TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Kebijakan Dadakan


__ADS_3

Aqeela mendudukkan tubuhnya ke sofa, begitu masuk rumah. Julian yang melihat kakaknya masuk rumah dengan wajah galau segera menghampiri.


"Kak, kenapa?" Tanya Julian sambil duduk di samping kakaknya.


"Gak pa_pa capek saja." Jawab Aqeela berusaha menutupi kegalauannya.


"Kakak gak lagi bo'ong kan." Julian menatap curiga kakaknya.


"Enggak.. Kakak nggak pa_pa kok." Jawab Aqeela sambil berusaha tersenyum.


"Adik-adik kamu kemana?" Sambung Aqeela melihat rumah dalam keadaan sepi.


"Lagi main sama Bu Darmi dan Bu Erna ke rumah Thifa." Jawab Julian.


Aqeela kembali mencari posisi nyaman untuk tubuh dan perutnya.


Drrttt.. Drrtt..


Ponsel Aqeela berdering. Aqeela melihat pemanggilnya. Namun segera ia letakkan kembali.


"Kok gak diangkat. Gak pa_pa. Biarkan saja." Jawab Aqeela.


Julian sempat membaca Id pemanggilnya Ustadz Zainal.


Julian semakin kepo, karena tidak biasanya sang kakak mengabaikan panggil Ustadz Zainal.


Drrtt.. Drrtt..


Ponsel Aqeela berdering kembali. Aqeela kembali mengabaikannya. Karena kepo Julian meraih ponsel Aqeela dan menjawab panggilan Ustadz Zainal.


"Assalamu'alaikum." Sapa Julian


"Wa'alaikumsalam." Jawab suara line seberang.


"Yan, kondisi kakak kamu gimana?" Ustadz Zainal yang sudah hafal suara Julian langsung memberondongnya dengan pertanyaan tentang Aqeela.


"Maksud Ustadz?" Julian menatap kakaknya dengan cemas.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Ustadz Zainal.


"Sepertinya baik-baik saja dan sepertinya juga tidak baik-baik saja alias ambigu." Jawab Julian tidak jelas juga.


"Membingungkan saja jawabanmu, Yan."


"Hee hee.." Julian nyengir mendengar ucapan Ustadz Zainal.


"Yan, hubungi Desta suruh pulang segera. Setelah ini saya akan ke rumah kalian. Tunggu Pak Jamal selesai diperiksa dokter."


"Tunggu-tunggu, Ustadz kenapa dengan Pak Jamal? Dan apa hubungannya Kak Aqeela dengan semua ini." Julian semakin kepo. Apalagi Kakaknya semakin tegang.

__ADS_1


Setelah saling menjawab salam, Julian mendial nomer Desta. Dan sesuai pesan Ustadz Zainal untuk menyuruh kakaknya itu segera pulang.


Mendengar cerita adiknya via phone membuat Desta semakin was-was, segera ia limpahkan semua meeting hari ini ke Doni. secepat angin Desta segera pulang.


Doni dan Izzah hanya saling tatap tak ada yang berani bertanya lebih lanjut. Karena saat panik begini emosi Desta sering tidak stabil. Apalagi menyangkut keluarganya. Pekerjaan tak lagi prioritas.


💗💗💗💗💗


"Assalamu'alaikum." Salam Desta begitu masuk rumah.


Dilihatnya Ustadz Zainal, Pak Handoko dan Pak Jamal sedang duduk di ruang tamu ditemani Aqeela dan Julian.


Setelah mencium tangan ketiga gurunya tersebut, Desta segera duduk di sofa kosong dekat Pak Handoko.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Desta sedikit lega karena Aqeela masih baik-baik saja walaupun matanya terlihat sayu.


"Wisnu, Des." Jawab Ustadz Zainal.


"Wong sempel iku maneh." Desta terlihat geram hanya mendengar nama Wisnu. Apalagi tahu jika tahu kelakuannya kepada Aqeela.


"Bae..." Aqeela berusaha menenangkan Desta.


"Kamu tahu Pak Jamal sampe pinggangnya sakit karena ditendang Wisnu edan itu." Pak Handoko ikutan geram.


"Des, kita ke sini bukan bermaksud apa-apa. Tadi Wisnu sudah kita peringatkan dengan banyak ancaman. Tapi entahlah mempan atau tidak." Ustadz Zainal kembali menceritakan ancaman Pak Handoko kepada Wisnu beberapa jam yang lalu.


"Bahkan kami juga sudah meminta para satpam untuk tidak mengizinkan Wisnu masuk area sekolah." Lanjut Ustadz Zainal.


Ditatapnya wajah cantik yang terlihat sayu tanpa semangat itu. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Mungkin saja kelelahannya menghadapi lelaki buaya itu.


