
Usai kencanku dengan Lia, aku menerima chat lewat game dari Kak Nina.
“Luca, apa tidak apa-apa aku membawa Raia latihan bersama kita?”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Dengan kata lain, Kak Nina setuju menjadikanku sebagai mentornya dalam persiapan ujian masuk klub e-sport sekolah yang akan dilaksanakan sekitar 17 hari lagi. Padahal, aku sudah memikirkan berbagai macam metode untuk memaksa Kak Nina.
Syukurlah, rupanya itu tidak dibutuhkan. Kak Nina punya semangat yang dibutuhkan oleh seorang gamer. Berbeda dengan Senor Areka, bagiku itu telah menjadi syarat yang cukup untuk menjadi gamer yang baik.
Aku pun membalas chatnya dengan singkat, “Wah, senang Kak Raia bisa bergabung dengan kita. Tentu saja boleh, Kak Nina. ^_^” Aku tak lupa menyertakan emotikon senang agar Kak Nina menangkap benar perasaan bahagiaku dengan bergabungnya Kak Raia bersama kami.
Aku pun kembali ke guild assassin. Masih ada sekitar 1 jam lebih sebelum batasan jam anak di bawah umur dalam bermain game tiba. Aku memanfaatkan sisa-sisa waktu itu untuk menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan Kak Nina dan Kak Raia untuk level-up.
“Ah, Luca. Baru pulang dari misi?”
“Luca, selamat datang.”
Begitu aku memasuki guild, Kak Heine dan Kak Derickson serta-merta menyambutku.
“Ah, senang rasanya punya seseorang menyambut kita di rumah.” Gumamku dalam hati.
Aku pun turut tersenyum kepada keduanya lantas menanyakan kepada Kak Derickson agar aku bisa memakai ruangan guild yang biasa aku gunakan dulu untuk membuat peralatan. Kak Derickson pun langsung mengiyakan lantas memberikanku kunci ruangannya.
Aku pun memasuki ruangan itu. Ruangan yang penuh nostalgia di mana aku membuat peralatan-peralatan assassin-ku sendiri. Padahal baru kutinggal sekitar dua minggu lebih, tetapi mengapa rasanya telah kutinggalkan berbulan-bulan. Bagaimana pun, aku sangat merindukan ruangan ini.
Aku segera membereskan meja ruangan lantas mulai bekerja untuk membuat peralatan Kak Nina dan Kak Raia.
Tetapi sebelum itu, aku meningkatkan skill engineering-ku dengan poin skill yang sudah aku kumpulkan sampai saat ini. Namun kulihat secara tiba-tiba, gelar anak baik hatiku aktif bersamaan dengan skill anugerah cahaya milik Aura, lalu seketika skill engineering-ku berevolusi menjadi magical light engineering.
Aku tidak paham dengan tambahan kata light pada skill-nya, namun jika ini skill magical engineering yang kuketahui, ini benar-benar adalah jackpot.
Padahal, aku sama sekali tidak memiliki bakat sihir, bahkan ketika aku meminta sistem untuk diberikan skill pernafasan mana waktu pertama kali aku memainkan game ini, sistem sama sekali tidak memberikannya dengan alasan yang sama, aku tidak berbakat dengan sihir.
Aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya lebih lanjut, yang jelas kini skill-ku berevolusi, dan bukan itu saja, skill magical light engineering-ku saat ini mencapai level 5.
“Master mau buat apa?”
Tiba-tiba Aura keluar dengan sendirinya terlihat penasaran dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya mengusap wajahnya yang imut itu seraya tersenyum padanya sambil menjawab singkat,
__ADS_1
“Yah. Lihat saja nanti. Ini hadiah buat Kak Nina dan Kak Raia.”
Tanpa berlama-lama, aku memulai pekerjaanku.
Pertama-tama, aku memutuskan untuk membuatkan item Kak Nina. Aku mengeluarkan tongkat necromancer yang rusak milik Philtory sebelumnya, tongkat sihir lich, batu permata merah, bola kristal cahaya, serta delapan buah pecahan batu elemental cahaya. Ditambah dengan rumput duri pengikat Heyroth dan lima buah paku astaltin yang aku beli dari sistem. Juga ditambah dengan palu Astaroth sebagai alat magical engineering pertama yang aku beli di sistem.
Semuanya benar-benar cukup menghabiskan uang saku-ku…
Hehehehehe, bercanda. ^_^ Aku punya banyak koin di dalam game, jadi itu sama sekali tidak mengeluarkan uang sungguhan.
Aku pun memulai proses sintesisnya dan setelah memakan waktu sekitar 45 menit, peralatan pun jadi.
\=\=\=
Nama senjata: tongkat sihir tamer permata merah Luca
Rank: normal
Efek: membantu mengikat kontrak pada hewan yang akan dijinakkan, semakin tinggi tingkat kecocokan pemakai terhadap keahlian tamer, semakin banyak beast atau semakin kuat beast yang dapat dijinakkan; bisa mengeluarkan sihir blindness, ilusi, dan cahaya
\=\=\=
Aku pun mengeluarkan bahan-bahannya yang terdiri dari sepuluh buah kepingan mithril, dua buah kepingan tulang elemental berkualitas tinggi, serbuk tanduk bos serigala perak level sedang yang sebelumnya aku giling, serta pengikat mithril yang aku beli di sistem.
