
Tibalah juga hari final yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Delapan peserta pertandingan babak final akhirnya telah ditentukan. Sayangnya, Lia bukanlah salah satu di antara mereka.
Aku sempat ingin menghiburnya agar tidak bersedih hati. Namun rupanya, itu adalah hal yang tidak perlu. Lia adalah sosok wanita kuat yang tidak membutuhkan penghiburan dari seorang pria. Dengan teguh, dia bertekad untuk menantang sekali lagi panggung spektakuler ini tahun depan.
Namun entah mengapa, ketika Lia mengucapkan tekadnya itu, dadaku terasa berdegup kencang. Aku merasakan eksitasi yang sangat menyengat tiap kali ada orang yang membicarakan soal tampil di panggung megah tersebut.
Melupakan hal itu, karena bukan lagi salah satu peserta, Lia pun diberikan kebebasan oleh panitia untuk bergerak lebih leluasa di luar asrama. Alhasil, hari ini akhirnya kami dapat berduaan duduk di bangku penonton menikmati masa-masa muda kami.
“Luca, menurutmu siapa yang akan menang? Apa menurutmu Asario dari Tim Silver Hero punya peluang untuk menang?”
Itu Kak Nina. Tepatnya, kami tidak sedang berduaan saat ini. Ada juga Kak Nina dan Kak Raia di samping kami. Itu membuatku sedikit kecewa.
Karena suatu alasan, Tante Judith tidak bisa bergabung bersama kami hari ini.
Ya, pada prinsipnya hari ini, alasan kami masih diizinkan untuk menginap di hotel untuk keluarga peserta sampai detik ini, tidak lain karena masih ada Senior Asario yang mampu bertahan hingga akhir kompetisi.
Namun, jika ditanya apakah Senior Asario punya peluang untuk menang, aku agak skeptis menjawabnya. Jangankan peluang menghadapi Ecila sebagai peserta terbaik di babak final, Chung Li sang non-favorit dari Tim Ying Xiong saja sudah menjadi hambatan yang sangat besar untuk dilalui oleh Senior Asario.
Lihat saja bagaimana peserta itu mempermalukan pemain pedang Fotio, sang favorit kedua, dengan kekalahan yang sangat memalukan.
“Hai, Luca, boleh kami ikut bergabung duduk di sini?”
Tiba-tiba suara wanita yang cukup asing menyapaku dari kejauhan. Aku pun menoleh ke arah datangnya sumber suara. Rupanya, dia adalah Kak Aghena, yang datang bersama dua rekan Tim Lost Child-nya yang lain, Kak Goruth dan Kak Kalora.
Mereka bertiga pun ikut bergabung bersama kami dengan duduk secara berturut-turut di samping Lia. Kak Aghena duduk tepat di samping Lia. Hanya satu kursi yang memisahkan kami, yakni kursi Lia, sehingga kami pun banyak bercengkerama untuk mencairkan suasana.
Namun, Lia seketika menunjukkan ekspresi ketidaksenangan. Aku pun segera menjelaskan kepadanya darimana kami bisa saling mengenal lantas turut mengenalkan Kak Aghena padanya. Syukurlah pembawaan Kak Aghena pada dasarnya ramah sehingga mereka berdua pun dapat dengan cepat akur.
Walaupun hari ini jumlah penonton dari kalangan keluarga telah berkurang cukup banyak perihal menyisakan 6 tim saja yang bisa bertahan hingga babak terakhir, suasana kursi penonton tetaplah sangat ramai.
Itu karena para peserta dari Tim 32 besar yang gagal menembus delapan besar individu juga diundang hari ini untuk menyaksikan pertandingan. Aku dari jauh bisa turut menyaksikan Kak Leo di sana bersama dengan para anggota Tim Max Squeeze-nya yang lain.
Selain itu, ada pula sosok glamour yang tampak berada di kursi paling VIP yang turut berbaur di tengah-tenah penonton. Mereka semua mengenakan seragam yang sama dengan basis warna putih yang bercampur dengan sedikit warna biru. Aku jadi penasaran kira-kira siapa gerangan mereka.
Namun aku pun dapat segera melihat salah satu sosok yang kukenal berbaur di antara mereka.
“Hai, Dik Luca!” Dan sosok itu sedang melambaikan tangannya ke arahku.
__ADS_1
Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung di dunia nyata, tetapi dari perawakan serta pembawaannya ketika berbicara, terutama bibir seksinya yang menonjol itu yang seakan menjadi ciri khasnya, walaupun hari ini dia tidak mengenakan kostum game-nya, aku bisa langsung tahu kalau itu Kak Virus Lady.
Wanita itu pun segera menghampiriku berpisah dari rekan-rekannya di kursi paling VIP begitu dia melihatku.
“Kak Virus Lady?” Sapaku padanya.
“Wah, rupanya pandanganmu cukup tajam juga ya, Dik Luca. Kamu bisa mengenaliku dari tampilan seragamku ini.”
“Itu karena Kak Virus Lady tidak banyak mengubah setting penampilan kecuali kostum di game. Hahahahaha.”
“Yah, itu benar juga. Tapi ngomong-ngomong, Dik Luca, agak tidak nyaman kalau kamu memanggilku dengan nama ID game-ku itu di sini. Bagaimana kalau memanggil nama asliku saja? Oh iya, aku belum sempat menyebutkan nama asliku padamu ya? Perkenalkan, aku Agnes.”
“Ah, Kak Agnes.” Ujarku sembari memperhatikan seseorang yang datang bersama Kak Agnes itu.
Dia adalah pria yang besar, tinggi, dan kekar, serta berkulit hitam.
