
Zafira menoleh ke kanan dan ke kiri sekan tak ingin ucapannya di dengarkan orang lain.
"Fira takut apa?" Tanya ulang Julian.
Setelah di rasa aman, Zafira mendekatkan bibirnya ke telinga Julian. Dan berbisik.
"Zafira takut hamil," Kalimat sontak membuat Julian berasa dipukul palu baja seberat 1 ton.
Ingin tertawa khawatir Zafira tersinggung. Ingin bercanda khawatir dianggap tidak serius.
Julian terdiam sejenak.
"Mau ngobrol sama Uncle atau sama ahlinya?" Tawar Julian.
Zafira malah mengerutkan alisnya.
"Ahlinya siapa maksud Uncle?" Kepo Zafira.
"Spesialis Obgyn."
"Dokter kandungan..?" Zafira malah balik menatap tajam Julian.
"Kalo Zafira mau. Kalo enggak ya biar Uncle yang jelasin."
"Gini..." Tanpa menunggu jawaban Zafira, Julian memulai sesi konselingnya.
"Seorang wanita hamil, itu melalui proses. Tidak mungkin ia hamil tanpa pasangan." Julian terdiam menatap kefokusan Zafira.
"Zafira tahu bukan, bagaimana proses terjadinya kehamilan?"
Zafira mengangguk.
"Kehamilan terjadi jika sel telur bertemu gamet." Jawab Zafira.
"Terus kalo gak ketemu, bisa hamil gak?" Tanya Julian.
Zafira menggeleng.
"Sudahlah gak usah mikirin hamil. Nanti kalo memang Uncle udah gak kuat nahan, kita masih bisa pakai alat kontrasepsi kok." Jawab Julian santai.
"Maksudnya?"
"Gak ada maksudnya, nanti Zafira juga akan tahu sendiri. O ya mulai sekarang biasakan jangan panggil Uncle lagi dong?" Pinta Julian.
"Terus mau dipanggil siapa? Om? Atau Pakli" Zafira masih tidak menyadari permintaan Julian.
"Yang elegan napa sih, dek?" Jawab Julian.
"Zafira belum kepikiran mau manggil siapa?" Jawab Zafira enteng.
"Panggil Aak, Abang, Mas, Kakak, Sayang, Honey, Darling atau apa ajalah yang romantis gitu."
Zafira melebarkan mulutnya, menanggapi ucapan Julian.
"Belum juga nikah, aneh-aneh aja permintaannya. Lebih baik uncle pulang saja dulu. Zafira biar cari wangsit. Mau sholat istikhoroh dulu. Supaya dapat petunjuk, panggilan apa nanti kira-kira yang cocok buat Uncle ya.." Usir Zafira.
"Anak nakal, sekarang udah berani ngusir ya!" Protes Julian
"Bukan ngusir, lagian siapa suruh pindah dari sini!" Seru Zafira.
Julian kembali terkekeh mendengarnya.
"Ya udah, Ayang Beb pulang dulu ya Darling!" Pamit Julian setengah menggoda.
Yang dipamiti hanya melotot mendengarnya.
"Paapay.. Dedek Zafira!" Julian kembali ke ruang tamu meninggalkan Zafira yang masih bengong di halaman belakang.
💗💗💗💗
__ADS_1
Hari Senin.
Zafira keluar dari mobil yang dikemudikan Zafir dengan senyum yang mengembang.
"Ciyeee.. yang lagi hepi..!" Goda Zafran sembari menjajari langkah Zafira melindungi gadis itu dari cowok-cowok iseng di sekolah.
Tentu saja pemandangan itu sudah biasa tiap pagi mereka bertiga selalu datang dan pulang bersama.
Takkan ada yang mengira jika ketiganya kembar. Karena wajah mereka memang berbeda. Kecuali para komplotan mereka.
Zafir menyusul dengan setengah berlari dan memeluk keduanya dari belakang. Sebelum masuk ke kelas.
Pemandangan menyesakkan tiap pagi ketiganya membuat banyak wajah kecewa. Wajah-wajah mereka menunjukkan harapan mereka bertiga tidak bersama. Agar lebih mudah melakukan pendekatan.
Tapi sia-sia.
Mereka seakan tak terpisahkan.
Jam istirahat tiba.
Komplotan triple berkumpul di kantin.
"Perasaan hari ini kok Zafira beda banget ya?" Tuduh Malik menatap wajah ceria gadis itu.
Zafir dan Zafran saling pandang. Dan fokus mereka kembali ke Zafira.
"Kalian kok diem? Pasti ada yang kita lewatkan?" Cetus Wanda.
"Kasih tau enggak ya?" Ucap Zafira dengan nada yang semakin membuat sahabatnya kepo.
"Kasi taulah!" Jawab Malik yang paling penasaran.
"Tapi janji gak pake bocor kemana-mana!" Ucap Zafira.
