The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
227. Babak Final Dimulai


__ADS_3

Hari itu, Tim Silver Hero menang atas Tim Shadow Park. Dengan demikian, dipastikan bahwa lawan kami di putaran final adalah Tim Silver Hero.


Tepat malam sehari setelahnya, kami berdelapan, anggota inti dan Kak Kirana, menganalisis pertandingan semifinal antara kedua tim papan atas itu.


\=\=\=


Klub Silver Hero



Asario (swordsman)


Glen (mage)


Mark (assassin)


Andra (scout)


Lia (cleric)


Vs


Klub Shadow Park


Ferdi (fighter)


Krimson (alchemist)


Krein (swordsman)


Syef (shielder)


Iftar (mage)


\=\=\=


Kak Krein sebenarnya telah menjalankan perannya dengan sangat baik, mendukung rekan shieldernya segera setelah aba-aba pertandingan dari MC dimulai untuk melindunginya dari ultimate skill tebasan lintas dimensi milik Senior Asario.


Tampaknya Kak Krimson punya metode unik tersendiri dengan menggunakan bau ramuan yang tidak terdeteksi oleh indera penciuman biasa untuk mengumpulkan para membernya.


Sayangnya, walau dengan ketiadaan Kak Medina pada saat itu di tim, Kak Andra dengan cepat menyadarinya lantas menggunakan suatu skill yang menipu indera penciuman Kak Krimson terhadap bau ramuan yang seharusnya dapat terdeteksi oleh dirinya saja.


Kecerobohan dimulai ketika dia menyuruh rekan mage-nya berkumpul dengan Kak Krein dan Kak Syef, shielder mereka, tanpa sadar bahwa itu adalah jebakan yang dengan apik disusun oleh Kak Andra.


Apa yang menunggunya di sana rupanya adalah Kak Mark yang siap mengassasinasinya.


Dengan kemampuan telepati Kak Andra, para member Silver Hero pun dapat segera berkumpul, tepat di hadapan keempat tim Shadow Park yang tersisa yang telah berkumpul pula.


Dengan ketiadaan penyerang jarak jauh mereka, mutlak Tim Shadow Park telah dirugikan sedari awal. Tampaknya, Tim Silver Hero telah merencanakan ini sebelumnya.


Defensi Kak Syef yang masih lemah di bawah skill Kak Glen terpaksa membuat Kak Krein harus membantunya sembari waspada terhadap serangan tiba-tiba Senior Asario dengan skill tebasan lintas dimensinya seperti waktu itu.


Kak Krimson berupaya mengambil inisiatif dengan dukungan Kak Krein untuk menggunakan racun mematikannya.


Di situlah kunci kegagalannya. Tiada yang menduga, Lia mampu menggunakan pistol sihir tipe heroine yang kuhadiahkan padanya dulu dengan menggabungkannya terhadap skill Kak Andra untuk membalikkan racun yang diarahkan kepada mereka ke dalam barier pyramid yang dibentuk oleh Kak Krein.

__ADS_1


Racun dengan cepat menyebar ke dalam barier pyramid itu.


Racun Kak Krimson begitu kuat bahkan untuk rekan-rekannya sendiri yang selalu berada di sisinya. Dan lebih buruknya lagi, tidak seperti Chika, Kak Krimson mengeluarkan racun tanpa sebelumnya membuat antidote-nya untuk melindungi rekan-rekannya tersebut.


Alhasil, Kak Krein dan Kak Syef segera gugur di tempat. Kak Ferdi hampir tidak mampu bertahan, namun dia tetap bertahan, walaupun dalam keadaan sekarat.


Setelahnya, Kak Krimson pun mulai kehilangan ketenangannya dan pergerakannya mulai bisa dibaca.


Dia masih bisa selamat dengan serangan penghabisan Senior Asario berkat perlindungan Kak Ferdi. Namun, Lia segera memberikan serangan lanjutan di mana Kak Krimson tidak lagi mampu berkutik lantas kalah.


Tim Silver Hero menang atas Tim Shadow Park tanpa ada satu pun peserta mereka yang gugur. Inilah dia kekuatan tim yang mampu menjuarai juara terbaik kelima di kompetisi tim e-sport vrmmorpg tingkat internasional tersebut. Mereka bukan lawan yang mudah diremehkan.


***


Lalu beberapa hari dengan cepat berlalu lantas hari kompetisi final pun tiba.


Kami berjalan memasuki ruangan pertandingan dengan begitu banyak wartawan yang meliput kami. Yah, itu wajar mengingat kami telah masuk dua besar yang berarti tim kamilah dan Tim Silver Hero yang akan mewakili Indonesia untuk ke kompetisi tingkat internasional.


Namun, di jeda-jeda itu, aku merasakan seseorang hendak mendekatiku. Tidak, itu adalah sensasi yang familiar. Dia adalah Lia.


Dia begitu saja menarikku yang berada pada posisi paling belakang di tim ke suatu tempat yang jauh dari keramaian.


“Luca!”


Sapanya padaku dengan senyum bahagia.


