TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Menyelamatkan


__ADS_3

Zafir masuk ke tribun dengan perasan tak menentu, setelah kejutekan Fely tadi.


"Lik, emang aku nyebelin gitu?" tanya Zafir menatap Malik setelah menunaikan ibadah.


"Kadang," jawab Malik ambigu.


"Maksud kamu, kadang itu gimana?" tanya Zafir.


"Beneran gak marah?" Malik menatap intens wajah Zafir yang sudah ganteng sejak lahir, apalagi kalo pakai peci putih begini auranya seperti aura seorang ustadz bukan aura bonek.


"Wkwkwkkk..." Malik tertawa dalam hati. Khawatir sahabatnya makin besar kepala aja.


"Serius, aku gak marah kok." Zafir menatap Malik yang melipat sajadahnya.


"Kamu tuh orangnya serius banget. Orang yang pertama kali kenal sama kamu pasti beranggapan kamu gak bisa diajak bercanda. Pendiem dan fokus pada tujuan," jawab Malik.


"Padahal kamu tuh orangnya terbuka dan bisa diajak kompromi. Hanya saja cara kamu berbicara aja yang bikin mereka suka segan."


"Makanya sesekali nikmatin hidup, Zafran aja udah nikah. Zafira udah nemuin pasangannya. Kamu kapan?" ledek Malik.


"Gak usah ngeledek. Kamu sendiri aja masih jomblo!" balas Zafir.


Malik tertawa sarkas mendengar ledekan Zafir, yang ia ucapkan datar tanpa intonasi jenaka.


"Udah ah, Fir! Apapun jenismu kamu tetap sahabat aku! Yuuk ah naik! Bentar lagi main!" Malik menarik tangan Zafir keluar ruangan Cak Hasan.


"Cak, suwun!" ucap Malik dan Zafir barengan.


Cak Hasan hanya menanggapi dengan jempolnya.


💗💗💗


"Fir, itulan gadis yang tadi kamu sapa?" tunjuk Malik ke Fely yang duduk di tribun bawah.


"Fely maksud kamu?" Zafir mengamati petunjuk tangan Malik


"Yaa... gak tau siapa namanya?" jawab Malik.


"Sepertinya ia datang bersama teman-teman ceweknya," ujar Zafir menatap Fely yang duduk bersama lima cewek berjajar dengan sesekaki tertawa dan ikut berteriak memekikkan nama pemain kesayangannya atau merasa kecewa saat operan bolanya tidak tepat sasaran.


Euforia di lapangan memang berbeda dengsn menonton dari rumah atau nobar.


Zafir dan Malik sering mengalaminya sendiri. Namun mereka selalu memilih menonton persebaya saat bermain di kandang sendiri. Daripada ketika main di kota lain.


Saat persebaya tanding di kota lain mereka menonton di rumah atau nobar di base camp bonek dan persebaya yang ia tahu.


Zafir masih fokus menyaksikan Hansamu Yama dan kawan-kawannya. Sedangkan Malik ia merasa kepo dengam sekitarnya yang mulai riuh.


Skor persebaya sudah 2-0 lebih unggul dari Arema.


Permainan masih berlangsung di babak kedua.


"Fir.. Zafir!" panggil Malik.

__ADS_1


"Kenapa?" Zafir menoleh ke arah Malik.


"Kayaknya ada yang gak beres," bisik Malik.


"Kamu denger sesuatu gak di luar?"sambung Malik semakin menajamkan pendengarannya.


Zafir yang penasaran mengalihkan fokusnya ke indra pendengarannya. Tapi karena Zafir kurang peka di indra tersebut, membuatnya menggeleng.


"Haduuh Zafir! Lebih baik kita ngumpet bentar deh! karena kalo kabur kayaknya juga tidak bisa!"


"Maksud kamu apaan sih, Lik?" Zafir menatap Malik dengan bingungnya.


"Auk aah.. terserah kamu! Aku mau ngumpet di ruangannya Cak Hasan. Ntar kalo ada apa-apa susulin aku di sana!" ucap Malik menyingkir dari tribun.


Zafir yang tidak peka membiarkan Malik ke ruangan Cak Hasan sendiri. Dan dirinya asyik menikmati operan bola pemain asuhan Aji Santoso itu dengan nyamannya.


💗💗💗💗


Pertandingan hampir usai, wasit akan meniup peluitnya sebagai akhir pertandingan yang akan dimenangkan tim bajul ijo dengan skor 2-1.


Zafir mendengar ada dentuman keras di belakangnya bersamaan dengan peluit akhir permainan.