Mungkin karena menyadari tatapanku yang terlalu menonjol, Kak Virus Lady… ah, maksudku Kak Agnes pun segera memperkenalkan rekannya itu padaku.
“Oh iya, Dik Luca, perkenalkan dia Duke. Pasti kamu sudah pernah dengar nama Shadow Monarch di game kan? Dia adalah pemilik akun itu.”
“Hahahahahaha.” Entah mengapa Kak Agnes justru tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan ucapan kekagumanku itu.
Tentu saja aku kagum karena orang yang di hadapanku ini walau berkulit hitam, bisa menjadi seorang duke. Di daerah asalku di Benua Astrovia, penduduk berkulit hitam masih banyak mengalami diskriminasi perihal warna kulit mereka yang identik dengan warna kulit bangsa iblis sehingga mereka banyak diperlakukan sebagai budak, atau yang berkemampuan di antara mereka, palingan hanya bisa menjadi petualang atau seorang mercenary saja.
Hampir semua kerajaan di Benua Astrovia masih mendiskriminasi ras kulit hitam padahal Kak Kaisar sudah dengan tegas mengeluarkan pernyataan bahwa ras kulit hitam seratus persen juga adalah manusia seperti kita yang wajib kita hargai dan lindungi hak-haknya, namun para bangsawan keras kepala itu tetap saja pada sikap keras kepala mereka dengan sangat mengagung-agungkan warna kulit serta warna rambut mereka itu.
Hal itu sudah berkurang di Kekaisaran Lalania, tetapi tidak bagi Kerajaan Melodia dan Kerajaan Symphonia, terutama di Kerajaan Melodia yang sangat bersifat primordialisme.
Di Gardenia sendiri yang kebanyakan terdiri dari para player yang berasal dari dunia nyata yang hanya mementingkan kesenangan petualangan, tentu tidak peduli dengan semua itu.
Apapun warna kulitnya asalkan hebat dalam bertarung, pasti kamu akan diakui di Gardenia.
Sama halnya di Akademi Pedang dan Sihir Nostalgia, selama kamu memiliki bakat, kamu akan memperoleh pengakuan.
Hanya orang idiot yang saat ini masih membeda-bedakan memperlakukan seseorang berdasarkan warna kulitnya.
Sayangnya di Benua Astrovia sendiri, mungkin bisa dibilang, hanya Kerajaan Doremi yang diperintah oleh manusia setengah binatang saja yang bisa menjadi tempat yang nyaman untuk ras kulit hitam karena mereka juga mendapatkan perlakuan yang sama, diidentikkan sebagai bangsa iblis perihal telinga dan ekor mereka yang unik, serta bulu-bulu mereka yang panjang.
__ADS_1
Walau Gardenia dan Nostalgia sama sekali tidak mempermasalahkan soal warna kulit, mereka yang menjadi enggan sendiri berbaur bersama kami, mungkin karena trauma terhadap perlakuan buruk dari bangsa lain yang selalu mereka terima sampai saat ini.
Ah, mengapa aku sampai bercerita panjang lebar tentang hal yang tak menyenangkan ini.
Berangkat dari penyebab mengapa Kak Agnes sampai tertawa terbahak-bahak itu karena,
“Dik Luca, kamu lucu juga ya. Hahahahahahaha. Seorang duke di zaman sekarang… Hahahahahahaha.”
“Kak Agnes sedang meledekku ya.” Aku pun berkomentar marah.
“Maafkan aku, Dik Luca. Aku tidak berniat meledekmu. Tapi dia bukan seorang duke, hanya namanya saja yang memang Duke. Duke seorang duke… Hahahahahahahaha.”
Lampu di kepalaku pun segera menyala. Begitu rupanya mengapa Kak Agnes tertawa. Dari awal duke itu bukan berupa gelar, tetapi sebuah nama.
“Salam kenal, Kak Duke.” Aku pun menjabat tangan orang itu.
Kalau dia adalah Shadow Monarch, berarti dialah saat ini pemegang gelar pemain terbaik di game The Last Gardenia.
Setelah perkenalan singkatku dengan Kak Duke, mereka berdua pun memilih bergabung bersama kami alih-alih kembali ke habitat mereka di kursi VVIP.
Tampak Kak Aghena dan dua rekannya yang lain menyambut dengan sopan kedua orang itu. Kak Agnes dan Kak Duke membalas sapaan mereka seolah mereka memang berada pada posisi yang lebih tinggi dari Kak Aghena dan kawan-kawannya.
Lia pun kembali melihat ke arahku dengan pandangan yang menusuk lantas bertanya siapa Kak Agnes itu. Aku pun menjawabnya dengan jujur dan syukurlah Lia menaruh kepercayaan yang tinggi padaku sehingga apa yang mengganjal di hatinya itu segera mereda.
Melupakan itu, aku pun segera tahu jawaban mengapa Kak Aghena dan kawan-kawannya sangat memperlakukan Kak Agnes dan Kak Duke dengan sopan.
“Luca, kamu kenal dengan Senior Agnes dan Senior Duke?” Tanya Kak Aghena padaku.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Kak Aghena, akhirnya aku tahu bahwa Kak Agnes dan Kak Duke adalah mantan anggota Lost Child yang telah pensiun setelah memasuki akademi bergengsi tertentu yang bertempat di Prussia Atlantic.
Sayangnya, Kak Aghena tampak enggan menjelaskan padaku tentang detil mengenai akademi itu, jadi aku tidak tahu banyak.
Sang MC pun segera memeriahkan suasana.
Hal itu lantas menghentikan sejenak keriuhan penonton dengan urusan mereka masing-masing, termasuk aku.
Kompetisi delapan besar individu telah dimulai.
__ADS_1