
Hani mengangkat kepalanya. Wajahnya masih sembab. Ditatapnya Julian.
Pemuda itu tersenyum dengan banyak makna tersirat.
Ada keraguan bergelayut di hatinya begitu tatapan keduanya bertemu.
"Maaf ya, Ning. Saya tidak bermaksud..."
"Terima kasih yaa.. Yan." Potong Hani membuat Julian melongo.
"Apa aku gak salah dengar ya?" Gumam Julian dalam hati.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih udah kasih support ke aku. Aku akan berusaha kembali, supaya Aba mengabulkan permintaanku tanpa mengabaikan perintahnya." Lanjut Hani senyumnya kembali mengembang.
Julian akhirnya bernapas lega.
💗💗💗💗💗
Julian masih sibuk dengan rutinitas pesantrennya.
Kita biarkan Julian belajar menjadi santri terbaik.
Kita tengok Si Triple yang udah nambah personil tapi bukan berarti mereka sering jalan bersama.
Hadi dan genknya sesekali bermain dengan triple. Begitupun sebaliknya.
Hubungan baik kedua genk itu sempat menggemparkan sekolah.
Bahkan para guru sempat heran dengan perubahan Hadi dan kawan-kawannya. Tapi tak berlangsung lama karena cerita dari mulut ke mulut membuat guru-guru berasumsi perubahan Hadi dan genknya tidak lepas dari campur tangan si kembar tiga.
Sore itu, Zafira baru saja selesai latihan karate . Dia bercengkerama dengan Kak Ussi. Sedangkan Zafir dan zafran asyik bermain dengan teman-teman cowoknya.
Mereka menunggu adzan maghrib. Karena matahari sudah hampir menampakkan sinar jingga kemerahannya.
Untuk pulang mereka segan. Karena Umma dan Buya pasti mengajak jama'ah ke masjid. Jadi daripada bolak balik mereka jagongan di masjid.
"Selamat sore..." Lagi asyik-asyiknya bermain dan bercanda seseorang menyapa.
Spontan anak-anak itu menoleh ke sumber suara begitupun Kak Ussi dan Kak Ryu.
"Lhoo.. Mas Hadi?" Seru Si Triple barengan.
"Apa saya bole gabung?" Suara Hadi nampak ragu.
Kak Ussi dan Kak Ryu yang melihat kedatangan tamu kecil itu segera menyambut.
"Bole, kemarilah!" Sahut Kak Ryu.
Hadi dan genknya yang merasa disambut baik merasa sedikit tersipu.
Ketiganya melangkah menuju tempat Kak Ryu dan Kak Ussi duduk. Di situ juga ada Zafira yang masih bingung dengan kedatangan Hadi.
Apalagi baik Zafira, Zafir maupun Zafran belum pernah menyebutkan alamat tinggalnya.
Zafir dan Zafran menghampiri ketiga kakak kelasnya itu.
"Mas, kok tau kita di sini?" Tanya Zafir sambil menepuk bahu Hadi.
"Lhoo kalian saling kenal?" Tanya Kak Ryu menatap ketiga kembar pemilik pesntren itu.
"Mereka kakak kelas kita, Kak." Sahut Zafran.
"Oowwhh.. baguslah kalo begitu." Sahut Kak Ussi.
"Bagus apanya, Kak?" Protes Zafira.
__ADS_1
"Bagus, kakak gak perlu tanya macam-macam." Jawab Kak Ussi sambik tergelak.
"Huu.. gak adil." Zafira masih memprotes.
Membuat Kak Ryu dan Kak Ussi tersenyum rekah.
"Aku masuk dulu ya..!" Sambung Zafira sambil berdiri.
"Fir, mau kemana?" Tanya Hadi sambil menatap ke arah gadis cilik itu.
"Masuk ke ruangannya Ustadzah Jihan." Sahut Zafira.
Ustadzah Jihan adalah pengganti Dinda. Setelah menikah ia memutuskan fokus membantu Vian. Jadi, Aqeela dan Desta meminta Jihan untuk menggantikan posisi Dinda.
"Disini saja." Pinta Hadi.
"Ngapain?"
"Yaa, Ngobrol."
Zafira duduk kembali, mengurungkan niatnya masuk ke kantor.
"Mas Hadi cuma main kan ke sini?" Tanya Zafir.
Hadi hanya mengangguk ragu. Tapi si triple belum bisa menangkap sinyal misteri Hadi.
"Mas, kok tau sih rumah kita di sini?" Kepo Zafran
"Kemarin, aku sempet buntuti kalian. Maaf ya.." Jawab Hadi.
Zafir dan Zafran tertawa lebar mendengarnya. Sedangkan Zafira berusaha menutup mulutnya karena suara tawanya yang keras.
