The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
112. Tim Shadow Park vs Tim Lost Child


__ADS_3

“Hufffffff!”


Krimson tampak bernafas begitu berat begitu akan memasuki pertandingan.


Melihat itu, Ferdi, sang kapten pun, mendekatinya dan menyentuh pundaknya dengan hangat.


“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Ferdi lembut.


Mendengar hal itu, Krimson hanya berbalik lantas menatap seniornya itu dengan anggukan.


“Hmmm. Kali ini aku akan berjuang maksimal demi tim dan takkan melakukan kesalahan bodoh lagi.” Ujar Krimson dengan penuh tekad.


Sementara itu di luar, suasana penonton di ruang virtual A mulai riuh. Sayangnya, riuhnya mereka bukanlah karena mananti-nantikan Krimson dan kawan-kawan, melainkan tim lawan, Tim Lost Child, yang tampil dengan megah di pertarungan sebelumnya.


Tetapi tentu saja itu tidak dengan Luca dan rombongan. Mereka semua memiliki jiwa nasionalisme yang kuat untuk mendukung tim dari tanah airnya itu.


Suasana semakin riuh ketika kedua tim memasuki arena pertandingan.


Kali ini, peraturan pertandingannya lebih sederhana. Kedua tim yang melaju ke babak kedua itu akan ditransfer secara acak ke area pertandingan yang dua kali lipat lebih kecil dibandingkan arena babak pertama sebelumnya. Lalu mereka akan saling bertarung satu sama lain hingga hanya tersisa satu tim saja yang bertahan.


“Ini aneh ya. Yang biasanya aku tonton di TV, pertandingan one on one biasanya baru mulai ketika memasuki babak 32 besar. Ini baru 128 besar, tapi sudah diadakan.” Ujar Nina berkomentar.


“Tapi bukankah itu lebih seru? Lagian pertandingan battle royal terkadang meloloskan pemain yang menang karena beruntung. Lawan-lawan yang kuat selalu saling bermusuhan satu sama lain. Alhasil, tim pecundang selalu tersisa di peringkat kedua.” Lalu Raia menambahkan.


Luca hanya terdiam sambil menatap ke depan panggung, tetapi tetap memasang telinganya untuk mendengarkan obrolan mereka.


Beberapa saat kemudian, pertandingan pun dimulai.


Para pemain mulai ditransfer ke area secara acak.


Namun, hal yang tak terduga pun terjadi.


Tidak, mata penonton tidak mengatakan demikian. Nampaknya, para penonton justru sedari tadi sudah menanti-nantikan adegan itu.


Begitu tersummon ke area, Ecila segera memanggil The Twin Dragon-nya lantas menyapu arena dengan serangan kombinasi api dan es-nya.


“Ck. Sudah kuduga serangan itu akan muncul duluan. Semuanya! Sesuai rencana! Kita berkumpul ke tengah arena di mana sang tamer berada!” Ferdi berteriak lewat alat komunikasinya memberi perintah.


“Baik.”


“Baik.”


“Baik.”


“Baik.”


Lantas satu-persatu dari anggota tim pun menjawab.


Begitu mereka berlima berhasil berkumpul di tengah arena, sang shielder segera mengaktifkan skill perlindungan terhebatnya.


Alhasil, serangan gelombang pertama dari Ecila pun berhasil mereka lalui setelah beberapa saat.


Tim Shadow Park pun tampak mulai senang, berpikir bahwa telah tiba momen yang mereka tunggu-tunggu untuk melakukan serangan balik.

__ADS_1


Sayangnya, rupanya sang tamer sengaja memancing mereka.


Serangan gelombang pertama itu belum berakhir.


Sang tamer sama sekali belum memasuki masa cooldown serangannya.


“Syef, waspada!”


Krein-lah yang berhasil segera menyadari kelicikan sang tamer itu sehingga sang shielder, Syef, dapat dengan cepat memperkuat kembali pertahanan perisainya.


Namun itu tidak cukup.


“Skill: Barrier Pyramid.”


Krein mengaktifkan barier-nya yang berbentuk piramida di balik perisai milik Syef, menjadi perlindungan kedua bagi timnya.


Serangan gabungan api dan es itu pun datang secara bersamaan. Namun, perubahan panas dan dingin yang begitu cepat, akhirnya membuat perisai Syef pecah sehingga serangan gabungan api dan es itu terus menembus ke arah barier Krein.


Tapi hanya tidak berselang lama, barier Krein juga mulai menampakkan tanda-tanda keretakan dan akhirnya benar-benar tertembus.


Beruntungnya, sebelum serangan itu tiba, Ferdi dan Krimson segera melompat masing-masing ke arah yang berbeda, sementara Krein turut melempar sang mage yang ada di hadapannya lalu dengan mulus ditangkap oleh Krimson.


Ferdi, Krimson, dan sang mage pun berhasil selamat dari serangan. Tetapi tidak untuk Krein dan Syef. Mereka segera gameover dari pertandingan di bawah serangan membabi-buta sang tamer.


“Hmmm? Tampaknya mereka lawan yang cukup tangguh. Sekarang giliran kalian beraksi.” Ecila dengan santai berucap sembari memandang remeh musuh yang ada di hadapannya itu.


Seakan tanpa memberikan ketiga anggota tim itu kesempatan mengambil ancang-ancang yang baru saja kembali menapak tanah, sang alchemist, Aghena segera mengarahkan ulir tanamannya yang berduri melilit sekujur tubuh Ferdi.


Di lain pihak, Silua, sang mage quadra, segera mengarahkan sihir apinya ke arah Krimson dan rekan mage-nya.


“Senior!”


Sang mage dari Tim Shadow Park turut gameover dari arena menyusul kedua rekannya yang lain.


