TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Pesta


__ADS_3

Zafira turun dari tangga dengan elegan.


Make up tipis terpoles di wajahnya. Gaun warna abu-abu dengan aksesoris ikat pinggang tali di pinggang dipadu kain warna baby pink. Berbalut hijab warna peach.



Bibir Julian tak henti menatap kagum pada putri kembar tiga kakak angkatnya itu.


"Yan, kondisikan hati!" Bisik Desta melirik Julian yang tak berkedip menatap putri tertuanya.


Julian beralih menatap ke Desta.


"Ups sory. Kelepasan, Kak. Abis anak kakak yang ini cantiknya gak ketulungan pake banget pula." Bisik Julian agar tidak terdengar Aqeela ataupun Zafira.


"Uuh.. bilang aja kalo demen." Ledek Desta.


Julian menanggapi ucapan Desta dengan tertawa lebar.


"Belum saatnya." Gumamnya ke Desta yang hanya di cengiri oleh kakaknya itu.


"Kak, kita berangkat!" Pamit Julian kepada Aqeela dan Desta.


Zafira mencium tangan kedua orang tuanya. Tak luput kedua pipi Aqeela menjadi sasaran ciuman bertubi-tubi anak gadisnya itu.


"Udah cepet berangkat, biar gak terlalu malam pulangnya." Usir Aqeela.


"Astaghfirulloh. Berangkat saja belum ini sudah disuruh pulang." Oceh Julian.


"Ayo Fira kita berangkat!" Ajak Julian menjauh dari keduanya.


Zafira membuntuti. Julian dengan langkah lunglai.


Malam ini dengan setengah hati Zafira mendampingi Julian ke sebuah pesta yang diadakan salah satu relasi bisnisnya.


Saat berada di butik milik Tante Anya , salah satu relasi Julian tempo hari.


Ia dipaksa ikut pesta pada weekend pekan ini dengan ancaman akan menceritakan semua kenakalan komplotan triple kepada Umma dan Buya terkait pemanggilannya ke ruang BK tadi.


Oleh Tante Anya Zafira ditunjukkan ke gaun yang ia kenakan saat ini.


Tanpa menunggu persetujuan Zafira, Julian mengiyakan saja gaun tersebut.


Terkesan lebih remaja dibandingkan gaun lain milik Tante Anya yang rata-rata untuk wanita dewasa.


Sepulang dari butik.


"Pakai ini untuk weekend besok. Kamu ikut uncle ke acara relasi Uncle." Ucap Julian kala itu.


"Tapi Uncle?" Elak Zafira.


"Tidak ada penolakan Zafira, sayang. Atau kamu ingin Uncle ceritakan insiden ruang BK tadi siang ke Umma sama Buya kalian?" Ancam Julian serius.


"No.. No. Jangan Uncle. Pliss.. Zafira mohon keep untuk Uncle saja." Zafira mulai memelas.


"End...?"


"Okay, Zafira ikut!" Putus Zafira dengan berat hati.


"Pilihan yang tepat, girl. Okay kita pulang sekarang." Suara girang Julian setelah puas dengan jawaban Zafira.

__ADS_1


Dan kini ia sudah satu mobil dengan Julian.


Malam ini ia meminta salah satu sopir perusahaan mengantar ke lokasi pesta.


"Kenapa sih gak ngajak sekretaris Uncle aja?" Cetus Zafira saat di tengah perjalanan.


"Sekretarisku sudah berangkat dengan staff yang lain." Jawab Julian.


Zafira kembali terdiam, gadia itu menatap ke jalanan yang dihiasi banyak lampu kerlap kerlip.


Hening. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sampai halaman lobbi Julian turun dari pintu. samping.


Dengan cepat ia sudah di samping pintu jok sampingnya dan membukanya. Mendapat perlakuan manis dari Sang Uncle, Zafira sedikit tersipu.


Perlahan moodnya kembali membaik. Zafira berjalan di sebelah Julian dengan percaya diri.


Keduanya sampai di ballroom VVIP milik hotel tersebut. Dari kapasitasnya saja bisa dipastikan bahwa yang punya hajat bukanlah orang sembarangan.


Julian menggandeng masuk tangan Zafira.


"Maaf Fir, saat ini kamu harus aku perlakukan seperti ini!" Julian merasa was-was saat keduanya masuk dan menjadi pusat perhatian.


Apalagi mata lelaki hidung belang selalu ada di mana saja.


"It's okay." Bisik Zafira tak keberatan.


Bukanlah hal yang baru bagi Zafira.


Setelah bersalaman dengan Tuan Adijaya, sang empunya hajat. Julian kembali menyapa beberapa relasinya.


