
"Sebutkan nama dan kelas kalian, kami akan menghubungi orang tua kalian. Akan kami proses
kalian sekarang juga." Hardik Wawan.
"Mulai dari kamu!" Wawan menyenggol bahu seorang siswa.
"Saya Toni kelas 12 IPS 3."
"Hary 12 IPS 4."
"Ricky 12 IPS 1."
"Eko 12 IPA 5."
"Rasya 12 IPA 3."
"Okay fix, sekarang kita hubungi orang tua kalian."
Aqeela langsung memencet beberap nomer dan menghubungi orang tua masing-masing.
"Kak, aku ke kantin dulu ya. Liat anak-anak. kasihan Nicholas aku titipin terus." Pamit Aqeela.
"Okay, ntar kalo orang tua mereka datang aku kabari."
Desta dan Aqeela berjalan ke kantin.
Dari kejauhan mereka menyaksikan Nicholas ditemani seorang gadis menemani ketiga buah hatinya. Keduanya saling menatap. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.
"Hmm.. ternyata begini yaa.. Sambil menyelam minum air." Sindir Aqeela sambil duduk di depan Nicholas.
Sedangkan teman wanitanya sedang memesan minuman.
"Eh, Kakak.." Nicholas tampak kelimpungan melihat kedatangan Desta dan Aqeela ke kantin.
"Ciyee.. punya gebetan juga tooh." Goda Desta sambil duduk di sebelah Zafran yang kosong.
"He heehe.. ketahuan juga akhirnya." Nicholas tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Nich.. ini pesanan kamu. Mereka?" Gadis Nicholas datang sambil membawa pesanan kekasihnya itu.
"Mereka orang tua si kembar ini." Jawab Nicholas.
"Kak, dia Elizabeth." Nicholas memperkenalkan teman wanita kepada Desta dan Aqeela.
"El, Kakak ini yang tempo hari menyelamatkan aku dari Ezar dan kawan-kawannya." Nicholas menceritakan tentang Aqeela.
"Si Dark Angel, yang beberapa hari ini dibicarakan anak-anak biang kerok?" Mata Elizabeth terbelalak melihat penampilan Aqeela.
"Kok cantik banget ya? Aku kira penampilannya sangar gitu. Rambutnya keriting berkulit gelap. Tapi ternyata sangat cantik dan berhijab. Tidak ada sangar-sangarnya." Gadis ayu itu terus mengagumi Aqeela.
"Dek, jangan dipandangi terus yaa.. Dia itu istri aku loo.." Ucap Desta.
"Ha hee..." Elizabeth jadi kikuk mendengar ucapan Desta.
"Aku gak lesbong kok, Kak. Pacarku aja seganteng ini." Celoteh Elizabeth.
Aqeela dan Nicholas hanya tertawa lirih mendengar perdebatan kedua makhluk tersebut.
"Kak Aqeela ini meski kalem gini tapi sadis. Coba kamu bareng aku kemaren, ngeri denger omongannya. Pedes. Kayak bon cabe level dua puluh." Jelas Nicholas.
Giliran Desta yang manyun.
"Nich, dia istri aku loo.." Desta kembali mengingatkan.
"Udah tau. Lagian jadi suami posesif banget sih." Omel Nicholas.
"Kamu sih gak pernah ngerasain punya istri secantik dia. Mempertahankan dia sampai berdarah-darah tau gak sih." Desta seperti curhat.
"Curhat ya Kak?" Sindir Nicholas.
"Gundulmu. Aku mek cerito, Le.. Tole." Bahasa medok Suroboyoan Desta keluar.
__ADS_1
"Serah Kakak deh."
"Bae, udah ah. Jangan godain mereka." Lerai Aqeela.
"Anak-anak Umma sama Buya udah kenyang belum?"
"Udah, sekarang ngantuk."
"Nich, ajak anak-anak ke UKS ya. Tidurkan mereka."
"Kayak baby sitter aja diriku sekarang, Kak."
"Tapi, kamu senengkan bisa bareng Elizabeth. Gombal mukiyo.."
Desta, Nicholas dan Elizabeth ngakak mendengar omelan Aqeela.
Suara ponsel Desta bergetar.
"Wawan." Ucap Desta melihat Id pemanggil ponselnya.
"Iya Wan."
"Orang tua mereka udah kumpul."
"Okay.."
Desta menutup panggilannya.
"Zafir, Zafran, Zafira. Kalian sama Kak Nich dan Kak El dulu ya.." Ucap Desta.
"Iya.. Buya." Jawab ketiganya kompak.
"Nich, El tengkyu yaaa.. Tuhan yang membalas kebaiknan kalian." Goda Desta.
"Ogaaah.. per anak sesuai perjanjian." Ledek Nicholas.
Desta hanya melambai sambil meninggalkan kelimanya.
