
Aqeela sedang di ruang operasi. Keduanya harus ikhlas jika anak kelima dan keenam mereka lahir dua minggu lebih cepat. Sesuai saran dari dokter kandungan mereka.
Kondisi Aqeela sudah lebih baik. Kandungannyapun baik. Hanya saja dokter khawatir karena kedua bayi Aqeela beratnya melebihi batas.
Dari hasi USG, di deteksi satu bayi dengan berat 2,5 kilogram dan satu lagi 2,3 kilogram. Sehingga perut Aqeela terlihat sangat buncit.
Desta, Triple Z, Al, dan Julian terlihat gelisah apalagi Desta dari tadi mondar mandir tidak jelas. Padahal ini bukan anak pertama baginya. Tapi cemasnya sama seperti saat menanti kelahiran si triple.
"Kak, tenang napa?" Ujar Julian sambil menarik kakaknya duduk.
Destapun duduk terpaksa di kursi yang ada di ruang tunggu.
"Kak tenanglah, nanti mereka berempat juga cemas kayak kakak." Bisik Julian.
"Yan, aku khawatir. Karena baru kali ini anak kami lahir mendahului presdiksi." Suara Desta terlihat panik.
"Kak, aku yakin Kak Aqeela bisa melewati semuanya dengan baik." Sahut Julian.
"Buya.. Umma di dalam bagaimana ya?" Celetuk Al sambil duduk di sebelah Desta.
Pria itu mengangkat wajahnya begitu mendengar suara mungil anaknya.
Ia tersadar keempat anaknya juga cemas sama seperti dirinya. Jika ia berlebihan maka anak-anaknya akan semakin khawatir.
"Kemarilah.. !" Desta mengajak Al dan si triple mendekat.
"Kita do'akan Umma semoga Umma segera keluar dan dedek bayinya sehat."
Keempatnya kompak mengangguk, seraya duduk di dekat Buyanya.
Desta sedikit tenang saat keempat buah hatinya di dekatnya.
Perasaan cemas dan khawatirnya berangsur menghilang, namun bukan berarti pikirannya tentang sang istri yang tengah berjuang di meja operasi juga menghilang.
Ia hanya pasrah kepada Allah dengan bermacam do'a yang diucapkan dalam hati.
Julian yang menyaksikan perubahan pada kakaknya itu ikut tersenyum.
"Cepat sekali, Kak Desta berubah?" Gumamnya dalam hati tapi tidak untuk disampaikan kepada Kakaknya.
"Buya, adik kita nanti apa juga ditaruh di box kecil seperti waktu Al dulu lahir?" Tanya Zafira membuyarkan keheningan.
"Iya, sayang. Semua adek bayi yang baru lahir dimasukkan box kecil yang ada di ruangan bayi setelah dibersihkan dan diberi pakaian. Lalu di serahkan ke orang tuanya." Desta menjelaskan kepada Zafira.
Tiga puluh menit kemudian, lampu di ruang operasi padam. menandakan operasi sudah selesai.
Dokter Suzan keluar dari ruangan tersebut.
"Selamat yaa, Pak. Kedua putri kalian cantik-cantik." Ucap Dokter Suzan sambil menyalami Desta.
"Terima kasih, Dok. Tumben manggil saya, Pak?" Bisik Desta begitu mengatakan kalimatnya yang terakhir.
Dokter Suzan hanya tersenyum, " Ada anak-anak kalian yang lain."
"Hallo Zafir, Zafran, Zafira dan ini pasti Al." Lanjut Dokter Suzan sambil menatap keempatnya bergantian.
"Hai juga dokter Suzan!" Sapa Zafran.
"Terima kasih Dokter, sudah membantu Umma kami." Sahut Zafira.
"Adek kami sekarang dimana ya?" Tanya Zafir.
Dokter Suzan terlihat geli melihat ketiga kembar Desta dan Aqeela itu.
__ADS_1
"Sebentar adek kalian masih dibersihkan. Biar cantik." Jawab Dokter Suzan.
"Biarkan Buya masuk dulu ya, untuk mengadzani dan mengiqomahi adek. Kalian berempat di sini dulu sama Uncle Iyan." Dokter Suzan menatap Julian seakan meminta persetujuan remaja itu.
"Siap dokter, cantik!" Jawab Julian mengacungkan jempolnya.
"Silahkan, Pak!" Dokter Suzan mempersikahkan Desta masuk ke dalam.
💗💗💗💗💗
Aqeela sudah di ruangan rawat setelah bersalin. Kedua bayi cantiknya juga sudah di sampingnya. Dengan boxnya masing-masing.
Aqeela di kelilingi Keempat anaknya dan Julian. Sedangkan di sofa ada kedua orang tua dan mertuanya.
Desta pulang sebentar untuk membersihkan ari-ari dan pakaian kotor istrinya.
Zafira dan Al sejak tadi berdiri menatap kedua bayi di dalam box bergantian.
"Kenapa Fir?" Tanya Julian heran dengan wajah gadis cilik itu. Seakan menunjukkan rasa penasarannya.
"Kok wajahnya sama ya?" Zafira menatap Julian.
"Sama gimana?" Sahut Julian yang ikut mendekat ke box di depan Zafira.
