
Menyaksikan Zafira sudah mampu menaklukkan Devan, Zafran membebaskan ketiga sandera kawanan tersebut dengan jantung yang hampir copot.
Bagaimana tidak copot, di depan matanya ada pemandangan menakjubkan dari makhluk ciptaan Tuhan.
"Kak, rapikan pakaianmu!" Titah Zafran sembari memejamkan mata.
Alif hanya terkekeh meihatnya. Karena bagi Alif menatap makhluk seksi bukanlah hal yang luar biasa.
Setiap hari itu adalah suguhan wajibnya.
"Gak usah ketawa!" Omel Zafran.
"Aku kan serba salah, di satu sisi itu rezeki di saru sisi dosa." Ocehnya.
"Kamu kepo, kan?" Goda Alif.
"Gak usah aneh-aneh. Kamu jaga tiga cewek ini, aku bantuin Zafira!" Titah Zafran meninggalkan Alif dengan tiga cewek seksi tadi begitu saja.
Zafran sengaja memilih aman, karena itu ia meninggalkan Alif.
Saat menyaksikan Zafira yang sedang duduk sejajar dengan Devan. Apalagi dengan kondisi Devan yang teriak-teriak membuat Zafran hanya bisa menatap lebih dekat, menjaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan ia bisa gerak cepat.
Apalagi seluruh kawanan Devan mengelilingi keduanya.
"Kak, kalo elo marah teriak aja yang kenceng. Pengen mukul, ayoo Fira siap jadi lawan Kakak!" Tantang Zafira.
Devan mendongak menatap gadis berjilbab putih dihadapannya dengan keheranan.
"Elo gak takut ama gue?" Ucap Devan ragu.
Zafira menggeleng.
Devan semakin keheranan, reflek ia meninju ke arah Zafira. Dengan gesit gadis itu menangkap tangan Devan.
Gadis itu meremas kepalan tangan pemuda yang ia katakan kelaianan itu.
"Aaawwwwhhh...!" Teriak Devan kesakitan
"Gilaa.. tenaga apaan tadi?" Gumam Devan dalam hati.
"Dia cewek beneran atau gak sih?" Gumamnya.
"Tapi kalo jadi-jadian masa pake kerudung? Terus cantiknya kebangetan." Devan terus saja ngedumel dalam hati menatap Zafira.
Belum kelar keponya, Wanda datang bersama Pak Dicky.
Melihat kedatangan guru penjaskes tersebut, Seluruh makhluk yang ada di situ terdiam.
Zafira melepaskan cengkeramannya dan segera berdiri dibantu Zafran.
Sedangkan Devan juga melakukan hal yang sama.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Pekik Pak Dicky.
Guru itu mengamati kondisi seluruh siswa siswinya di sana. Tatapannya beralih le kotak milik Devan.
__ADS_1
"Milik siapa ini?" Tanya Dicky selanjutnya.
Kembali siswanya tidak ada yang menjawab. "Kalian mau dihukum semua? Atau saya bawa kasus ini ke BK?" Ancam Pak Dicky.
"Waduuh.. kalo urusan BK lagi, ogah rasanya!" Oceh Zafira.
"Kak ngaku deh!" Zafira menyenggol kaki Devan dengan kakinya.
"Neee anak gak ada takutnya?" Gerutu Devan.
"Cepet ngaku, Zafira gak mau urusan sama BK lagi!" Pungkas Zafira dengan berbisik.
"Whaat?" Devan menoleh, menatap gadis berjilbab yang tak jauh darinya itu.
"Dia bilang gak mau berurusan dengan BK lagi? Lha emang di pernah masuk BK? Cewek sealim ini?" Devan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kak Zafira hitung sampai tiga kalo masih gak mau ngaku, jangan salahin Zafira kalo keluar dari ruang BK, Kakak dan teman-temannya masuk UGD!" Ancam Zafira.
"Satu.. Dua..."
"Iya.. iya.. Itu punya saya, Pak!" Devan mengaku kepada Pak Dicky.
Zafira dan komplotannya tampak tersenyum lega.
Auto seluruh kawan Devan tercengang mendengarnya. Bahkan Pak Dicky sampai terbengong menatap Devan tidak terpercaya.
"Dev, kamu gak lagi bo'ong sama Bapak kan? Kamu gak lagi nutupi perbuatan bejat teman kamu kan? Atau mungkin kamu di bully mereke?" Pak Dicky menunjuk komplotan Triple dan kawan-kawannya.
Mendengar ucapan Pak Dicky komplotan triple sudah geregetan dan geram.
Terkenal disiplin, selalu mendapat gelar siswa terbaik sejak kelas sepuluh, rajin mengerjakan tugas dan nilainya selalu sempurna.
Lalu untuk apa barang-barang ini. Pak Dicky sampai gedek tidak percaya.