@@@@
Sesekali ada suara Wawan membantah dibantu Ronald. Keduanya bisa menebak bahwa orang tua mereka tidak terima anaknya terciduk sedang hang over di sekolah.
Desta membuka pintu perlahan. Diikuti Aqeela.
"Selamat siang, Pak." Sapa Desta.
"Siang Pak..." Seorang lelaki menoleh ke arah Desta.
"Pak.. Desta?" Pekik lelaki tadi sedkit terhenyak.
"Pak Ferdiand?" Desta juga tak kalah kagetnya.
"Ngapain pak Desta di sini?" Lelaki bernama Ferdinan itu terlihat penasaran.
"Bapak sendiri untuk apa ke sini?"
"Saya ke sini, karena ada guru anak saya yang mengatakan kalau anak saya sedang terkena masalah yang harus diselesaikan. Ternyata begitu saya sampai bersama beberapa orang tua yang lain malah menemukan anak kami katanya hang over di sekolah. Jelas kami tidak terima."
Desta dan Aqeela mendengarkan dengan seksama.
"Pak, Bu.. silahkan duduk dulu." Ucap Aqeela.
Mendengar permintaan wanita cantik berhijab itu, mereka langsung duduk.
"Silahkan Bapak, Ibu video ini." Aqeela mengangsur video yang ada di ponselnya.
Wajah mereka tampak memerah, terkejut dan malu berbaur jadi satu.
"Jadi benar, anak kami hang over di sekolah?" tanya seorang ibu wajahnya terlihat sedih.
"Seperti yang Ibu lihat." jawab Aqeela.
__ADS_1
"Bahkan saya sendiri yang menangkap basah mereka." Desta menegaskan.
Kali ini wajah Pak Ferdinan semakin menunduk.
Dengan gerak cepat ia mendekati anaknya.
Plaakk.. Bug..
Sebuah tamparan dan bogem mengenai wajah Ricky.
"Memalukan." Ferdinan hampir membogem Ricky kembali, untung Ronald bisa menahan tangan pria itu.
"Jangan, Pak." Cegah Ronald.
"Apa urusan kalian. Dia anakku."
"Iya, kami tahu Ricky anak Bapak. Tapi kalau terjadi apa-apa dengan Rocky siapa yang susah? Bapak dan Ibu kan?" Ronald menatap bergantian bapak dan Ibu Ferdinan juga oang tua yang lain.
"Lalu, kami harus melakukan apa?" Tanya seorang pria yang lain.
"Broo, ajak kelima anak ini keluar dari sini." Titah Desta.
Wawan dan Ronald melaksanakan titah Desta, membawa kelima pemuda tersebut keluar dari ruang BK.
"Bapak, Ibu sebelumnya kami mohon maaf jika yang kami lakukan mengejutkan kalian. kami saat ini sedang melakukan banyak pembenahan di segala bidang.Salah satunya pembenahan moral. Untuk kasus putra Bapak, Ibu jika kalian berkenan kita bisa bekerjasama. Bagaimana?" Aqeela menjelaskan.
"Maksudnya?"
"Ya, kita bekerjasama. Jika ada program sekolah Bapak Ibu mohon di rumah diawasi. Begitupun saat di sekolah. Relakan putra Bapak Ibu menjalani kegiatan sekolah sampai lelah dan melupakan agenda negatifnya."
Para orang tua tampak saling berpandangan meminta pendapat satu dengan lainnya.
"Artinya kami tidak bole menghukum?"
"Boleh, tapi sesuai aturan dari kami."
Hening. Tak ada suara.
Dalam hati mereka sangat marah dengan kelakuan anaknya. Namun disisi lain mereka juga menyalahkan diri mereka sendiri yang terlalu memanjakan dan menuruti apapun permintaan anak.
"Pak Desta, saya setuju." Pak Ferdinand mengajukan persetujuannya.
"Alhamdulillah, terima kasih Pak Ferdinand." Sambut Desta
"Yang lain bagaimana?" Tanya Aqeela.
"Baik, kami ikut sekolah."
"Iya, saya juga setuju."
"Baiklah, jika memang begitu. Kami mohon bantuannya mengisi surat pernyataan ini." Aqeela membagikan masing-masing satu lembar kertas.
"Bro.. bawa mereka masuk." Desta memberi titah ke Ronald via ponsel.
Kelima pemuda berseragam putih abu-abu putih masuk dikawal Wawan dan Ronald.
"Ricky, Toni, Hary, Rasya dan Eko orang tua kalian sudah menyetujui untuk kerjasama dengan pihak sekolah. Jadi mulai sekarang kalian dalam pengawasan kami. Dan mulai besok kalian tidak diizinkan membawa kendaraan sendiri." Tegas Desta
@@@@@
To be continue
like
komen
vote yang banyaaak yaa,,,,
aku tungguiin
__ADS_1