The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
160. Asario dan Harga Dirinya


__ADS_3

[POV Asario]


Entah mengapa sore itu bulu kudukku tiba-tiba merasa merinding. Yah, apalagi, pastinya karena overtraining.


Mau bagaimana lagi, untuk orang yang tidak berbakat seperti aku ini, usaha maksimal dan kerja keraslah yang dapat aku lakukan untuk menutupi kesenjangan kekuranganku dengan orang-orang yang berbakat.


Pagi harinya aku berlatih meningkatkan kemampuanku di dalam game. Kemudian sore harinya dilanjutkan dengan praktik langsung menggunakan tubuh fisikku.


Tetapi inikah keterbatasan tingkat sinkronisasi tiga persen itu? Sejauh apapun karakter game-ku berkembang, tubuh fisikku tetap saja tak mampu mengikutinya.


Ambillah contoh soal keahlian berpedang. Di dalam game, aku bahkan mampu menggunakan skill luar biasa seperti tebasan lintas dimensi. Tetapi ketika kumempraktikkan keahlian itu pada tubuh nyataku, bahkan untuk mengayunkan pedang selama sejam saja, tubuhku sudah ngos-ngosan.


Jangankan skill luar biasa seperti tebasan lintas dimensi, untuk menerapkan penggunaan aura saja yang jika di dalam game aku dengan mudah melakukannya bagaikan bernafas, sangat sulit bagiku untuk bahkan memeras mana keluar dari dalam tubuhku.


Aku sadar, aku benar-benar tidak berbakat.


Kini umurku sudah 18 tahun. Tahun depan, aku genap akan menginjak usia 19 tahun. Tiada lagi peluangku untuk masuk ke Akademi Pahlawan Eden melalui jalur reguler.


Tetapi itu bukan berarti tidak ada harapan. Masih ada jalur luar biasa yang bisa aku tempuh dengan sekali lagi menembus delapan besar pertandingan individu pada kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional tahun depan.


Walau belum ada satu pun yang terbukti lolos dengan cara itu, perihal kesenjangan nyata antara murid yang berlatih lewat instruktur profesional sekalipun mereka adalah peringkat terendah dengan yang sekadar berlatih otodidak, aku mana mungkin mau menyerah. Akan kutunjukkan bahwa aku bisa memutarbalikkan anggapan para idiot dewan penilai yang menolakku itu.


Mereka selalu saja meremehkanmu. Baik orang itu dan orang itu, mereka selalu memandangku dengan tatapan yang merendahkan.


Bahkan di kalangan keluargaku sendiri yang berbasis keturunan beladiri kuno, aku dikucilkan perihal mereka semua meremehkan bakatku. Para idiot-idiot sialan itu!


Tidak sampai di situ saja. Bahkan bocah yang tiga tahun lebih muda dariku begitu memberikan tatapan penuh penghinaannya di pertemuan pertama kami. Mereka semua bagaikan berkolusi untuk menolak keberadaanku.


Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Akan kubuktikan bahwa manusia yang kalian anggap tidak berbakat ini akan meraih prestasi yang kalian sendiri tidak akan pernah capai seumur hidup kalian dan kalian semua pada akhirnya akan menyesal telah meremehkanku.


Dengan penuh pikiran yang melayang ke mana-mana itu, aku pun membuang badanku ke kasur empuk di kamarku, berniat untuk mengakhiri hari yang penuh melelahkan itu dengan tidur tenang.


Akan tetapi, smartphone-ku tiba-tiba berdering. Kulihatlah siapa gerangan yang menggangguku malam-malam begini. Ah, rupanya itu si Tuan Putri kita yang selalu saja berbuat seenaknya.


Aku pun mencoba membiarkan smartphone-ku itu berdering saja. Keesokan harinya, aku bisa beralasan bahwa aku telah tertidur sehingga tidak mendengarkan panggilannya.


Tetapi sang tuan putri manja itu tidak berniat akan menyerah juga. Bahkan sampai lebih dari sepuluh kali panggilan tidak terjawab, dia tetap tidak menyerah dan terus saja meneleponku. Kalau begini, bisa-bisa aku yang jadi insomnia.