"Saya tidak bohong, Pak?" Sahut Devan. Ada sorot mata ketakutan di sana.
"Nanti aku bantu ngomong, Kak." Ucap Zafira.
"Tapi izinin aku meyakinkan Pak Dicky kalo Kakak yang salah!" Lanjut Zafira.
"Serah kamu!" Pasrah Devan.
"Pak, saya ada buktinya!" Zafira menunjukkan beberapa foto yang sempat ia ambil mulai transaksi Devan sampai pelecehan yang dilakukan Devan kepada teman sekelasnya.
Pak Dicky kembali menatap Devan tidak percaya. Tapi ia juga tidak bisa menghiraukan bukti Zafira begitu saja.
"Apa yang harus Bapak lakukan coba kalo sudah begini? Aktifitas kamu tadi bisa bikin trauma teman-teman wanitamu!" Pak Dicky berkali-kali menarik napas panjang menelisik tiga siswinya yang berdiri di pojokan saking takutnya.
"Saya akan meminta maaf pada mereka, Pak!" Ucap Devan masih dengan ketakutan dan gemetar.
"Lalu saya harus menyampaikan apa ke orang tua kamu?" Pak Dicky ikut frustasi dengan situasi yang ia hadapi.
"Pak...!" Panggil Zafira, gadis itu memberanikam diri untuk berbicara walaupun suasananya begitu tegang.
"Ada apa?" Pak Dicky menoleh ke arah Zafira.
__ADS_1
"Menurut saya..." Zafira mengajak Pak Dicky menjauh agar pembicaraannya tidak terdengar oleh semua yang ada di situ.
Pak Dicky terlihat berkali-kali menarik napas panjang mendengar penjelasan Zafira.
"Sementara Bapak, ajak ngobrol Kak Devan. Dia butuh teman untuk curhat. Masalahnya ada di orang tuanya. Bapak jadikan Kak Devan teman saja. Baru nanti Bapak beri pengertian cara menghadapi masalahnya. Karena tadi Kak Devan sempat teriak-teriak kayak orang putus asa gitu." Tutur Zafira.
"Kamu gak takut masuk ruang BK kan?" Tanya Pak Dicky.
"Kalo takut sih enggak Pak, tapi males saja bertemu sama wajahnya Pak Yono dan Bu Linda." Gerutu zafira.
Pak Dicky tiba-tiba tertawa renyah mendengar ucapan Zafira.
"Ya sudah lain kali saya akan minta bantuanmu kalo sampai Devan harus terapi atau apapun!" Jawab Pak Dicky sambil menepuk bahu Zafira.
Pak Dicky kembali ke tempat Devan sambil tertawa, meninggalkan Zafira yang masih syok.
"Van, bakar barang-barang ini, sekarang!" Titah Pak Dicky.
"Tapi Pak..?" Devan berusaha menjelaskan.
"Gak ada tapi tau kamu mau Bapak adukan ke orang tua kamu dan Guru BK?" Ancam Pak Dicky.
"Tapi kan saya tidak punya korek?" Devan menjelaskan ucapannya yang tadi.
"Kenapa ndak ngomong dari tadi!" Seru Pak Dicky.
"Lhaa saya mau ngomong Bapak keburu nyela. Yaa mana saya bisa ngomong." Balas Devan.
"Ya udah cepet ini bakar! Di tempat pembakaran sampah ya!" Perintah Pak Dicky sembari melempar korek yang ada di sakunya.
"Van, koreknya nanti kembaliin ke Bapak ya! Itu tadi korek dapat dari razia teman kamu yang bawa rokok!" Pesan Pak Dicky sambil mengawasi Devan dan kawanannya.
"Kalian gak bantuin?" Tanya Pak Dicky menunjuk komplotan triple.
"Ih.. ogah mereka yang pakai kenapa kita bantuin. lagian tuh ya kita ke sini karena nolongin Zafira noh!" Ucap Zafir seenaknya karena merasa tidak bersalah.
"Ya udah kalian pulang sono! Mereka aman sama Bapak!" Usir Pak Dicky.
"Iyes.. makasi Pak Dicky. Kita balik! Yuk Fira!" Zafran menarik tangan Zafira meninggalkan gudang.
"Pak itu tiga cewek juga diamankan ya!" Bisik Alif sebelum mengikuti jejak temannya meninggalkan gudang.
"Duh mereka itu ya? Modelnya alim tapi bar bar berkelanjutan" Gerutu Pak Dicky tanpa melepas pengawasan dari Devan dan kawannya.
💓💓💓💓💓
Hai semua....
Episode Zafira sama Uncle Iyannya bentaran ya..
Karena Uncle Ian sibuk ngurusin surat ke penghulu 😁😁😁
Ntar kalo suratnya beres pasti muncul
Salam cinta triple buat kakak reader semua
__ADS_1
😘😘😘