TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Drama Alena dan Felix


__ADS_3

Zafir dan Reksa menyaksikan dari jauh, saat ada petugas kepolisian mendatangi kediaman Mami Alena dan Papi Felix.


Mereka berdua berharap skenario Polisi bisa berjalan lancar, tanpa mereka berdua ikut andil.


Namun, tetap saja jantung mereka ikut deg-degan. Apalagi petugas sejak awal sudah memberikan opsi yang akan terjadi.


Harap-harap cemas begitulah yang merek hadapi saat ini.


Bahkan lebih cemas dari saat menunggu putrinya lahir ke dunia.


Begitulah yang Reksa pikirkan saat ini. Pria itu melakukan semuanya bukan untuk dirinya tapi demi tegaknya keadilan atas semua kejahatannya pada Fely.


Pria paruh baya yang terlihat lebih muda daru usianya itu terlihat mondar mandir di sekitar kendaraannya.


Membuat Zafir pusing. Pusing melihat Reksa yang terus mondar mandir begitu.


"Om, kita ngopi aja yuk! Sambil ngawasin," usul Zafir tidak tega melihat kepanikan tersebut.


Reksa menatap wajah pemuda di sampingnya yang berusaha menenangkannya itu.


"Baiklah!" putus Reksa ditengah kegundahannya dan tawaran Zafir sepertinya bisa sedikit mengobati rasa cemasnya.


Mereka berdua masuk ke sebuah warung kopi tak jauh dari lokasi mereka mengintai.


"Lebih aman di sini. Gak ada yang curiga sama kita," bisik Zafir.


Menngingatkan peristiwa bertahun-tahun silam saat Buya menyelamatkan Hadi dan kawan-kawannya.


Reksa kembali menatap wajah pemuda yang tidak ia sangka pernah seseorang yang spesial dihati putrinya itu.


"Om... Om Reksa!" panggil Zair karena Reksa terus menatapnya tanpa suara.


"Oh... eh... Om hanya teringat Fely. Putri Om itu ternyata menyukai pemuda macam kamu. Terlihat alim tapi sepertinya di dalam gak sealim yang di luar," ucap Reksa yang mendadak membuat Zafir terkekeh.


"Om gak salah sih. Tapi saya beneran gak alim kok Om. Semua itu kan hanya tampilan luar kata orang pencitraan gitu ya? Zafir ini orangnya pendiem, cuek, gak mau ikut campur urusan orang lain terlalu dalam, salatnya juga belum tentu diterima. ilmunya masih cetek juga," jawab Zafir dengan santai dan polosnya.


"Kata-katamu menyesatkan! Beneran bikin Om sampe gak habis pikir. Kok bisa Fely suka sama kamu? Apa coba istimewa?" gumam Reksa yang di beri suara tawa lirih oleh Zafir.


"Saya kan limited edition," ucap Zafir seakan tanpa dosa.


Auto Reksa ngakak mendengarnya.


"Om... Om... lihat itu!" tunjuk Zafir ke seorang wanita yang berlari sembari memegang sesuatu.


"Alena!" pekiknya.


Tanpa perintah, otaknya langsung bekerja. Menangkap wanita yang pernah jadi istrinya itu.


Namun, wanita itu juga yang tega menyiksa putri kandungnya sampai menemui ajalnya.


Reksa berlari kencang menghampiri Alena yang sesekali menoleh ke belakang.


Bahkan teriakan Zafir ia hiraukan. Zafir yang setengah panik segera menghubungi seseorang.

__ADS_1


Aksi Reksa dan Zafir tentu saja mengundang perhatian warga di sana. Apalagi di warkop sedang ramai, auto mereka menjadi pusat perhatian.


Beruntung orang yang dihubungi Zafir sigap dan siaga. Sehingga Alena yang merasa aman malah bertemu orang tersebut.


Lelaki yang dihubungi Zafir tersebut, berjalan cepat lalu dengan sengaja menabrak lengan Alena dengan harapan wanita tersebut terjatuh.


"Awwhhh... kalo jalan pake mata dong! Gak sopan sekali main tabrak orang tua!" teriak Alena tanpa menatap siapa yang menabraknya.


Tangannya sibuk membersihkan bajunya yang kotor.


"Awwhhh..." Alena berteriak kencang karena telapak kakinya kram.


Lelaki tersebut segera membantunya. Dengan berani ia menyelonjorkan kaki ibu dari Fely itu. Kemudian ia melakukan beberap terapi agar kram Alena berkurang.


