
Zafira menatap kesal ke arah Renata dan Zafran yang asyik berkasih mesra di kantin.
Sejak pagi tadi, ia sudah dibikin eneg sama pemandangn dua makhluk pengantin baru itu.
Meski sudah menikah Renata dan Zafran sepakat tinggal terpisah sementara. Meraka akan menjalani hidup normal seperti biasanya saja.
Hanya saja tanggung jawab materi Zafran bersedia menanggungnya.
Byuuh, anak SMA punya bini dapat duit mana buat menghidupinya.
Jangan salah, meskipun masih SMA Zafran sudah menjadi pengajar di pesantren Umma. Dan digaji profesional.
Makanya dia berani mengkhitbah anak orang dengan gentlenya. Walaupun grogi juga.
Pagi tadi Zafran, Zafir dan Zafira menunggu kedatangan Renata di parkiran.
Setelah kendaraan Papi Charlos muncul, Zafran malah meninggalkan mereka berdua. Lalu menggandenga Renata dengan mesranya.
Auto Zafira kesel banget. Belum lagi tatapan seram cewek satu sekolah ke Zafran. Bikin Zafira merinding.
"Tuh anak gak ngerti banget apa kalo kayak gini terus Renata bisa di teror fans fanatiknya," dengus Zafira.
Kembali ke kantin yang menampakkan wajah merah padam Zafira. Telinga sudah ia subal, mata sudah di tutup tapi hati gak ada yang bisa menyelimutinya.
Perlahan ia bangkit, menuju lokasi lain yang menurutnya lebih aman daripada jadi penonton kemesraan Zafran dan Renata.
"Fira.. tunggu!" Pekik Devan menyusul Zafira.
"Tunggu aju jugaa.." Suara Malik terdengar panik apalagi Zafira dan Devan mengacuhkannya.
"Wooiii.. aku jugaa jangan di tinggal!" Alif menyusul berlari sekencang-kencangnya.
"Zafira mau kemana?" tanya Devan sambil mencuri-curi napasnya.
"Ke tempat yang aman!" jawab Zafira tanpa mempedulikan keberadaan Devan.
Gadis itu terus melangkah dengan kencang. Malik dan Alif yang membuntuti keduanya sampai ngos-ngosan.
Dari jauh Zafir hanya tersenyum menatap Zafira.
"Ren, Darren.. Aku mau balik dulu. Kalian masih mau di sini atau ikut balik?" tanya Zafir kepada Darren dan Wanda.
"Balik aja deh. Yuk Nda. Di sini eneg juga liat mereka berdua!" ajak Dareen pada Wanda.
Wanda menurut saja, mengikuti langkah Zafir dan Darren.
"Mereka berempat tadi kemana ya?" tanya Daren kepo.
"Entahlah? Toh Zafira udah dewasa." Zafir berjalan menuju kelasnya sambil menulis pesan di gawainya.
💗💗💗
Ting..
Satu notif pesan, masuk ke gawai Zafran. Segera pemud itu membukanya.
Fran, minumana dan makananya belum dibayar. Ntar kamu yang bayar ya. Oh ya satu lagi kalo pengen mesra-mesraan check in hotel dodol Fans kamu di sekolah pada sinis ke Renata. Gak kasiyan apa sama dia?
Zafran celingukan menatap kanan kiri depan belakangnya kosong tidak ada siapapun.
"Aseem mereka kita di tinggal. Udh gitu di suruh bayarin nih makanan dan minuman," dengus Zafran kesal.
"Emang siapa yang WA?" tanya Renata.
"Zafir." Zafran menyerahkan gawainya ke Renata.
Gadis itu melebarkan bibirnya seketika.
__ADS_1
"Amor, kita salah deh kayaknya," bisik Renata.
"Kita memang sudah sah. Tapi gak seharusnya kayak gini di depan mereka." Sambung Renata.
"Tapi aku kan kangen sama Kamu," Zafran tidak mau disalahkan.
"Aku juga, amor. Aku juga kangen."
"Next kita pacaran di rumah saja deh. Atau kemana gitu. Bukan di sini," ucap Renata lebih bijak.
"Okaylah demi My Renata tersayang," Zafran akhirnya mengalah.
Zafran tersenyum menatap istri bermata birunya yang cantik itu.
"Bayar dulu gih tagihan mereka!" titah Renata dengan lembut.
"Aish.. mereka bener-bener malak aku niih!" gerutu Zafran sambil menuju stand yang mereka pesan.
💗💗💗💗
Di tempat lain.
Zafira berjalan menuju lapangan basket. Gadis menatap ada bola menggelinding ke arahnya. Dengan masih menahan marah ia melempar bola sembarang. Ajaibnya bola itu masuk ke keranjang.
Suara tepuk tangan riuh terdengar dari lapangan.
Beberapa temannya yang asyik mendrible bola yang tadi di lempar Zafira mengajak gadis itu gabung.
Tanpa banyak tawar menawar Zafira mengiyakan saja ajakan temannya. Hitung-hitung sebagai pengalihan rasa sakitnya.
Berkali-kali shoot Zafira tepat sasaran.
"Wuiih hebat nee, gak nyangka cewek kayak elo bisa basket," puji Agung.