"Itu loo Uncle, aku, Zafir dan Zafran kan wajahnya tidak sama dan tidak mirip. Tapi kok adik bayi ini sama ya? Membedakannya, bagaimana?" Jelas Zafira.
Pernyataan Zafira membuat Zafir dan Zafran ikut melongok ke adik bayinya.
Julian tersenyum sambil mengerutkan keningnya.
(Aish, kok bisa gitu ya tersenyum sambil mengerutkan keningnya)
Tersenyum karena paham maksud dari Zafira. Mengerutkan keningnya karena bingung cara menjelaskan dengan bahasanya anak seusia Zafira.
"Kalian sudah pernah di ajari tentang ovum dan ******?" Tanya Iyan perlahan.
"Pernah, ovum itu sel telur. Perempuan dewasa atau baligh ovumnya siap dibuahi. Tanda kalo perempuan tersebut dewasa adalah sudah menstruasi." Jawab Zafira lancar.
"Lhoo lancar sekali dia?" Batin Julian.
"Sel telur yang tidak dibuahi akan keluar setiap bulan melalui siklus menstruasi." Lanjut Zafira.
"Kalo ****** itu punyanya laki-laki. Jadi kalo sel ****** bertemu sel telur akan terjadi pembuahan atau kehamilan." Zafira lancar jaya menjawabnya.
"Kalian kelas berapa sih?" Julian akhirnya bertanya.
"Kelas enam Uncle." Jawab Zafir.
"Ya Alloh. Uncle lupa.Karena kalian sudah mengerti ovum, ******, pembuahan. Uncle akan jelaskan."
Julian mengajak ketiganya menjauh dari Aqeela yang masih tidur.
"Kita duduk di situ, yuk!" Julian menunjuk ke sofa.
Ketiganya nurut aja.
"Uncle, Al ikut!" Rengeknya karena merasa tidak diajak.
"Bolee, yuk! Al juga duduk sama Kakak Zafir, Kakak Zafran dan Kakak Zafira." Julian menggandeng tangan Al.
"Kita diusir, nee Yan ceritanya?" Goda Mommy yang melihat Julian mengajak keponakannya ikut duduk di sofa.
Julian hanya meringis lebar.
__ADS_1
"Terserah Mommy deh. Iyan capek kalo nerangin sambil berdiri."Ucap Julian.
Akhirnya para orang tua bergeser memberi tempat kepada Julian dan cucu-cucunya.
"Bayi kembar seperti adik kalian itu di sebut bayi kembar identik. Mereka berasal dari ovum dan ****** yang sama. Saat masih menjadi embrio, mereka memisahkan diri. Jadilah embrio itu calon bayi kembar. Makanya wajah adik kalian sama."
"Membedakannya, nanti kita lihat ciri khusus dari mereka." Urai Julian lebar dan panjang.
Tentu saja hanya diberi komentar O oleh si kembar tiga.
"Berbeda dengan kalian. Kalian itu di sebut kembar tidak identik atau fraternal. Kalian berasal dari ovum dan ****** yang berbeda." Lanjut Julian.
"Ooh.. begitu."
"Yupzz.. Jadi mirip siapa adek bayinya?" Goda Julian.
"Mirip Buya, Uncle." Celetuk Zafran dengan entengnya.
Auto para kakek , nenek dan saudara-saudaranya melongok kembali ke box.
"Iya.. mirip waktu bayinya Desta?" Ucap Mommy dalam hati.
💗💗💗💗💗💗
"Des...!" Panggil Dokter Suzan saat kunjungannya di kamar Aqeela.
Kebetulan hanya ada Desta di kamar, jadi ia bisa kebih leluasa berbicara.
Keempat anaknya diusung pulang Julian bersamaan dengan orang tua dan mertua Desta.
"Iya, Dok." Jawab Desta
"Sewaktu sesar kemarin, saya langsung melakukan tindakan sterilisasi pada Aqeela. Tapi saya hanya mengingat indung telurnya. Sudah cukup kalian jangan nambah anak lagi. Enam anak sudah lebih dari cukup." Ucap Dokter Suzan tegas.
Desta hanya meringis mendengar peringatan dokter cantik itu.
"Kalo saya bole memilih saya ingin nambah lagi. Tapi sayang, bu dokter cantik ini sudah mewanti-wanti. Lagian aku juga sayang sama istriku. Cukup deh enam anak. Itu sudah anugerah terindah bagi kami. Karena kalo tidak kembar mungkin anak kami baru tiga." Ucap Desta sambil mengangkat ketiga jarinya .
Akhirnya Dokter Suzan tersenyum lega meninggalkan ruang rawat Aqeela.
Pasien spesialnya sejak sepuluh tahun lalu.
"Makasi ya Beb, sudah memberiku banyak hadiah. Anak-anak yang baik dan lucu. Hati dan cinta kamu." Bisik Desta sambil memeluk Aqeela erat.
Untung saja dedek bayinya lagi pules, jadi gak ganggu Buya sama Umma tuh.
💗💗💗💗
Like
Komen
Vote
Seikhlasnya deeh votenya.
ikuti info tentang semua novel dan kisah lainnya ada di ig ku : @maria_suzan
setelah follow jangan lupa DM ya..
untuk fb sementara aku keep dulu ya..
nnt kl udah fix aku share di sini
__ADS_1