"Ya Alloh Fira, kayak kita ini baru ketemu sehari saja." Omel Darren kesal yang juga menyimak.
"Aku.. Aku.."
Zafira menoleh ke arah Zafran dan Zafir.
"Zafira semalam udah ada yang mengkhitbah. Tiga minggu lagi mereka menikah." Jawab Zafir tegas.
Ketiga sahabatnya menatap tak percaya le arah Zafira.
"Ya Alloh, aku keduluan. Tahu gitu kamu udah aku ajak kawin sejak kecil!" Gerutu Malik.
"Kawin..kawin.. emang aku kucing apa?" Sahut Zafira yang auto membuat grrr semuanya.
Suara tawa keras mereka sejenak menyebabkan seluruh pengunjung kantin menatap keenamnya.
"Ssstt..." Darren meletakkan jari telunjuknya ke bibir sebagai isyarat untuk diam.
"Maksudnya nikah, Zafiraaa.." Ralat Malik.
"Cowok gak punya pendirian." Omel Zafira.
"Kok gitu!"
"Kan kemarin katanya mau nunggu Ara atau Ayra. Kok sekarang malah aku?"
"Kalo ada yang gede ngapain nunggu yang kecil kelamaan."
Pletak.
Sendok yang dipegang Zafira mendarat sempurna di kepala Malik.
"Wadooh.." Teriaknya tanpa reaksi apapun.
"Perasaan dulu juga ada anak kecil nanya ke aku. Kriteria suamiku? Terus aku jawab sudah hafal berapa juz Al-qur'annya. Dia jawab gak hafal. Auto kan aku tolak. Kira-kira sekarang dia kayak apa ya? Masih sama gak ya?" Sindir Zafira.
__ADS_1
Pletak.
Satu ketukan sendok Malik menyerang kepala Zafira dengan mulus.
"Aaauuwwhh..." Pekiknya.
"Kenapa sewot?" Zafira menatap Malik tajam.
"Gak usah nyindir. Aku juga masih inget kaleee..." Ucap Malik yang sadar diri.
Zafran dan Zafir hanya tertawa lebar mendengar pengakuan keduanya.
"Ada pengakuan dosa nee?" Ucap Wanda yang merasa tertinggal jauh masa kecil sahabat-sahabatnya itu.
"Bukan pengakuan dosa tapi pengakuan di tolak." Cibir Zafira.
"Kalo aku perjuangkan kira-kira kamu bersedia gak jadi istriku?" Tantang Malik tiba-tiba.
Zafira terdiam mencari kalimat yang pas untuk mengecoh sahabatnya itu.
"Belum tentu. Lagian juga kamu tidak bole mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah lelaki lain." Ucap Zafira.
"Kalimat kamu bikin aku patah hati lokal, cantik!" Suara sedih milik Malik kembali membuat grrr diantara mereka tapi kali ini dengan suara yang lebih standart dan yakin tak bikin pusat perhatian.
"Apapun asalkan Zafira bahagia, aku juga bahagia. Congrat yaa.. tapi kalo kamu patah hati aku siap menggantikan dia." Ucap Malik sudah kembali dengan suara normal. Karena pada dasarnya ia hanya menggoda sahabatnya itu.
"Yes I do. Selamat ya.. semoga lancar sampai hari H." Ucap Darren.
"No Darren. Kamu tidak bole menggantikan lelaki itu jika Zafira patah hati, cukup aku saja." Bantah Malik.
"Karepmu dewe. Sopo sing ngepek Zafira. Wong aku mek ngucapno selamat tok. Ora usah nesu." Keluarlah bahasa Suroboyoan ala Darren.
Malik hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena merasa tidak paham maksud Darren.
Auto yang lain hanya menertawakan.
"Fira.. selamat yaa.." Wanda memeluk Zafira ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
💗💗💗💗
"Lif.. Alif..!" Wanda membangunkan Alif dari tidurnya. Begitu kembali dari kantin.
Alif bangun dengan gelagapan.
"Kamu, Nda? Ada apa?" Alif membuka matanya menatap Wanda. Lalu dengan enggan ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
"Ini ada titipan Zafira!" Wanda menyerahkan lunch box warna merah kepada Alif.
"Apaan ini?" Wajah Alif tampak sumringah begitu menerimanya.
"Pesannya tadi, kamu tidak bole patah hati. Karena kemarin Zafira udah ada yang mengkhitbah!" Sambung Darren yang sudah duduk di sebelah Alif
Alif terdiam sepersekian menit, sampai.
"Gak percaya???"
💗💗💗💗💗
Huwa.. ha ha..
Kayaknya bakalan ada hari patah hati nasional.
Like
Komen
Vote
Salam cinta dari triple
__ADS_1
😘😘😘
Kalo aku bikin give away bakalan banyak yang ikut gak ya?