
"Pak, waktu kita tidak banyak lo." Ucap Aqeela sesaat setelah ia masuk ke ruang BK.
"Iya, tapi kita harus tetap usaha." Pak Jamal memberi motivasi.
"Insya Allah kita berjuang bersama-sama. Pasti bisa." Aqeela mensugesti dirinya sendiri.
Pak jamal memberikan jempolnya.
"Kamu sudah dapet apa saja?" Tanya pak Jamal
"Nee.." Aqeela menyerahkan ponselnya.
"Mereka lagi.." Komen Pak Jamal begitu melihat video dari ponsel Aqeela.
"Bapak tahu mereka?" Tanya Aqeela.
"Mereka anak kelas dua belas. Sudah bukan rahasia kalo mereka sering membully. Bahkan itu yang di bully teman sekelasnya." Jelas Pak Jamal.
Aqeela menghembuskan napas berat. Bahkan sangat berat.
"Selain ini?" Pak Jamal masih penasaran.
" Nee.." Aqeela menunjukkan video yang lain.
Video yang membuatnya sesak. sekumpulan siswa siswi sedang duduk di taman belakang, mereka dengan tenangnya menghisap rokok berjama'ah. Beberapa menggunakan rokok elektrik.
Pak jamal melihat video tersebut dengan perasaan tak tenang.
"Bapak tahu mereka?"
"Itu anak kelas sebelas." Jawab Pak Jamal.
Aqeela kembali menahan napas dengan berat.
Ada memori terindah miliknya di tempat itu. Tak rela rasanya jika lokasi itu digunakan sebagai markas menikmati barang bernikotin itu.
"Gimana, kamu sudah siap?" Pak Jamal mengingatkan.
"Kok Aqeela?" Aqela mengkerutkan dahinya.
"Terus siapa?"
"Kalo kayak ini aja, dikasih ke aku."
"Siapa lagi yang bisa kita harapkan selain kamu, Qee. Anak-anak sudah tidak ada rasa takut kepada semua guru di sini." Nada Pak Jamal terdengar memelas.
" Emang kalo aku yang maju, mereka bakal takut gitu?"
"Qee, kita semua tahu sepak terjang kamu. The Dark Angel."
"Sadis banget julukannnya."
"Itu yang paling keren loo buat kamu."
"Serah Bapak deeh.."
"yang sono monster bersayap malaikat yang sini dark angel. Lha emang dikira aku makhluk ghaib kalee yaa?" Gumam Aqeela pelan tapi Pak jamal masih bisa dengar.
"Iya.. ghaib. Bisa datang dan ngilang sesuka hati." Balas Pak Jamal.
"Udah ah, aku kerja dulu. Ntar dikira aku disini magabut lagi."
__ADS_1
"Wkwkwkkkk... " Pak Jamal langsung tertawa sekencang-kencangnya mendengar ucapan Aqeela.
"Lha kan enak gitu magabut."
"Ogaaah.. itu sama aja kayak ulat makan daun. Bikin mati daunnya."
"Daa daa.. Kakek Jamal.." Goda Aqeela.
"Aqeela rese banget sih kamu.."
"Wleekkk.." Aqeela segera meninggalkan ruangan Pak jamal dengan senyum lebar.
Ada kebahagiaan melihat guru BK itu sewot.
Aqeela berjalan perlahan menuju taman belakang. Lokasi paling bersejarah baginya selama menjadi siswa.
Wanita bergabung begitu saja dengan para gerombolan itu. Dan langsung duduk begitu saja di bangku kosong yang ada diantara mereka.
Gerombolan yang ditebak Aqeela kawan se~geng itu, langsung menyembunyikan bahkan ada yang membuang barang makruh itu begitu saja.
"Kenapa dibuang?" Tanya Aqeela sambil menatap mereka.
Dalam hati ia menghitung ada tujuh anak, tiga perempuan dan empat laki-laki.
"Emang gak sayang apa? Kan belinya pakai uang. Ini gak murah loo." Aqeela memungut kardus pembungkus sisa rokok mereka.
"Bisa dipakai untuk traktir makan pacar kalian masing-masing di kantin." Aqeela melempar pembungkus itu ke tong sampah terdekat dan tepat sasaran.
Mereka bertujuh menunduk, tak ada yang berani mengangkat kepala.
Entah apa yang dipikirkan para ABG ini.
Atau kalimat aqeela langsung makjleb masuk ke hati dan jantung mereka ya?
"Kalian tahu?" Aqeela menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sandaran bangku yang di dudukinya.
Suara Aqeela yang santai dan lembut membuat ketujuh ABG ini auto menatap orang asing yang langsung gabung begitu saja dengan mereka tanpa ada rasa takut dan semacamnya.
