TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Kenekatan Zafir


__ADS_3

Zafir menghentikan mobilnya di sebuah rumah berpagar hitam tinggi.


"Ini rumah, Mama?" tanya Zafir.


Fely mengangguk.


"Kamu tunggu di sini! Aku mau ketemu mama," ucap Fely.


"Aku antar!" seru Zafir.


"Jangan," bantah Fely.


"No. Kita ke sini bareng. Ketemu Mama juga bareng," ucap Zafir.


"Fir..., jangan aku mohon. Mama nanti pasti..."


"Aku sudah siap menghadapi Mama," potong Zafir


"Fir..." bantah Fely.


"Tunggu aku buka pagarnya dulu!" Zafir kembali memotong ucapan Fely.


Pemuda berhidung mancung itu turun dari jok kemudi dan membuka pagar hitam milik keluarga Fely.


Gadis berambut panjang itu hanya bisa pasrah dengan keputusan Zafir, seorang yang tiba-tiba melamarnya.


Setekah terbuka, Zafir mengemudikan masuk mobilnya ke halaman rumah Fely. Ternyata ada seorang penjaga di sana.


Penjaga itu segera membukakan gerbang untuk akses masuk mobilnya.


Bukan sebuah rumah yang sederhana atau sangat mewah namun sangat berbanding jauh dengan kehidupan Fely di kos-annya.


"Jika kehidupan orang tuanya segini berada, untuk apa Fely bekerja mati-matian. Bahkan kosannya hanya sebuah kosan petak biasa," Zafir sampai keheranan menatap gadis di sebelahnya itu. Seolah meminta penjelasan yang lebih.


Namun, Fely masih bungkam. Ia masih belum berniat menceritakan kehidupannya.


Seorang wanita keluar dari dalam rumah, rupanya dia penasaran dengan suara deru mobil yang masuk ke rumahnya.


Saat tahu yang datang putrinya bersama seorang pemuda ganteng bermobil sport membuat wanita tersebut tersenyum bahagia.


"Siang Ma!" Sapa Fely kepada mamanya.


"Kamu lama sekali gak pulang-pulang?" tanya Mama Fely penuh perhatian.


"Fely sibuk," jawab Fely sopan.


"Oh ya Ma, kenalin ini Zafir!" Fely memperkenal Zafir kepada sang Mama.


Zafir menjabat tangan Mama Fely. Namun, tidak sampai mencium tangan. Karena Fely tidak melakukannya.


Bahkan tidak ada kehangatan seorang ibu dan anak saat mereka berinteraksi.


"Masuk!" ajak Mama kepada putrinya dan Zafir.


Keduanya menyusul langkah Mama Fely masuk ke dalam.


"Duduk!" ucap Mama.


Fely masuk ke dalam, sedangkan mama menemani Zafir di ruang tamu.


Tak lama kemudian Fely keluar membawa minuman untuk Zafir.


"Makasi yaa...!" ucap Zafir sambil tersenyum.


"Sama-sama," jawab Fely sambil duduk di sebelah mamanya.


"Kalian sudah lama kenal?" tanya Mama menatap Fely dan Zafir bergantian.


"Kita teman sekelas,Tante." Zafir menatap Mama Fely dengan santun.


"Oowwh..." jawab Mama senang.


"Zafir udah kerja?" tanya Mama Fely menatap kepo ke arah pemuda yang membersamai putrinya itu.


Bahkan ia menangkap ada gurat kebahagiaan di mata Fely.


"Udah sih, Tan. Tapi hanya kacung doang," rendah Zafir.


Mama Fely menatap Zafir tidak percaya.

__ADS_1


"Mana ada kacung bawa mobil sport dan seganteng ini?" batin Mama Fely.


"Memang kerja dimana?" Mama Fely masih berusaha mengontrol emosinya.


"Saya cuma cleaning service dan sopir di Double Yu grup," pemuda itu menyebut nama perusahaan Buyanya.


Mama Fely masih menatap tidak percaya ke arah Zafir.


"Terus hubungan kalian sudah sejauh mana?" lanjut mama.


"Mama!" seru Fely tersipu.


"Lhoo Mama benar dong nanyain kejelasan hubungan putrinya yang diantar seorang laki-laki," ucap Mama menatap Zafir.


"Tante gak salah. Saya berniat serius dengan Fely," ujar Zafir percaya diri.


Mama Fely tampak tersenyum bahagia. Di otak wanita itu sudah tersimpan banyak rencana. Apalagi melihat penampilan dan bawaan Zafir yang membuatnya terpesona sejak awal.


Wanita itu seolah percaya bahwa yang dikatakan Zafir hoax, ia memiliki feeling yang mengatakan teman lelaki anaknya itu sebetulnya orang kaya.


Mana ada sopir memakai baju, arloji, sampai sepatu bermerk.


byuuh sepertinya mama Fely benar-benar jeli.


"Apa kalian akan segera menikah?" tanya Mama.


"Insya Allah, Tante." Mimik Mama Fely tiba-tiba berubah mendengar ucapan Zafir.


"Kamu muslim?" tanya Mama.


Zafir mengangguk.


Mama Fely beralih menatap ke arah putrinya. Seolah meminta penjelasan atas semuanya.