"Gak usah muji-muji dia, Gung! pekik Malik.
"Kampret!" maki Malik.
Zafira meninggalkan Malik dan Agung yang sibuk debat.
Gadis itu berlindung dibawah pohon akasia yang teduh. Ditemani Devan dan Alif. Sementara Malik masih ribut sama tim basketnya. Karena cowok itu anggota tim basket andalan sekolah.
"Firaa... apa rasanya masih sakit?" tanya Devan.
"Masihlah, Kak! rasanya kayak hati kita di tusuk paku bumi paking gede. Tapi gak ngeluarin darah," jawab Zafira dengan suara datar.
"Coba kamu mau aku peluk, pasti udah aku peluk dengan nyaman," ucap Devan.
"Modus aja!" timpal Alif.
"Lhaa mulut-mulut gue. Suka-sukalah!" oceh Devan.
"Kalian tuh, gak setia kawan banget sih. Masa aku ditinggal sama Agung!" omel Malik yang baru datang dengan napas ngos-ngosan.
"Sejak kapan kita berkawan?" cerocos Devan menatap Malik dengan tajam.
"Kita tuuh, musuh." tandas Alif.
"He.. eemm.. kita tuh musuh memenangkan hati Zafira." sahut Devan.
"Hadeeh.. kalian tuuh bener-bener deh! Nyebelin!" omel Malik.
"Fira! Diantara kita bertiga yang paling ganteng siapa?" tanya Devan sambil menatap Zafira penuh harap.
"Yang paling baik siapa?" sahut Alif.
"Fira, coba inget lagi. Selama ini yang paling dekat sama kamu siapa?" Suara lembut Malik mampu mengalihkan perhatian Zafira sejenak. Namun ia kembali menunduk.
__ADS_1
"Diantara kalian gak ada yang lebih ganteng. Semuanya sama. Gak ada yang paling baik semuanya baik. Kalo yang paling lama ya kamulah Malik. Sejak piyek kita kemana-mana bareng!" cerocos Zafira tanpa menatap ke lawan bicaranya.
Auto Devan dan Alif jadi iri sama Malik yang lebih dulu mengenal Zafira. Pasti Malik lebih mengenal sisi baik dan buruk Zafira dengan sempurna.
Tapi yang patut merek acungi jempol, sahabat-sahabat Zafira tak pernah saling mengumbat keburukan masing-masing.
Mereka seakan saling menutupi kekurangannya. Bagi komplotan triple semua sama. Tak ada yang lebih baik. Jadi apapun yang terjadi harus bersama. Begitu kira-kira wejangan dari Emak-Emak mereka.
"Lik, gue tukeran posisi dong sama elu!" seru Devan.
"Maksudnya?" Malik menatap Devan dengan wajah tidak mengerti.
"Bole dong gue jadi elo sehari saja. Biar pernah ngerasin jadi temannya Zafira sejak kecil," jelas Devan.
"Enak aja!" sanggah Malik.
"Zafira itu anugerah buat aku. Kok malah mau kakak embat. Kagak. Kagak bisa!" Malik menatap tajam ke arah Devan.
"Malik, sekali aja!" pinta Devan dengan suara memelas.
"Enggak Kak, memangnya Zafira barang apa?" Malik semakin geram.
Devan yang mulai usil mendekati Malik. Dan mencoba menangkap tubuh Malik.
Malik yang tersulut komporan Devan sedikit manjauh dari kakak kelasnya itu.
"Wooii.. Zafira buat gue ajaa! Nih kita udah dekat banget!" Alif merogoh sakunya meraih gawai limites edition yang hampir punah tipenya.
"Firaa.. liat sini!" Alif mengarahkan kameranya bersama Zafira.
"Enak aja!" Malik menyeret tangan Alif sekencang-kencangnya.
Alif jadi ikut geram dengan tingkah kekanakan Malik. Mereka bertigapun akhirnya saling kejar-kejaran tidak jelas seperti anak kecil.
Zafira yang tidak sengaja menyaksikan ulah ketiga temannya, mendadak tertawa lebar. Merasa geli dengan ketiganya.
Alif, Malik dan Devan yang menjadi saksi Suara tawa Zafira saling tos.
"Kita sukses, gaes..!" ucap ketiganya.
"Zafira tetap senyum yaa.. Ingat hidup itu melangkah ke depan bukan berlari mundur!" Pekik Malik.
"I love you, baby!" Pekik Devan.
"Aku segalanya buat kamu!" Alif tidak mau kalah.
Malik yang mendengar ocehan tidak jelas Devan dan Alif langsung melotot ke arah mereka berdua.
Devan dan Alif segera berlari ke belakang punggung Zafira.
"Bantuin kita menghadapi Malik, Zafira!" Bisik keduanya.
"Ogaah! Hadapain aja sendiri!" Zafira meninggalkan mereka bertiga dengan senyum yang tak biasa.
"Malik, Kak Devan, Alif, tengkyu so much!" pekiknya dari jauh.
💗💗💗💗
Welcome back Zafira.
Udah banyak yang nungguin kamu tuh.
Love dong buat mereka.
Like, komen dan vote ya temans..
Salam cinta buat kalian semua
__ADS_1