
“…”
Andra terdiam tanpa kata begitu membuka bando penghubung kesadaran yang dikenakannya. Dia telah mengetahui sebelumnya bahwa Luca memang hebat setelah melihat aksi pertarungannya secara langsung sewaktu membentuk party dengannya.
Dia telah menduga bahwa bocah itu bisa saja lebih hebat darinya. Akan tetapi dia sama sekali tidak menduga rekor waktu kekalahannya.
\=\=\=
Luca vs Andra
Pemenang: Luca
Catatan waktu pertandingan: 7 detik 89 milisekon
\=\=\=
“Ck! Menyedihkan! Ini akibatnya kalau kau hanya bermain-main saja dengan Tuan Puteri itu tanpa mengasah kemampuanmu. Sungguh memalukan sampai kalah dengan newbie hanya dalam satu jurus.” Asario menyirami garam di atas luka Andra.
Andra hanya terdiam dengan ekspresi malu dan sedih di wajahnya.
“Apa maksud Senior…”
“Senior bicara angkuh seperti itu seperti Senior bisa mengalahkanku saja.”
Lia berupaya mengumpat, tetapi segera dipotong oleh intimidasi Luca yang diucapkannya sembari menyengir penuh penghinaan.
Asario menatap tajam ke arah Luca dengan perasaan yang sangat terhina.
“Kau..”
Namun, belum sempat Asario berbicara lebih lanjut, “Di sini kalian rupanya. Apa yang kalian lakukan?” Seorang wanita paruh baya dengan penampilan aduhai dengan rambut yang disanggul rapi datang menghampiri mereka.
“Tak tak tak tak.” Suara high heels yang dikenakannya terdengar dengan jelas ketika manyapu jalan, berjalan dengan penampilan yang penuh dengan keanggunan.
Pandangan wanita paruh baya itu pun tertuju kepada Luca.
“Siapa pemuda ini?”
“Ah, dia teman yang saya bawa kemari, Pelatih, untuk menonton pertandinganku.”
Lia-lah yang menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya yang dipanggilnya sebagai pelatih itu.
__ADS_1
Pandangannya lantas menyipit seolah mencoba menyelidiki Luca secara seksama.
“Baju seragam-mu, kamu dari SMA Pelita Harapan ya?” Wanita itu segera bertanya kepada Luca.
“Iya.” Luca pun menjawab singkat dengan sedikit anggukan.
Begitu mendengar jawaban itu, bibir sang pelatih itu sedikit tersungging dengan senyuman dan tampak semakin terlihat penasaran dengan Luca.
“Kalau begitu, apa kamu kenal dengan guru yang namanya Syarifuddin?” Tanya sekali lagi wanita itu pada Luca.
“Ya, dia guru mate-matika-ku sekaligus pelatih e-sport di klub-ku.”
“Oho… Jadi dia akhirnya menjadi pelatih juga rupanya. Ngomong-ngomong sejak kapan?”
“Hmm, kalau berdasarkan perkataan para senior, sekitar 2 tahun lalu waktu zaman Senior Areka baru bergabung.”
Sang pelatih tampak tak tertarik dengan nama Areka yang disebutkan oleh Luca. Dia hanya kemudian berucap, “Kalau begitu, salam sama pelatihmu ya, Dik, hmm…”
“Luca, Tante.”
“Oh iya, Dik Luca. Salam sama pelatihmu, Pak Syarifuddin. Bilang salamnya dari Angel.”
Sejenak kemudian, dia lantas kembali menatap Luca.
“Ok. Sebenarnya banyak hal yang ingin aku obrolkan dengan pemuda yang menarik perhatian salah satu murid favoritku ini, tetapi kita tidak punya banyak waktu. Habis ini akan ada sesi penyerahan piala sekaligus pengarahan dari panitia tuk persiapan lomba ke tingkat selanjutnya. Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Dik Luca.”
Seraya mengatakan itu, tampak sang pelatih akan segera meninggalkan ruangan. Lia hanya mengikutinya dari belakang dengan muka yang memerah. Melihat Lia pergi, tanpa pikir panjang Andra menyusulnya. Akan tetapi,
“Tunggu sebentar, Bu Riska! Setidaknya biarkan aku sekali saja bertanding dengan bocah sombong itu.”
Sang pelatih yang dipanggil oleh Asario sebagai Bu Riska itu lantas memalingkan wajahnya kepada Asario lalu menatapnya tajam sebagai isyarat teguran dalam diam kepadanya.
Tetapi Asario justru balik menatap mata pelatih itu dengan penuh tekad seakan tidak gentar sedikit pun akan intimidasi dari sang pelatih.
“Asario, tidak sadarkah kau kalau saat ini kalian sudah dikelilingi oleh bermacam-macam mata-mata tim dari berbagai negara lain?”