Tiba-tiba ia teringat Malik. Dengan tergesa, Zafir berdiri bergegas mencari keberadaan Malik.


Namun pandangannya tertuju pada Fely yang sama panik dengan dirinya. Gadis itu tergencet penonton laki-laki yang tubuhnya lebih besar. Sedangkan teman-temannya yang tadi entah kemana.


Dengan kekuatan super, Zafir menyusup ke sela-sela penonton menangkap tubuh gadis itu. Mendekap, melindunginya dari pria-pria bertubuh besar lainnya yang bergerak keluar karena suara dentuman tadi.


Fely sendiri saking takutnya dengan situasi GBT yang memanas hanya bisa diam saat Zafir menyelamatkan tubuhnya yang hampir terinjak oleh penonton yang berdesakan keluar.


Bahkan saat Zafir membawanya menjauh daei area GBT dengan motor sportnya, Fely masih bergeming. Otaknya masih belum bisa berpikir jernih.


Tiba-tiba Zafir menghentikan motornya.


"Kenapa, Fir?" suara Fely terdengar parau, gadis itu masih terlihat ketakutan dengan peristiwa yang baru ia alami.


"Teman gue ketinggalan di GBT!" seru Zafir.


"What? Terus kita mau balik jemput dia?" panik Fely.


"Enggak, dia bawa motor sendiri. Biar aku telpin saja!" Zafir mencari kontak Malik dengan mentap icon telpon hijau di monitornya.


"Lik, kamu balik sendiri ya! Aku udah nyampe Banyu Urip ini." Zafir terkikik menjelaskan posisinya.


Dari seberang terdengar suara Malik memaki-maki Zafir tanpa peduli sahabatnya itu terima atau tidak. Namun biasanya jika Zafir merasa bersalah ia akan diam dan meminta maaf.


"Iya... Iya... Aku yang salah ngelupain sahabat sendiri. Sampai ketemu besok di rumahku yaa...! Bye," Zafir menutup panggilannya.


"Ayo! Kita pulang!"


Tanpa menanyakan dimana tinggal Fely, Zafira melajukan motornya.


"Turun!" titah Zafir begitu sampai di depan rumahnya.

__ADS_1


"Rumah siapa ini, Fir?" Fely mengamati rumah dimana Zafir berhenti.


"Rumahku lah! Ayo masuk!" Zafir mengajak Fely masuk.


"Assalamualaikum!" Zafir langsung masuk begitu saja.


Pemuda itu melirik arlojinya, 18.37.


"Umma sama Buya pasti ke masjid," gumamnya dalam hati.


"Bu Erna, minta tolong buatkan minuman buat teman Zafir ya!" Zafir masuk ke kamarnya untuk salat maghrib.


Bu Erna mengiyakan saja.


Setelah salat, Zafir keluar ke ruang tamu. Pemuda itu hanya bis tertegun menatap Fely yang memejamkan matanya di sofa panjang ruang tamu.


Minuman hangat yang di siapkan Bu Erna masih utuh belum tersentuh.


Zafirpun duduk di sofa lain yang berhadapan dengan Fely. Tak ada niatan untuk membangunkan atau mengusik ketenangan teman sekelasnya itu.


Sambil menunggu Fely bangun dan azan isya, Zafir memainkan game di gawainya.


Ternyata azan isya mendahului bangunnya Fely bergegas pemud itu menunaikan ibadahnya.


Sampai selesai salat, belum ada tanda-tanda Fely terjaga. Tetapi pemud itu masih menjaganya dengan setia.


"Siapa dia, Fir?" tanya Umma begitu pulang dari masjid.


"Teman Zafir, Umma. Tadi ia kegencet-gencet gitu pas di tribun.


"Jadi kamu yang nyelametin dia terus bawa ke sini?" Umma menatap Zafir bimbang.


"Iya," jawab Zafir singkat.


"Apa orang tuanya gak nyari?" tanya Umma sembari duduk di sebelah Zafir menatap intens ke arah gadis yang menutup matanya itu.


"Tadinya setelah salat, mau Zafir antar pulang. Eh, anaknya malah tidur di situ!" jawab Zafir jujur.


"Ya sudah, nanti kalo sudah bangun ajak makan lalu antar pulang! Sepertinya dia kelelahan." Umma menatap Fely dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


💗💗💗💗


to be continue...


Aku udah up dua kali loo.. subuh-subuh gini 🙊😀😀😀


Menepati janji nee...


Terus kasi like, komen, vote dan share yaa di sosmed kalian.


Miss You


😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2