“Lia…”


Banyak hal yang ingin kukatakan padanya, namun ujung-ujungnya, tak ada satu pun kata yang terucap.


“Hmm. Di saat itu, aku sama sekali tidak akan mengalah pada Luca. Luca pun juga sama kan?”


“Tentu saja.”


Kami pun mengobrol hal yang tidak penting sesaat sebelum sebuah suara keras tiba-tiba saja menegur kami dari belakang.


“Hei, apa yang kalian lakukan?! Tidak tahukah kalian etika pertandingan bahwa sesama musuh dilarang bertemu satu sama lain tepat sebelum pertandingan!”


Dialah Senior Asario yang marah-marah lantas menyeret Lia bersamanya.


Namun, sejenak kemudian, Senior Asario kembali berbalik menatapku lantas berkata,


“Ce… Luca, aku pastikan akan membalas dendam atas kekalahanku yang memalukan tempo hari di pertandingan kali ini. Karenanya, aku mempersiapkannya dengan matang melalui berbagai pelatihan. Jadi bersiap-siaplah.”


Setelah itu, Senior Asario lantas berbalik kembali meninggalkanku bersama Lia.


Aku sejenak tersenyum merasakan kesungguhan tekad Senior Asario yang kuat itu.


‘Yah, aku pun takkan bermain mudah dengan Senior.’


Gumamku dalam hati. Namun, aku sedikit penasaran bahwa tampaknya Senior Asario berkata sesuatu sebelum menyebutkan namaku. Tetapi itu mungkin bukanlah hal yang penting, sejak dia tidak jadi mengatakannya.


Lalu kompetisi pun dimulai.


***

__ADS_1


“Tipe pertandingan di babak final ini adalah the last survival on the battle one on one!”


Secara tidak kuduga, untuk menentukan juara satu di antara kami, dilakukan dengan metode pertarungan one on one yang biasa. Bedanya, kemenangan tidak ditentukan dari jumlah kemenangan, melainkan siapa yang terakhir bertahan.


Siapapun yang masih memenangkan pertarungan dalam battle one on one itu akan bertarung lagi dengan lawan yang juga masih survive sampai hanya ada satu tim yang tersisa di antara mereka.


Singkatnya, semisal aku, Egi, Senior Areka, dan Kak Brian kalah, tetapi Kak Malik masih bertahan, masih ada harapan bagi kami untuk menang jika Kak Malik seorang diri mampu mengalahkan keempat lawan yang tersisa.


Penentuan lawan pertama pun dilakukan dengan metode undian, dan hasilnya adalah:


\=\=\=


Klub Silver Hero vs Klub White Star


Lia vs Areka


Glen vs Malik


Medina vs Brian


Mark vs Luca


Asario vs Egi


***


Di babak pertama, Lia dari Tim Silver Hero harus berhadapan dengan Areka, senior yang sudah lama dikenalnya di klub amatir yang dia ikuti itu di SMA Pelita Harapan.


“Senior, jangan kasar-kasar padaku ya.”


“Justru akulah yang seharusnya mengatakan itu.”


Terdapat kengerian di dalam hati Areka perihal justru karena telah cukup lama mengenalnya, Areka kurang lebih tahu kekuatan Lia sebenarnya yang tersembunyi di balik wajahnya yang imut itu.


Pertandingan dimulai dan melebihi ekspektasinya, pergerakan Lia begitu cepat hingga tak mampu diikuti oleh Areka.


Areka melayangkan skill chuni series-nya, sayangnya, gerakan Lia terlalu gesit untuk ditangkap oleh jurus itu.


Skill tali penjerat yang sebelumnya diajarkan Luca pun segera memerangkap Areka tanpa perlawanan. Perisainya dihempaskan begitu saja lantas dalam satu kali tinjuan sihir Lia, Areka kalah.


Pemenangnya adalah Lia di babak pertama ini.


Lalu memasuki babak kedua, ada pertarungan antara sihir dan pedang, antara Glen sang elemen api melawan Malik sang elemen es.


Untuk pertarungan ini, tak perlu dipertanyakan. Tim White Star segera menyusul ketertinggalan mereka dengan kemenangan Malik sang swordsman. Gerakan cepat dari Malik tak mampu ditepis oleh satupun sihir jarak jauh dari Glen. Dengan cepat, Malik mendekat lalu menebas Glen lantas kalah.


Memasuki pertandingan ketiga, itu adalah pertandingan Medina sang tamer melawan Brian sang mage api.


Tiada yang menduga bahwa Medina yang telah melebarkan kakinya ke kancah internasional harus kalah dari sang mage yang selama ini berdiri di bayang-bayang sang swordsman Malik.


Brian memang adalah player yang hebat yang sekaligus menjadi kapten di timnya sejak setahun dia bergabung tiga tahun silam. Kemampuannya tidak terpaut jauh dari Malik yang lebih terkenal di klubnya. Hanya saja tidak ada yang menyadari kemampuannya itu sejak Brian memiliki pembawaan yang berbanding terbalik dengan skill-nya.


Lalu, di pertandingan keempat, tibalah pertandingan di antara sesama assassin, Mark dan Luca.


__ADS_1


__ADS_2