Timbullah niat jahat di hatiku untuk berpura-pura bahwa smartphone-ku low battery dan akhirnya mati. Aku pun berniat men-turn off smartphone-ku itu segera.


Namun pada akhirnya, kuurungkan niatku itu. Perihal Lia kenal benar karakterku bahwa aku bukanlah orang ceroboh yang sampai bisa lupa men-charge smartphone-ku sendiri sebelum tertidur.

__ADS_1


Itu juga bukan berarti aku bisa menolak panggilannya perihal aku tidak tahu masalah menjengkelkan seperti apa lagi yang bisa tuan putri manja itu perbuat keesokan harinya ketika bertemu.


“Halo.” Dengan setengah hati, aku pun menjawab panggilan telepon itu.


“Duh, Senior. Kenapa baru diangkat sekarang? Apa Senior berniat mengabaikan panggilanku?”


“Mana mungkin. Tadi aku di toilet.” [terjemahan: Itu benar, makanya jangan pernah menghubungi aku lagi, dasar sialan!]


“Ya sudah, apa boleh buat kalau begitu. Senior, besok aku punya permintaan buat Senior.”


Sudah kuduga, tuan putri manja ini berniat untuk memberikan aku lagi masalah.


“Ya, katakan saja. Apa itu? Selama itu dalam ranah jangkauanku, pasti akan kubantu.” [terjemahan: Ah, tuan putri manja sialan merepotkan ini! Aku sama sekali tidak berniat membantumu. Jadi jangan terus-terusan memberikan aku masalah yang tidak bisa kutangani!]


“Bukan hal yang sulit kok, Senior. Besok, tolong bantu Luca untuk latih tanding dengan Senior. Dia butuh pengalaman.”


Ah, lagi-lagi ini soal bocah bajingan itu. Daripada Lia, aku jauh lebih membenci bocah sialan itu. Dia berusaha menempel kepada Lia agar ketenarannya juga bisa meroket secepat kilat.


Lihat saja bagaimana dia bisa dalam waktu sekejap dalam kunjungannya ke Amerika sudah membentuk rumor hebat tentang dirinya sendiri yang berhasil mengalahkan sang juara pertama pertandingan individu e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu dalam suatu pertandingan yang tidak resmi.


Palingan bocah itu sudah melakukan trik licik sehingga dia bisa sampai mengalahkan sang pengendali naga kembar, Ecila.


“Tut tut tut tut tut…”


Tanpa sadar, aku pun menekan tombol merah pada smartphone-ku itu saking kesalnya aku.


Tapi ini gawat. Alasan apa yang bisa aku berikan kepada Lia besok?


Ah, masa bodoh jika tuan putri itu kesal. Masalah besok biar nanti saja kupikirkan besok.


“Tririririririring.”


Namun rupanya, sang tuan putri manja tidak juga menyerah. Dia masih saja dengan percaya diri meneleponku setelah aku mematikan teleponnya seperti itu.


Terus terang aku kesal. Tidak, tepatnya sangat sangat sangat kesal saat ini.


Bagaimana bisa dia berusaha menggunakan orang hebat peraih delapan besar kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional sepertiku ini untuk menjadi teman latih tanding bocah antah-berantah yang tidak jelas asal-usulnya itu.


Bagaimana bisa sang tuan putri itu dengan kejam turut mengorbankanku sebagai batu loncatan bagi pemuda sialan itu untuk bersinar.


Betapa pun tingginya asal-usul keluarga sang tuan putri, permintaannya ini sudah kelewat batas. Pokoknya, aku harus menolaknya dengan tegas.

__ADS_1


“Aku menolak! Kenapa aku yang harus melakukannya?! Begini-begini aku juga pemain ternama tingkat dunia! Biar pun itu permintaanmu, aku tetap tak akan mau memenuhinya. Lapor saja sana sama ayahmu yang daughter complex itu. Dengan kekayaannya, seharusnya dia bisa menyewa pelatih profesional mana pun. Jadi cari saja sana pelatih yang sederajat dengan bocah tengik sialan itu!”


