The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
188. Griffon yang Malang


__ADS_3

Quest itu seharusnya berjalan baik-baik saja. Serangan kombinasi jarak jauh Kak Silvia, Egi, dan Zevan telah mampu mengalahkan banyak galpagos dengan sangat baik. Sementara jika ada galpagos yang hendak datang menerjang ke arah tim penyerang, maka Asti akan segera menghalau serangan mereka. Selain sebagai pemberi buff, aku pun sesekali bertindak sebagai support Asti dalam melindungi rekan-rekan penyerang utama.


Galpagos adalah monster yang hanya mampu menyerang secara fisik serta tidak terlalu senang dengan daratan rendah di mana mereka bisa saja terpeleset jatuh karena bergesekan dengan tanah sehingga tidak akan ada masalah bagi formasi kami akan dihancurkan. Seharusnya semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Namun di situlah, suatu bentuk kumpulan berkas hitam yang entah datang darimana tiba-tiba saja bergerak dengan sangat cepat ke arah Egi.


“Egi!”


Tanap pikir panjang aku segera menghampiri Egi untuk melindunginya dari apapun berkas hitam itu. Namun karena saking cepatnya, aku hanya sanggup meraih Egi, tetapi telat untuk menghindari berkas hitam itu bersamanya.


Seketika aku dan Egi dikelilingi oleh kegelapan dan tahu-tahu, kami berdua telah dipindahkan ke tempat lain.


***


Di kala itu, dua orang pemuda dan pemudi dengan kantung mata yang menonjol telah tampak berusaha keras mengamati sesuatu dari suatu layar komputer sembari melawan rasa kantuk mereka.


“Hei, Senior Karina, apa menurutmu akan ada seseorang malam ini yang akan segera menemukan quest tersembunyi yang pagi tadi baru kita sebarkan desas-desusnya itu?”


“Itu tidak mungkinlah, Dimas. Seberapa pun cepatnya informasi itu beredar, rasanya terlalu cepat jika akan ditemukan hari ini. Kamu tahu sendiri kan syarat quest-nya? Party-mu harus mengalahkan lima ratus ekor galpagos dalam waktu kurang dari setengah jam.”


“Dan terlebih, yang bisa memasuki quest tersembunyi itu hanyalah pemain yang berada di bawah level 50. Menurutmu, adakah party pemain level veteran menengah ke bawah yang sanggup mengalahkan lima ratus ekor galpagos dalam waktu kurang dari setengah jam?”


“Tapi bukankah ada pemain newbie hebat yang baru-baru ini muncul bulan lalu yang tiba-tiba saja berhasil membuka dan menyelesaikan dua buah quest tersembunyi yang sekaligus merupakan quest tersembunyi pertama dan kedua yang terbuka dan terselesaikan. Kalau tidak salah levelnya saat ini juga berada pada ranah hampir mencapai lima puluh. Dia seharusnya sangat cocok dengan quest ini.”


“Eih, mana mungkinlah ada keberuntungan tiga kali datang secara berturut-turut seperti itu. Terlebih lokasi quest tersembunyi kali ini sangatlah jauh dari lokasi dia sering main. Bukankah newbie itu hanya sering main kalau tidak di desa pemula, di Kekaisaran Lalania saja?”


“Itu benar juga ya. Hahahahahaha.”


“Hahahahahaha.”


Lalu mereka pun tertawa bersama perihal telah sempat memikirkan keabsurdan yang tidak mungkin terjadi itu.


Sayangnya, apa yang mereka pikir semula itu absurd, benar-benar terjadi.


“Dua orang pemain dengan code name LUCA dan TOBBY111 telah memasuki area quest tersembunyi ‘keputusasaan Griffon”.


Kedua admin game The Last Gardenia itu pun hanya bisa ternganga begitu hal absurd yang tadi mereka bicarakan benar-benar terjadi. Sekali lagi, quest tersembunyi ketiga yang terbuka di game The Last Gardenia itu dibuka oleh seorang pemain bernama Luca.