Alhasil, jadilah alatnya.
\=\=\=
Nama senjata: guntlet mithril elemental cahaya Luca
Rank: normal
Efek: meningkatkan strength pemain sebesar 10 %, agility sebesar 25 %, dan dexterity sebesar 5 %; meningkatkan output daya serang berkonsentrasi pada pukulan
\=\=\=
Sekarang semuanya sudah siap, kini saatnya bertemu dengan mereka berdua. Namun tampaknya belum bisa hari ini karena keterbatasan waktu. Yah, mungkin besok saja.
__ADS_1
***
Pagi itu, Nina memberitahukan niatnya untuk mengajak Raia ikut pelatihan bersamanya demi persiapan untuk menghadapi ujian masuk klub e-sport sekolah mereka. Namun entah mengapa, Raia terlihat tidak bersemangat dan seolah menghindari pertanyaannya.
Waktu berlalu lalu siang pun tiba. Tetapi raut wajah serba-salah tetap saja tak lepas dari Raia. Pada akhirnya, dia menolak tawaran dari Nina.
“Maaf, Nina. Hari ini kan kita banyak PR. Jadi aku pas saja.”
“Sejak kapan anak ini peduli sama hal yang begituan?” Nina bergumam dalam hati.
Nina pun kembali berpikir. Ada yang aneh dengan anak itu sejak terakhir party-nya bersama Luca. Raia sama sekali tak pernah lagi membahas tentang vrmmorpg kecuali Nina yang memulai pembicaraan duluan.
Dengan tatapan yang mengintimidasi, Nina pun mendorong Raia ke dinding lantas menghalanginya kabur dengan kedua tangannya menjepit Raia di antara dua dinding. Nina pun mendekatkan wajahnya ke arah pemuda yang tidak jauh beda tingginya dengannya itu.
“Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?! Apa Senior Areka berkata yang macam-macam padamu?”
Hanya satu hal bisa dipikirkan oleh Nina yang dapat mengubah mood anak yang sangat menyukai vrmmorpg itu menjadi menghindarinya seperti ini, mulut tajam Areka yang pada saat itu juga turut membentuk party bersama Luca.
“Senior Areka tidak berkata yang macam-macam, hanya mengatakan yang sebenarnya saja.”
“Jadi benar rupanya, senior sialan itu mengatakan sesuatu padamu.” Nina menggerutu marah sembari mengutuk Areka.
“Sudah kubilang, ini bukan tentang siapa yang mengatakannya. Tetapi ini tentang apa yang dikatakannya. Setelah kupikir-pikir, aku memang tidak berbakat. Lihat, bahkan setelah berusaha sekuat tenaga, aku malah turun level lagi ke level 8 dan tidak akan pernah keluar dari level 10 vrmmorpg The last Gardenia itu. Di sesi sebelumnya di The Twelfth Sriconia pun begitu. Aku tak bisa lepas dari yang namanya label newbie.”
“Hah.” Mendengar ucapan itu Nina menghela nafasnya kuat-kuat.
“Bukankah kita memang sudah begitu dari awalnya? Bukankah menikmati game itu tidak perlu memandang level? Sejak kapan kau memperhatikan hal-hal demikian? Bukanlah bakat yang penting, tetapi kesenangan petualangan yang kita rasakan dalam berupaya menggapainya. Bukkankah kamu juga sepakat dengan hal itu, Raia?”
Raia memalingkan wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Nina itu dan hampir saja menangis. Tidak, air mata perlahan menetes dari mata pemuda itu.
“Itu awalnya yang kupikirkan. Hiks hiks. Namun, aku tak tahan lagi terhadap perasaan malu karena selalu dianggap remeh ini. Hiks hiks. Main game memang menyenangkan, akan tetapi percuma kalau kita tidak punya bakat. Kita hanya akan jadi bahan olok-olokan saja karena selalu kalah seperti pecundang. Hiks hiks. Sebelum semuanya bertambah parah, aku hanya ingin keluar saja.”
Lalu pemuda itu pun menangis dengan perasaan yang tersayat-sayat.
Nina menepuk bahu pemuda itu, lalu dengan lembut dia pun berkata,
“Kamu tahu betul bahwa sakit rasanya meninggalkan impianmu di tengah jalan sampai-sampai kamu menangis tersedu-sedu seperti itu. Jadi bagaimana jika mencoba sekali lagi saja? Luca juga sudah terlanjur berjanji membuat kita menjadi pemain yang hebat. Anak itu, sungguh, dia terkadang tidak bisa membaca suasana, tetapi dia tampak bersemangat mengucapkannya. Anak itu, kamu juga tahu kehebatannya, kan? Mari kita percaya dia dan mencobanya sekali lagi.”
__ADS_1
Nina mengulurkan tangannya kepada pemuda yang dirundung rasa putus asa itu. Dengan sedikit harapannya yang tersisa setelah terinjak-injak oleh rasa inferioritasnya sendiri, dia pun sekali lagi meraih tangan itu untuk bangkit.