“Akkkkkkh!”


“Kak Ferdi!”


Krimson segera menyuarakan nama Ferdi begitu dia menyaksikan seniornya itu meraung kesakitan akibat racun mematikan sang alchemist.


Krimson berusaha menyelamatkan seniornya itu, tetapi terlambat, Ferdi gameover duluan dari arena, menyisakan Krimson sendirian di tengah-tengah musuh.


“Tidak! Senior! Dasar wanita hijau sialan!” Krimson berteriak marah kepada Aghena.


Krimson menerjang hendak menggapai dan menyerang Aghena walaupun sayatan demi sayatan beracun yang mematikan dari tanaman terus mengenai kulitnya.


Di luar dugaan semua anggota Tim Lost Child, Krimson mampu bertahan terhadap semua serangan racun mematikan milik tanaman Aghena itu sampai Krimson benar-benar menggapai leher Aghena dan menggoroknya.


Untuk pertama kalinya, Tim Lost Child kehilangan anggotanya. Dan itu semua berkat Krimson.


Aghena gameover dari pertandingan.


Kalora sang swordsmen dan Goruth sang assassin hendak menerjang ke arah Krimson, namun Krimson segera melemparkan botol racunnya yang tak kalah mematikannya dari racun Aghena.

__ADS_1


Beruntung bagi mereka, Kalora dan Goruth berhasil selamat berkat perlindungan cekatan Silua melalui barier-nya.


Akan tetapi, tanpa mereka sadari, Krimson telah berhasil lolos dari penjagaan ketat sang twin dragon dan berhasil mencapai ke posisi Ecila.


Dari bangku penonton, Luca segera membelalakkan matanya, melihat kejadian yang selama ini telah dinanti-nantikannya bahwa suatu saat akan ada player yang mampu menyerang Ecila untuk membuktikan apakah Ecila memang seperti Alice di dalam legenda yang merupakan battle tamer.


Namun di sisi lain, Luca juga mengkhawatirkan Krimson yang telah luka parah akibat tanaman racun Aghena, tetapi semangat bertarungnya sama sekali belum redup akibat amarahnya.


“Hiyaaaat!”


“Shak.”


Krimson melayangkan dagger-nya ke arah Ecila, tetapi di luar dugaan Krimson, Ecila menendang dagger itu dengan kakinya hingga bagian logamnya patah terbelah dua.


“Trung tang tang.”


Suara pecahan logam dagger Krimson itu terdengar dengan jelas begitu mengenai salah satu sisik sang naga yang sangat keras.


Sayang sekali, bagian racun dari dagger itu berhasil dihindari oleh Ecila, atau Ecila memang sudah merencanakan itu duluan dan melihat dengan jeli serangan dagger beracun dari Krimson itu lalu menghindarinya.


Kalora dan Goruth ikut menerobos masuk untuk menyerang Krimson.


Suara dentang dagger dengan kombinasi pedang dan dagger yang saling beradu seketika terdengar.


Krimson berhasil menyamai serangan gabungan dari swordsmen dan assassin itu, tetapi dia lengah akan tendangan dari belakang oleh Ecila yang tepat mengenai belakang punggungnya.


“Tuk tratak tratak.”


Krimson sampai berguling sebanyak tiga kali, terpukul mundur di hadapan sang tamer yang akhirnya terbukti memang benar-benar bisa bertarung dengan tangan kosong, sama seperti Alice di dalam legenda.


Kalora dan Goruth maju kembali ke arah Krimson. Dengan dagger di tangan kanannya, Krimson menghalau pedang sang swordsmen, sementara dengan dagger di tangan kirinya, dia menghalau sesama dagger milik sang assassin.


“Kalian kira aku akan menyerah sampai di sini saja?! Aku… akan kupastikan memenuhi janjiku pada timku untuk membawa mereka sampai ke final!”


Dengan semangat yang membara, kekuatan lebih muncul dari dalam tubuh Krimson.


Namun tanpa disangka-sangka semua penonton dan pemain, skill baru tiba-tiba muncul di arena pertandingan.


Semua penonton seketika bersorak kagum karena ini tentu saja adalah kejadian yang langka. Perihal skill baru biasanya muncul berbarengan dengan peningkatan exp. Tetapi seperti yang diketahui bahwa tidak ada peningkatan exp layaknya di dalam game ketika pemain bertanding di arena virtual khusus yang menghubungkan segala jenis genre game.


Tetapi mengabaikan kemustahilan itu, Krimson memperoleh skill barunya.


Skill: hembusan uap keringat beracun


Seketika di sekeliling Krimson muncul kabut hijau yang keluar dari tubuhnya lewat sekujur pori-pori kulitnya.


Goruth berhasil menghindar, tetapi Krimson berhasil mendapatkan kerah Kalora yang lengah sehingga tanpa sengaja keracunan dan melemah.


Krimson lantas menikamnya dengan cepat lewat dagger-nya yang penuh racun itu tepat ke area jantung. Kalora pun turut gameover di arena.


Sayangnya, di detik-detik terakhir, Krimson melupakan bahwa satu orang lagi telah menghilang di dekatnya. Itu diperparah oleh konsentrasinya yang dibuyarkan oleh serangan api Silua yang sangat mengganggu.


Lalu tanpa disangka-sangkanya, dalam langkah yang benar-benar tanpa suara dan sangat cepat, Goruth muncul kembali di belakangnya lalu tepat menusuk pula ke arah jantung Krimson dari arah belakang.

__ADS_1


Sang assassin menampakkan taringnya di detik-detik terakhir itu dan Krimson sebagai peserta yang terakhir bertahan dari Tim Shadow Park pun gugur dalam arena sehingga kemenangan pun mutlak milik Tim Lost Child.


__ADS_2