
"Sok.bijak banget siih kamu.." Seru Pak Jamal.
Aqeela hanya tersenyum lebar mendengar komentar Pak Jamal.
"Dia memang begitu dari dulu.."
Pak Jamal dan Aqeela menoleh ke arah pintu,
"Kamu..." Seru Pak Jamal.
"Kak Wisnu!" Aqeela membelalakkan matanya melihat sosok yang terakhir ia tendang lima tahun lalu.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" Tanya Pak Jamal. Sedangkan Aqeela sudah terlihat wegah menatap pria di depan pintu itu.
"Memangnya ada yang salah kalo aku pengen ke sini?" Tanya Wisnu.
"Ini bukan tempatmu, Wisnu. Lagian kamu tidak ada kepentingan masuk ruangan ini." Jawab Pak Jamal yang tahu persis Wisnu ke sekolah hanya untuk menemui Pak Han, Omnya.
"Pergilah!"
Pak Han dan keluarganya bukan pemilik sekolah. Pemilik sekolah ini seorang pengusaha tambang minyak yang mendedikasikan sebagian kecil asetnya untuk pendidikan.
Pak Han sendiri dulunya seorang guru di Sekolah tersebut, namun karena prestasi, loyalitas dan dedikasinya Pak Han diangkat menjadi kepala sekolah.
Pak Jamal bisa melihat aura tidak senang dari Aqeela' atas kehadiran Wisnu. Ia berharap Wisnu segera menyingkir setelah ia usir tadi.
Namun dasar Wisnu si tebal muka itu, bukannya keluar ia malah terkekeh mendengarnya.
"Pak, Bapak tidak sopan sekali malah menyuruhku pergi bukan menyuruhku masuk dan duduk." Wisnu menyandarkan punggungnya ke pintu yang ia tutup.
"Kamu bukan tamu yang kami harapkan." Ucap Pak Jamal lagi.
Sejeujurnya ia khawatir, beliau masih menginngat peristiwa sebelas tahun yang lalu.
"Pak aku hanya ingin menyapa wanita cantik yang bersama Bapak. Andai saja aku tahu dari dulu kalau dia mengajar di sini. Mungkin tak perlu jauh-jauh aku mencarinya." Tanpa menunggu Pak Jamal mengizinkannnya duduk, Wisnu sudah meletakkan pantatnya ke sofa di depan Aqeela dan Pak Jamal.
"Wis, keluarlah! Kalian berdua sudah tak ada urusan." Hardik Pak Jamal.
Wisnu malah menatap Aqeela tanpa berkedip, ucapan Pak Jamal ia hiraukan begitu saja.
"Wah, ternyata lagi hamil lagi. Aku suka dengan wanita hamil. Terlihat seksi." Ucap Wisnu dengan nada menggoda.
Aqeela sudah malas menanggapinya. Bahkan menoleh saja ia enggan. Beban di perutnya sudah berat. Ditambah pria penggoda ini. Membuat badmood aja hot-hot gini.
Wisnu kembali terkekeh mendapat balasan dingin Aqeela.
"Pak sepertinya wanita ini lagi sakit gigi, begiti ketemu aku." Ucap Wisnu tanpa melepas pandangannya.
" Wis, keluarlah. Aku tak ingin ruanganku tercemar karena ulahmu."
"Aku tidak melakukan apa-apa, lho. Mending bapak aja yang diam. Aku ke sini cuma ingin bertemu perempuan yang sudah nolak aku sebelas tahun lalu. Aku ingin tahu apa dia menyesali keputusannya saat itu."
"Wong edan." Maki Aqeela.
__ADS_1
"Ha.. ha..ha..." Tawa Wisnu mendengar makian Aqeela.
"Ternyata masih galak." Lanjutnya.
"Pak, lebih baik saya pulang dulu daripada di sini malah bikin anak di perut saya berontak." Pamit Aqeela sambil berdiri.
"Aku antar!" Titah Pak Jamal menjajari Aqeela.
"Tunggu!" Wisnu mencegah keduanya keluar dari ruangan BK.
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan. Semua sudah jelas." Balas Aqeela sambil berusaha menyingkar kedua tangan Wisnu yang menghalangi langkahnya.
"Belum selese, cantik." Wisnu menggapai dagu Aqeela.
Dengan sigap Aqeela menolak tangan Wisnu.
"Hentikan, Kak!" Pintanya.
"Aku masih penasaran." Bisik Wisnu.
Reflek Aqeela mendorong tubuh Wisnu, sampai membentur pintu.
Braak..
Terdengar dentuman keras hasil ulah Aqeela.
Pak Jamal yang melihat Wisnu lengah segera menyeret lelaki tersebut dan memberi jalan bagi Aqeela agar segera keluar.
