
Julian kembali mengunjungi Zafira diluar jadwalnya berkunjung. Dalam dua bulan terakhir remaja itu sering bolak balik mengunjungi Zafira dengan banyak alasan tanpa membuat pengurus curiga. Apalagi mereka sudah mengenal Julian sebelumnya.
"Kenapa lagi, Uncle?" Tanya Zafira sambil duduk di sebelah Julian.
"Gak ada apa-apa. Pengen aja ke sini." Jawab Julian slowly.
"Zafira lagi belajar nee. Besok UAS." Jawab Zafira sambil menunjukkan buku yang dibawanya.
"Belajar apaan? Itu judulnya Fisika, tapi dibaca doang. Mana bisa?" Protes Julian.
"Terus diapain coba?" Tanya Zafira.
"Latihan soal."
"Mana ada soal?"
"Kamu ambil kertas sama bolpoin. Uncle ajari!" Titah Julian seenaknya.
"Uh.. dateng-dateng malah ngajak belajar." Runtuk Zafira dalam hati.
Tak urung gadis itu tetap kembali ke kamarnya untuk mengambil barang yang diminta Julian.
"Curang...!" Kata Seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapan Julian dan Zafira.
"Terrnyata diam-diam kalian belajar bareng." Sambung suara yang lain.
Zafira dan Julian yang reflek menoleh ke sumber suara hanya tersenyum kecil mendengara protesan kedua saudara kembarnya itu.
Siapa lagi kalo bukan Zafir dan Zafran yang datang dan menegur keduanya.
"Bisa jadi, gosip kalian bener ya.. Zafira suka pergi sama kakak-kakak ganteng."
"Apa ini kakak gantengnya?" Zafir menunjuk ke arah Julian.
Julian hanya tersenyum lebar mendengara ucapan Zafir yang lebih mengarah kepada tuduhan itu.
Sedangkqn Zafira menatap kearah Zafir dan Zafran bergantian.
"Kalian bergabunglah!" Ajak Julian.
Meskipun sedikit jengkel keduanya tetap bergabung dengan Julian dan Zafira. Setidaknya keduanya lega, karena kakak ganteng yang digosipkan sepesantren adalah Julian.
Uncle yang mereka kenal sebagai adik dari Umma. Bukan sosok lain yang membuat mereka khawatir.
Sebagai saudara jelas keduanya khawatir mendengar gosip yang akhir-akhir ini beredar. Karena itu keduanya sengaja mencari tahu kakak-kakak ganteng yang dimaksud teman-temannya.
Dan setelah kepergok ternyata kakak ganteng itu Uncle Iyan yang mereka sayangi. Lega dan plong rasanya.
"Uncle kenapa sih kok selalu yang dicari Zafira? Bukan kita berdua?" Protes Zafran setelah duduk bersama dibangku ruang sambang.
"Karena Zafira perempuan. Sedangkan kalian berdua kan cowok se kamar pula. Zafira sendirian." Jawab Julian.
"Yang bener saja. Terus kenapa baru dua bulan ini aktif mengunjungi Zafira. Kemarin-kemarin kemana?" Zafran masih belum puas dengan jawaban Julian.
"Kan selama ini, ada Umma dan Buya kalian." Sahut Julian.
"Yakin?" Zafir menatap Julian seakan tidak percaya dengan jawaban sang uncle.
"Zafir, kamu udah kayak detektif aja. Nanyain sampai puas. Udah ambil buku kalian. Kita belajar bersama!" Titah Julian dengan tegas.
"Aku masih gak percaya. Uncle harus cerita semuanya ke kita." Bisik Zafir sebelum kembali ke kamarnya untuk mengambil alat tulis.
Kini ketiganya anteng diajari master Julian. Meskipun di SMA, Julian memilih jurusan IPS nilai eksaknya sama bagusnya dengan nilai sosialnya.
__ADS_1
Alasan Julian memilihi IPS tak lebih karena lebih santai tidak perlu memikirkan ruwetnya soal Fisika,Kimia dan Matematika yang penuh rumus.
Belum lagi urusan biologi yang membuatnya semakin galau. Sungguh menyebalkan menghafalkan nama-nama latin.
Julian lebih menyukai sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi dan akuntansi yang menurutnya lebih riil dan tidak halu.
Julian menyukai cara mempelajari karakter setiap individu, hubungan antar manusia, perdagangan dan bisnis.
Karena itu ada di dunia nyatanya.
Sedangkan matematika, fisika, kimia, biologi apa yang bisa ia terapkan di kehidupan nyata? Julian tidak habis pikir kenapa apel jatuh saja dihitung kecepatannya. Kenapa juga menghitung luas bangun yang jelas-jelas tidak ada bangunannya.
Tapi tetap saja ia tak memungkiri ilmu-ilmu tersebut yang memudahkan manusia saat ini.
💗💗💗💗💗
📱
Uncle, Sabtu besok Zafira, Zafir dan Zafran terima rapot. Uncle ke sini yaa.. sekalian jemput kita liburan
📱
Satu pesan dari Zafira melalui gawai salah satu pengurus pesantren.
Julian hanya membaca tanpa membalas pesan tersebut karena percuma juga membalas takkan dibaca si pengirim.
"Mar..." Panggil Julian kepada Semar yang diajaknya tinggal di rumah Aqeela selama kakaknya itu berada Jerman.
Selain Semar, terkadang Gareng, Petruk, Bagong dan Adam bergantian menemani Julian. Bahkan saat weekend mereka berkumpul ramai-ramai. Kecuali jika Julian ingin mengunjungi keponakannya mereka setia menemani sahabatnya itu.
