The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
185. Sosok Sumber Ketakutan Terbesar Areka


__ADS_3

“Terima kasih Senior Areka, telah mengingatkan aku soal keegoisanku.”


“Eh, kamu berbicara sesuatu, Luca?”


“Hmm. Bukan apa-apa. Kalau begitu mohon bantuannya, Senior, untuk menghalangi para minotaur zombie itu agar aku bisa menebas leher mereka semua.”


“Oke. Percayakanlah hal ini pada seniormu dan… maaf selama ini tidak bisa menjadi senior yang bisa kamu percaya.”


“Eh, Senior Areka mengatakan sesuatu?”


“Bukan apa-apa.”


Demikianlah kerjasama tim antara aku dan Senior Areka pun dimulai. Senior Areka menahan di tiap sisi serangan para minotaur zombie sembari memastikan posisi monster-monster itu tidak berada pada titik buta kami.


Berkat perlindungan Senior Areka yang kokoh, aku pun dapat dengan santai dan leluasa melayangkan skill tebasan khas assassin-ku ke leher para minotaur zombie itu satu-persatu.


Tidak kuduga jikalau memiliki rekan party akan senyaman ini dan sangat memudahkan pekerjaan jikalau kita memang dapat saling memanfaatkan keunggulan rekan satu sama lain. Aku… tidak, maksudku kami dengan mudah dapat mengalahkan keempat minotaur zombie itu.


Akan tetapi, ketika kumenengok ke atas lagi, Kak Silvia dan Kak Agnes yang terjebak di dalam kurungan telah tiada. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja altar besar itu terbelah menjadi dua dan menampakkan sekali lagi anak tangga untuk turun ke dalamnya.


Di situ pulalah sang suara misterius kembali bergema,


“Nah, sekarang. Turunlah untuk menghadapi cobaan terakhir kalian.”


Aku tak lagi berusaha menanggapi suara itu. Di samping melihat Senior Areka yang berusaha pula menunjukkan gelagat untuk membuat aku tenang, aku terlebih sudah malas duluan untuk berdebat.


Kami pun dengan patuh menuruti keinginan suara itu untuk turun ke tangga di tengah altar yang terbelah sembari tetap menjaga kewaspadaan kami.


Kami kembali terus berjalan menelusuri jalan satu arah hingga sekali lagi kami sampai pada sebauah ujung ruangan.


Namun, di situ sama sekali tidak ada apa-apa. Akan tetapi ketika aku dan Senior Areka melangkah sedikit lebih jauh, tiba-tiba dari balik dinding gua bagian atas, keluarlah sebuah kurungan yang di dalamnya ada Kak Silvia dan Kak Agnes tersebut.


Aku seketika ingin berlari menggapai mereka, namun Senior Areka segera mencegatku dan menyuruhku untuk tetap tenang bahwa jangan sampai ada jebakan di sana.


Aku seketika tersadar lagi akan sikap buru-buruku yang tidak biasa lantaran perasaan mengganjal yang tidak mengenakkan ini melihat Kak Silvia dan Kak Agnes disandera. Syukurlah di sana ada Senior Areka yang dapat dengan tetap tenang menilai situasi.


Aku pun dengan Senior Areka lantas berjalan perlahan memastikan bahwa tidak ada jebakan yang kami injak atau tanpa sengaja kami aktifkan.


Namun di situ, dua buah makhluk bola imut yang terbuat dari gel transparan tiba-tiba muncul di hadapan kami.


Aku segera memastikan nama monster itu pada sistem. Syukurlah, walau suara sistem tidak lagi terdengar, tetapi papan sistemnya tampaknya baik-baik saja.


\=\=\=

__ADS_1


Nama spesies: Slime kenangan negatif (Lv 1)


Tipe: beast non-elemental


Umur: ???


\=\=\=


“Nah, sebagai ujian terakhir kalian, masing-masing dari kalian, kalahkan seekor dari slime itu.”


Suara misterius itu kembali menggema. Entah dia bercanda atau mau mengejek kami atau bagaimana, tidak mungkinlah bagi kami untuk bisa kalah lantaran seekor slime berlevel 1.


