
Rabu pagi Aqeela dan seluruh keluarganya sudah bersiap berangkat ke Solo.
Pesawat mereka akan take off pukul 9 pagi.
Jadi pukul tujuh mereka sudah ada di dalam mobil menuju Bandara Juanda.
Selain Aqeela, Desta, Julian dan si Triple. Ibu, Ayah, Mommy dan Daddy juga ikut. Menurut mereka sih, sekalian jalan-jalan.
Beruntung pesawat tidak mengalami kendala apapun. Selang satu jam mereka sudah sampai di Bandara Adi Sumarmo Solo.
Mereka tidak langsung menuju rumah Dinda, melainkan menuju hotel yang sebelumnya sudah direservasi Desta.
Karena jadwal check in pukul 12, mereka memutuskan untuk makan di salah satu rumah makan sekitar Bandara.
Tepat pukul 12, mereka menuju hotel dengan kendaraan sewaan. Desta sengaja menyewa sebuah mobil plus drivernya selama berada di Solo. Untuk mempermudah akses mereka menjelang pernikahan Vian dan Dinda.
Desta menyewa Empat kamar. Untuk dirinya, Aqeela dan si triple dalam satu kamar. Mommy dan Daddy satu kamar. Satu kamar lagi untuk Ayah dan Ibu. Dan satu kamar lainnya tentu saja untuk Julian.
Setelah beristirahat sebentar. Sore hari, mereka bergegas ke rumah Dinda.
Jangan membayangkan rumah Dinda sebesar rumah Desta atau Mommy.
Rumah Dinda terletak di sebuah Desa pinggiran Kota Solo. Tidak ada rumah gedong atau rumah mewah apapun di sana.
Hampir seluruh penduduknya memiliki bentuk rumah yang sederhana. Menyerupai joglo.
Ada yang memakai bahan dasar kayu, batu batu atau batako.
Begitupun rumah Dinda tampak sederhana, layaknya rumah penduduk Desa lainnya. Hanya saja terlihat lebih luas dibanding kanan kirinya.
Keluarga Dinda adalah keluarga petani, yang memiliki sawah seluas 2 ha. Bagi penduduk setempat keluarga Dinda termasuk keluarga berada. Dan bisa dibilang terpandang dan di seganu. Walaupun kehidupannya terlihat sederhana.
Terpandang bukan berarti orang banyak harta. Tapi karena keluarga Dinda dikenal akan kekayaan hatinya. Keluarga Dinda sangat ringan tangan dan ramah kepada siapapun. Tak ada harta melimpah dikeluarganya.
Namanya juga petani. Kehidupan mereka bergantung pada panen. Kalau panennya sukses hasilnya melimpah. Kalau panennya terganggu hasilnya juga tidak seberapa.
Kembali ke acara Dinda.
Bagi Aqeela tidak terlalu sulit mencari rumah Dinda, karena dia sudah pernah ke sana sekali.
Ketika sampai disana.
Keluarga Dinda rupanya sedang mempersiapkan acara untuk besok. Banyak warga desa yang berkumpul. Istilah jawanya rewang atau ada istilah lain mbiyodo.
Aqeela dan keluarganya ikut bergabung dengan warga desa setempat. Bahkan si triple langsung mendapat teman untuk bermain.
Terlihat kesibukan mereka. Mulai menata kota kardus untuk acara pengajian besok. Ada yang mengaduk jenang.
Ada yang sibuk mendekor ruangan. Ada sibuk memasak mulai menyiapkan bumbu, mecabuti bulu ayam sampai menyiapkan pawonan.
Para tetangga Dinda bekerja sama saling membantu untuk suksesnya perhelatan pernikahan salah satu gadis di sana.
Keluarga Dinda memang tidak memakai WO. Sebagai orang desa, mereka akan dicibir jika mengabaikan tetangga.
Dan benar saja jasa WO tak laku di desa. ( Maaf yaa para EO dan WO )
Karena semua penduduk dengan senang hati akan saling membantu dan bergotong royong. Sampai acara selesai.
Tak ada yang dibayar disini. Semua bekerja ikhlas. Apalagi jika yang punya hajat adalah orang terpandang dan disegani seperti keluarga Dinda.
Mereka akan merasa bersalah jika tidak bisa membantu.
So, rumah Dinda ramai. Dipenuhi tetangganya yang rewang.
Ayah, Daddy dan Desta tampak akrab mengobrol dengan para pria penduduk setempat.
Sedangkan Ibu dan Mommy sibuk menjaga cucu-cucunya. Mereka tak ingin cucu-cucunya lecet sedikitpun.
Aqeela masuk ke dapur, membantu ibu-ibu menyiapkan masakan buat besok.
Sedangkan Dinda sibuk perawatan menjelang menikah.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗
Ba'da isya'
Aqeela dan keluarganya pamit kembali ke hotel. Mereka janji akan datang besok.
Sampai hotel, si Zafira malah meminta tidur bersama Oma dan Opa. Si Zafir tidur bersama Bunni dan Ayah Kung nya. Sedangkan Zafran memilih tidur bersama Julian.
