
“Woaaaaaaaaaah!” Terdengar riuh penonton di kala pertarungan di ruang virtual B itu semakin memanas.
Di antara kerumunan penonton, Luca turut tereksitasi menyaksikan pertandingan itu.
“Ini saatnya Tim Shadow Park harus agresif jika mereka ingin melaju ke babak selanjutnya.” Luca pun menggumamkan komentarnya.
Nina yang tanpa sengaja mendengarkan gumaman Luca itu turut menambahkan, “Itu benar. Karena perbedaan kekuatan yang jelas, sudah dipastikan bahwa Tim Bougha-lah yang akan bertahan hingga akhir. Itu berarti Tim Shadow Park harus agresif bersaing dengan Tim Max Squeeze dalam mengumpulkan poin mengalahkan lawan terbanyak.”
“Tidak. Tim Max Squeeze-lah yang akan bertahan hingga akhir. Satu-satunya cara Tim Shadow Park bisa melolosi babak ini adalah dengan menghentikan momentum Tim Bougha.”
Mendengar komentar Luca yang nampak berbeda dari alur pertandingan saat ini, Nina pun membelalakkan matanya, terkejut tidak percaya.
***
“Krein, ayo kita pergi dari sini. Kita hanya akan membuang-buang waktu jika terus berada di sini. Mari kita cari lawan dulu di tempat lain karena tampaknya laju pertandingan di sini masih lama.”
Krein hanya mengangguk dalam diam atas tanggapan terhadap ajakan Ferdi itu.
Lalu kemudian, mereka pun hendak meninggalkan area pertarungan di sisi pertama di sebelah barat itu.
“Ck.” Tampak dari jauh, Antonio dari Tim Bougha mendecakkan lidahnya.
“Padahal aku berharap mereka hanya akan diam di situ seperti tikus sambil menunggu aku menyelesaikan dua mangsa ini. Rovo, kamu kalahkan tikus-tikus di belakang itu. Biar aku yang menangani bocah-bocah kembang api ini.”
Salah satu Viking dari Tim Bougha yang dipanggil Rovo itu pun tiba-tiba berlari ke belakang sementara rekannya, sang Viking Antonio, mencegat dua musuh yang ada di depannya.
Sesaat kemudian, Rovo telah berada di hadapan Ferdi dan Krein.
“Ck, sial! Mereka rupanya menyadari keberadaan kita. Krein, kamu pergilah duluan. Aku akan mencegat Viking gila ini selama mungkin.”
“Tapi, Senior…”
“Pergilah ke sisi timur. Tampaknya pemain yang masih selamat di sana sudah dalam kondisi luka parah. Kamu mengerti maksudku kan?”
Setelah tampak enggan sejenak, Krein akhirnya mengangguk pelan sebagai tanggapan persetujuan atas usul Ferdi itu. Dia pun berlari meninggalkan Ferdi di belakang menghadapi sang Viking sendirian.
Sang Viking hendak mencegah salah satu tikus kabur. Akan tetapi, Ferdi tidak membiarkan sang Viking melakukan seenak jidatnya. Lalu pertarungan sisi keempat pun berlangsung antara sang Viking Rovo dari Tim Bougha vs Ferdi dari Tim Shadow Park.
***
“Hei, wanita! Ayo keluarkan lagi tusuk gigimu itu. Rasanya nyaman sekali sewaktu otot-ototku ditusuk-tusuk oleh tusuk gigimu itu. Hahahahahaha.” Gonez berujar sembari memandang remeh sang archer dari Tim Shadow Park itu.
“Dasar, Viking sialan! Kalau begitu, rasakan ini.”
__ADS_1
Namun rupanya, serangan kali ini yang muncul bukanlah lagi berupa panah-panah kayu biasa, melainkan hujanan panah-panah api. Akan tetapi jumlahnya lebih sedikit. Kedua Viking itu pun meremehkan serangan itu.
“Apa-apaan ini? Apa kamu sudah kehabisan tenaga, wahai wanita? Di mana jumlah panah-panah api yang sangat banyak barusan?” Gonez tetap stabil dalam ucapannya yang penuh penghinaan.
Tetapi begitu serangan itu mendarat kepadanya, barulah dia sadar bahwa itu tidaklah sama dengan hujaman ratusan panah-panah api sebelumnya. Walau jumlahnya sangat jauh lebih sedikit, impak yang ditimbulkan dari serangan panah api kali ini sangat luar biasa.
“Akh!” Panah api pun berhasil mengoyak luka yang sebelumnya diinisiasi oleh cambuk perak sang wanita pemburu vampir.
Tanpa memberikan kesempatan kepada Gonez dan rekannya berpikir, sang archer segera berlari dengan dagger di tangannya untuk memberikan serangan terakhir.
Akan tetapi, sang archer salah memperhitungkan. Serangan panah apinya kali ini memang benar memberikan impak yang lebih baik ketimbang serangan panah apinya yang pertama, tetapi itu hanya sebatas mampu menembus luka yang memang sudah terkoyak.
Kulit sang Viking lebih bebal dari yang dia duga. Serangannya itu tidaklah ada apa-apanya dari daya tahan Viking dalam merasakan rasa sakit karena luka.
