospek masa depan yang menarik bagi para newbie yang belum mengenal dunia seperti mereka.
Namun semuanya seketika diselesaikan dengan masalah uang. Ayah Lia, Pak Syamsuddin, mensponsori besar-besaran klub kami sehingga klub itu pun dapat menampung lebih banyak atlit. Alhasil, nasib Kak David, Kak Ula, dan Kak Zen dapat terselamatkan dan siapapun yang ingin bergabung ke klub akhirnya diizinkan.
Akan tetapi, seketika timbul kembali masalah baru. Kami sama sekali tak pernah membayangkan bahwa di samping anggota lama dan kesepuluh anggota baru hasil dari seleksi pertama, kami masih bisa memperoleh formulir pendaftaran peserta sebanyak 351 lembar. Hal ini lantas membuat Pak Syarifuddin geleng-geleng kepala.
Bagaimanapun fasilitas sekolah memadai terima kasih berkat Pak Syamsuddin, kami masih kekurangan tenaga pelatih. Itulah sebabnya, Pak Syarifuddin akhirnya memutuskan untuk tetap menentukan kriteria minimum tertentu bagi seseorang dapat diterima bergabung ke klub. Hasilnya, kami menerima total 105 anggota tambahan. Ya, masih sangat banyak.
Apa yang mengagetkan adalah bahwa 101 dari mereka adalah siswa kelas satu alias cuma empat di antara mereka saja yang berasal dari kelas dua yang mengikuti seleksi ini untuk yang kedua kalinya, tidak, mungkin bisa dikatakan yang ketiga kalinya karena ini adalah seleksi kedua yang kami adakan di tahun ini.
Di antara banyak pemain itu, ada satu yang menarik perhatianku. Dia adalah Akrea, pemain shielder berbakat yang berasal dari SMP nomor satu di area pusat di bidang e-sport vrmmorpg, junior Egi. Walau belum setangguh Senior Areka untuk saat ini, aku bisa menjamin bahwa dia akan tumbuh menjadi pemain yang sangat hebat tidak lama lagi.
Demikianlah, waktu berlalu dan benar saja bahwa kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat profesional ditunda. Alhasil, di kompetisi awal tahun akademik ini, aku dan Lia dapat mengikutinya bersama. Di tim kami sebagai tim inti juga ada Kak Andra, Egi, serta Akrea, junior berbakat yang aku sebutkan barusan.
__ADS_1
Kemudian di jajaran pemain cadangan ada Diana, Kak Sabrina, Chika, Isman, dan Kak Inggar. Sayangnya, Kak Raia harus tersingkir dari tim inti di kompetisi awal tahun akademik ini.
Yah, tapi kulihat Kak Raia juga tidak terlalu mempedulikannya. Tampaknya, Kak Raia lebih memperoleh kesenangannya sekarang di kala menemani Kak Nina live streaming di channelnya yang secara luar biasa telah memperoleh 1,2 juta subscriber. Ya, dalam waktu sesingkat itu, Kak Nina juga telah menjadi selebriti e-sport vrmmorpg layaknya Lia, berkat debutnya di turnamen individu tamer di tahun lalu itu walau dengan jalan yang agak berbeda.
Melupakan Kak Raia, Kak Inggar memperoleh tempatnya kembali di tim pemain aktif. Tetapi apa yang lebih mengejutkan adalah prestasi Isman yang berhasil naik drastis dari pemain kelas bawah ke posisinya saat ini berkat ketekunan dalam latihan.
Dengan keberadaan dua orang atlit e-sport vrmmorpg yang telah menginjakkan kaki di skala internasional di tim, juga dengan keberadaan assassin paling berbakat yang bakatnya hanya ada satu-satunya di dunia ini (a.k.a. aku), semuanya tentu sudah menduga apa yang akan terjadi. Kami memenangkan kompetisi e-sport vrmmorpg awal tahun akademik tingkat amatir itu dengan mudah.
Sampai-sampai Gajel, mantan senior Lia di SMA Yayasan Eden dulu, marah-marah kepada duo Lia dan Kak Andra dengan mengatakan, “Dasar pegkhianat! Bisa-bisanya kamu malah bergabung dengan sekolah lawan lantas mengacaukan kami!”
“Gajel, tenanglah. Kamu tidak mau diapa-apakan sama Pak Syamsuddin kan?” Namun, begitu Eren mengingatkan Gajel perihal entitas keberadaan Pak Syamsuddin (a.k.a. ayah Lia), amarah Gajel pun seketika mereda yang justru digantikan oleh ketakutan yang teramat sangat.
Tampaknya, Lia benar-benar anak kesayangan ayahnya.
Tapi bukannya aku tidak mengerti kemarahan Gajel sama sekali perihal di antara 6 atlit lama Klub Silver Hero yang berafiliasi dengan SMA Yayasan Eden yang masih ada sejak kepergian Kak Toni dari tim itu, hanya Lia dan Kak Andra sajalah yang masih berada di usia SMA-nya sehingga kepindahan Lia dan Kak Andra ke SMA kami tentu akan menjadi pukulan yang sangat keras bagi SMA Yayasan Eden.
Aku tentu saja tidak mempermasalahkan di mana pun Lia memutuskan untuk bersekolah atau membentuk tim, karena bagaimana pun kami terpisah, kuyakin hati kami akan tetap menyatu. Begitulah seharusnya indahnya hubungan.