Wisnu yang melihat Aqeela menghindari, segera menjegal kaki Pak Jamal. Auto pria setengah abad itu langsung jatuh tersungkur.
"Nal, Zainal.. keluar. Bantu Aqeela. Wisnu ngejar-ngejar dia." Pak Jamal menyempatkan diri menelpon Ustadz Zainal yang ada di kelasnya menyiapkan terima raport besok. Sesaat setelah Wisnu keluar dari ruangannya.
Pak Jamal berusaha bangun perlahan, tubuhnya terasa sakit semua. Usianya yang menjelang senja membuat beberapa bagian tulangnya semakin lemah.
Di luar.
Aqeela masih berjalan secepat mungkin menghindari Wisnu.
Beberapa meter di belakangnya Wisnu berusaha mengejar wanita cantik yang sedang hamil tujuh bulan itu.
(Out fitnya drama kejar-kejaran gitu ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤)
(Thor , kok malah ketawa sih. Itu mereka berdua sedang tegang. Lha authornya malah ngakak. Absurd banget deh.)
Wisnu sudah semakin dekat dengan dengan Aqeela. Beberapa langkah saja ia sudah bisa menangkap wanita yang sedang kesusahan berlari menghindarinya itu.
Sebuah lengan mencekalnya. Dan mendorong tubuhnya hingga terjerembab.
"Qee, cepat pulang. Anak ini biar aku yang urus!" Titah Ustadz Zainal.
Aqeela hanya sempat menoleh sebentar, dan berlalu begitu saja meninggalkan kedua pria tersebut.
Bukannya takut menghadapi Wisnu. Tapi wegah saja meladeni pria amoral itu.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan siapapun, Aqeela segera memerintahkan Ranty menjauh dari sekolah.
Tanpa bertanya, Ranty segera melajukan mobil Aqeela.
Back ke Wisnu dan Ustadz Zainal.
"Wis, kamu gak kapok apa? Atau kamu masih ingin kita hajar kedua kalinya." Hardik Ustadz Zainal.
Wisnu tak menjawab, Ia hanya terkekeh mendengar ucapan Ustadz Zainal.
Ustadz Zainal yang tak ingin hilang kesabarannya, segera menyeret Wisnu ke ruang Pak Han.
Tanpa mengetuk pintu Ustadz Zainal langsung masuk dan mendorong tubuh Wisnu sampai duduk di sofa.
"Pak Han, tolong ingatkan keponakan Bapal ini agar mejaga sikapnya!" Seru Ustadz Zainal kepada Pak Han.
"Tunggu, ada apa ini Ustadz?" Tanya Pak Han yang keheranan melihat Ustadz Zainal menyeret Wisnu.
"Tanya aja sama keponakan Bapak ini!" Jawab Ustadz Zainal sambil menunjuk ke arah Wisnu.
"Wis, kamu bikin ulah apa lagi?" Pak Han menatap keponakannya itu penuh selidik.
"Aku cuma penasaran aja sama Aqeela. Masa aku salah sih Om. Apalagi di menghindari aku terus." Jawab Wisnu tanpa ada rasa bersalah.
Pak Handoko menarik napas dengan kasar.
"Jelas salah masih tanya."
"Aqeela itu istrimya orang, Wisnu." Bentak Pak Handoko gak kalah serema dengan Ustadz Zainal.
"Tapi dia masih cantik, Om." Bantah Wisnu.
"Arek edan, gak duwe dur kowe Le." Pak Han kembali membentak Wisnu.
( Anak gila, tidak tahu malu kamu)
"Aqeela itu anaknya banyak. Kayak gak ada perempuan lain aja." Ustadz Zainal menyindir Wisnu.
"Pantesan setiap kali ketemu pas dia hamil." Wisnu bergumam dengan dirinya sendiri tapi masih bisa di dengar Pak Han dan Ustadz Zainal.
"Apa? Kamu pernah ketemu dia sebelumnya?" Tanya Pak Handoko dan Ustdz Zainal berbarengan.
Wisnu hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan keduanya.
Pak Handoko terlihat menahan emosinya, ia berusaha setenang mungkin. Bahkan ia tidak tahu darimana Wisnu mendapat info keberadaan Aqeela di sini.
"Wis, ingat ya.. jangan buat usaha kami sia-sia. Untuk membawa Aqeela kembali ke sini saja, kami harus usaha keras. Jangan sampai usaha kami, kamu kacaukan begitu saja. Kami tidak rela." Pak Handoko masih berusaha berbicara lirih.
💗💗💗💗💗
Nasib Aqeela dan Pak Jamal, gimana ya Genks?
Di next episode yaa..
__ADS_1
Gengs.. like, komen dan vote yaa..