Perasaan wanita itu tentu saja panik dan cemas setengah hidup. Karena di otaknya saat ini adalah melarikan diri.


Wanita itu tidak mau berurusan dengan polisi dan sejenisnya, namun mereka sudah siap menangkap dirinya di luar.


Tentu saja ia berlari lewat belakang. Ternyata di area tersebut ada Zafir dan Reksa memergokinya. Namun, wanita itu belum menyadarinya. Ia masih fokus pada lelaki yang menolongnya itu.


"Mas, makasi ya. Sekarang sudah lebih baik. Saya harus segera ke stasiun karena jadwal kereta saya pukul 12 nanti," bohong Alena.


Alena berusaha berdiri, namun lelaki itu seilah mengulur waktu.


"Sebentar, Bu. Kayaknya ini keselo. Saya betulkan letak tulangnya dulu!" ucap lelaki yang tidak ia kenal itu.


Alena hanya pasrah mendapati kakinya di pijay oleh lelaki yang tadi menabraknya itu.


Selang lima menit kemudian.


"Silahkan ibu ikut kami, dan jelaskan semua nanti di kantor Polisi!" Lelaki berseragam itu memborgol kedua tangan Alena.


Seketika jatuhlah semua barang ia bawa ke tanah.


Reksa segera memungut dan merapikannya dibantu Zafir.


Papa Fely itu sejenak menatap buku tebal yang terlihat beda dari yang lain.


"Om, kayak polis asuransi?" Begitu Zafir membaca judul buku tersebut.


Reksa kembali membaca ulang buku tersebut. Seketika ingatannya kembali ke masa Feli berusia 3 bulan.


Pada masa itu, Reksa posisi ekonomi mereka terkesan sangat baik. Alena bisa merasakan kenyamanan tanpa beban keuangan.


Diusia 3 bulan putrinya tersebut, ia juga membuatkan polis asuransi. Ternyata Alena masih menyimpannya.


"Iya polis ini milik Fely, Om yang bukain waktu itu." Reksa memeriksa kembali polis milik Feli tersebut.


Sedangkan berkas yang lain surat-surat penting atas nama Fely, Fekix dan Alena. Ada juga kartu keluarga.


"Buat apa ya Om, Tante Alena bawa ini semua?" tanya Zafir.


"Entahlah?" jawab Reksa.

__ADS_1


"Setelah berpisah, Om sudah tidak terlalu banyak mencari tahu tentang Alena," sahut Reksa.


Pria itu menyerahkan berkas-berkas milik Alena ke petugas yang tadi memijit mantan istrinya itu.


"Terima kasih," ucap petugas berseragam preman tersebut.


"Pak, Om Felix kemana? Kok Tante Alena melarikan diri sendiri?" kepo Zafir.


"Saya juga belum tahu," kita lihat saja perkembangan di lokasi penyergapan.


Zafir dan Reksa kembali ke warkop karena pesanan mereka belum dibayar.


"Mas ada apa tadi? Kok ada Polisi segala?" tanya seorang pengunjung.


"Oh.. itu tadi orang jahat. Kayaknya pencuri gitu," bohong Zafir, daripada jujur yang ada malah makin ribet urusan dan pertanyaannya.


"Ooh..." sahut pengunjung kompak.


Zafir dan Reksa duduk kembali ke tempatnya.


"Kamu kok bisa kepikiran kayak tadi sih?" kepo Reksa menatap pemuda yang sedang asyik menikmati minumannya itu.


"Yang mana Om?" tanya Zafir.


"Yang itu ngabari Pak Komandan," ucap Reksa.


"Om keburu panik sih," jawab Zafir.


"Ya......"


Belum sempat Reksa membalas kalimat Zafir dari luar terdengar bunyi sirine ambulance.


Bukan hanya Zafir dan Reksa yang tercengang tetapi seluruh pengunjung warkop terlihat kaget.


"Ada apa?" tanya salah seorang dari mereka.


"Entahlah?" jawab yang lain.


"Om, kita lihat!" ajak Zafir.


Reksa mengangguk dan berdiri. Zafirpun segera menyusul Reksa.


Tiba di depan, ambulance sudah berhenti di sebuah rumah yang mereka perkirakan milik Alena.


🌷🌷🌷


Seharusnya ini publish kemarin, tapi karena mata yang tidak bisa kompromi akhirnya baru bisa send sekarang.


Ntar up lagi, insya Allah


like, komen dan vote yaa...


lope you

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2