Dan Aqeela dan Desta akhirnya ditinggal hanya berdua.
"Beb, kita kayak honeymoon aja.." Bisik Desta.
"Kita mah udah lebih dari honeymoon." Aqeela malah ngakak.
"Anggap saja, second honeymoon kita."
"Yaa yaa yaa.. aku iyain ajalah daripada ngambek."
"Jawabannya maksa banget sih Beb."
"Maunya..."
"Yang ikhlas gitu.."
"Kalo ikhkas itu kayak gini neee..."
Aqeela mendekatkan bibirnya ke bibir manyun Dests. Sekilas saja.
"Beb, yang lamaan doong." Pinta Desta memelas.
"Maunya..."
"Mau doong.."
"Mau lagi?" Goda Aqeela.
Desta hanya mengangguk.
"Haaadeehh... kena lagi daah..." Gerutu Desta.
"Mau enggak?"
"Iyaa.. deh." Desta pasrah aja sambil memijat kaki Aqeela.
"Bae..., enak banget kamu mijitnya. Ke atas lagi dong."
"Ganti sebelah dong."
"Punggung dong."
Aqeela berkali-kali memuji Desta.
Desta yang tak mau kalah sambil memijit ia menyembunyikan senyum smirknya.
"Beb..., aku juga mau doong dibikin enak gini.." Bisik Desta ke telinga Aqeela.
"Iya.. ntar gantian." Balas Aqeela.
Desta dengan semangat kembali memijat Aqeela.
"Beb.. Udah yaa, gantian... " Bisik Desta.
Tak ada jawaban.
"Beb.. ayoo gantian.." Bisik Desta lagi.
Tak ada jawaban.
Desta membalik tubuh Aqeela.
Mata Aqeela sudah terpejam dengan cantiknya.
__ADS_1
Desta akhirnya hanya bisa menahan diri untuk tidak membalas prank istrinya.
Iapun hanya mengacak-acak rambut Aqeela dengan lembut.
"Kebiasaan banget siih. Ngeprank suami sendiri. Tapi kasiyan juga sih Beb, liat kamu. Kamu pasti capek." Bisik Desta tak tega melihat Aqeela yang terlihat begitu nyenyak.
Iapun akhirnya mengambil posisi rebahan di sebelah Aqeela sambil melingkarkan tangannya di perut istrinya itu.
******
Hari Kamis.
Masih di Solo di rumah Dinda.
Ba'da isya' keluarga Dinda menggelar pengajian. Aqeela dan keluarga juga hadir di sana.
Mereka mengikuti acara pengajian dengan khusu'. Hanya gelaran pembacaan yasin dan tahlil.
Yang inti mohon do'a kepada warga agar acara akad nikah besok bisa berjalan dengan lancar.
Keluarga Dinda tergolong keluarga yang memiliki iman dan aqidah yang kuat.
Walaupun mereka mengikuti adat setempat bukan berarti mereka juga meniatkan yang tidak baik.
Mereka selalu mengingatkan bahwa tujuan kirim do'a untuk kebaikan bersama. Bukan yang lain. Memohonnya kepada Allah swt.
Tak ada sajen atau apapun. Yang orang Jawa tulen pasti tahu, kalo ada acara hajatan begini pasti ada saja yang meletakkan sajen berupa bunga di pojokan.
Keluarga Dinda sangat menentangnya. Dan warga desa sudah paham itu. Sehingga semua agenda benar-benar dirancang sesuai syariat islam.
*****
"Saya terima nikah dan kawinnya Qori Adinda Putri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar Dua puluh dua juta dua ratus dua puluh dua ribu dua ratus dua puluh dua rupiah dibayar tunai." Ucap Viam dalam satu helaan napas.
"Bagaimana saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Barokallohu laka wa jama'ah bainakuma fil khoir. Barokallohu likulli wahidin minkuma fish shohibihi wa jama'ah bainakuma fil khoir."
*****
Hafalin do'anya ya....
oyaa.. aku jelasin beberapa istilah.
Rewang / mbiyodo artinya membantu, istilah ini khusus untuk hajatan saja.
Bisa pernikahan, khitanan atau bahkan acara lainnya yang berhubungan dengan makanan.
jenang adalah makanan khas dari Jawa yang terbuat dari bahan dasar tepung ketan putih dan gula jawa yang diaduk selama hampir satu hari sampai adonan mengental.
Menurut orang Jawa filosofi jenang bagi pengantin supaya pasangan tersebut selalu kental agar pasanagan tersebut selalu lengket atau memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan.
Selain jenang ada lagi makanan khas pengantin di Jawa yaitu wajik.
Pawonan yaitu sejenis perapian yang digunakan untuk memasak dengan bahan bakar dari kayu.
Di beberap desa, pawon masih banyak digunakan ketika ada hajatan besar.
Pawon bisa disebut juga kompor kayu.
****
Howaa.. ha haa..
Maaf yaa.. kalo ada typo istilah.
Author juga manusia
__ADS_1
Support kaliam masih ditungguin.