TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Takjub bin Kagum


__ADS_3

Devan dan Alif masih menatap tak percaya kepada Zafira, gadis berkerudung putih yang tengah minum air putih dengan rakusnya itu berhasil membuat Roy dan anak buah menyerah dan bertekuk tanpa syarat padanya.


Dengan rasa takjub dan kagum keduanya sampai tak melepas sedikitpun pandangannya dari Zafira sejak pertempuran melawan Roy tadi berakhir dengan seru.


Seorang Roy yang terkenal dengan sikap arogan, anti kompromi dan tak takut lawan.


Kenapa harus menyerah tanpa syarat kepada Zafira yang hanya gadis biasa.


Apa karena dia tak berdaya di tangan Zafira? Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sedangkan bagi Zafira dengan menghabiskan minum seakan menemukan oase di tengah padang pasir.


Tenggorokannya benar-benar kekeringan. Dan ia benar-benar kehausan.


Setelah berhasil menaklukkan si Roy dan anak buahnya. Mereka duduk melingar di sebuah warkop tapi lebih mirip cafe.


Suasananya tenang dan memiliki banyak meja. Tidak ada desain ruangan khusus hanya meja dan kursi yang di tata dengan rapi. Di dinding terpampang menu yang dijual.


Beberapa minuman mereka pesan dengan porsi jumbo.


Dan semua jenis minuman itu habis dalam sekali duduk. Terutama Zafira.


"Fir, elo haus ato emang doyan?" Tanya Devan keheranan.


"Keduanya kayaknya, Kak!" Jawab Zafira.


"Biasanya ada Wanda yang nyiapin makanan ato minuman kita kalo selese tarung kayak gini. Sayang banget dia udah pulang bareng Renata," Omel Zafira.


Devan dan Alif kembali terbengong dengan persahabatan mereka.


"Zafran mah, Renatanya di eman-eman" Celetuk Darren.


"Hmm.. " Suara Zafran sedikit tidak terima Renata dibawa arus pembicaraan.


"Sejak bayi mana bole Renata terluka sedikit saja!" Seru Malik.


"Dan payahnya lagi, aku dulu paling sering kena bogeman Zafran," Cerita Malik sambil terkekeh mengenang masa kecil mereka.


"Belum lagi kalo godain, Zafira. Aku langsung kena bully dua cowok." Sambung Malik.


"Sekarang masih mau, gak?" Tatap Zafran dengan tajam ke arah Malik.


"Kayak gak ada kerjaan aja, ngegodain Renata." Ledek Malik.


"Tapi kalo Zafira beda lagi ce..."


"Maliik..." Seru Zafir.


Auto ngakak tuh para cowok si lingkaran meja warkop


"Sebenarnya kalian itu berteman sejak kapan sih?" Celetuk Alif yang sedari tadi menyimak.


"Sejak Balita," Jawab Darren sambil tertawa ringan.


Alif dan Devan menatap triple dengan kagum dan heran.


"Gak bosen gitu?" Tanya Devan


"Enggak, palingan kalo bosen yaa kita diem aja di rumah. Ntar kan nyokap-nyokap kita yang ngomel-ngomel ngabsenin anaknya satu-satu." Jawab Zafir dengan santainya sambil mengacak-acak isi tasnya.


"Haa..?" Devan masih keheranan.

__ADS_1


"Yaiyalah, jadi nyokap kita itu nyokap bersama. Mereka pada ngomel kalo ada yang absen gak nongol." Lanjut Malik.


Devan dan Alif masih terbengong menanggapi cerita Malik dan Zafir.


"Nyari apa?" Tanya Darren.


"Hape." Jawab Zafir.


"Eh. iya ini kan udah lewat jam pulang. Pasti hape kita bunyi terus." Zafira ikut panik mengacak isi tasnya.


Setelah zafir dan Zafira ketiganya melakukan aksi yang sama. Mencari gawai masing-masing


Setelah ketemu, mereka saling menatap.


"Dua puluh panggilan tak terjawab," Jawab kelimanya kompak.


"Unclee.." Seru Julian menyebut satu nama yang ia rindukan.


"Uncle Iyan telpon kalian gak?" Tanya Zafira cemas.


"Ada satu panggilan doang." Jawab empat cowok sahabatnya.


"Bentar, aku telpon balik dia!" Zafira menekan icon telepon dan menghubungi laki-laki itu.


Devan dan Alif menatap Zafira yang berusaha menghubungi calon suaminya dengan penuh rasa cemburu.


Dada keduanya sudah naik turun tak beraturan. Hati mereka serasa di bakar api yang tidak bikin hangus tapi panas.


Setelah berbincang sejenak. Zafira menutup panggilannya.


