TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Triple (3)


__ADS_3

Julian dan Zafira duduk tenang di warung Bu Sri. Mereka menunggu menu pesanan. Setelah jatah sarapan diambil alih Zafir dan Zafran.


Saudara kembar Zafira yang menyebalkan itu menghabiskan dua porsi sekaligus. Membuat Mommy, Daddy, Julian dan Zafira gedeg-gedeg.


"Perasaan uncle dulu mondok gak lebay kayak sodara-sodara kamu itu deh." Omel Julian meskipun ia sudah ikhlas jatahnya berpindah tangan.


"Emang mereka berdua itu keterlaluan kok, Uncle." Zafira ikut terbawa suasana.


"Sodara kamu lagi masa pertumbuhan kali."


"Enggak. Mereka lagi kemaruk."


Julian hanya ngakak.


"Dimakan dulu, Fir!" Ajak Julian begitu Bu Sri mengangsur piring berisi menu mereka.


"Makasi Bu Sri."


"Sama-sama, Ning. Ning Fira kok tambah cantik ya pulang dari pondok?" Cicit Bu Sri begitu menilik wajah Zafira.


"Cantik darimana, Bu?" Sanggah Julian.


"Ih, Mas Julian aja yang gak peka. Coba lihat bodinya Ning Fira. Matanya, hidungnya, kulitnya." Puji Bu Sri.


"Udah Bu, jangan dipuji terus tambah gede tuh kepalanya nanti." Bantah Julian.


Bu Sri hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Ibu tinggal bikinan pesanan pelanggan lain ya Mas, Ning." Pamit Bu Sri.


"Iya Bu." Jawab Zafira lalu beralih kearah Julian dengan mata melotot.


"Hm...ternyata Bu Sri benar tuh. Kamu tambah cantik. Apalagi pas melotot. Kayak Cleopatra." Goda Julian.


Zafira mengalihkan pandangannya, tak ada niat merespon ucapan unclenya itu. Gadis itu segera menikmati sarapannya.


Julian yang duduk di sebelah Zafira sesekali melirik gadis itu ketika menyuapkan nasi ke mulutnya.


Memandang wajah ayu Zafira yang seakan tak pernah bosan dipandang.


Dalam hati ia membenarkan semua ucapan Bu Sri. Bahkan sejak sebulan Zafirah mondok, Julian sudah merasa ada yang berbeda dari Zafira.


Namun ia tak pernah berani mengungkap rahasia hatinya secara jujur. Dalam hati ia memiliki ketakutan tersendiri.


Ketakutan jika ia menyadari ada perasaan dan ketertarikan lain sebagai pria. Karena itu ia masih memilih untuk menjaga perasaan. Pemuda itu berusaha menyelami apa yang ia rasakan. Agar tak salah langkah jika semua yang ia rasakan benar adanya.


💗💗💗💗💗💗


Satu jam setelah sarapan, Zafran memilih masuk ke kamarnya. Setelah membereskan semua peralatan yang digunakan sarapan.


Pekerjaan tersebut ia lakukan karena Zafir sudah menyiapkan teh dan kopi sedangkan Zafira membelikan sarapan bersama Julian.


Dan hanya dirinya yang bangun kesiangan. Sehingga urusan finishing, yaitu membereskan peralatan makan yang selesai digunakan lalu mencuci piring, gelas dan sendok kotor ia kerjakan.


Begitu aturan yang berlaku di rumahnya.


Begitu masuk kamar, Zafran langsung mengecek gawainya.


Tak ada notif apapun dari satu nama yang ia jaga sejak balita. Renata.


Yang full malah grup chat komplotannya.


Zafran membuka satu persatu pesan tersebut. Isinya sejam lagi mereka datang.


Zafran yang memang masih mengantuk berat tidak mempedulikan tang ting tung bunyi pesan yang masuk.


Ia memilih merebahkan tubuhnya ke kasur. Menunggu saat adzan dhuhur. Karena ia sudah janji akan segera melakukan VC dengan Renata.


(Malangnya dikau. Harus LDR)


💗💗💗💗💗💗


Zafir sudah berdandan abis-abisan. Celana hitam berbahan nylon dengan atasan kaos putih dan outfit denim.


Sneaker putih menambah porsi kegantengan remaja itu diatas rata-rata.


Seorang ABG yang terkenal pendiam itu ternyata memiliki selera fashion yang lumayan tinggi juga.


Sangat berbanding terbalik saat berada di pondok.

__ADS_1


Saat di pondok, Zafir lebih memilih menggunakan sarung untuk beraktifitas sehari-hari. Celana hanya ia pakai saat situasi formal saja.


Bahkan saat madrasah diniyah ia lebih memilih sarung daripada celana. Berbanding terbalik dengan Zafran.


Zafran lebih memilih celana saat beraktifitas apapun, kecuali sholat dan di dalam area pesantren.


Zafir memperhatikan penampilannya di depan cermin. Ia menyisir sebentar rambutnya.


Setelah dirasa cukup rapi, Zafirpun keluar kamar.


"Uncle, Zafir keluar bentar ya?" Pamit Zafir kepada Julian.


"Sebentar itu berapa jam?" Tanya Julian balik.


"Paling nanti balik sebelum isya'." Jawab Zafir.


"Itu sih gak sebentar." Julian menepuk bahu Zafir.


Zafir hanya terkekeh sebentar.


"Pergi sama siapa?" Tanya Julian lagi.


"Thifa." Julian membelalakkan mata.


