
Demi meningkatkan kekebalan tubuhku terhadap racun setelah mengambil pengalaman sebelumnya di pertarunganku melawan naga hijau di mana aku hampir tidak bisa berbuat apa-apa karena dalam status teracuni, aku berencana mengunjungi salah satu area quest di desa pemula di mana ramai para pemain belakangan ini menyebarkan rumor tentang kemunculan basilisk di sana, area quest mencari herbal.
Namun di tempat itu, pertemuan dengan seseorang individu yang tak terduga pun terjadi.
“Hmm? Kamu seorang player? Mau mencari herbal langka juga?” Sapa orang itu padaku dengan ramah. Dia adalah Kak Krimson, salah satu pemain inti dari Tim Shadow Park yang akan segera bertanding dengan Tim Lia di putaran final pertandingan e-sport tingkat nasional itu.
“Halo Kak Krimson, namaku Luca.” Sapaku dengan ramah pula padanya. Paman Heisel selalu mengajariku bahwa tidak ada salahnya membangun koneksi dengan mencoba bersikap ramah kepada orang-orang yang kuat.
“Oh, kamu mengenalku rupanya. Hmm, sudah kuduga, aku memang terkenal.”
Kak Krimson lantas maju ke arahku sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Di luar dugaanku, dia adalah orang yang ramah. Sangat berbeda dengan penampilannya di arena tempur yang penuh dengan tampang kegilaan dan haus darah.
Kak Krimson lantas mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga jarak pandang kami begitu dekat.
“Apa jangan-jangan kamu salah satu fansku? Kalau tidak salah, aku melihatmu di barisan penonton terakhir kali pertandingan walau warna rambutmu sedikit berbeda.”
“Hahahahaha. Aku memang datang ke pertandingan terakhir Kakak, tapi sayangnya aku fans-nya Lia dari Tim Silver Hero, Kak.” Aku hanya menjawab pertanyaan Kak Krimson itu dengan jujur karena tak ada gunanya berbohong.
“Ah, sang battle healer kedua yang akan menjadi lawan kami selanjutnya itu ya? Aku memang melihat kemampuan anak itu lumayan hebat. Tapi ya, Luca, aku ini jauh lebih hebat lho.”
Ujung bibir Kak Krimson sedikit tersungging dengan bangga. Dia berupaya meyakinkanku bahwa dirinya-lah yang lebih hebat. Beberapa menit kemudian, waktu diisi oleh percakapan sepihak Kak Krimson yang memuji sendiri kehebatan dirinya. Kak Krimson memang ramah, tetapi kuakui dia sedikit narsis hingga taraf yang cukup membuatku kesal padanya.
“Omong-omong, Luca. Apa yang membuatmu berkunjung ke area ini? Kau bukan seorang alchemist kan? Sangat jarang bagi kelas lain untuk datang ke area quest ini.”
“Aku ingin mencari basilisk yang dirumorkan ada di area ini, Kak.”
“Jadi begitu. Jadi kamu juga tertarik dengan rumor itu ya. Tapi bukankah kamu baru level 18? Akan sulit bagimu menghadapi monster itu sendirian. Walaupun ini adalah kesempatan emas bagi veteran tingkat tinggi untuk menangkap basilisk yang sedang dalam fase terlemahnya sehabis berganti kulit sehingga turun dari monster level tinggi ke level tingkat menengah atas, dia tetaplah sangat kuat bagimu. Ada rumor mengatakan bahwa monster itu berlevel 49.”
“Aku percaya diri terhadap kemampuanku, Kak.” Terhadap pertanyaan Kak Krimson itu, aku mengibarkan tekadku di hadapannya.
Terlihat wajah apatis dari Kak Krimson. Dia jelas meragukan kemampuanku. Itu wajar saja karena tubuhku saat ini baru berlevel 18 walau dengan pengalaman tempur sebagai buah pelatihanku selama 15 tahun hidup sebagai NPC di Gardenia. Jelas terasa bahwa tubuh avatar ini sangat lemah dibandingkan dengan tubuh asliku.
“Hmm. Tetapi kurasa kamu perlu setidaknya meningkatkan status kebal racunmu ke level F dulu deh, Luca, sebelum menghadapi basilisk itu. Di samping, tidak akan mudah menemukan beast langka itu di area hutan seluas seribu dua ratus kilometer persegi ini. Bagaimana kalau kita ke tempat lain dulu? Aku tahu satu tempat yang baik untuk meningkatkan daya tahanmu terhadap racun sebelum menghadapi basilisk.”
Kak Krimson pun mengajakku ke suatu tempat. Aku awalnya ragu karena Paman Heisel selalu bilang padaku untuk tidak sembarangan mengikuti orang asing. Tetapi walaupun kami baru saling kenal, Kak Krimson tak lagi seperti orang asing bagiku. Tak salah lagi, Kak Krimson adalah orang yang baik. Jadi kupikir tak mengapa untuk mengikutinya.
