TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Welcome Aja


__ADS_3

Di halaman belakang, Zafir dan Thifa duduk menghadap taman yang sengaja di buat orang tuanya untuk tempat bermain putra putrinya.


Kini setelah putra putrinya dewasa, taman itu tetlibat sepi dan seolah terlupakan. Termasuk dirinya yang lebih sibuk di luar daripada di rumah.


Hanya ada Ara dan Ayra yang masih setia menemani Umma dan Buya di rumah. Kedua adik kembarnya seperti oase bagi Umma dan Buya yang kesepian.


Sedangkan Al, dia masih di pesantren. Tahun depan baru balik ke rumah. Bisa jadi kepulangannya bukan untuk bermain lagi.


Mungkin dia bisa lebih sibuk dari dirinya. Mengingat bagaimana karakter Al yang sedikit urakan dan bandel dibanding dirinya maupun kedua saudara kembarnya.


Zafir masih mengingat bagaimana ia sering menjahili Umma dan kedua saudaranya di taman itu. Ada seulas senyum terukir di bibir seksinya.


Thifa yang ada di dekatnya sampai terdeteksi penasaran dengan senyum Zafir.


"Kak, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Thifa masih menatap heran Zafir.


"Kakak teringat masa kecil kakak Thifa. Kami bertiga sering main di sini. Bahkan dengan komplotan kami." Zafir menoleh ke arah Thifa.


Tanpa sengaja kedua manik mata jernih beradu dengan tatapan putri semata wayang sahabat Buyanya itu.


Zafir buru-buru mengalihkan pandangannya. Pemuda itu kembali menatap ke depan. Tepatnya ke sebuah air mancur mini yang di desain unik oleh salah satu teman Ummanya.


Zafir sudah lupa siapa namanya. Namun ia masih ingat, Om itu datang memakai tongkat.


Pertama kalinya ia kagum dengan seorang disabel. Zafir mengagumi bagaimana Om menggambar dan menata area tersebut.


Setelah itu ia tidak pernah lagi bertemu dengannya. Kata Umma Om itu ke luar negeri pengobatan.


Namun, sampai kini ia tidak pernah muncul. Padahal waktu itu ia ingin menanyakan banyak hal pada teman Ummanya itu.


"Kita udah lama ya, gak ngobrol kayak gini?" ucap Zafir menghalau rasa sepi diantara mereka.


"Hemmm..." jawab Thifa gadis itu melirik sekilas ke arah pemuda yang dianggapnya kakak itu.


"Kabar Satriya gimana?" tanya Zafir.


"Kak Satriya akhir-akhir jarang masuk. Dia izin ada keperluan keluarga," balas Thifa.


"Ooh..." komentar Zafir datar.


"Thif, seandainya Satriya bukan lelaki yang baik bagaimana?" tanya Zafir pelan khawatir gadis itu tersinggung.


"Kok kakak tanya gitu? Thifa balik tanya.


"Ini kan seandainya saja," pemuda itu belum sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Thifa.


Yang ia tahu Satria adalah cinta pertama Thifa. Pertama kali gadis itu merasakan kehangatan dari lawan jenisnya.


"Thifaa...."


Belum sempat Thifa menjawab Umma memanggil putri Doni itu.

__ADS_1


"Aku dipanggil, Kak." Thifa berdiri menghampiri Umma Aqeela yang memanggilnya.


Zafir menyusul, mengikuti kedua wanita beda usia itu.


Zafir mematung di ruang tengah menyaksikan pemandangan Om Doni memeluk Kakek tua tadi.


"Jadi kakek itu benar Papanya Om Doni," gumam Zafir.


"Jadi, Thifa punya kakek dong. Bukan hanya Akung." Zafir tidak berani melanjutkan bergabung di ruang tamu.


Pemuda itu merasa, bahwa Om Doni dan kekuarganya sedang membutuhkan banya waktu itu saling melepas rindunya.


Zafirpun memilih naik ke kamar. Namun belum sampai sepuluh anak tangga, Umma memanggilnya.


"Tolong awasi anak-anak yang latihan karate. Bawakan Kak Ryu dan Kak Usi cemilan di kulkas!" titah Umma.


"Baik Umma," jawab Zafir tanpa membantah.


Dengan ikhlas hati, Zafir menyiapkan cemikan dan minuman untuk Kak Ryu dan Kak Ussi.


Setekah siap Zafir membawanya ke masjid meninggalkan keluarga Thifa.