Ia sengaja tidak memperkenalkan Zafira, kecuali orang tersebut bertanya.


"Fira kenalkan ini, Pia sekretarisku." Zafira diperkenalkan dengan seorang wanita oleh Julian yang ia sebut sekretaris.


Zafira menatap wanita itu dengan tersenyum dan saling menyebutkan nama.


"Pia aku nitip Zafira sebentar ya? Aku ada perlu sebentar dengan Mr. Zaid. Kebetulan bisa bertemu di sini!" Pintq Julian kepada Pia.


"Bai. Pak." Jawab wanita itu sopan.


Sepeninggal Julian


"Sudah lama kenal dengan Pak Julian?" Tanya Pia seraya memindai penampilan gadia itu dari ujung rambut sampai kaki.


"Sudah." Jawab Zafira dengan tidak nyamana karena aksi terang-terangan Pia yang menginterogasinya.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Lanjut Pia.


"Maksud Mbak Pia?" Zafira pura-pura saja tidak tahu maksud Pia.


"Apa kalian sudah ke tahap yangl lebih serius. Menikah atau tunangan mungkin?" Pia memperjelas.


Pia masih menatap Zafira dengan ketus meski senyumnya terus mengembanga menyapa beberapa orang yang ia kenal.


Jadi benar-benar sangat tidak kentara.


"Menikah sebentar lagi. Bahkan bisa juga dalam beberapa minggu ini." Jawab Zafira asal karena ia ingin menutup mulut wanita itu.

__ADS_1


"Ooh.."


"Sebentar Mbak Pia. Fira haus. Mau ambil minum dulu." Pamit Zafira berniat meninggalkan Pia.


"Biar saya ambilkan saja. Nanti Pak Julian marah lagi sama saya. Karena membiarkan calon istrinya ambil minum sendiri." Pia mencoba tersenyum walau terasa masam di mata Zafira.


"Okay. Terima kasih Mbak Pia." Zafira mengiyakan saja permintaan sekretaris Unclenya itu.


Dalam tiga menit, Pia sudah kembali dengan dua buah gelas di tangan kanan dan kirinya.


"Ini, silahkan!" Pia menyerahkan satu gelas kepada Zafira dengan senyum smirk.


"Terima kasih." Ucap Zafira saat menerima gelas tersebut.


Zafira tanpa curiga menerima gelas berisi setengah air berwarna kemerahan mirip sirup strawberry yang dibuat Umma di rumah.


Namun hidungnya mencium sesuatu yang pada aroma sirup tersebut.


"Aneh banget sih? Kok baunya kayak..." Zafira mengendus sirup dalam gelasnya.


"Itu Mbak Pia sengaja atau bagaiman ya?" Zafira perlahan berjalan ke mendekat ke sebuah pot yang ditumbuhi tanaman hidup.


Zafira menuang seluruh isi gelasnya ke dalam pot yang beralaskan tanah.


"Kok dibuang?" Tanya sebuah suara.


"Uncle...?" Pekik lirih Zafira begitu menyadari yang menegurnya Julian.


Perhatian Zafira seketika beralih pada gelas yang di pegang Julian.


"Uncle Zafira pinjam, gelasnya?" Pinta gadis itu begitu Julian hendak meneguk air kecoklatan di gelas tersebut.


"Tunggu.. Uncle haus."


Zafira segera merebut gelas yang dipegang Julian dengan paksa. Tanpa mempedulikan protesan pria itu.


Gadis cantik itu kembali mengendus gelas berwarna coklat milik Julian.


Tanpa bersuara Zafira menuang isi gelas Julian sampai habis ke dalam pot yang tadi.


"Zafira.., Uncle haus kok dibuang kan sayang itu colanya?" Pekik lirih Julian.


"Cola apanya? Darimana uncle tahu itu cola?" Geram Zafira menatap tajam ke arah Julian.


Julian yang terlihat sedikit bingung dengan tindakan dan ucapan Zafira.


"Dari warnanya. Beberapa teman tadi juga mengatakan kalo itu cola." Ucap Julian.


Zafira menarik napas panjang mendengar pengakuan polos Julian.


"Yang tadi Uncle minum namanya whisky sedangkan yang tadi Zafira buang namanya wine." Bisik Zafira.


Julian menatap tak percaya ke arah keponakannya cantiknya itu.


"Darimana kamu tahu semua ini?" Lonjak kaget Julian.


"Sebaiknya kita balik sekarang, karena Zafira rasa pesta ini sudah gak wajar."


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


Sampai sini yang polos siapa yang bar bar siapa?


Di next yaa..


__ADS_2