"Tante, saya ke sini karena serius dengan Fely. Dan berniat melamarnya," tandas Zafir mengalihkan pandangan keji sang mama.


"Apa kamu sudah tahu siapa Fely?" kepo Mama.


"Saya tahu," jawab Zafir pendek.


"Tapi saya harap kalian seiman kelak," balas Mama Fely.


"Kami sudah sepakat, Tante...."


Ting.


Satu pesan masuk di gawai Zafir. Pemuda itu melirik sekilas pengirimnya.


"Fely?" gumam Zafir lirih tanpa terdengar siapapun.


"Sebentar, Tante." Zafir memohon izin membaca pesan yang masuk di gawainya.


Mama Fely mengangguk memberi kesempatan ada Zafir untuk membalas pesan.


"Fir, jangan cerita ke mama kalo aku sudah ikut papa," tulis Fely.


"Okay," balas Zafir berusaha menghargai privacy Fely.


"Biar aku sendiri yang mengatakannya," tulis Fely kembali.


"Iya," balas singkat Zafir.


Pemuda itu segera memasukkan kembali gawainya ke kantong.


"Iya, Tante." Zafir kembali fokus kepada Mama Fely.


"Mama ingin kalian menikah seiman kelak," ulang Mama Fely.


"Kita..."


Fely memberi isyarat agar Zafir menggangguk, untuk menjawab pertanyaan mamanya.


"Iya.. Tan," akhirnya Zafir menurut ucapan Fely.


Zafir merasa begitu berat dan nelangsa melihat tatapan sendu milik Fely.


"Baguslah!" jawab Mama.


"Nanti kita bisa aturkan untuk pemberkatan dan pembaptisanmu!" tutur Mama Fely membeberkan rencananya.

__ADS_1


Jantung dan hati Zafir seolah mencelos kemana-mana.


"Astaghfirulloh. Ya Allah. Kuatkan Fely," batinnnya.


"Tante, Zafir mohon maaf nih." sela Zafir.


"Kenapa?" Mama Fely sedikit cemas khawatur rencananya gagal.


"Zafir juga akan menikahi Fely secara sah di masjid," ungkap Zafir.


Mama Fely sedikit kaget mendengar keberanian pemud di hadapannya itu.


"Apa kamu yakin? Kalo Tante tidak merestuinya bagaimana?" Mama Fely berlagak sedikit tegas.


"Saya batalkan pernikahannya," jawab Zafir lebih tegas.


Mendengar jawaban Zafir, Mama Fely sedikit gentar.


Wanita itu seolah berpikir sesuatu. Ia tidak ingin melepas apa yang ada dihadapannya.


"Oh, ya Tan. Saya ingin ketemu papanya Fely?" sahut Zafir.


"Buat apa?" Selidik Mama Fely dengan nada ketus.


"Sebagai wali kelak jika kami menikah, tentunya," jawab Zafir tenang.


"Papanya Fely dimana saat ini, saya tidak tau." Mama Fely mengalihkan pandangannya.


"Lhooo... ada tamu?" seseorang masuk dari luar.


"Mas, sudah pulang." Mama Fely berdiri menyambut seorang laki-laki berusia empat puluhan.


"Siapa dia?" tanya Zafir kepada Fely yang pindah lebih dekat dengan Zafir.


"Papi tiri aku," jawab Fely lirih.


"Fir, ayo kita pamit sekarang! Perasaanku gak enak," ajak Fely sembari berdiri.


Zafir mengikuti Fely berdiri.


"Kalian mau kemana?" tanya Mama Fely.


"Maaf tante, kami mau pamit dulu. Lain waktu saya akan kembali ke sini bersama keluarga saya. Setelah menemukan keberadaan Papa Fely," jawab Zafir.


"Siapa dia, Ma?" tanya pria yang dipanggil Papi oleh Fely tadi.


"Dia pacarnya, Fely." ucap Mama Fely.


"Bukan mama, kami tidak pacaran," sanggah Fely.


"Gak pacaran tapi semobil berdua. Sama aja itu, Fel!" hardik Mama.


"Nggak samalah, Ma!" bantah Fely lagi.


"Udah berhenti kalian! saya pusing ndengernya. Saya Samuel, papinya Fely." Samuel mengulurkan tangannya.


"Zafir," Zafir membalas uluran tangan Samual.


" Fely sekarang anak saya. Jadi, semua yang berhubungan dengan Fely harus lewat saya." Samuel tersenyum penuh kemenangan menatap Zafir.


"Kalau urusan menikah, apa Om Sam juga kelak yang akan menjadi wali nikahnya?" tanya Zafir dengan berani.


Wajah Samuel mendadak berubah merah padam.


"Apa maksud kamu?" ucap lelaki itu sedikit keras seolah lepas kontrol emosi.


"Saya berniat menikahi Fely dan tadi hanya bertanya pada Tante tentang Papa kandung, Fely." Zafir menatap Mama Fekt dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.


***


Gaesss... mohon maaf yaaaa... lamaa.. nunggunya.


Aku tahu nunggu itu berat.


So makasi yaa yang udah nunguin.


makanya tetep kasi aku like, komentar dan vote kalian.


Aku tungguin yaaa..

__ADS_1


Makasiii so much....


__ADS_2