Aku bahkan sampai ngos-ngosan karena mengucapkan kalimat panjang itu dengan tensi yang tinggi. Kalau dipikir-pikir, aku sudah tidak lama meluapkan kekesalanku. Ah, pokoknya masa bodoh kalau dia adalah tuan putri dari keluarga ternama. Sikapnya itu sudah sangat keterlaluan.


“Oho, kamu sudah berani menantang perkataan pelatihmu ini ya, A-sa-ri-o!”


Oh, tidak! Yang menelepon kali ini ternyata bukan Lia, melainkan justru sosok wanita yang lebih kejam dan menyeramkan darinya. Itu adalah pelatih, Bu Riska Angela.


“Tidak. Bukan begitu, Bu Pelatih. Aku tadi salah sangka mengira Anda adalah Lia.”


“Tapi bagaimana ini, Asario? Ibu hendak akan mengatakan hal yang sama seperti yang hendak dikatakan oleh Lia kepadamu. Ibu baru saja ditelepon oleh Lia untuk meminta bantuan Ibu agar membujukmu bersedia melakukan latih tanding itu. Apa kamu jadi akan membentak Ibu juga jadinya?”


“Tentu saja tidak, Bu Pelatih. Tapi, Bu Pelatih, apa Anda serius akan mengizinkanku untuk melakukan latih tanding dengan bocah yang bahkan bukan pemain pro itu. Terus terang, dia jauh di bawah levelku dan latih tanding ini hanya akan menyia-nyiakan waktuku saja.”


“Kamu itu, dasar sialan!”


“Bu Pelatih?” Entah mengapa Bu Pelatih tiba-tiba kesal padaku. Aku pun seketika bergidik. Tidak biasanya dia merasa kesal seperti itu.


Padahal berapa kali pun kuulangi memori perkataanku di ingatanku, seharusnya tidak ada satu pun perkataan yang bisa membuatnya menjadi gila seperti itu.


“Baru delapan besar saja kamu sudah sok! Bagaimana kamu bisa berkembang memperoleh sesuatu yang lebih tinggi?!”


“Ah, bukan itu maksudku, Pelatih. Tetapi, hanya saja menurutku bocah itu bukan lawan yang sepadan untukku.”


“Bagaimana dia bukan lawan yang sepadan?! Dia bisa mengalahkan Andra hanya dalam tiga gerakan. Terlebih, Ibu sendiri yang ada di situ mendengarkan janji apa yang sudah kamu ucapkan kepadanya waktu itu.”


“Ah.”


Seketika aku teringat,


“Baiklah, aku akan memikirkan untuk menjadi lawan tandingmu jika kamu berhasil mengalahkan Andra dalam semenit seperti yang kau bilang tadi. Tapi jika kau kalah… kau harus merangkak mengelilingi stadium ini seraya menggonggong seperti anjing.”


Seketika aku teringat akan janjiku kepada bocah sialan itu sekaligus taruhan kami.


Bagaimana bisa aku melupakannya? Jelas-jelas kalau begitu, di sini, akulah yang salah. Sebagai seorang ksatria, aku sama sekali tidak boleh melanggar kata-kataku.


Oleh karena itu, dengan berat hati, aku akhirnya menyetujui permintaan Lia yang disampaikannya lewat pelatih itu.


Tetapi tunggu saja bocah sialan, dengan alasan latih tanding, tunggu saja besok, aku akan membuatmu babak belur.


Yah, walaupun tentu saja aku lebih berharap bisa memukul bocah sialan itu sebagai karung tinju secara fisik, tetapi lewat game boleh juga. Meskipun rasa sakitnya akan dikurangi hingga sepuluh persen, tetapi itu telah cukup bagiku untuk melampiaskan rasa sakit hatiku padanya akan penghinaannya dulu itu, selama itu bisa kulakukan lebih dari seratus kali.

__ADS_1


__ADS_2