
Julian merebahkan tubuhnya ke kasur. Capek dan lelah berbaur jadi satu.
Efek seharian ngerjain Zafira, tapi ia malah mendapati kenyataan gadia itu tahu rahasianya.
Julian mencoba mengistirahatkan otak dan tubuhnya.
Besok ia harus kembali dihadapkan pada rutinitas kantor yang menjenuhkan. Namun mau tak mau ia harus melakukannya.
Perlahan ia mulai memejamkan matanya. Diantara sadar dan tidak lamat-lamat ia mendengar suara gaduh di kamar sebelah.
"Hadeeh.. mereka ini ngapain sih malam-malam. Kemarin juga berisik banget." Gerutu Julian.
Dengan malas, Julian keluar dari kamarnya. Telinganya menyelidik. Mencari sumber suara sesungguhnya.
Setelah yakin, suara berisik itu dari kamar Zafran. Julian menuju kamar tersebut dan membukanya perlahan.
Mulutnya hanya bisa melongo menyaksikan ketiga kembar tersebut duduk bercanda dengan seseorang dari sebuah monitor.
"Kalian gak ngantuk?" Sapa Julian seraya menutup pintu kamar Zafran dan ikut nimbrung dengan monitor mungil milik Zafran.
"Hai Uncle..!" Sapa Perempuan berhijab di monitor.
"Hai Renata..." Balas Julian dengan melambaikan tangannya.
Gadis bule itu tersenyum sebentar lalu beralih kepada ketiga temannya.
Julian yang hanya menjadi penonton, akhirnya mengantuk.
Cowok itu tanpa sadar merebahkan tubuhnya di kasur Zafran. Semenit kemudian jiwa dan raganya sudah hilang ke alam mimpi.
Tak lama kemudian Zafira berniat tidur di kasur Zafran. Mendapati ada Julian iapun beralih ke sofa. Dan tertidur di sana.
Setelah Zafira, Zafirpun menyusul. Awalnya ia juga berniat tidur di sofa karena kemarin Zafira memakai kasur Zafran untuk tidur.
Ternyata, di sofa ia malah menemukan Zafira sudah pulas. Dan di kasur ada Julian. Tanpa banyak pertimbangan Zafirpun menyusul keduanya ke dunia mimpi.
Setelah puas bercanda dengan Renata. Zafran dan Renata saling bersay good bye untuk istirahat dilanjut besok.
Zafran celingukan mendapati kamarnya penuh dengan manusia.
"Haduuuh.. mereka ini benar-benar deh. Masak tidur ngeruntel di sini. Kemarin aku sampai tidur di karpet. Awas saja kalo sampai aku di karpet lagi, aku seret." Gumam Zafran pada dirinya sendiri.
Tapi begitu mendapati di sofa ada Zafira dan di kasur ada Zafir dan Julian, iapun ikut merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Akhirnya tidur kasur juga."
Dan berempat mereka tidur di kamar yang sama.
💗💗💗💗💗
"Uncle kok udah rapi? Mau kemana?" Tanya Zafira yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ke kantor. Mau ikut?" Ajak Julian.
"Enggak deh. Hari ini pengen di rumah. Kalo nanti siang saja gimana? Sekalian Fira bawain makan siang." Tawar Zafira.
"Memang kamu tahu kantornya Uncle?" Tanya Julian.
"Enggak. Tapi kan ada google map." Elak Zafira.
"Ya udah deh terserah. Nanti kabari Uncle. Segera di share lok kalo mau berangkat." Ucao Uncle sembari mengangkat satu pancake buatan Zafira.
"Zafir sama Zafran kemana?" Tanya Julian sambil memasukkan potongan pancakenya ke mulut.
"Enak, Fir. Manis kayak yang bikin." Komen Julian.
"Kayaknya masih melanjutkan tidurnya." Senyum Zafira mengembang tanpa membalas pujian Julian.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗💗
Di kantor Julian.
Pemuda itu masih membolak balik lembaran dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerjanya.
Sesekali ia memijit sendiri pundaknya. Menenglengkan kepalanya ke kanan ke kiri, terasa berat.
Sampai gawainya berbunyi dengan keras. Julian dengan tergopoh-gopoh mencari dimana ia meletakkan benda pipih itu.
Satu panggilan terlewatkan saat Julian menemukan gawainya yang ternyata ia letakkan di depan tumpukan kertasnya
Saat Julian mulai masih berusaha mengecek panggilan yang barusan masuk. Satu panggilan masuk kembali.
Dari id pemanggil menunjukkan nama Zafira. Segera ia mengangkat.
Julian segera mengirim lokasi kantornya kepada gadis itu. Sesuai janjinya tadi pagi, ia akan mengantar makan siang ke kantor Julian.
Julian melirik ke arah jam dinding ruangannya. "Masih jam sebelas." Gumamnya.
Iapun melanjutkan pekerjaannya.
Julian benar-benar serius sampai pintu diketukpun ia tak mendengar.