Perkataan dari sang pelatih, Bu Riska Angela itu lantas menyadarkan Asario dan yang lainnya bahwa saat ini di ruang yang berbentuk kotak kecil itu, berbagai individu telah mengarahkan teropong mereka dari jauh, atau menguping atau mengintip lewat celah jendela terhadap pertandingan mereka.
Di ruangan yang sempit itu, mereka telah menjadi sumber penasaran bagi banyak orang yang tidak jelas di luar.
“Mereka saat ini sedang berusaha mencari data tentang kalian karena kurangnya data perihal tim kalian baru ikut pertama kali pertandingan ini lantas menang di tempat pertama. Akankah kamu akan memberikan mereka makanan lezat begitu saja?”
__ADS_1
Ya, mereka adalah mata-mata dari tim negara lain yang mencoba untuk mengumpulkan data tentang mereka sebagai tim yang baru saja akan muncul namanya sebagai peserta e-sport tingkat internasional yang cukup bisa menjadi ancaman besar bagi mereka berdasarkan prestasi yang selama ini ditunjukkan oleh Tim Silver Hero selama babak penyisihan, semifinal, maupun final di tingkat nasional.
Sebagai tim yang baru berdiri tahun lalu, tentu saja tidak banyak rekam jejak pertandingan yang dimiliki oleh Tim Silver Hero tersebut. Jadi pertadingan informal antara Andra melawan Luca adalah bagai buah manis di tengah padang tandus bagi mereka.
“Tapi…”
“Data tentang kelemahan jurus ‘sense of confussion’ Andra kali ini saja sudah membawa Ibu sakit kepala. Akankah kamu juga mau mengumbar jurus-jurus pamungkasmu kepada tim dari negara lain itu begitu saja dan menjadi pecundang nantinya di ajang e-sport tingkat internasional itu?!”
“Itu…”
“Kalau kau sudah sadar dengan masalahnya, ayo lekas pulang saja.”
Tanpa banyak bicara lagi, Asario hanya menghela nafasnya seraya menunduk patuh mengikuti sang pelatih.
Namun sebelum pergi, dia tidak lupa memberikan tatapan yang mengancamnya kepada Luca. Sayangnya Luca tidak memperhatikan semua itu. Luca sibuk memperhatikan Lia. Mereka saat ini sedang saling memberikan kode tentang janjian pertemuan virtual yang baru saja mereka bicarakan sebelumnya itu.
Hal itu lantas membuat Asario semakin geram.
***
Malam itu, Luca tertidur seperti biasanya. Entah kapan saat terakhir dia bisa tertidur senyenyak itu. Mungkin karena dia baru pertama kali kembali menggunakan tubuh aslinya sejak tiba di dunia nyata untuk beraktivitas selama itu. Mulai dari jam pelajaran olahraga, melukis, pelatihan klub e-sport, sampai pada menonton pertandingan Lia.
Namun, Luca tidak benci hal itu. Malahan dia senang karena dapat menggerakkan banyak tubuhnya hari itu.
Tetapi malam itu, bayangan kenangan masa indahnya ikut kembali dimimpikannya bersamaan dengan kesenangan yang dia rasakan di siang harinya.
“Ah, sudah lama aku tidak melihat wajah Ayah dan Ibu.” Gumam Luca dalam tidurnya.
Di mimpinya, Luca yang terlihat masih sekitar usia 4 sampai 5 tahun sedang bermain bola bersama ayahnya di padang rumput yang luas. Ayahnya yang menjadi kiper sementara dirinya berusaha mati-matian memasukkan bola ke gawang agar gol, tetapi ayahnya tampak tak memberikannya kemudahan.
Namun demikian, Luca tertawa dengan bahagianya. Usai permainan, ayahnya menggelitik tubuhnya yang mungil itu sehingga dia tertawa bahagia di dalam pelukan ayahnya.
Di saat itulah ibunya datang bersama nampan yang berisikan minuman teh dingin favorit Luca serta dengan berbagai buah eksotik yang tampak pula Luca santap dengan penuh kesenangan.
Ibunya yang berambut pirang seutuhnya, lantas membelai rambutnya yang bercampur dengan warna kehitaman itu.
Ayah dan ibunya pun memeluk Luca secara bersamaan dalam suasana yang penuh bahagia.
Sesaat kemudian, pandangan Luca tiba-tiba berubah. Tahu-tahu, pandangan atap kamarnya di rumah Judith terlihat di depan matanya. Di saat itulah Luca tersadar bahwa dia hanya terbawa mimpi.
“Ayah, Ibu, aku merindukan kalian.” Tanpa terasa, air mata mengalir membasahi pipi pemuda itu.
__ADS_1