"Kenapa sih, teriak-teriak." Jawab Semar dari atas.
"Sabtu besok ponakan gue datang. Kalian masih mau di sini atau pulang?" Tanya Julian begitu Semar sudah duduk di sebelahnya.
"Terus...?"
"Ya sapa tau jodoh."
"Udah siap kamu ama persyaratan yang diajukan ponakan gue?" Goda Julian.
"Emang apa sih persyaratan dari anak usia smp gitu?" Kepo Semar.
"Hafal Al-qur'an."
"Astaga... Sadis banget persyaratannya. Kirain cuma ganteng doang." Kaget Semar.
"Gak sadislah Broo. Itu wajar bagi dia. Ingat dia dibesarkan di lingkungan mana?" Ingat Julian kepada Semar.
"Ya ya ya.. aku aja kaget saat tahu, seorang Julian besar di lingkungan pesantren. Gak nyangka banget si bocah urakan ini lulusan pesantren. Tapi begitu liat aksinya kemarin di panggung gak diragukan sih." Komen Semar dengan senyum bangga.
"Bisa aja. Justru karena aku gak pengen kalian tahu identitas sengaja disembunyikan." Ujar Julian lirih, sedikit ada penyesalan kala ia harus menggantikan sang qori' waktu itu.
"Calm down, bro. Hadapi saja. Mungkin sudah saatnya teman-teman tahu siapa kamu." Semar menepuk-nepuk bahu Julian.
"Ya mau gak mau sekarang harus terima kenyataan. Berat, broo.. Kadang aku ngerasa gak siap liat muka kalian yang penuh tanda tanya." Ucap Julian sambil mengingat pengalamannya selama sebulan ini.
Saat Julian diminta menghadap Pak Ja'far yang tak lain guru agamanya.
"Assalamu'alaikum, Pak." Salam Julian saat masuk ke ruangan Pak Ja'far.
"Wa'alaikum salam. Masuk Yan." Jawab Pak Ja'far.
"Duduk, Yan!" Perintah Pak Ja'far ketika Julian sudah di depan mejanya.
__ADS_1
"Yan..." Panggil Pak Ja'far, reflek Julian mendongak menatapa guru agamanya itu.
"Yan, minggu depan Bapak ada diklat dua minggu." Ujar Pak Ja'far.
"Terus hubungannya dengan saya apa, Pak?" Tanya Julian sambil mengerutkan dahinya keheranan dengan ucapan gurunya itu.
"Gantikan Bapak mengajar di kelas Sepuluh dan sebelas." Kata Pak Ja'far yang mirip sebuah perintah tanpa bisa di tolak.
"Lhoo saya kan juga harus belajar." Bantah Julian.
"Saya sudah mengantongi izin buat kamu. Lagian juga yang kamu masuki nanti hanya 6 kelas." Kata Pak Ja'far.
"Terus apa saya bisa? Saya ini hanya murid biasa." Bantah Julian lagi.
"Yan, gak usah mengelak lagi. Bapak tahu yang kemarin qiro'ah kamu kan?" Pak Ja'far menatap intens ke arah Julian membuat pemuda itu gentar.
"Da.. da.. ri..mana Bap.. pak tahu?" Tanya Julian gugup. Dalam hati ia sudah mencaci ketiga temannya, Semar, Daud dan Andini menuduh salah satu dari mereka membocorkan rahasia qori' waktu itu.
"Jangan salah sangka, mereka bertiga tidak membocorkannya."
Deg.
"Kok Pak Ja'far bisa baca pikiranku?" Batin Julian semakin kalut karena permintaan Pak Ja'far yang mendadak.
"Bapak juga tahu kamu lulusan pesantren. Bapak tidak terima penolakan. Kamu harus tetap menggantikan Bapak dua minggubke depan karena ketika Bapak selesai UAS menanti." Titah sang Guru.
Dan keesokan harinya Julian sudah berdiri di depan kelas X IPS 1 menggantikan Pak Ja'far. Pesona Julian yang super ngehits itu akhirnya mampu menghipnotis seisi ruangan.
Tidak hanya di sepuluh di setiap kelas Julian mampu memberi suasana berbeda. Apalagi para cewek langsung dibikin klepek-klepek.
Tapi bagi para cowok kehadiran Julian adalah boomerang. Karena seisi kelas lebih terpesona dengan Julian daripada para cowok di kelasnya.
Auto fansnya semakin bertambah. Dan ini pula yang memicu Julian kalut dan sering mengunjungi Zafira.
Mencari ketenangan dari wajah ayu gadis itu. Gadis pendekar yang polosnya luar biasa tapi ngambeknya bikin kangen.
💗💗💗💗💗
Terima kasih supportnya semua..
Always like, komen dan vote
Salam kangen dari triple
Mereka mau liburan.
Disini yang sudah terima rapot siapa ya?
Apapun hasilnya tetap semangat. Karena kemampuan kita tidak hanya yang tertulis diatas selembar kertas.
Bagi mama-mama yang hasil rapot anaknya kurang memuaskan. Jangan bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Karena setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Beri dukungan dan motivasi terus untuk anak-anak penerus bangsa ini.
Beri kata-kata positif agar anak selalu berpikir positif
Hindari menggunakan kalimat negatif..
**Happy holiday
Triple juga pulang dari Pondok looo...
The next up
__ADS_1
😘😘😘**