The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
103. Kombinasi Serangan Lia dan Toni


__ADS_3

“Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor.”


“Slash, slash, slash.”


Peluru berkecepatan tinggi terus-terusan diarahkan kepadanya, sementara dia juga harus menangkis tebasan pedang dari rekan sang robot penembak itu.


Walau demikian, Asario sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kewalahan.


Namun sebaliknya, dia semakin bersemangat.


“Pertarungan memanglah harus seperti ini. Dengan begini, para penilai bakat itu dapat melihat kemampuanku yang sesungguhnya dan akan menyesal telah membuangku dulu.” Ujar Asario dalam hati.


“Senior, selanjutnya bagaimana? Aku telah mentracking calon korban yang tampaknya lemah sekitar lima meter di dekat Nona Lia. Mereka adalah tiga orang pemain dari Tim Puririn.”


Telepati dari Andra tiba-tiba membuyarkan lamunan yang berasal dari keegoisan hati terdalamnya itu. Walau demikian, tidak ada tanda-tanda terganggu sedikit pun dalam intonasi suara yang ditunjukkan oleh Asario.


“Kerja bagus. Lia, kamu eksekusi mereka! Toni, kamu segera ke sana untuk mensupport Lia.”


“Oke.”


Lia menjawab singkat.


“Baik, Senior!”


Dilanjutkan oleh anggota tim yang paling pendiam di antara mereka yang akhirnya angkat bicara juga setelah sekian lama diam.


Andra dapat segera melihat bahwa Lia telah berpapasan dengan ketiga pria cantik yang berpakaian magical girl itu, dan tidak jauh di belakangnya, Toni tidak akan lama lagi tiba untuk mensupportnya.


Semuanya sesuai rencana untuk di sisi itu. Tetapi Andra segera menemukan ada satu masalah lain yang mendekat ke arah mereka.


Kedua pemain dari Vdol, seorang swordsmen dan seorang thief, tampak juga telah melihat ketiga pemain Puririn dan berniat mengincarnya.


Namun, dilihatlah Andra secara kebetulan ada pimpinan Tim Borjuin di sela-sela antara mereka dan ketiga pemain Puririn itu.


Lantas, tanpa sempat melapor kepada Asario terlebih dahulu perihal peluang yang tersedia akan cepat hilang, Andra memiliki sebuah ide dan segera mengeksekusinya.


Kedua pemain Vdol tampak berjalan tanpa mengeluarkan suara langkah sedikit pun dengan hati-hati namun cepat, bergerak ke arah di mana ketiga pemain Puririn dan Lia akan segera bertarung untuk memberikan serangan dadakan.


Akan tetapi, begitu mereka memasuki area serang sang pimpinan Tim Borjuin, Andra dengan licik menggoyangkan area di sekitar situ dengan skill-nya dari jarak jauh sehingga sang pimpinan Tim Borjuin yang awalnya tidak menotice kehadiran mereka berdua, seraya mengarahkan pandangannya kepada musuh yang tiba-tiba saja mendekat itu.


Dengan sigap, sang pimpinan Tim Borjuin mengayunkan pedangnya ke arah dua pemain Vdol itu, mengira bahwa target serangan dadakan mereka adalah dirinya.


Alhasil, kedua pemain Vdol pun dengan sigap menghentikan langkahnya dan menghindari tebasan pedang itu dengan bergegas mundur kembali.


Kombinasi pertarungan ketiga seketika terbentuk antara duo swordsmen-thief Tim Vdol melawan sang pimpinan Tim Borjuin.


***


Jauh di selatan arena, salah seorang pemain Borjuin yang lain akhirnya bertemu dengan kedua pemain Puririn yang tersisa itu. Salah satu di antara mereka, dialah sang wanita berbadan kekar yang juga mengenakan kostum magical girl mini yang tampak tak sesuai dengan ukuran badannya yang sangat besar itu.


“Hei, kamu di mana? Kami kewalahan di sini, sementara Gyna belum bisa memberikan supportnya!” Terdengar lewat alat komunikasi di telinga sang pemain Borjuin itu, suara pemain lain yang merupakan rekan setimnya.


“Sabar, aku di sini juga sedang dicegat gorila.”

__ADS_1


Satu-satunya pemain wanita dari Tim Puririn itu pun dengan jelas mendengar ejekan ‘gorila’ keluar dari mulut salah seorang anggota tim lawannya. Dan diapun kehilangan ketenangannya lantas menerjang sekuat tenaga ke arah pemain itu.


***


“Shak, shak, shak.”


Lia menyerang dengan tinjunya ke arah ketiga pemain Puririn. Namun, dengan kerjasama mereka yang baik, mereka dapat menghindari serangan Lia yang hanya berkecepatan medium.


‘Skill: magical slash.’


‘Skill: magical pure.’


‘Skill: magical heart.’


“Puaaaaang, puaaaaaang, puaaaaaaang.”


Satu-persatu cahaya laser yang sangat berbahaya karena seketika dapat melubangi tiga pohon yang berderetan sekaligus pada serangan sebelumnya, sekali lagi keluar lewat tongkat sihir imut milik mereka itu.


“Tak, tak, tak.” Namun Lia sekali lagi pula dapat menghindarinya dengan lincah.


Situasi pertarungan sesaat berjalan stagnan.


Lia terus berusaha mendaratkan tinjunya ke arah para magical boy itu atau sembari menunggu kesempatan yang tepat untuk menghancurkan tongkat sihir mereka dengan pistol heroine tipe sihir pemberian Luca padanya itu.


Akan tetapi, para magical boy itu selalu mampu saling support satu sama lain untuk menghindar dengan baik di samping selalu melakukan serangan balik di saat yang tepat lewat tongkat sihir mereka.