Dengan sigap, Gonez meraih leher sang archer ketika dia membuat dirinya sendiri mendekat ke arahnya. Lalu, Gonez pun mematahkan leher sang archer itu. Sang archer pun gugur dalam pertarungan.
Dari jauh bersembunyi di belakang, Krein rupanya telah sejak tadi berada di sana menyaksikan segala kejadian yang terjadi, termasuk bagaimana rekan setimnya gugur dalam pertempuran.
***
“Crang, crang, crang.” Terdengar adu tinju antara dua orang fighter dengan perbedaan ukuran tubuh yang sangat berbeda jauh.
“Dasar tikus sialan! Sejak tadi sangat menyebalkan! Mengapa kau tidak menyerah saja?! Kau pikir dirimu bisa menang dariku, hah?!” Rovo melayangkan provokasi kepada Ferdi. Namun, tidak ada tanda-tanda Ferdi terpengaruh oleh provokasi itu.
Ferdi berusaha tenang, tanpa tampak adanya upaya membalas hinaan Rovo itu. Di dalam pikirannya, dia hanya ingin membalas hinaannya dengan tindakan.
“Heh.” Melihat peluang itu, Rovo pun tersenyum.
Rovo menghentikan sejenak momentumnya untuk mengumpulkan tenaga lalu dengan kecepatan yang luar biasa, dia menghantam Ferdi dengan impak yang sangat dahsyat. Untungnya, Ferdi bisa menangkis serangan itu dengan kedua tangannya. Tidak, dia bisa merasakan kalau tulang-tulang lengan pada tubuh virtualnya itu telah retak akibat serangan barusan.
Ferdi pun menyesal mengapa dia tidak memilih untuk menghindari serangan itu saja ketimbang menangkisnya.
Seakan telah merasa akhirnya mendapatkan momentum yang dia tunggu-tunggu, Rovo tidak mengendorkan serangannya begitu saja. Dalam gerakan yang luar biasa cepat berikutnya, Rovo melayangkan tinjunya berkali-kali kepada Ferdi.
Ferdi mulai sekarat. Dia tidak dapat menyamai kekuatan dan kecepatan sang Viking yang ada di hadapannya itu. Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai terdegradasi di bawah amukan kekuatan sang Viking.
“Haha.” Ferdi pun tertawa kecil.
“Padahal aku selalu bangga dengan kekuatanku sebagai fighter. Memang di tempat inilah yang selalu menyadarkanku bahwa aku hanyalah ikan besar di dalam kolam yang sempit.” Ujar Ferdi tiba-tiba.
“Itukah kata terakhirmu, wahai tikus hina?”
“Heh.” Ferdi hanya tersenyum nakal menanggapi hinaan Rovo itu.
__ADS_1
Seketika melihat ekspresi wajah Ferdi, Rovo menggeram lantas dengan cepat melayangkan tinju dengan momentum yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya ke arahnya. Mungkin karena dipengaruhi adrenalin akibat senyum Ferdi yang membuatnya kesal itu, serangannya bertambah menakutkan. Akan tetapi,
“Skill: Last Gratitude.”
Ferdi mengaktifkan skillnya lalu seketika aliran mana-nya, tidak, tidak hanya mana-nya saja, tetapi seluruh daya hidupnya, tersalurkan ke tangan kanannya. Lalu bersamaan dengan datangnya tinju Rovo, Ferdi pun dengan lihai menghindarinya sembari menusuk ke arah dada kiri Rovo lalu mengeluarkan jantung dari dalam dada sang Viking itu.
Rovo mulai batuk darah seketika kehilangan jantungnya dan tampaknya tubuh virtualnya telah hampir kehilangan dayanya. Tetapi sebelum Rovo gameover,
“Dasar tikus hina! Parasit sialan!”
Dengan amarah yang membara dengan mulut penuh darah di ambang kematian tubuh virtualnya itu, Rovo melayangkan tinju terakhirnya dan meledakkan kepala Ferdi.
Mereka berdua pun secara bersamaan gameover.
***
Sementara itu di sisi lain, di pertempuran sisi dua di sebelah timur, kedua Viking mulai kehilangan dayanya akibat kehabisan darah setelah menerima luka akibat serangan cambuk perak sang wanita pemburu vampir ditambah panah api terakhir sang archer yang semakin mengoyak luka tersebut.
Karena saking telah lunglai-nya mereka, mereka pun lengah bahwa masih ada satu pemain di dekatnya yang mereka abaikan.
‘Skill: taring penghisap kehidupan.’
Dialah pria vampir, pemain terakhir dari Tim Almbolescence yang menyerang Gonez dengan taringnya yang tajam.
“Dasar vampir sialan!” Gonez menghujat, tetapi perlahan tubuhnya semakin melunglai dan pandangannya pun mulai kabur.
Tanpa disadarinya, dia pun tertidur, tidak, dia telah gameover dalam tidurnya itu.
Poin pertamanya pun, akhirnya diperoleh oleh Tim Almbolescence.
\=\=\=
Hasil pertandingan sementara ruang virtual B sesi kedua
Bougha, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 3
Shadow Park, jumlah korban \= 3, jumlah pemain tersisa \= 1
Max Squeeze, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 5
Almbolescence, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 1
__ADS_1
\=\=\=