Dua bulan berlalu kembali, dan kini tanpa terasa memasuki kompetisi akhir tahun. Posisi tim inti tetap, namun sedikit terjadi pergantian pemain di posisi cadangan. Isman dan Kak Inggar digantikan oleh Zevan dan Asti.
Klub kami semakin diminati banyak penonton, tidak hanya perihal keberadaanku, Lia, dan Kak Andra saja di turnamen itu, tetapi juga karena bergabungnya kembali Kak Nina dan Kak Raia di tim sebagai dua pemain extra yang hanya akan mengikuti turnamen individu saja di mana mereka telah sangat terkenal sebagai selebriti dunia maya berkat channel yang secara resmi dikelola dan dijalankan oleh Kak Nina tersebut.
Di final pertandingan tim itu, aku dan tim pun bertemu dengan Kak Krimson yang juga memutuskan untuk ikut kompetisi dengan ketiadaan larangan beserta Tim SMA Phoenix-nya sebagai lawan kami.
Kupikir bahwa pada akhirnya tibalah saat di mana aku akan mengobati perasaan kecut di hatiku ini perihal tahun lalu aku tidak sempat melawan mereka di final. Tetapi dengan keberadaan Kak Krimson di sana, aku jadi tak dapat menyembunyikan perasaanku bahwa aku sedikit gentar. Dia adalah lawan yang sangat tangguh. Terlebih, dia didukung oleh rekan swordsman, shielder, mage, dan cleric yang juga sangat berbakat walaupun masih amatir.
__ADS_1
Kak Andra memutuskan untuk menggunakan jurus ‘sense of confussion’-nya sejak itu telah menjadi jurus yang tidak langka lagi untuk mengacaukan tim lawan yang dilanjutkan oleh fase aku dengan menerima buff Lia mengeliminasi satu-persatu lawan sembari dilindungi oleh perisai Akrea dari racun Kak Krimson.
Shielder dan swordsman dengan mudah aku kalahkan, sementara mage mereka dieliminasi oleh Egi sejak mage itu lengah dan perhatiannya terlalu terfokus padaku. Sayangnya, ketika aku hendak mengeliminasi sang cleric, Kak Krimson datang mencegat.
Dengan jurus jebakan racun yang tidak pernah kami prediksi, Kak Krimson dengan segera membalikkan keadaan dan membuat Egi serta Kak Andra game over di arena.
Serangan tiga arah datang dariku, pistol sihir Lia, serta serangan aura perisai Akrea, tetapi Kak Krimson begitu gesitnya hingga mampu menghindari kesemua serangan itu dengan tetap mengamankan sang cleric yang digendong di belakangnya.
Tak kusangka, pertandingan penentuan akan dilakukan oleh adu buff antara kedua tim yang dipusatkan padaku dan Kak Krimson. Untunglah ada Lia di timku yang meningkatkan ketahanan racunku, sementara tiada cara bagi sang cleric lawan untuk menetralisir kutukan kematian yang dihembuskan oleh aura sabit bulan-ku yang belum ternetralisir seutuhnya oleh senjata tersebut. Yah, ibaratnya kantong makanan di leher ayam yang belum sempat dicerna.
Alhasil, Kak Krimson kalah.
Layaknya pasangan dua penari cahaya, aku dan Lia menari berirama menyesuaikan langkah satu sama lain memadukan kombinasi senjata sabit bulan dan pistol sihir kami masing-masing dalam menyerang Kak Krimson melalui serangan ultimate yang indah berkilauan.
Walau saat itu kami dalam posisi bertarung, aku dan Lia saling membagi tawa bahagia kami satu sama lain dalam suasana yang romantis itu. Kilauan cahaya putih keperakan menambah pesona kecantikan gadis yang ada di hadapanku saat itu hingga tanpa sadar aku pun hampir saja mencium bibirnya yang indah tersebut jika bukan karena peringatan Aura yang tiba-tiba menyadarkanku.
Begitu aku tersadar, muka kami berdua pun tampak memerah. Aku sangat malu karena hampir saja terbawa oleh suasana. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwasanya, ini akan menjadi salah satu kenangan kami yang terindah, suatu kenangan kombinasi waltz di arena yang takkan pernah terlupakan seumur hidup kami.
Setelah kekalahan Kak Krimson, dengan mudah Akrea turut mengeliminasi sang cleric.
Sebagai hasilnya, SMA Pelita Harapan kami pun keluar kembali sebagai juara satu umum kompetisi akhir tahun di tahun keduanya itu.
Namun aku berpikir kembali. Ini berbahaya. Jika bukan karena keberadaan Lia di tim, aku pasti sudah gugur duluan di arena perihal racun mematikan Kak Krimson tersebut. Sekadar kalian tahu, buff penyembuhan racun dari Aura untuk saat ini memang sudah sangat baik, tetapi masihlah kalah jauh dibandingkan Lia.
Terus terang, aku ragu bahwa racun sangat mematikan sekaliber milik Kak Krimson mampu dinetralisir oleh kekuatan Aura sejak entitas Aura sebenarnya lebih terfokus pada pemurnian energi kematian ketimbang racun.
__ADS_1
Jika ini di kompetisi profesional di mana Klub White Star berhadapan dengan Klub Shadow Park, pasti diriku sudah lama game over di bawah racun Kak Krimson itu.
Lia bukanlah rekan, malahan akan menjadi calon musuh potensialku juga di kompetisi e-sport vrmmorpg profesional itu. Aku harus latihan lebih keras lagi demi kemenangan Klub White Star kami.