Lia kesulitan, tetapi itu bukan pula berarti bahwa para lawan cukup tangguh untuk mengalahkannya.


Oleh karena itu, situasi pertarungannya buntu. Itu terjadi setidaknya sebelum Toni datang.


Toni mendekat dan seketika ular-ular menjalar keluar lewat perisainya dan berhasil melukai salah seorang lawan dengan gigitan-gigitan yang tajam nan berbisa-nya.


“Aaaaaaakh!”


Pemain lawan itu pun seketika berteriak kesakitan. Badannya langsung membiru, terinfeksi oleh racun skill Toni.


“Kerja bagus, Senior.”


Ujar Lia dalam ekspresi senang. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh seniornya itu untuk melayangkan tinjunya yang diperkuat oleh item bajunya yang masih disembunyikan di balik seragam cleric-nya kepada pemain Puririn yang terluka oleh skill Toni barusan.


“Aaaaaaaakh!”


“Doroche!”


“Doroche!”


Kedua pemain Puririn yang lain seketika khawatir lantas meneriakkan nama temannya begitu mereka menyaksikan temannya yang telah keracunan harus sekaligus menjadi korban amukan tinju Lia itu. Tetapi sudah terlambat, HP pemain yang bernama Doroche telah mencapai 0 dan dia pun harus gameover dalam pertandingan.


“Dasar kurang ajar kamu ya, Wanita!” Salah satu pemain Puririn itu pun berteriak marah kepada Lia.


Namun, Lia tampak tidak bereaksi sedikit pun pada gertak sambal itu. Dia hanya fokus menatap lawan yang ada di depannya sembari tidak menurunkan penjagaannya sama sekali, waspada jikalau sampai-sampai ada sergapan dari pemain lawan lain.


Di saat itulah Lia menyadari bahwa prediksinya memang benar. Ada sergapan dari tim lawan melalui perubahan alur angin yang dirasakan oleh inderanya. Dalam sekian milisekon itu, Lia dengan sigap berupaya memprediksikan arah serangan.

__ADS_1


Sayangnya, rupanya serangan itu bukan ditujukan untuk dirinya, melainkan rekan setimnya, Toni.


Lia ingin segera memperingatkan seniornya itu soal serangan. Akan tetapi, serangan terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari panah sang archer yang pertama.


Toni yang terlambat menyadari serangan itu sekian milidetik pun, terlambat menghindar dan terpaksa menjadi korban kekejaman ledakan sang panah.


Korban pertama akhirnya jatuh untuk Tim Silver Hero, sekaligus menjadi korban yang ketiga dalam pertarungan. Toni telah gameover.


“Sial!”


Dari jauh, Andra mengumpat marah karena terlambat sekian milisekon memperingatkan Toni soal serangan.


“Ck.”


Melihat Andra yang terbawa emosi itu sampai-sampai lupa pada tugas utamanya sebagai pentracking musuh yang bersembunyi sekaligus penghubung telepati pemain setimnya, Asario pun mendecakkan lidahnya dalam hati.


“Andra, tracking!”


Asario terpaksa menggunakan alat komunikasi internal di telinganya yang selama ini diabaikannya karena khawatir akan kebocoran informasi untuk berteriak ke telinga Andra yang kehilangan fokus itu.


Di situlah Andra baru tersadar dan segera menatap kembali ke arah sang archer yang menembakkan anak panah barusan. Syukurlah belum terlambat karena tampak bahwa sang archer masih terduduk di sana.


Atau tepatnya dia sudah menyerah karena demi serangan yang cepat dan dengan kekuatan yang dahsyat itu, dia telah menggunakan lebih dari 90 % mana-nya.


Sang archer awalnya berniat untuk mengeliminasi sekaligus keempat orang pemain yang ada di sana melalui ledakan maha dahsyat yang sangat menguras mana-nya itu dengan mengorbankan dirinya sendiri dari pertarungan. Itu adalah pengorbanan yang menguntungkan dengan empat poin.


Dengan poin sebesar itu yang akan didapatkannya, timnya akan berpeluang besar untuk melaju ke putaran selanjutnya sebagai tim dengan rekor mengalahkan lawan terbanyak, walaupun pada akhirnya timnya itu tidak bisa menjadi tim yang bertahan paling akhir.


Tetapi semua harapannya itu harus pupus di tangan Toni.


Tepat setelah panahnya itu menyentuh arena, Toni segera mengaktifkan skill kerakusan Sarwendah-nya setelah sadar dirinya telah terlambat untuk menghindar untuk menelan panah itu agar ledakannya tidak menyebar di sekitar arena.


Toni dengan yakin mempercayakan sisanya itu kepada Lia. Dia yakin bahwa juniornya itu akan sanggup untuk mengalahkan dua magical boy yang tersisa, sekaligus lawan mana pun yang keluar sebagai pemenang pada pertempuran antara duo swordsmen-thief melawan metarobot itu yang kemungkinan akan turut berpapasan dan berhadapan dengan Lia.


Toni gameover dengan mewariskan harapannya itu.


Kembali ke Andra. Pada akhirnya, Andra berhasil mentracking sang archer. Namun, dia telah terlambat.


Sebelum Mark sempat mengeksekusinya, sang archer hancur duluan di hadapan bombardir sang sniper dari Tim Borjuin.


\=\=\=


Hasil pertandingan sementara ruang virtual C sesi ketujuh



Silver Hero, jumlah korban \= 2, jumlah pemain tersisa \= 4


Borjuin, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 5


Vdol, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 3


Puririn, jumlah korban \= 0, jumlah pemain tersisa \= 4

__ADS_1


\=\=\=



__ADS_2