"Kenapa? Memang lucu gitu?" Sahut Si Cungkring yang mereka tahu bernama Rio.
"Kayak detektif." Sambung Zafran.
"Kalian mau ngapain ke sini?" Tanya Zafran sedikit curiga.
"Mau ketemu kalianlah. Mau ngapain lagi coba?" Jawab Rio mewakili Hadi.
"Kita ato Zafira?" Goda Zafir.
"Yaa.. kalo bole."Jawab Hadi ngambang.
"Gak bole.." Sahut Zafran dengan wajah sangar.
"Tuuh, aku belum apa-apa Zafran udah galak gitu." Hadi mulai gentar.
"Makanya gak usah macem-macem." Sahut Zafran.
"Okay.. Okay.. aku serius nee." Tampang Hadi mulai serius.
"Kenapa?" Tanya Zafir.
Sedangkan Zafira, Kak Ussi dan Kak Ryu hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Kita sebenarnya mau minta tolong." Suara gembul sedikit ragu.
"Kenapa Mas Gio?" Sahut Zafran.
"Bang Iko, ketua preman terus maksa kita buat setor." Rio menambahkan suara begitu berat.
Kak Ussi dan Kak Ryu yang awalnya hanya menyimak ala kadarnya, mulai serius mendengarkan ucapan teman-teman kembar.
"Apa yang bisa kami bantu?" Tanya Zafran dengan serius.
__ADS_1
Zafir dan Zafira ikut menyimak dengan seksama.
"Fir, aku ingin lepas dari Bang Iko. Kita gak ingin selamanya di tindas terus." Kata Hadi memelas.
"Kita laporkan Bang Iko gimana?" Kak Ussi coba memberi solusi.
"Kita harus ada bukti, Si." Sahut Kak Ryu.
"Terus?" Hadi mulai putus asa.
"Kita pikirkan lagi."
"Fran, secepatnya. Karena aku juga ingin menyelamatkan adik-adik yang lain. Aku tidak ingin mereka bernasib seperti aku. Jadi tukang palak. Nanti gedenya jadi pencuri, perampok , begal atau sejenisnya." Hadi menatap serius ke arah Zafran.
Zafran jadi bingung mencari jalan keluarnya.
"Assalamu'alaikum.." Sapa seseorang.
"AyahKung..." Sahut Si triple barengan.
"Jawab salam AyahKung dulu."
"Wa'alaikum salam." Ralat ketiganya.
"Ada apa ini kok masih ngobrol di sini?" Tanya Ayah Syarief, kakek si triple.
"Hmm... itu ayahkung.." Zafran nampak ragu untuk mengatakan pada kakeknya.
"Ada apa, Nak?" Ulang Ayah dengan lembut sambil mengelus rambut cucunya itu.
Tatapannya bergantian memandangi cucu dan teman-temannya.
"Ini loo Ayahkung." Zafira dengan manjanya bergelayut di punggung kakeknya. Kedua lengannya melingkar memeluk leher kakeknya.
"Teman-temannya kita ini sering paksa nyetor uang ke ketua preman. Terus mereka sekarang udah gak mau setor uang, minta tolong deh ke kita." Zafira menjelaskan dengan gaya manjanya.
Auto Hadi dan genknya tertawa melihat tingkah Zafira yang menurut mereka konyol itu.
Zafir dan Zafran hanya membiarkan saudarinya itu menjelaskan dengan caranya. Zafira paling tahu cara menyampaikan suatu masalah tanpa membuat kakeknya itu marah.
"Ooh.. begitu. Sebaiknya nanti kita bicarakan dengan Buya dan Umma kalian. Nanti ayahkung bantu." Ucap Ayah.
"Sekarang bersiaplah sholat maghrib!" Titah sang Kakek.
"Ayahkung paling baik deh. Terima kasih." Balas Zafira sambil mencium kedua pipi kakeknya.
Ayah Syarief hanya tersenyum melihat ulah cucu perempuannya itu.
"Mas Hadi, Mas Rio, Mas Gio sholat dulu gih. Nanti kita ngobrol sama Umma dan Buya." Ajak Zafira.
"Buya dan Umma kalian, baik kan?" Hadi masih ragu-ragu untuk melanjutkan misinya.
"Mereka baik kok." Sahut Zafir
"Ndak usah kuatir. Mereka baik." Sambung Zafran.
"Iyaa.. gak usah khawatir. Umma dan Buya baik kok." Zafira ikut menyela.
Hadi dan kawan-kawwnnya nampak lega mendengar ucapan si triple.
Adzan maghrib sudah mulai berkumandang.
"Ayoo, sholat!" Ajak Zafir yang sudah berdiri menduhului yang lain.
💗💗💗💗💗
__ADS_1