Namun seketika, aku segera mengerti apa maksud dari suara itu. Slime itu rupanya tidak semudah kelihatannya. Mereka memiliki kekuatan spesial. Salah satu yang ada di hadapanku tiba-tiba saja berubah menjadi persis seperti naga hijau berlevel 999 yang dulu pernah aku hadapi sewaktu quest ujian pendewasaanku.


“Hadapilah sosok ketakutan terbesar di hati kalian itu. Dengan demikian, kalian akan menjadi ksatria cahaya seutuhnya.”


Aku mengerti sekarang mengapa slime itu diberi nama sebagai slime kenangan negatif. Slime itu rupanya mewujudkan sosok kenangan paling menakutkan yang tertanam di hati terdalam kita. Dan bagiku, itu adalah sosok naga hijau yang pernah aku dan Lia tanpa sengaja temui di celah dimensi quest ujian pendewasaanku itu.


Karena penasaran dengan seperti apa kiranya sosok kenangan paling menakutkan bagi Senior Areka, aku pun menoleh untuk melihat wujud perubahan slime yang dihadapi oleh Senior Areka tersebut.


“Hah? Kenapa wajahku malah yang muncul, Senior?!”


Aku tanpa sadar berseru keras begitu mendapati apa yang membuatku penasaran terhadap sosok makhluk yang paling ditakuti oleh Senior Areka, rupanya adalah diriku sendiri.


Mungkin dia pun malu mengakui kalau sosok yang menjadi traumatis terbesarnya adalah juniornya yang paling baik hati ini. Tentu saja aku tidak merasa pernah melakukan sesuatu hal yang salah sekalipun kepada Senior Areka.


Yah, tapi aku sebenarnya bisa paham tentang apa yang dimaksudkannya itu. Perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa kontrol sesuka hati, termasuk perasaan takut. Tetapi yang aku herankan adalah mengapa aku yang mesti menjadi sosok paling menakutkan itu buat Senior Areka?


Aku memang telah tanpa sadar mempermalukannya sewaktu baru masuk ke sekolah dengan mengalahkannya di depan umum dalam suatu pertarungan tidak resmi. Tetapi itu bukan aku yang mengumpulkan massa untuk beramai-ramai menonton kekalahannya dengan babak belur itu.


Sejak aku masuk pula di tim, aku merebut tempat pertama Senior Areka tanpa memberikannya kesempatan lagi untuk bangkit meraih posisi nomor satunya itu.


Tetapi semua itu seharusnya bukan alasan untuk menjadikan aku sebagai momok paling menakutkan buatnya.


Karena tak tahan menahan rasa penasaranku, aku pun menanyakannya langsung kepada Senior Areka, “Apa mungkin aku tanpa sadar pernah berbuat jahat kepada Senior yang sampai membuat Senior trauma?”


“Sudah kubilang, bukan seperti itu, Luca. Ck. Aku tak ingin membahasnya di sini soalnya itu hal yang memalukan. Kita fokus saja untuk menghadapi monster itu dulu di sini.”


Tampak Senior Areka enggan untuk menjawab. Kami pun kemudian, masing-masing berfokus pada sosok paling menakutkan di hati kami itu dan tidak lagi memperhatikan satu sama lain untuk beberapa saat.


Aku menebas monster itu berkali-kali. Monster itu pun mengamuk dan balik menyerangku.


Monster itu membuat gerakan yang benar-benar sama persis dengan gerakan sang monster di ingatan traumatisku itu. Tetapi apa ini? Walaupun bentuknya sama dan auranya juga sama-sama menakutkan seperti yang ada di dalam ingatanku, embusan nafasnya yang berwarna hijau itu sama sekali tidak mengandung racun seperti aslinya.

__ADS_1


Sekarang aku paham. Monster slime kenangan negatif bisa mewujudkan sosok kenangan paling negatif di hati kita lengkap dengan penampilannya yang benar-benar mengintimidasi sesuai dengan di ingatan kita, tetapi tidak dengan kemampuannya.


Hati kita benar-benar akan mengalami degradasi kalau mental pemain lemah, sebab walaupun tidak memiliki kekuatan yang sama persis dengan yang ada di ingatan, aura keberadaanya saja telah cukup untuk menggoyahkan mental lawan hingga ke titik terendahnya terutama dengan adanya kemampuan debuff degradasi mental tingkat legendaris yang dimiliki oleh monster itu.