"Fir, Fran kita ambil mobil kemana?" Tanya Zafira mengingatkan dua saudaranya kalau kendaraannya mereka tadi dibawa Wanda dan Renata.


"Terus kita ke sana naek apa?" Tanya Zafira menatap saudaranya itu.


"Ada Darren," Jawab Zafran menunjuk Darren dengan Dagunya.


"Dengan kalian bertiga plus Alif?" Tanya Darren.


"Iyalah dan iya dong!" Jawab Zafir.


"Aku siap ngantar Zafira!" Malik angkat tangan.


"Bukan muhrim!" Jawab Zafira cepat.


"Huuu.. , kamu tuh kenapa sih paling pinter kalo di suruh nolak?" Moncong Malik maju beberapa centi.


"Sejak kecil, aku paling seneng nolak dirimu Lik!" Ledek Zafira terkekeh senang apalagi dengan muka sok imut Malik.


Andai saja mereka masih usia balita pasti Malik udah jadi mainannya.


Sayangnya kali ini mereka berada di fase remaja menuju dewasa dimana kata muhrim menjadi pembatas mereka. Walaupun persahabatan tetap mereka pertahankan.


"Zafiraa...!" Panggil sebuah suara.


"Uncle.." Balas Zafira begitu tahu Julian menjemputnya.


Senyum masam tercetak reflek dari Alif, Devan dan Malik.


"Pasti habis tempur lagi?" Tebak Julian menatap Zafira dengan wajah datar.


Zafira hanya terkikik mendengarnya.

__ADS_1


"Kok Uncle tahu sih?" Tanya Darren penasaran.


"Keliatan dari wajah kalian!" Jawan Julian.


"Umma, Mami sama Bunda kalian udah sibuk nelponin kalian." Seru Julian


"Mau pulang atau masih mau di sini?" Tanya Julian menatap sahabat-sahabat Zafira.


"Pulanglah!" Jawab Malik dengan wajah sepet.


"Gak usah pasang tampang sok ketus, bilang aja kamu jeles," Ledek Julian yang sebetulnya tahu kalau Malik juga diam-diam naksir gadisnya.


Malik kembali menatap Julian dengan wajah sepet, tapi hanya ditanggapi tawa renyah oleh pria itu.


"Zafira, bareng uncle aja!" Ajak Julian mengakhiri debatnya dengan Malik.


"Sekalian tuh, Zafir sama Zafran Uncle!" Celetuk Darren.


"Lha mobil kalian kemana?" Julian menatap Zafir dan Zafran.


"Dibawa Wanda sama Renata, mereka berdua di suruh jauh-jauh," Jawab Darren.


"Ooh.. ya udah. Ayoo..!" Julian ber OO tanda mengerti.


"Bye Malik.. Bye Dareen. by Alif by Kak Devan!" Zafira pamit.


Julian bersitatap dengan Alif dan Devan. Julian yang sedianya akan tersenyum kepada keduanya malah di suguhi tatapan aneh dari kedua cowok teman Zafira yang belum ia kenal.


"Oya Uncle itu Alif yang Fira ceritain waktu itu!" Zafira mengenalkan Alif pads Julian.


"Terus yang sebelahnya itu Kak Devan tadi sama kawan-kawannya juga tapi mereka pada pulang." Lanjut Zafira.


Julian menyalami keduanya bergantian. Dan dengan terpaksa keduanya membalas uluran tangan Julian.


Julian tersenyum gelu melihatnya, "Terima kasih, ya."


"Uncle.. mendekati hari H jangan sering-sering ketemu. Pamali kata orang Sunda. Gak ilok kata orang Jawa. Zafiranya di pingit aja." Seru Darren tiba-tiba sebelum Julian jauh darinya.


"Masih ada gitu, acara begituan?" Tanya Julian penasaran.


"Ya adalah Uncle!" Jawab Darren.


"Ntar Zafira Uncle pingit di kamarnya Uncle boleh yaa?" Julian mengedipkan satu matanya ke Darren.


"Hii.. Uncle jijay!" Maki Darren.


"Lagian kamu.. pake nyuruh mingit segala. Ntar aja Zafira Uncle pingit setelah akad nikah. Gak Uncle izinin ketemu kalian tujuh hari tujuh malam!"


"Itu siih akal-akalan Uncle aja biar mau malam pertama terusan sama Zafira!" Komen Darren sambil manyun.


Ada yang tambah cenat cenut neee, bener-bener Darren gak peka.


💗💗💗💗💗


Pengen apa hayooo...


Maaf yaa kalo suka telat karena berpacu dengan banyak tugas...


Maafin daku yaa temans


Pliss.. like komen Vote

__ADS_1


__ADS_2