***


Begitu aku tersadar dan melihat ke sekelilingku, aku telah berada di suatu area pegunungan tandus di mana banyak sekali galpagos berkeliaran, bahkan lebih banyak dari tempat quest yang kuikuti bersama party-ku semula.


Tidak hanya itu, hampir semua galpagos di sini adalah berlevel tingkat tinggi yang sangat berbeda dengan di area quest berburu galpagos sebelumnya yang bahkan tidak ada sama sekali galpagos berlevel tingginya.


Inilah yang seharusnya kutunggu-tunggu untuk melawan monster level tinggi agar aku dapat segera melewati level tingkat veteran menengah ini yang telah lama aku stack di dalamnya.

__ADS_1


Tetapi bukan berarti juga monsternya harus sebanyak ini!!! Kalau sebanyak ini, mana bisa kukalahkan!!! Aku hanya dapat mengeluh kesal.


Tetapi mengabaikan itu dulu, aku melirik ke sampingku. Wajah polos nan tanpa dosa Egi tengah tertidur dengan pulasnya. Aku pun menepuk-nepuk pipinya agar dia segera bangun. Setelah beberapa saat kutepuk, akhirnya dia terbangun juga.


“Hmm. Luca?”


“Egi, kamu sudah sadar?”


“Ya. Ini… di mana? Hah?!”


Seketika Egi terkaget begitu mendapati tengah banyak galpagos di sekitarnya.


“Ssst. Jangan berisik, Egi. Tampaknya kawanan mereka belum menyadari kehadiran kita. Mari kita tinjau situasi sejenak.”


Kami pun melihat sekeliling hingga sampailah pandangan kami pada suatu pemandangan yang tidak mengenakkan.


Seekor griffon yang mungkin belum mencapai usia dewasanya yang terlihat dari postur tubuhnya yang tidak sesuai dengan ukuran dewasa terantai dan disiksa oleh kawanan galpagos.


\=\=\=


Quest tersembunyi keputusasaan Griffon


Bebaskan Griffon muda dari rantai yang mengekangnya


Penalti jika gagal: takkan pernah lagi bisa mencoba menjelajah quest tersembunyi “keputusasaan Griffon’ ini


\=\=\=


“Egi, ini?”


“Luca, tampaknya kita benar-benar berhasil mengakses quest tersembunyi itu.”


Egi terlihat begitu riang dengan senyumnya yang cemerlang.


“Tapi bagaimana kita akan mencapai tempat di mana griffon muda itu dirantai untuk melepaskannya?”


Kami pun melihat sekeliling. Kuperhatikanlah bahwa para galpagos yang berada di tempat ini benar-benar memang memiliki level tingkat tinggi semua. Bahkan di antara mereka, ada yang sampai berlevel 92.


Syukurlah yang tampak menjaga griffon yang dirantai hanyalah galpagos berlevel 55 saja.


Yang mesti kami pikirkan sekarang adalah bagaimana kami mampu menyelinap ke tempat itu tanpa ketahuan oleh kerumunan galpagos yang berada di antaranya. Jika kami ketahuan, mutlak kami akan langsung game over. Sehebat apapun kami, mustahil bagi kami untuk mengalahkan jibunan monster berlevel tinggi dalam waktu bersamaan.


Bahkan jika aku mensummon Aura ke tempat ini, dia pun tetap tidak akan sanggup mengalahkan monster galpagos sebanyak ini tanpa mengalami luka-luka fatal dan ada kemungkinan juga Aura bisa game over.


Skill stealth dan langkah bayangan-ku, juga tidak akan sejauh itu membawa kami setiap kali pengaktifan. Ada kemungkinan di tengah jeda pengaktifan skill itu, kami akan ketahuan dan langsung diserang.

__ADS_1


Seketika sebuah ide terpatri di benakku.


‘Aura, kamu mendengarku?’


‘Ya, Master. Ada apa?’


‘Kamu bisa bergerak diam-diam tanpa ketahuan kan?’


‘Rasanya itu agak sulit, Master. Mengingat ukuran tubuh dan warna kulitku yang menonjol.’