"Sejak kapan Kak Doni ngizinin kamu bawa Thifa."


"Sejak dulu kala. Udah ah, Zafir pergi dulu ya.."


"He.. sama sapa aja?"


"Berdua doaang."


"Kemana"


"Timezone."


"Fir, anak orang jangan di apa-apain!" Teriak Julian.


" Zafir mau kemana, Uncle?" Tanya Zafira seraya mendekat ke arah Julian.


"Main sama Thifa ke time zone." Jawab Julian santuy.


"Lhoo terus, uncle harus apa?"


"Larang kek ato apa gitu?" Sergah Zafira.


"Zafir udah gede kalee, Fir. Masa uncle larang." Jawab Julian.


"Tapi mereka cuma pergi berduaan Uncle."


"Emang kemarin-kemarin Zafira sama Uncle gak berduaan tuh?" Julian mengusap lembut kepala Zafira.


Rambut hitam sepinggangnya tergerai begitu saja. Tidak ada kerudung yang menutupinya.


"Pakai dulu kerudungnya!" Titah Julian.


"Gerah, Uncle." Bantah Zafira.


"Ya berdua. Tapi kan Zafir sama Thifa...."


"Udah biarin aja. Zafir gak bakalan aneh-aneh sama anak kecil." Potong Julian.


"Huu.. uncle gak kuatir gitu."


"Gak. Uncle malah kuatir kalo kamu yang pergi."


"Kok curang?"


"Curang darimananya?"


"Itu.. kalo Zafir gak kuatir kalo Zafira kuatir."


"Kecuali kalo perginya sama uncle, Zafir atau Zafran gak akan kuatir."


"Huuu..." Zafira merengut lalu berbalik arah.


Julian hanya tertawa lebar melihat tingkah Zafira.


Zafira yang sudah jalan beberapa langkah, tiba-tiba berhenti dan kembali berbalik ke arah Julian.

__ADS_1


"Uncle.. anterin Zafira dong!" Pinta Zafira dengan senyum dan suara manja.


Julian seketika menoleh ke arah gadis itu, menatap wajah ayunya. Bukan terpesona tapi menyelidik apa ada prank di balik senyumnya itu.


"Kemana?" Jawab Julian setelah mendapati senyum tulus Zafira.


"Ke salon."


"Aduuh..!" Julian tepuk jidat.


💗💗💗💗💗💗


Setelah sholat dhuhur Zafran bersiap dengan ponselnya.


Cowok ganteng itu meletakkan tripod kecil di meja belajarnya. Lalu mendial satu nama. Beberapa detik kemudian satu wajah bule nampak muncul di monitornya seraya mengucapkan salam.


"Fran, aku mau bikin sarapan." Ucap wajah yang di monitor.


Zafran hanya mengkode dengan jempolnya.


"Lakukan. Tapi monitornya jangan dimatiin yaaa...!" Pinta Zafran.


"Okay..."


"Ren..., lagi ngobrol sama siapa?" Seorang perempuan menegur putrinya.


"Tuuh...!" Gadis itu menunjuk wajah cowok yang meringis menatap monitor.


"Astaghfirulloh. Zafran..!" Pekik sang mama.


"Mama, apa kabar?" Sapa Zafran.


"Baik. Main ke sini!" Seru Mama Renata.


"Umma dan Buya lagi Jerman, Ma. Rumah kosong. Cuma ada Uncle Iyan aja. Jadi, kita jaga rumah deh."


"Wah.., kayak satpam dong." Ledek Mama Renata sambil tertawa.


"Ya begitu deh, Ma."


"Bentar yaa.. Renata lagi bikin sarapan. Bentar lagi selese."


Zafran mengangguk.


"Ma, Renata diajak ke Indonesia dong!" Rengek Zafran.


"Papi Carlos lagi sibuk-sibuknya, sayang. Kasiyan kalo ditinggal mama dan Renata. Di sini kita tidak ada asisten rumah tangga."


Zafran mendesah pelan. Kecewa. Iya. Tapi sedikit. Karena Zafran sering kecewa karena gagal mengunjungi Renata.


Entah sudah berapa kali rencananya untuk ke Spanyol selalu gagal.


Saat awal-awal Masuk SD, mereka sudah nerencana ke Spanyol tapi Umma punya dedek Al. Akhirnya gak jadi liburan ke Spanyolnya.


Setelah dedek Al, besar Umma hamil lagi. Gagal lagi.


"Kenapa?" Suara Renata membuyarkan lamunannya.


"Pengen main ke sana." Jawab Zafran.


Renata hanya tersenyum.


Zafran menunduk, tak ada keberanian menatap wajah cantik itu saat tersenyum. Takut hatinya nyangkut terlalu dalam di sana.


"Fran, mondok yang bener. Nyari ilmu yang banyak. Ntar kalo kita ketemu, tugasnya Zafran ngajari Renata ya!" Ucap suara di monitor.


Zafran mengangnat wajahnya dan mengangguk.


"Iya... Renata cepat balik ke sini kalo Zafran yang ke sana masih lama. Zafran harus punya duit dulu yang banyak baru bisa jemput Renata."


Renata kembali tersenyum. Dan Zafran kembali menunduk.


"Renata belum tahu, Fran. Seperti apa nanti. Kalo Renata, mama dan papi ndak bisa balik. Renata tungguin Zafran jemput Renata, ya."


💗💗💗💗💗💗


Bentar yaa..


Next up again..

__ADS_1


__ADS_2