***


Sebelumnya.


Doni memeluk tubuh mamanya dengan erat. Begitu mendengar sang Mama sudah memaafkan Papa.


"Maafin papa kamu ya, Nak!" ucap Mama sambik berbisik di pelukan putra tunggalnya itu.


Doni melepas pelukannya. Beralih menatap sang Papa.


Demi ucapannya sebagai lelaki, bahwa ia akan memaafkan sang Papa jika Mama memaafkan. Pemuda itu beranjak mendekat ke arah sang Papa.


"Doni maafin Papa," ucap Doni.


Irawan yang mendengar ucapan anaknya tanpa malu dipeluknya Doni.


Aqeela dengan sigap segera ke belakang memanggil anak Doni yang dibawa putranya ke halaman belakang rumahnya itu.


Setelah Thifa bersamanya. Diajaknya Thifa duduk di sebelah sang Nenek.


"Thifa, yang memeluk Ayah itu kakek kamu. Dia baru saja terpuruk. Hartanya dibawa kabur orang jahat," jelas Mama Intan.


"Terus kok Thifa gak pernah liat ya, Nek?" kepo Thifa.


"Kakek gak bisa kesini karena tidak tahu alamat rumah ayah.Baru hari ini menemukan." Mama Intan memeluk cucu kesayangannya itu dengan lembut.


"Coba kamu hubungi Bunda. Katakan kalo Kakek pulang," titah sang Nenek kepada Thifa.


Gadis itu mengangguk dan meraih ponsel yang ada di kantong celana jeansnya.

__ADS_1


Dengan cekatan ia menulis sebaris kalimat untuk sang Bunda di gawainya.


Setelah terkirim Thifa kembali memasukkan gawainya ke kantong tapi kali ini ia masukkannke kanting hoodienya.


"Pa... kenalin ini Thifa. Cucu Papa," seru Doni mengajak Thifa mendekat ke arah sang Kakek.


Irawan tersenyum menatap gadis muda itu.


Thifa yang masih canggung dengan pria tua itu hanya mencium tangannya sambil membalas senyumnya.


"Maafin kakek ya, Nak!" ucap Irawan mengelus pucuk kepala cucunya itu.


"Istri kamu kemana?" tanya Papa.


"Istriku masih kerja, sebentar lagi dia pasti datang," jawab Doni.


"Om Irawan mau menginap di rumah Doni?" celetuk Desta yang sejak tadi hanya jadi pengamat.


Irawan menatap lelaki yang pernah ia usir dua puluh tahun silam itu.


"Mungkin tidak. Tempat Om sekarang di jalanan," jawab Irawan dengan sedih mengingat bagaimana.


"Pa, tinggallah dulu sementara di rumah Doni. Bolehkah Ma?" Doni bertanya pada sang Mama.


Mama Intan tampak bingung, di satu sisi ia merasa iba denga mantan suaminya. Di sisi lain ia tidak ingin Ridwan Irawan ini mendekat padanya.


Meski sudah memaafkan, tapi bukan berarti ia memberi kebebasan pada pria yang terlihat lebih uzur dari usianya itu.


Mama Intan menoleh kepada Aqeela seolah meminta bantuan wanita muda itu untuk membantunya menjawab pertanyaan Doni.


"Menurut Qee sebaiknya Om Irawan tidak di rumah kamu, Don. Karena Mama Intan dan Om Irawan sudah bukan suami istri," tutur Aqeela.


"Bagaimana kalau sementara Om Irawan tinggal sama Ayah?" saran Aqeela.


Mama Intan menatap Doni. Seolah minta persetujuan putranya itu.


Doni beralih ke Desta.


Aneh kan jadinya, Thifa sampai bingung melihat orang dewasa di sekitarnya.


Gadis polos yang belum paham apa yang telah terjadi antara Ayah, Nenek, Kakek dan Kedua orang tua Kakak Zafirnya itu hanya memandangi kelimanya bergantian.


Seolah menanti kepastian apa yang mereka putuskan terhadap lelaki tua yang disebut kakeknya oleh sang ayah.


"Aku terserah Papa aja, deh." Doni angkat bicara.


"Ya udah aku kabari ayah dulu. Ayah pasti senang ada temannya," ucap Aqeela sambil tersenyum.


Benar saja, Ayah Syarif tidak menolak. Ia malah bersyukur ada yang menemaninya di rumah yang sepi setelah kepergian sang istri.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Like, Komen dan vote yaa temans..


__ADS_2