Dalam hati tentu saja mereka penasaran dengan wanita tersebut, tapi mereka lebih memilih diam. Karena wanita itu tidak membentak atau memarahi mereka.
Ada sedikit kenyamanan bersama wanita asing tersebut.
"Di sini dulu, ada sekelompok geng yang sama seperti kalian suka berkumpul dan diskusi di sini. Sayangnya yang mereka diskusikan adalah taktik untuk tawuran dan mencari musuh. Awalnya mereka hanya bertiga sampai muncul gadis aneh yang membuat mereka tidak nyaman. Siapa sangka ternyata gadis itu juga jago tawuran. Akhirnya mereka bergabung dan tawuran bersama-sama."
Aqeela menghentikan ceritanya.
"Di lokasi ini, juga pernah ada seorang cowok mengatakan rasa cintanya kepada seorang yang ia sayangi." Aqeela kembali memejamkan matanya seakan ia saksi di sana.
"Di sini dulu juga pernah ada kisah, seorang wanita mencium kekasihnya pertama kali." Ucap Aqeela sambil menatap ketujuh ABG ini.
"Bahkan di sini menjadi saksi kekejaman seorang perempuan kepada wanita lain karena mencoba mempertahankan cintanya."
"Di sini juga pernah terjadi saksi kekerasan seorang lelaki karena mencoba merebut wanita yang ia cintai dari pria lain."
"Tapi kini, mereka. Para pelaku semua kejahatan, kekerasan bahkan sang jagoan sudah menjadi orang sukses, setelah menyadari semua kebodohannya."
"Dan kini, tempat ini juga akan menjadi saksi, sekumpulan anak muda saat merokok agar tidak ketahuan guru."
"Tapi untuk saat ini, saya tidak bisa menjamin akan seperti pendahulu kalian."
Ketujuh ABG itu terlihat melongo mendengar cerita Aqeela.
__ADS_1
"Ada gitu legenda seperti itu di sini?" Tiba-tiba salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada, tanyakan pada Pak Jamal, Pak Han, Ustadz Zainal, Ustadzah Dewi bahkan Bu Siti." Jawab Aqeela.
"Mereka kan orang-orang paling killer di sini." Komen yang lain.
"Begitukah?" Tanya Aqeela.
"Atau kalian saja yang membeeri julukan seperti itu. Jika mereka mengingatkan itu tanda jika mereka masih sayang dengan kalian. Mereka adalah orang tua kalian selama di sekolah. Mereka memiliki tanggung jawab penuh atas kalian."
Aqeela tersenyum menatap ketujuh pemuda pemudi yang mengelilinginya itu.
"Tante ini siapa sih?" Seseorang akhirnya menyanyakan identitasnya.
"Saya penjaga tempat ini."
"Tapi bukan hantu kan?"
"Kata mereka saya the dark angel sedangkan kata sebagian yang lain saya adalah monster bersayap malaikat."
Para ABG itu terlihat bergidik, beberapa bahkan mencoba memegang tubuh Aqeela.
"Masih bisa dipegang kok gaess. Berarti dia bukan hantu."
Aqeela tertawa lebar mendengar ucapan salah satu anak lelaki di situ.
"Kakak kok aneh sih, kita juga belum pernah lihat kakak di sini."
"Belum saatnya kalian tahu siapa aku. Bahkan aku juga tidak tahu siapa kalian. Aku hanya tidak ingin tempat yang aku jaga digunakan untuk hal-hal maksiat lagi."
"Apa orang tua kalian tahu, jika kalian merokok di sekolah?"
"Tidak, Kak."
"Tuh, kan. Coba kalo mereka tahu. Bagaimana perasaaan mereka?"
"Mereka gak akan peduli, Kak?'
"Iya, mereka sibuk dengan dunianya sendiri."
"Mereka sibuk berkarir."
"Begitukah? Sebetulnya kalian sangat beruntung masih memiliki orang tua. Di luar sana banyak anak sejak bayi bahkan tidak pernah tahu orang tuanya." Mata Aqeela berkaca-kaca mengingat pengalamannya menjadi motivator anak-anak di rumah sakit.
"Kakak menangis."
"Oh.. eh, maaf yaa. Aku permisi dulu. Mudah-mudahan kita masih bisa ketemu lagi." Aqela pamit kepada ketujuh ABG itu.
"Kak, kakak siapa?"
"Tanyakan kepada Pak Jamal. Tanyakan siapa itu the dark angel."
Aqeela meninggalkan ketujuh siswa siswi tadi dalam keadaan penasaran.
*****
"Siapa kakak itu?"
"Entahlah."
__ADS_1