Untungnya, aku memiliki ketahanan mental yang tinggi, terima kasih berkat gelar ‘sang wanderer sejati’-ku sehingga itu mutlak bukanlah ancaman buatku.


Aku pun mengaktifkan skill langkah bayangan dipadukan dengan tebasan langkah cepat berkali-kali hingga pada suatu titik, monster itu tak dapat lagi mempertahankan wujud fisiknya melalui kemampuan regenerasinya yang sebenarnya cukup luar biasa itu hingga sang monster pun tercerai-berai menjadi lelehan yang menjijikkan.


Sang monster pun tampaknya sudah kalah tetapi entah mengapa wujud bekas lelehannya itu masih ada di lantai tanpa menghilang menjadi butiran-butiran data layaknya monster-monster lain yang telah kukalahkan.


Kini tersisa pertarungan Senior Areka. Karena merasa lenggang, aku pun berniat menawarkan bantuan-ku kepada Senior Areka. Tetapi di situlah aku baru memperhatikannya.


“Dasar anak cebol menjengkelkan! Kamu selalu saja mengejekku dalam hati hanya lantaran kamu lebih hebat?! Hah?! Bagaimana pun aku ini seniormu! Mengapa kamu tidak pernah sekali pun memperlihatkan penghargaanmu padaku?! Apakah menjadi hebat begitu bersinarnya di matamu sehingga kau bahkan hanya melihatku sebagai extra yang tak penting?! Sekali-kali perhatikan seniormu ini juga sebagai rival yang pantas!”


Begitulah ucap Senior Areka dengan marah sembari menebas-nebas sang slime yang wujud serta gerakannya benar-benar sama persis denganku. Yah, tentu saja tidak dengan kekuatannya.


Aku pun merasa dilema terhadap hal itu. Entah aku harus marah dan tersinggung padanya karena mengataiku cebol, atau haruskah aku kasihan padanya yang merasa terabaikan.


Tentunya aku memutuskan untuk memilih yang terakhir perihal telah dua bulan ini aku mengenal Senior Areka dan aku tahu betul dia adalah orang yang baik.


Akan tetapi, tak satu pun niatku untuk mengabaikan keberadaannya seperti yang dibilangnya itu. Senior Areka sendiri yang sulit didekati sehingga aku kebanyakan tidak berinteraksi dengannya di klub. Tidak kutahu bahwa Senior Areka akan memiliki perasaan yang seperti itu padaku.


‘Pokoknya, aku akan lebih memperhatikan Senior Areka mulai dari sekarang.’ Gumamku dalam hati.


Setelah beberapa lama kemudian, dia pun akhirnya berhasil membelah dua tubuh doppleganger-ku itu dengan tumbukan perisainya. Sama dengan slime yang aku hadapi, slime yang dihadapi oleh Senior Areka itu juga hanya meleleh dan tidak berubah menjadi butiran-butiran data setelah dikalahkan.


Sejenak kemudian, barulah tampaknya Senior Areka kembali ke kesadarannya lantas dia telah melihatku berdiri di dekatnya.


“Ah.” Mukanya seketika memerah karena malu.


“Bukan begitu, Luca. Ucapan tadi… tidak…jangan dipikirkan ucapanku tadi. Itu cuma ucapan ngelanturku saja tanpa maksud apa-apa.” Begitulah ujar Senior Areka dengan panik di hadapanku.


Yah, setelah mendengarkan itu, mana mungkin aku dapat mengabaikannya. Tanpa sadar, aku membentuk noda sedikit demi sedikit pada persahabatan antara aku dan Senior Areka yang suci itu. Aku tentu saja merasa bersalah dengan semua itu.


Namun, sebelum aku sempat mengatakan sesuatu hal untuk mencairkan suasana tegang di antara kami, suara misterius itu tiba-tiba muncul kembali.


Kali ini, muncul dalam artian fisik.


“Yo, selamat tulus aku ucapkan kepada peserta ujian yang telah melulusi ujian kepewarisan harta berharga milik Master Lacoza.”


Rupanya, suara yang selama ini menggema di dalam dungeon adalah milik makhluk kecil yang berdiri di hadapan kami saat ini, makhluk maskot mirip tupai seperti yang sering muncul di anime-anime.


“Perkenalkan, namaku Lutfi.

__ADS_1


Dan begitulah dia memperkenalkan namanya.


__ADS_2