"Pak, izinkan Aqeela istirahat saja di rumah sementara sampai keadaan lebih kondusif. Saya akan mencoba mencari tahu motif Wisnu mendekati istri saya itu apa?" Pinta Desta seketika membuat wajah Pak Handoko dan Pak Jamal tertekuk.


Sedangkan Ustadz Zainal hanya mampu menarik napas panjang.


"Des, kami tidak keberatan dengan permintaan kamu. Tapi biarkan seminggu ini Aqeela menyelesaiakan kewajibannya. Setelah itu kan sudah liburan. Kami siap menerima permintaan cuti Aqeela." Jawab Ustadz Zainal lirih.


"Ustadz..." Panggil Pak Handoko dengan suara berat, seakan ia tak terima Aqeela cuti lebih cepat.


"Pak Han, saya harap Bapak tidak egois. Keamanan Aqeela lebih penting dari kepentingan sekolah. Toh, jika nanti kasus ini kita biarkan, gosip tak sedap akan berkembang dengan cepat. Jadi, izinkan Aqeela cuti lebih cepat saat ini. Dan bisa jadi dengan batas waktu yang tak terbatas." Ustadz Zainal kembali memberikan penjelasan panjang lebar.


"Tapi Ustadz..." Bantah Pak Handoko.


"Kalo Bapak menanyakan apakah saya nanti akan kewalahan. Akan saya jawab iya. Pasti. Saya, Pak Jamal, Ustadzah Dewi saya yakin mereka juga akan kewalahan. Begitukan Pak Jamal?" Potong Ustadz Zainal sambil menatap Pak Jamal.


Pak Jamal hanya mengangguk mendengar penuturan Ustadz Zainal.


"Apalagi kita sudah seperti keluarga. Pasti sedih dan berat. Tapi apa bapak tega melihat anak Bapak terancam? Bagaimana perlindungan yang akan Bapak berikan?" Ucapan Ustadz Zainal, membuat Pak Handoko tersadar posisi dan kedudukannya.


Perlahan Pak Handoko mengurai ketegangannya.

__ADS_1


"Baiklah, saya terima pendapat Ustadz Zainal. Saya sadar. Saya juga harus melindungi semua guru-guru saya. Mereka adalah anak-anak saya." Pak Handoko nampak tersenyum saat menyatakan kebijakan dadakannya saat ini.


"Saya izinkan kamu cuti lebih awal. Tapi dengan catatan selesaikan kewajibanmu seminggu ini!" Titah Pak Handoko yang disenyumi Aqeela.


Julian yang ikut mendampingi Kakaknya menjadi terharu dengan kebijakan Pak Handoko. Yang masih mau menerima saran dari orang yang lebih muda.


"Kak, Kakak yang kuat yaa!" Bisik Julian.


"Pasti, Yan." Jawab Aqeela dengan senyum pula.


"Pak diminum dulu!" Kata Julian sopan karena dari tadi tamunya terus berbicara tanpa sempat mencicipi suguhan yang disiapkannya itu.


Iya, tadi Julian yang membuatkan minuma tamu Kakaknya itu. Karena para ART mereka lagi momong keempat anak Kakaknya di rumah sebelah.


"Terima kasih, Yan. Tau aja kamu kalo kita haus banget." Kata Ustadz Zainal sambil menyesap es sirup cocopandan buatan remaja itu.


"Seger banget, sejak ketemu Wisnu baru minum sekarang. Apalagi kita sempat stress karena Paka Jamal yang kesakitan." Sambung Ustadz Zainal.


"Ustadz.. stop." Pak Jamal tidak terima dirinya disangkutpautkan padahal kenyataannya iya.


"Terus kata dokter Pak Jamal kenapa?" Tanya Desta ikut cemas apalagi kesakitan Pak Jamal karena menyelamatkan Aqeela.


"Gejala ostheoporosis." Jawab Pak Handoko sambil tersenyum.


"Maklum sudah menjelang manula." Ledek Desta membuat suasana kembali cair setelah tegang karena debat tentang Wisnu, kecuali Aqeela.


Wanita itu masih terdiam. Tak ada kata yang diucapkannya.


"Yan.." Panggil Desta.


"Iya kak?" Julian menoleh ke arah Desta.


"Kakak kamu kenapa?" Julian hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Aauuwwww..." Tiba-tiba Aqeela mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kak.."


"Beb.."


"Qee.."


Semua langsung menatap ke arah Aqeela.


💗💗💗💗💗


Wait di next episode yaa..


Dukung triple Z terus yaa..

__ADS_1


aku masih setia nungguin like, komen dan Vote serta poin-poinnya 😘😘😘


See You


__ADS_2