__ADS_1
\=\=\=
Nama: Yate (Lv 8)
Race: Tumbuhan pemakan manusia
Umur: 30 tahun
\=\=\=
“Ini adalah salah satu wild boss yang sering dihindari para calon alchemist newbie. Monster itu memiliki kebiasaan meludahkan racun yang sangat mematikan begitu seseorang mendekatinya. Jadi kamu harus berhati-hati, Luca.”
Ujar Kak Krimson padaku sembari bersiap-siap dengan ancang-ancangnya. Kulihat, Kak Krimson juga menggunakan senjata dagger, sama persis dengan senjata assassin sepertiku.
“Aku tahu, Kak.” Jawabku singkat.
“Tampaknya, aku tidak perlu khawatir ya. Yah, mana mungkin juga seorang veteran pemula berlevel 18 kalah dengan sebatang pohon yang hanya berlevel 8.”
Kami saling memberi kode masing-masing sebelum maju menerjang ke arah sang monster. Monster pohon yang memiliki cabang-cabang luwes yang menjuntai-juntai bagaikan ular itu lantas menyerang kami dengan ratusan cabang-cabangnya itu.
“Ptiui, ptiui, ptiui.”
Monster pohon Yate pun meludahkan cairan asam beracun miliknya kepada kami. Aku dapat menghindar dengan baik dan di luar dugaan, Kak Krimson yang walaupun dari kelas alchemist juga bergerak dengan lincah menghindari tiap serangan racun dari monster pohon Yate tersebut.
“Hahahahahaha. Seperti inilah seharusnya yang namanya pertarungan” Teriak Kak Krimson.
Ah, dia telah kembali kepada kegilaannya yang biasa dia tunjukkan di arena.
“Hei monster jelek, racunmu itu tidak ada apa-apanya. Bagaimana kalau sekarang giliranmu merasakan racunku yang nikmat ini. Hahahahaha.” Tawa Kak Krimson meledak sembari melemparkan racunnya ke arah monster pohon Yate.
Di luar dugaan, monster pohon Yate yang berspesialisasi terhadap racun sehingga seharusnya kebal terhadap racun itu, justru seketika sekarat setelah terkena racun dari Kak Krimson. Ah, ini mungkin yang dikatakan salah satu pelajaran Paman Heisel dulu bahwa untuk mengalahkan racun, diperlukan racun yang lebih kuat.
Kulihat Kak Krimson memeras beberapa batang monster pohon Yate yang telah sekarat untuk mengumpulkan racunnya ke dalam suatu wadah mangkok besar. Lalu,
“Pyar.”
__ADS_1
“Eh, Kak Krimson! Apa yang Kak Krimson lakukan padaku?! Untuk apa semua ini?!” Teriakku marah padanya. Tanpa memberi aba-aba sebelumnya, dia tiba-tiba saja menyiramkan racun monster pohon Yate padaku.
“Yah, kamu lihat saja.” Jawab Kak Krimson singkat seraya tersenyum nakal padaku.
Skill pasif kekebalan racun level F didapatkan
Tiba-tiba, pemberitahuan sistem muncul di papan layarku.
“Bagaimana? Dengan ini kamu paling tidak, bisa bertahan lima menit lebih lama jika bertemu monster basilisk itu.” Ujar kembali Kak Krimson padaku tetap dalam senyum nakalnya.
“Tapi ya ampun, Kakak. Setidaknya beri aba-aba dong kalau mau melemparkan sesuatu yang kotor ke pakaian orang lain. Kan jadi kotor jadinya.”
Aku mendengus kesal pada Kak Krimson. Walaupun dia bermaksud baik dengan membantuku memperoleh skill kekebalan racun, tetapi tindakannya itu tidak dibenarkan. Itu buruk bagi jantung, terutama untuk orang yang selalu menjaga kebersihan sepertiku.
“Maaf, maaf, biar kubantu bersihkan, Luca.” Kak Krimson pun meminta maaf padaku dengan wajah yang tampak puas melihat ekspresi kesalku lantas menuangkan kembali sebuah ramuan ke pakaianku.
Aku hampir saja berteriak marah sekali lagi padanya, mengira itu adalah sesuatu yang membuat kotor lainnya, tetapi rupanya, ramuan itu justru menguapkan segala macam noda di pakaianku sehingga tubuhku bersih kembali.
Aku segera menyembunyikan kembali urat di ubun-ubunku lantas tersenyum ceria kepadanya seraya mengucapkan terima kasih. Namun, belum semenit tubuhku akhirnya bersih kembali,
“Ptiui.”
Tumpukan cairan racun tiba-tiba membanjiri dan mengotori kembali tubuhku. Aku hanya dapat tersenyum pasrah.
Skill pasif kekebalan racun level E didapatkan
\=\=\=
Nama: Yate (Lv 23)
Race: Tumbuhan pemakan manusia
Umur: 105 tahun
\=\=\=
__ADS_1
Sesosok monster pohon Yate muncul kembali di hadapan kami, lantas meludahkan racunnya padaku. Aku terkena telak begitu saja. Aku betul-betul menurunkan kewaspadaanku. Ah, aku telah gagal menjadi seorang assassin yang baik.