‘Lantas bagaimana kalau kamu berubah jadi serangga kecil semisal kunang-kunang?’


‘Itu mungkin bisa saja sih, Master. Tetapi ada apa tiba-tiba?’


‘Kami sedang dalam quest tersembunyi. Pastikan kamu sudah berubah wujud dalam bentuk kunang-kunang itu sebelum aku men-summon-mu kemari. Aku akan menjelaskan detailnya setelah aku berhasil men-summon-mu kemari.’


‘Baiklah, Master.’


Dengan demikian, aku pun segera mensummon Aura ke tempat ini. Syukurlah kali ini, Aura bisa tersummon dengan tanpa masalah, tidak seperti sewaktu di dungeon The Legacy of Sultan Lacoza sebelumnya.


“Luca, ini?”


Egi terkaget begitu tiba-tiba ada cahaya terang di tanganku lalu kunang-kunang muncul.


“Oke, Aura. Kamu lihat tempat di sana itu kan? Yang ada griffon muda-nya yang sementara dirantai itu. Kamu pergilah ke dekatnya di sana secara diam-diam tanpa ketahuan oleh jibunan monster galpagos yang berkeliaran itu.”


“Itu mudah saja, Master. Tetapi mengapa aku harus sembunyi-sembunyi seperti itu? Mereka hanyalah kroco-kroco tidak penting soalnya. Dengan nafas naga-ku, aku bisa langsung mengatasi mereka semua.”


“Jangan sombong, Aura. Walaupun level-mu sekarang sudah 140, tetap saja akan sulit bagimu mengatasi para galpagos sebanyak itu tanpa cedera. Lagian, bisa saja dalam prosesnya, galpagos akan mengamuk dan justru melukai griffon yang sedang dirantai itu. Cari aman saja yang kemungkinan suksesnya paling besar. Jika dibutuhkan, baru kamu boleh bertingkah liar.”


Tampak Egi lebih terkaget lagi begitu mendapati sesosok kunang-kunang yang ada di tanganku itu bisa berbicara layaknya manusia. Tetapi mungkin sadar akan situasinya, Egi kali ini lebih memilih untuk hanya mengamati saja tanpa bertanya.


Singkat cerita, dengan langkah… maksudku dengan gerakan sayap yang pasti, Aura menuju ke tempat di mana griffon muda itu dirantai. Sesuai dugaan, tidak ada satu pun dari para galpagos yang menotice Aura bergerak.


Tampaknya tidak ada satu pun dari para galpagos itu yang menyadari kehadiran Aura di tengah-tengah mereka. Walaupun para galpagos itu sekilas melihatnya, palingan mereka hanya berpikir bahwa itu hanyalah serangga yang tidak penting. Siapa yang akan mengira kalau wujud asli dari kunang-kunang emas itu sejatinya adalah seekor naga yang levelnya jauh lebih tinggi dari mereka.


Sesuai rencana, akhirnya Aura mencapai tempat di mana griffon muda tersebut dirantai tanpa ada masalah yang berarti.


Kini masuk di rencana fase kedua. Aku pun segera memeluk Egi dari belakang dengan menyentuh area pinggangnya ke tengah perutnya. Tampak Egi tergelitik, tetapi dia berusaha sekuat tenaga menahan ekspresinya.


Bahkan ketika Egi belum sempat menanyakan tujuanku tiba-tiba melakukan itu padanya, aku sudah memulai rencana itu duluan. Aku segera mengaktifkan skill ‘instant change’-ku duluan dengan Aura lantas bertukar posisi dengannya.


Dalam sekejap posisi kami bertukar. Kini, justru aku dan Egi yang ada di dekat griffon yang dirantai tersebut. Sesuai dugaan, begitu kami sampai di sana, para galpagos akhirnya menotice keberadaan kami.


Aku pun mensummon kembali Aura ke dekatku lantas segera menyuruhnya untuk mengaktifkan perisai perlindungan ke sekeliling kami sebelum para galpagos itu menerjang ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2