"Uncle..." Panggil Zafira dengan suara level 5nya yang setara dengan suara komandan upacara.
Julian menoleh dengan terkejut.
"Masya Alloh, masuk gak salam, gak ketok-ketok pintu." Omel Julian.
"Zafira nunggu di depan sepuluh menit gak ada jawaban. Untung ada Om Edo, jadi Zafira disuruh langsung masuk." Balas Zafira sambik duduk di sofa empuk Julian.
"Leganya bisa duduk. Tau gak kaki Zafira sampai capek nunggunyan. Salampun gak dijawab." Zafira membalas omelan Julian sampai puas.
"Ya udah Uncle minta maaf deh." Julian menyodorkan jari kelingkingnya.
"Uncle salah, gak denger saking asiknya nungguin Zafira." Sambungnya.
"Dimakan dulu." Zafira membuka rantang makanannya.
Julian hanya menelan salivanya melihat masakan yang dibawa Zafira.
Semua menu kesukaannya.
"Fir, uncle abisin ya?"
"Abisin aja. Kan memang buat Uncle. Zafira udah makan tadi di rumah bareng Zafir dan Zafran."
💗💗💗💗💗💗
Atas permintaan Julian, Zafira menunggu jam kepulangannya.
Sambil menunggu Julian, Zafira menghabiskan waktu dengan membuka banyak aplikasi di gawainya.
Sesekali ia melirik Julian yang terlihat berbeda, Unclenya terlihat lebih dewasa dengan jas navinya.
Zafira merebahkan tubuhnya ke sofa, mengalihkan pandangannya dan menyibukkan diri dengan membaca novel online.
Tepat pukul 5 sore, Julian mengajak Zafira pulang.
"Uncle, ini kan bukan jalan pulang?" Tanya Zafira khawatir.
"Ini jalan pulang ke rumah uncle."
"Maksud Uncle? Zafira kok gagal paham nee?" Potong Zafira cepat.
"Nanti juga Zafira tahu. Sekarang kamu diam saja. Nikmati perjalanan." Ujar Julian.
__ADS_1
Zafira menatap jengkel ke arah Julian.
"Gak usah liat-liat kayak gitu. Ntar jatuh cinta looo.." Goda Julian.
"Huuh.. sapa juga yang bakalan jatuh cinta sama cowok nyebelin kayak uncle." Omel Zafira.
"Yakin.." Ucap Julian dengan suara penuh pesona.
"Hm..." Jawab Zafira.
Julian tergelak.
"Uncle yakin, kamu gak yakin. Tapi kalo suatu saat berubah pikiran Uncle siap menerima kok." Jawab Julian sembari berbelik ke sebuah kawasan elit.
Zafira masih terdiam tak ingin bertanya apapun meski penasaran. Biarlah nanti akan terjawab sendiri saat sampai.
Mobil Julian masuk ke pekarangan rumah mewah bergaya khas Eropa.
Zafira hanya bisa terkagum-kagum dengan mengucap "masya allah" dalam hati.
Julian membuka pintu untuk Zafira yang masih belum sadar kalo kendaraannya berhenti.
Julian melepas selt bealt gadis itu, tapi masih saja gadis itu bergeming.
"Zafira..." Panggil Julian lirih tepat di telinga Zafira.
"Hm.. eh iya.. uncle." Zafira menoleh.
"Kita sudah sampai princess." Kata Julian.
Zafira mengamati keadaan sekitar dan kondisinya. Ada senyum malu terpancar diwajahnya.
Dan Julian sempat menangkap itu.
"Turunlah!" Ajak Julian.
Perlahan Zafira melangkahkan kakinya turun dari Pajero kesayangan Buyanya.
"Ayo masuk!" Zafira mengekor dibelakang Julian.
"Assalamu'alaikum." Salam Julian sebelum masuk.
"Wa'alaikum salam." Seorang wanita setengah baya menyambut mereka.
"Bi Ira, siapkan kamar buat dia!" Tunjuk Julian kepada Zafira.
"Baik Tuan. Silahkan Nona tunggu di sini dulu." Jawab Bi Ira lembut dan senyum penuh arti melihat kedatangan Tuannya bersama Zafira.
"Ini rumah mendiang kedua orang tuaku, Fir. Karena kamu sudah tahu semuanya, aku ajak kamu ke sini. Untuk membuktikan kebenaran seorang Julian."
Zafira hanya mengangguk.
"Good boy banget kan. Calon suami idaman, begitukan?" Bangga Julian kepada Zafira.
"Nyebelin dari kemarin yang diomongin calon istri, nyidam, calon suami bikin aku mual pengen muntah aja." Batin Zafira.
Senyum masam ia suguhkan kepada Julian.
💗💗💗💗💗💗💗
Julian udah selangkah lebih maju, tapi Zafira masih jalan di tempat.
Dilanjut besok ya....
Untuk semuanya..
terima kasih untuk like, komen dan vote
__ADS_1
Bole dong cerita ini di share di sosmed kalian
miss u all